Fear is the Worst Killer


Meditasi menjadi bagian dari hidup saya selama setahun terakhir. Saat pertama kali mempelajari teknik pernapasan untuk meditasi, saya sempat merasa angkuh karena saya pikir caranya sama saja seperti bernapas sehari-hari. Ternyata… Susah banget, cuy. Berkali-kali saya gagal di menit kelima hanya karena hal-hal sepele seperti dihinggapi nyamuk, kaki yang mulai kesemutan, dan bunyi perut lapar.

Saya tertarik mencoba meditasi sebagai langkah coba-coba penyembuhan karena “katanya” bisa membuat pikiran menjadi lebih tenang. Setelah membaca-baca buku mengenai meditasi dan Taoism, saya mantap untuk melakukannya. Premis yang pertama saya dapatkan dari meditasi adalah cara bernapas kebanyakan manusia yang sebagian besar kurang tepat. Tidak meninggalkan kesan ketenangan diri atau mengendapkan urusan duniawi.

“Jadi selama hidup bertahun-tahun, cara bernapas saya salah gitu?” Tanya saya kepada guru yang mengajar meditasi waktu itu.

Beliau lantas bertanya apakah saat salat saya bisa meninggalkan urusan duniawi. Saya tidak bisa menjawab iya dengan yakin karena hal itu sulit sekali. Seringnya saat saya salat, lantaran saking heningnya keadaan sekitar, justru pikiran-pikiran yang mengganggu saya muncul. Tentu saja yang muncul adalah pikiran mengenai memento mori dan duniawi; semua bercampur aduk menjadi satu. Beliau menjawab hal itu normal dan menekankan bahwa usaha kita untuk khusyuk—entah sampai rakaat berapa—adalah kunci dari ritual ibadah itu sendiri. Tidak perlu merasa cemas yang berlebihan karena masih susah fokus untuk salat tanpa gangguan “overthinking”.

Begitu pula yang harus saya terapkan pada meditasi. Hari pertama perkenalan saya dengan beliau hanya diisi dengan sesi curhat dan tanya jawab selama tiga jam. Saya diminta menangis sampai meraung-raung, mengeluarkan semua hal-hal kusut yang menempel di hati dan pikiran. Kalimat-kalimat yang dikatakannya saat itu tidak mempan semua di kepala saya meskipun beliau mengucapkannya berulang-ulang seperti mantra.

“All things pass.”

“Nothing really matters.”

“All is forgiven because we’ve all been happy.”


Kalimat-kalimat itu juga yang diucapkannya saat retret* meditasi dimulai dan diakhiri.

*retret adalah proses memisahkan diri dari dunia ramai untuk mencari ketenangan batin.

--- [] --- 

Menjalani Sesi Meditasi Pertama dan Kedua.

Keesokan harinya, saya datang untuk memulai sesi meditasi. Saya mengikuti lima kali sesi meditasi di Ubud. Setiap sesi biasanya berlangsung selama sepuluh hari. Saya dan para peserta meditasi pemula lainnya dipisahkan dengan peserta meditasi lama; peserta yang sudah mengikuti meditasi beberapa kali (ada yang sudah bertahun-tahun secara rutin bermeditasi). Setelah itu, kami diminta untuk mengambil posisi duduk yang paling nyaman. Pakemnya, sih, kaki dilipat ke depan dan bersilangan. Namun, saya beberapa kali berganti posisi kaki karena kesemutan luar biasa. Cupu.

Selama sepuluh hari bermeditasi, ada hal-hal yang harus ditaati para peserta. Beberapa di antaranya adalah:

1) Kami tidak diperbolehkan berbicara sama sekali (puasa berbicara);

2) Kami tidak diperbolehkan menggunakan gawai (puasa gawai);

3) Kami tidak diperbolehkan berinteraksi satu sama lain, melakukan kontak mata, maupun kontak fisik;

4) Kami tidak diperbolehkan menulis dan membaca;

5) Kami tidak diperbolehkan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga dan yoga;

6) Kami tidak diperbolehkan menonton tayangan video dan mendengarkan musik; dan

7) Kami tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan yang berasal dari hewan (menjadi vegetarian).

Pantangan-pantangan tersebut sesuai dengan kemoralan atau sila yang merupakan pengendalian diri agar tidak menyakiti diri sendiri dan pihak lain. Ada lima sila yang harus diterapkan saat meditasi. Kelima sila tersebut adalah tidak melakukan pembunuhan dan/atau penganiayaan, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan pelanggaran kesusilaan, tidak berbicara berlebihan dan berbohong, dan tidak makan atau minum yang menyebabkan kecanduan (miras dan narkoba). Tujuan dari diterapkannya lima sila selama retret berlangsung adalah peningkatan konsentrasi diri dan wawas diri agar terhindar dari hawa nafsu duniawi.

Selain itu, ada tiga sila lain yang harus dipatuhi oleh peserta meditasi lama, yaitu tidak boleh berhias (memakai make up), tidak menyantap makanan setelah tengah hari, dan tidak menggunakan tempat tidur yang tinggi atau mewah. Sebagai tambahan, selama masa retret berlangsung, kita tidak diperkenankan untuk melakukan ritual keagamaan dan sembahyang. Sebab meditasi tidak memperbolehkan adanya “intervensi” agama, kultus, ritus, kepercayaan, dan dogma tertentu. Meditasi bersifat universal dan bisa dilakukan oleh siapa saja dari latar belakang apa saja—yang berarti boleh dilakukan oleh pemeluk agama apa pun dan non-pemeluk agama. Peserta yang ingin tetap menjalankan kewajiban agamanya, dipersilakan melakukannya dalam hati. Saya salat dalam hati dan teman saya yang Katolik pun beribadah dalam hati.

Kami juga tidak mendapatkan jatah makan malam (selain buah dan agar-agar) agar tidak terlalu kenyang dan mengganggu konsentrasi selama meditasi. Poin ini membuat saya menyadari bahwa manusia lebih mudah fokus saat lapar, bukan saat kenyang.

Bye, hobi minum teh di sore hari dengan roti tawar!

Bye, jajan cilok di malam hari!

Bye, telur ceplok!

Latihan konsentrasi dilakukan dengan memusatkan pikiran pada obyek meditasi yang telah ditentukan selama retret. Jika kami sudah mencapai titik meditasi konsentrasi (Samatha Bhavana), maka dapat dikatakan bahwa kami telah mencapai Jhana. Setelah itu, kami dapat melanjutkan proses pengembangan kesadaran pada segala gerak-gerik pikiran maupun badan pada latihan meditasi tingkat lanjut (Vipassana Bhavana). Hasil tertinggi dari latihan meditasi lanjutan ini adalah kebijaksanaan (Panña). Untuk mencapai kebijaksanaan sebagai hasil latihan pengendalian pikiran secara maksimal, diperlukan persiapan dan niat yang sungguh-sungguh. Saya sering gagal di tengah meditasi karena bayangan-bayangan masa lalu muncul. Ujung-ujungnya saya malah menangis sampai harus ditenangkan oleh asisten guru. Pokoknya, selama sesi meditasi pertama dan kedua, saya lebih banyak menangis daripada berkonsentrasi.

Saya sampai kapok mau ikut sesi ketiga karena merasa bahwa 20 hari yang sebelumnya sia-sia. Bukannya sembuh dan bisa menepikan kenangan duniawi, saya justru semakin depresi. Kalau tidak dibantu oleh Mbak Menti dan Kak Dea, mungkin saya sudah mati.

“Berarti cara bermeditasi kamu yang kurang tepat atau kamu yang kurang niat, belum ikhlas, dan tidak sungguh-sungguh mau bangkit.”

Kalimat itu terus saya renungkan selama berhari-hari. Bukan meditasinya yang salah. Saya yang belum siap bermeditasi dan menanggalkan rasa sakit hati. Dendam, marah, kecewa, dan lelah menjadi satu. Saya skip sesi meditasi yang ketiga. Selama dua minggu saya lebih banyak duduk-duduk dan bengong. Kabur ke Kuta dan nontonin orang dugem sampai pagi. Kebetulan juga waktu itu bertemu teman dari Jerman yang kenalannya di Jogja, namanya Viet. Kami pun mengobrol sampai pagi selama dua hari berturut-turut di Indomaret Point di dekat Monumen Ground Zero.

Viet adalah seorang ateis-agnostik. Dia pernah mendalami tiga agama sebelum akhirnya memutuskan hal tersebut sebagai pilihan hidup terakhirnya (saat itu). Ia mengajarkan saya cara untuk menikmati proses meditasi tanpa rasa takut dan bersalah, baik menyalahkan diri sendiri maupun orang lain.

“Fear is the worst killer.”

Falsafah hidup yang dipegangnya. Setiap kali kami bertukar surel, dia selalu menulis “show no fear” di bagian akhir.

Ngomong emang gampang, bjir.

Menjalani Sesi Meditasi Ketiga, Keempat, dan Kelima.

Setelah menimbang-nimbang lagi, akhirnya saya kembali mengikuti sesi meditasi karena masih penasaran. Saya buang semua rasa bersalah saya pada diri sendiri dan orang lain. Saya ingin sembuh. Saya mau “hidup” lagi.

Sesi meditasi dipandu dengan rekaman suara S. N. Goenka. Sama seperti sesi meditasi sebelumnya, tiga hari pertama saya melakukan teknik meditasi Anapana. Memperhatikan setiap tarikan napas dengan konsentrasi penuh. Napas saya cepat dan tidak teratur. Namun, saya tidak berusaha mengubahnya agar menjadi lebih rileks karena begitulah yang harus dilakukan selama Anapana. Hanya memperhatikan napas, tidak boleh mengubahnya. Anapana menganjurkan saya untuk mengamati aliran napas dari hidung saja. Saya dilatih untuk merasakan sensasinya dan mendengarkan ritmenya.

Tujuan dari Anapana adalah melatih konsentrasi. Apa saja yang terjadi pada bagian hidung harus saya rasakan tanpa kesan artifisial. Jika sesi sebelumnya saya gagal dan menangis, di sesi ketiga saya lebih tenang. Emosi saya lebih kalem dan pikiran saya tidak berlarian ke sana kemari. Akhirnya saya bisa melaksanakan Anapana hingga hari ketiga tanpa sambatan lagi. Aye!

Hari keempat hingga kesembilan, sesi dilanjutkan dengan teknik Vipassana. Tujuan dari Vipassana adalah merasakan sensasi pernapasan yang diterima oleh seluruh bagian tubuh. Saya mengamati sensasi obyektif yang muncul dari ubun-ubun hingga ujung jari kaki. Pengamatan sensasi bernapas harus dilakukan dengan urutan yang sama selama proses meditasi. Atas ke bawah, atas ke bawah. Atau bawah ke atas, bawah ke atas. Hal ini untuk menjaga konsentrasi agar tidak mudah buyar.

Sensasi apa pun yang muncul pada tubuh, enak atau tidak enak, tidak boleh serta merta ditanggapi dengan pikiran dan perbuatan impulsif yang subyektif. Jika terasa gatal di bagian tengkuk atau kaki, saya tidak diperbolehkan menggaruknya. Sensasi itu hanya boleh dirasakan. Biarkan gatal. Biarkan kesemutan.

Hari kesepuluh saya melakukan teknik Metta Bhavana. Teknik ini adalah penyaluran rasa cinta kasih melalui getaran-getaran yang muncul untuk diri sendiri. Self-love. Mencintai diri sendiri. Jika vibrasi cinta kasih sudah bisa kita timbulkan pada diri sendiri, barulah setelah itu kita salurkan ke luar. Metta Bhavana mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain.

“Menerima apa adanya adalah keputusan terbaik saat meditasi.”

Semua rasa yang ada selama meditasi hanya lewat dan berlalu.

Datang dan pergi.

Muncul dan hilang.

Tak ada yang abadi.

Semua perasaan yang muncul dalam hidup hanya ada lalu tiada.

Datang dan pergi.

Muncul dan hilang.

Tak ada yang abadi.

Semua yang saya dapatkan selama meditasi di sesi ketiga terngiang-ngiang sampai akhir sesi; sampai saya mengikuti sesi keempat dan kelima. Ucapan-ucapan S. N. Goenka dan guru meditasi di sana melekat perlahan-lahan. Selanjutnya, saya merasa beban dalam hidup sedikit demi sedikit berkurang. Meskipun di beberapa kesempatan, saya masih merasa hidup saya sia-sia. Namun, jika teringat masa-masa meditasi tersebut, saya yakin bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Tidak satu pun. Kesenangan timbul tenggelam. Kesedihan silih berganti. Cinta datang dan hilang. Semangat bisa redup. Kesempatan bisa hangus. Hubungan bisa berakhir. Yang bernyawa pasti mati.

Yang perlu diperhatikan sebelum mengikuti retret meditasi adalah jangan mengharapkan apa-apa dari proses meditasi. Apa pun yang terjadi selama meditasi cukup dirasakan saja sensasinya. Jangan berharap penyembuhan secara drastis (bahkan berharap sembuh karena ikut meditasi). Setelah saya analisis, harapan untuk sembuh inilah yang sempat membuat saya semakin depresi. Saya menuntut. Padahal, meditasi bukan “obat”. Meditasi hanya sarana untuk menyepi sejenak dari riuhnya duniawi.

Meditasi bukan ritual agama tertentu dan sifatnya universal. Meditasi bukan juga tempat penghiburan intelektual dan filosofis, bukan pula tempat rekreasi, liburan, dan bersosialisasi (kita harus puasa berbicara bahkan pada sesama peserta). Meditasi bukan pelarian dan bukan salah satu cara eskapisme (niat saya salah banget karena ini makanya gagal terus).

Meditasi adalah seni pemurnian diri dari hawa nafsu dan dunia. Menyendiri untuk beberapa saat dan berkontemplasi dengan diri sendiri. Meditasi membantu kita untuk melakukan introspeksi dan refleksi terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidup kita. Yang bisa kita dapatkan dari meditasi adalah ketenangan, keseimbangan, dan kesadaran. Yang bisa kita sisihkan setelah mengikuti meditasi adalah kebencian dan ketamakan.

--- [] --- 

Meditasi bukanlah “ritual” mistis yang terkait dengan agama tertentu. Bukaaan. Ini sering banget menjadi miskonsepsi di kalangan awam. Meditasi boleh dilakukan siapa pun karena pada dasarnya meditasi adalah latihan pernapasan. Selain itu, meditasi tidak membuat saya meninggalkan kepercayaan yang saya anut. Justru saya semakin meyakini kepercayaan saya. Saya bisa beribadah dengan lebih “rapi”, tanpa gangguan-gangguan berlebihan yang berasal dari pikiran sendiri. Alam bawah sadar saya seperti dilatih untuk menikmati momen saat ini, sekarang.

Apa yang saya lakukan saat ini itulah yang saya miliki. Bukan hal-hal yang terjadi semenit lalu atau lima menit yang akan datang.

Saya menjadwalkan sesi meditasi sendiri dua kali sehari sejak saat itu. Setiap bangun pagi sebelum salat subuh dan sebelum tidur. Meditasi harian saya berlangsung selama 10 hingga 15 menit. Prosesnya pun bertahap dari Anapana, Vipassana, dan Metta Bhavana.

Setelah 3 bulan meditasi rutin, saya menambahkan obyek dalam prosesnya. Obyek yang pertama saya ambil dari sepuluh kasina (benda). Saya sering membayangkan lilin, pikulan, dan pantai. Selanjutnya saya membayangkan salah satu wujud dari sepuluh asubha (ketidakindahan). Sebenarnya saya kurang suka membayangkan asubha karena di ajaran meditasi asubha terdiri dari jenis-jenis mayat. Ada gambaran mayat yang berdarah-darah, mayat yang dikerubungi belatung, dan mayat yang busuk serta hancur. Namun, anjuran ini perlu dilakukan agar kita sadar jika suatu saat kita akan menjadi mayat tersebut. Dan ini manjur untuk mengingat mati.

Obyek selanjutnya adalah obyek dari anussati (perenungan). Saya kerap membayangkan silanussati (kemoralan). Batas moral yang abu-abu di dunia ini. Kasus dunia. Lingsem. Semua pertentangan batin muncul di obyek meditasi ini. Bulan kelima menjalani meditasi obyek saya bergeser pada golongan appamañña (keadaan tanpa batas). Obyek yang saya bayangkan adalah upekkha (keseimbangan batin) yang susah banget saya wujudkan. Obyek ini berlawanan 180 derajat dengan kemoralan. Saat sedang konsentrasi, yang muncul jika saya membayangkan obyek ini adalah lambang partai anu.

Apakah ini pertanda bahwa aq harus masuk ke dunia politik? Nehi, ye.

Obyek terakhir yang sekarang sedang saya bayangkan saat meditasi adalah golongan empat arupa (perenungan pada bukan materi). Saya memilih natthibhavapaññati (kekosongan). Dari kekosongan saya belajar bahwa setiap manusia tidak benar-benar punya titik terendah atau tertinggi. Semua itu hanya persepsi. Tidak nyata. Benar roda memang berputar. Namun, hanya itu yang terjadi. Parameter nasib baik dan buruk tidak benar-benar nyata. Semua netral dan semua akan berlalu.

Pengendalian pikiran memang susah banget. Jauh lebih susah daripada menahan sakit saat latihan fisik. Saya pun sampai sekarang masih sering jatuh bangun, apalagi jika trigger sakit hati muncul lagi. Terpuruk lagi. Putus asa lagi. Ingin mati lagi. Seperti yang terjadi di awal September kemarin. Semua yang saya usahakan selama berbulan-bulan meditasi rasanya hancur dalam sekejap.

Apakah ini manusiawi?

Lantas, kapan saya bisa sembuh?

--- [] ---


(Peterpan - Tak Ada yang Abadi)

7 KOMENTAR

  1. Coba deh nonton Kara no Kyoukai (cuma 13 episode). Lagu pembukanya juga bagus. Buka YouTube: “Opening Kara no Kyoukai”.

    Thanks me later.

    BalasHapus
  2. Waw! Meditasinya sampai Bali. Selain pas sesi curhat + ketemu temen dari Jerman, sama sekali nggak komunikasi sama orang lain, May? *iso yo? Ckckck

    Tak kira meditasi itu ya cuma sekedar duduk sama ngatur pernapasan doang. Ternyata harus mbayangin objek/suasana tertentu juga. Mana banyak banget. Ya Allah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak, Wis. Bener-bener puasa ngomong. Sama teman satu dorm juga pakai bahasa isyarat.

      Hapus
  3. Banyak banget jenis meditasinya. Aku jadi ingat cerita salah seorang teman yang ikut retret juga dan katanya melelahkan kalo gabisa fokus. Tapi bagus juga hasilnya katanya.

    Semoga Mbak Nayang lekas pulih.

    BalasHapus