Pesta Minum Teh


Apa yang kau harapkan dari buku-buku Chicken Soup?

Jiwa sentimental sebagian orang akan menjawab, “Kami butuh kehangatan kisah-kisah di dalamnya.”

B U T U H   K E H A N G A T A N   K I S A H   D I   D A L A M N Y A

Persis seperti yang saya katakan saat ada ulasan berupa pertanyaan tersebut di platform Goodreads. Setelah lewat bertahun-tahun sejak membaca Chicken Soup for the Teenage Soul—buku pertama seri Chicken Soup yang saya baca di perpustakaan sekolah, alasan tersebut terasa sangat, ummm, meh.

Namun, tidak serta merta saya menyangkal bahwa hal itu mustahil didapatkan. Buku jika dibakar di perapian untuk mengusir hawa dingin ‘kan sah-sah saja. Selain itu, ngelonin alias memeluk buku bisa menjadi alternatif sumber kehangatan saat kipas angin di kamar lupa dimatikan. Masuk akal.

Seri buku Chicken Soup for the Soul amatlah banyak. Dari semua bukunya yang pernah saya baca, ada dua judul yang paling saya sukai; dua buku yang saya miliki versi paperback-nya. Yang pertama adalah Chicken Soup for the Coffee Lover’s Soul. Saya membelinya di pasar buku di belakang Taman Pintar Yogyakarta (yang lokasinya lebih sering disebut Shopping Center). Judul yang kedua adalah Chicken Soup for the Tea Lover’s Soul. Buku tersebut saya beli dari seorang teman di Denpasar.

Sama seperti buku Chicken Soup yang lain, dua judul ini mewakili cerita-cerita dengan tema terkait yang dikirim dan dipilah oleh redaksi Chicken Soup alias Jack Canfield beserta cees-ceesnya. Saya mengoleksi dua judul tersebut sebab memiliki keterikatan dengan dua minuman bersejarah itu: kopi dan teh. Perjalanan primordial saya dengan kopi dan teh seperti diwakilkan oleh dua bacaan yang selalu nongkrong di puncak klasemen rak buku.

--- [] ---

1. Chicken Soup for the Coffee Lover’s Soul

Sebanyak 209 halaman di buku ini menceritakan serba-serbi pengalaman tentang euforia meminum kopi. Setiap cerita memiliki penulis yang berbeda-beda dan semua cerita ditulis tidak lebih dari enam halaman. Kisah-kisah di dalamnya dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu “Kenikmatan Lezat”, “Menggelitik Indra Perasa”, dan “Kencan yang Menenangkan”. Sekilas ketiganya seperti premis dan/atau film ‘ehem’ yang marak di situs blokiran internet positif. Sayangnya, isinya bukan ‘itu’. Plis, jangan ngeres.

Judulnya banyak banget tapi isi ceritanya sedikit. Saking pendeknya, kisah-kisah di buku Chicken Soup for the Coffee Lover’s Soul nyaris tanpa klimaks karena kita hanya membaca sekelumit cerita orang tentang kopi atau pengalaman si penulis dalam mengenal kopi. Rasanya seperti membaca status seorang Q-Grader* di lini masa
. Namun, tentu saja, yang menulis cerita-ceritanya adalah penikmat dan pencinta kopi biasa.

*Q-Grader adalah sebutan bagi pencicip kopi profesional.

Tidak ada tulisan yang ditonjolkan sebagai tajuk utama karena semua kisah dituturkan dari sudut pandang pertama dan perspektif pribadi—yang berarti tidak ada superioritas di antara semua kisahnya. Meskipun demikian, saya mengunggulkan satu judul cerita sebab tulisannya lain daripada yang lain. Menggugah gitu, loh.

Cerita yang saya sukai adalah “Hadiah Peppermint Mocha, Low-Fat”. Selain Americano dengan komposisi dasar single espresso aldento ferguso gufron salim, kopi peppermint selalu masuk dalam agenda ngopi nomor wahid. Racikan biji kopi arabica asal Toraja merek Ambeso—yang kadang saya ganti dengan Bali Pupuan—dicampur dengan daun peppermint kering hasil menjemur secara autodidak di loteng adalah surga kecil saat pagi hari. Rasanya jauh lebih mantap daripada kopi Janji Manis yang encer dan harganya selangit. Kopi peppermint racikan sendiri, selain hemat, bisa membuat saya mengalami ‘barista effect’ seperti yang ditulis di artikel jurnal sains kuliner.

Halah, halah, sok iye banget.

Judul yang saya sukai menceritakan tentang seorang perempuan yang berlangganan membeli kopi di sebuah kedai di Brooklyn. Lantaran hampir setiap hari mampir untuk ngopi, pemuda konter yang bertugas menyiapkan kopi para pelanggannya hafal detail pesanannya seperti apa; peppermint mocha, ekstra panas, susu rendah lemak, dan seuprit krim untuk menambah rasa gurih pada aftertaste-nya. Membayangkannya saja sudah membuat ngences.

Berbeda dengan penulis lainnya di buku ini, Eileen Mitchell luwes dalam menuliskan pengalamannya. Sebenarnya tidak ada keterangan di bagian cerita mengenai apa pekerjaan atau latar belakang si penulis sampai-sampai ia bisa menulis sebagus itu. Setelah membuka bagian akhir buku yang berisi sekelumit biografi kontributor, saya menemukan bahwa Eileen Mitchell adalah seorang penulis paruh waktu dan kolumnis di San Francisco Chronicle. Oalah, pantesan…

Ceritanya tepat sasaran, rinci namun tidak berlebihan, dan mengulik hal-hal kecil yang terjadi pada jadwal ngopi peppermint mocha latte-nya. Ia percis seorang penutur andal yang sering muncul di platform menulis cerita. Caranya membawa pembaca untuk ‘menikmati’ segelas kopi begitu nyata dan tidak seplatonis kisah-kisah lain di dalam buku ini. On point.

Cerita lainnya, meskipun saya akui ada yang benar-benar medioker—bahkan cenderung susah dinikmati (unreadable)—dan membuat saya berpikir mengapa bisa lolos redaksi, juga cukup menarik perhatian. Yang saya sukai dari serial Chicken Soup for the Soul adalah komitmen tim penyunting dan redaksinya yang ditulis di bagian halaman depan. Mereka menyusun semua cerita dengan ‘hati’ dan hati-hati agar tidak ada salah ketik maupun salah interpretasi. Sebab mereka paham betul bahwa pengirim cerita berasal dari berbagai bidang—yang kebanyakan tidak memiliki latar belakang kepenulisan sama sekali. Pun begitu yang saya temukan dari membaca buku Chicken Soup for the Coffee Lover’s Soul ini.

2. Chicken Soup for the Tea Lover’s Soul

Buku ini terdiri dari tiga bab utama, yaitu “Kesenangan yang Mengasyikkan”, “Menggelitik Indra Pengecap”, dan “Pertemuan yang Membuat Santai”. Semuanya ditulis dan disunting dengan rapi sepanjang 219 halaman. Berbeda dengan kopi yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diterima oleh lambung saya tanpa perlawanan, teh adalah minuman ketiga yang dikecap oleh lidah saya setelah susu dan air putih. Teh adalah minuman wajib pagi hari di desa dan selalu disuguhkan setiap ada kegiatan atau hajatan apa pun.

Jika ada tamu, tuan rumah akan menyajikan teh. Jika perut sakit, ibu akan membuatkan teh. Racikan tehnya juga hampir selalu sama; pekat, kental, hitam, dan manis karena overdosis gula. Teh juga menjadi sajian saat sahur dan buka puasa. Pokoknya, apa pun acaranya, minumannya pasti teh.

Chicken Soup for the Tea Lover’s Soul memiliki komposisi kisah yang mirip dengan Chicken Soup for the Coffee Lover’s Soul. Hanya berbeda di obyek ceritanya saja. Perjalanan pencinta teh dari berbagai dunia dikisahkan dengan apik oleh buku ini. Kesan membaca buku ini berbeda dengan yang kopi karena sebagian besar penuturnya memiliki kisah yang menarik untuk diikuti dan pembawaannya asyik-asyik, euy. Lagi-lagi, karena penasaran, saya cek di bagian kontributor tulisan. Ternyata 80% pengirim ceritanya memang memiliki pekerjaan sebagai penulis. Pantas saja cerita-cerita yang ada dalam buku ini jauh lebih nyaman untuk dibaca daripada yang ada di buku kopi.

Ada satu cerita yang paling saya sukai dari seri Chicken Soup yang ini. Judulnya adalah “Teh Paling Payah Sedunia”. Mengisahkan seorang penulis dan motivator yang menggilai teh sejak lama. Kisah ini diawali dengan perjalanan Yogesh Chabria di gerbong kereta api kelas dua. Ia duduk di pinggir jendela dan mengamati pemandangan di luar kereta. Kemudian masuklah dua pemuda lain yang ternyata sama-sama hendak menuju Gurukul bernama Sameer dan Karan.

Eh, bukan, bukan. Itu 'kan salah satu adegan di film Mohabbatein (2000).

Yogesh yang sedang melakukan kegiatan overthinking kemudian mendengar berbagai macam penjual asongan menjajakan dagangannya. Salah seorang di antaranya adalah seorang penjual chai wallah a.k.a teh dengan resep khas India yang terdiri dari seduhan teh hitam dicampur susu serta rempah-rempah seperti jahe, cengkih, kayu manis, kapulaga, dan masala. Si penjaja teh dengan lantangnya mengiklankan bahwa teh yang dijualnya sangat tidak enak dan tak ada yang dapat meminumnya.

Ternyata yang dilakukan oleh mas-mas penjual teh adalah reverse psychology in advertising alias ngakunya enggak enak supaya orang tertarik mencoba. Brilian, cerdas, dan enggak ada lawan. Strategi pemasaran yang dalam satu dasawarsa ini marak di tautan bodong situs judi togel.

Cerita ini ditulis sepanjang tiga halaman tapi sensasi setelah membacanya terpatri di otak hingga buku ini ditutup. Singkat, padat, dan penuh kesan. Yogesh, selaku penulis, lihai dalam mendeskripsikan kondisi di kereta; sebuah keadaan yang sumpek dan penuh lalu lalang orang dengan bermacam kesibukan dan tujuan. Kemunculan penjaja teh memegang kendali untuk ‘menghidupkan’ plot dengan baik. Sungguh cerita yang memorable.

Sebagai tambahan, chai tea adalah salah satu jenis teh favorit saya. Resep chai tea latte dari India saya modifikasi sedikit agar lebih pas dengan selera lidah saya. Untuk satu teko teh yang akan menjadi empat porsi teh dengan ukuran cangkir 220 mililiter, saya memerlukan 5 gram teh hitam (biasanya saya menggunakan merek Dandang atau 999 kalau sedang miskin atau Darjeeling curah kalau sedang kaya), lima butir cengkih, satu batang kayu manis, satu ruas jahe digeprek, sejumput lada hitam atau Sichuan pepper, sejumput masala, empat sendok makan madu, tiga bunga adas bintang, sejumput kapulaga, satu batang vanila kering, satu strip kulit jeruk, dan sejumput pala yang diparut. Semua bahan direbus dengan air dua cangkir menggunakan api kecil untuk mempertahankan suhu pemanasan. Suhu perebusan chai tea latte harus dijaga agar tetap konstan. Setelah mencapai suhu 85 derajat Celsius, rebusan teh rempah disaring dan dicampur dengan susu murni merek apa saja untuk direbus sekali lagi selama kurang lebih 10 menit. Chai tea latte siap disajikan.

Chicken Soup for the Tea Lover’s Soul membuat saya senyum-senyum selama proses membacanya. Tulisannya lugas dan tidak berisi pengalaman yang dipaksakan seperti Chicken Soup for the Coffee Lover’s Soul. Dari kedua buku Chicken Soup favorit saya, dapat dipastikan bahwa saya lebih menyukai yang bertema teh. Y x g kuy.

--- [] ---

Saya pernah memiliki momen pesta minum teh melalui panggilan video rutin yang berlangsung setiap pagi. Teh panas yang baru diseduh tanpa zat aditif apa pun menjadi menu utama perbincangan kami—yang terkadang kehilangan sinyal dan terganggu suara berisik tetangga dari kamar kanan kiri. Bahkan cuaca panas di penghujung kemarau tidak membuat surut niat ngeteh di pagi hari menjelang siang. Sungguh menyenangkan.

Saya senang ia akhirnya menemukan kebahagiaannya sendiri. Terlepas dari adanya gagasan-gagasan asing yang menyoal pilihannya, fokus untuk menyiapkan diri menjadi hal yang lebih penting. Dalam hidup yang perubahannya selalu dipertanyakan, ada hak individu yang mesti dipenuhi—tidak menua dalam kondisi kesepian adalah salah satunya. Sebab hidup selalu dinamis. Yang statis adalah kenangannya. Akan lebih baik jika cerita-cerita lama diletakkan menjadi fondasi kerinduan lateral yang tidak perlu dibongkar-bongkar lagi.

Semoga demikian adanya.

Selamat datang di landasan pacu hidup yang baru, teman minum teh yang baik.

--- [] ---


(Twenty One Pilots - Legend)

4 KOMENTAR

  1. Aku lupa Chicken Soup mana aja yang udah dibaca. Yang paling diinget, peeertama kali baca waktu SD, punyanya tante. Langsung suka sama kisah-kisah yang disuguhkan. Sederhana tapi eksotis. Sederhana karena tentang kehidupan sehar-hari. Eksotis karena...yaaa kehidupan sehari-hari orang luar negeri. Trus bahasanya kan terjemahan gitu, yang buat aku sangat menarik :D

    BalasHapus
  2. Untung ada
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    Vpn


    Sumpah, suguhan teh di kampung itu jadi ciri khas banget sih. Ndek kampungku juga gini. Misal mertamunya pas pagi atau malam hari sih, oke ya dikasih tes anget. Lhaini siang-siang woy. Panas-panas masih ditambah suguhan teh panas. Beuh, rasanya seperti anda menjadi iron man.

    Tak ulang dua kali itu pas tiba-tiba ada scene film Mohabbatein. Tak kira beneran ke gurukul. Jebul....

    BalasHapus
  3. kayaknya gue belom pernah baca satu pun buku ini deh
    duh, norak banget

    sejatinya gue mulai suka minum kopi, empat tahun terakhir ini sih. karena emang salah satu nge boost semangat dan manfaatnya untuk nge-gym serta menurunkan berat badan. jadi masih milih kopi.
    tapi, setelah ditawarkan teh green tea di salah satu restoran thailand saat di mesir, jadi kecanduan malah. terus sekarang baca, ada teh india. udah pernah nyobain juga sih, dan rasanya enak juga. ternyata emang banyak juga ya macam teh-teh kayak gini.

    dari pada itu semua, gue jadi pengen baca yang chicken soup for tea lover's jadinya

    BalasHapus
  4. Haloo, aku juga akhir-akhir ini selesai baca buku Chicken Soup for the soul edisi yang Memulai Kembali Hidup. Thankyou ya sharingnya :)

    BalasHapus