The Self in Social Judgment: Fenomena Dunning-Krueger Effect yang Marak di Kalangan Warganet

by - June 18, 2020


Muncul di salah satu episode Spongebob Squarepants, istilah wumbo, wumbology, wumboing, dan wumboramamenjadi salah satu kunci yang menunjukkan bahwa Patrick Star adalah karakter paling jenius di serial kartun Nickelodeon tersebut. Patrick menjelaskan kepada Spongebob mengenai kebalikan dari 'mini' yang adalah 'wumbo' alias 'jumbo'. Patrick bahkan menegaskan kepada kawannya tersebut bahwa pelajaran mengenai mini versus wumbo sudah ada sejak tingkat pertamayang berarti Spongebob menganut falsafah anak sekolah: dulu enggak tahu, sekarang lupa. Patrick yang kelihatannya sebodo amat dengan pelajaran di kelas (ingat 'kan waktu dia mengikuti kelas mengemudi Nyonya Puff?) justru mengingat materi mengenai lawan kata dengan baik dan mampu menjelaskan ulang pada Spongebob.

Wumbology kemudian menjadi istilah milik Patrick yang ramai dibicarakan di Reddit. Jika kalian lupa bagaimana tepatnya Patrick menjelaskan wumbo kepada Spongebob, kalian bisa menonton ulang cuplikan singkat dari Youtube yang saya sertakan di bawah ini (cuplikan episode Spongebob Squarepants berjudul "Mermaid Man and Barnacle Boy IV: The Opposite of Mini").


(Credit scene: Nickelodeon)

Bukan pertama kali Stephen Hillenburg memberikan gambaran bahwa Patrick Star adalah tokoh paling jenius. Petunjuk tersebut juga ada di episode:

1) "The Great Snail Race". Patrick ikut lomba balap siput melawan Spongebob dan Squidward. Jika dinalar baik-baik, bagaimana batu bisa memenangkan pertandingan? Nenek-nenek juga tahu kalau batu enggak bisa bergerak. Namun, fakta dari episode tersebut membuktikan bahwa Patrick menang. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat. Titik. Jelas Patrick memiliki kemampuan tersendiri yang bisa 'menggerakkan' batu bertuah tersebut alias dia cerdik.

2) "The Sponge Who Could Fly". Adegan Patrick terbang di akhir episode dan Spongebob melongo melihatnya menunjukkan bahwa Patrickmeskipun enggak pernah koar-koar kalau dia bisa terbangterbang tanpa menggunakan alat aneh-aneh seperti yang dilakukan Spongebob sebelumnya. 

3) "Patrick Smartpants". Episode ini adalah episode paling bikin cengo karena Patrick mendadak menjadi sangat pintar. Otaknya tertukar dengan 'koral kepintaran' saat ia jatuh dari tebing. Setelah itu Patrick mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan baru seperti mengenakan jas laboratorium, melakukan penelitian, merancang penemuan, dan membaca banyak sekali buku. 

Namun, sebenarnya ada perbedaan mencolok dari dua episode pertama dan episode ketiga yang saya paparkan. Patrick di episode 1) dan 2) adalah Patrick yang street-smart, sedangkan Patrick di episode 3) adalah Patrick yang book-smartPerilaku street-smart dan book-smart Patrick serta hal-hal yang melandasi pola pikirnya dapat kita tinjau dari pendekatan kognitif-psikologis.

Dan kumpulan esai dalam buku berjudul The Self in Social Judgment (2005) adalah sesuatu yang tepat untuk diulas guna menyoroti premis tersebut.

--- [] ---


Bulan lalu saya meminjam buku mengenai Cognitive Behavioral Therapy (CBT), atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan tes kognitif dan perilaku, karena mendapatkan rekomendasi bacaan lanjutan dari buku Filosofi Teras (2018). Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa CBT merupakan salah satu cabang ilmu psikoterapi yang menganalisis pola pikir, pandangan, dan perilaku seseorang terhadap kebiasaan dan peristiwa tertentu. CBT diyakini oleh sebagian ahli untuk mengatasi trauma, ketergantungan, dan rasa takut akibat kejadian di masa lampau. Penelitian empiris untuk membuktikan 'kekuatan' CBT telah banyak dilakukan, salah satunya untuk menyembuhkan penderita Post-traumatic Stress Disorder (PTSD) dan kebiasaan merokok

Dari buku tersebut, saya mendapatkan rujukan lanjutan lagi menuju buku The Self in Social Judgment. Saat sekilas membaca ringkasannya, saya langsung mendapatkan pandangan bahwa apa yang saya tahu mungkin hanya 5% dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada di dunia. Betul, saya pasti sempat mengalami fase yang 'merasa tahu fisika' tapi ternyata 'sama sekali tidak tahu fisika' karena saya 'tidak tahu apa yang belum saya ketahui'.

Ruwet sekali, bukan?

Fenomena inilah yang disebut dengan Dunning-Krueger Effect.

Membedah Isi Buku The Self in Social Judgment.

Buku ini terdiri dari 6 bab dan 12 esai. Bab pertama yaitu introduksi sedangkan bab enam adalah konklusi. Di antara bab awal dan akhir tersebut ada empat bab yang selanjutnya disebut dengan: "PART I" yang berisi esai tentang Proyeksi Sosial, "PART II" yang berisi tulisan mengenai Pengembangan Diri, "PART III" yang berisi esai tentang Perbandingan Diri dengan Orang Lain, serta "PART IV" yang berisi tulisan mengenai Pendekatan Terintegrasi; sekaligus merangkum isi ketiga bab sebelumnya. Meskipun esai psikologi, isi bacaannya mudah dipahami.

Introduksi berisi satu esai pembuka yang memberikan 'jalan masuk' bagi pembaca supaya tahu garis besar tulisan yang akan mereka baca ke belakang. Esai pertama ini memberikan pengetahuan baru mengenai orientasi diri sebagai sumber, halangan, dan solusi bagi keluar masuknya wawasan. Jadi, wawasan seperti apa yang mau kita terima tergantung sepenuhnya oleh diri kita sendiri.

Mudahnya, kitalah yang menentukan untuk mau atau tidak menerima sebuah gagasan, baik dari diri sendiri maupun orang lain. Tanggung jawab terhadap gagasan tersebut juga sepenuhnya ada di bawah kendali kita.

Misalnya seperti ini:

Kita menerima gagasan bahwa tomat merupakan buah sekaligus sayur. Dikatakan buah karena ia memiliki biji dan dikatakan sayur karena ia lebih sering diolah bersama sup dan sambal, bukan dimakan mentah. Untuk memilih apakah tomat merupakan buah atau sayur selanjutnya menjadi urusan kita dengan kepala kita masing-masing. Tidak perlu berdebat dengan orang lain karena konsep ciri-ciri buah dan sayur sebenarnya sudah dijelaskan sejak SD.

(TAPI TOMAT ITU BUAH YA, CAMKAN INI!)

Selanjutnya, ada dua esai di PART I. Keduanya membahas tentang penilaian diri yang memiliki makna bertolak belakang 180 derajat. Di satu sisi, manusia bisa sangat merendahkan dirinya (aku jerawatan di bawah hidung segede upil, AKU NAJIS, YA ALLAH!) dan sangat meninggikan dirinya (aku mampu ngupil dengan jempol kaki, YES, OH MY GOD, I AM SO SMART AND TALENTED!).

Selain itu, saya mendapatkan pengetahuan baru mengenai "The Better-Than-Average Effect" yang menjelaskan bahwa manusia memiliki tendensi di atas rata-rata dan kecenderungan menghindari hal-hal mainstrim seperti selera musik, bacaan, dan film. Esai yang ada di PART II bahkan menyempilkan adanya kasta yang muncul akibat pemikiran manusia. Itulah mengapa lahir kaum-kaum elitis dan libertarian (susah-susah pahlawan kita memperjuangkan kesetaraan, eh, kita sekarang akhirnya balik lagi ke konsep kasta *sigh*).

Kaum elitis identik dengan kata standar dan marginal (kalau di game RPG ada istilah pro dan noob). Kaum elitis menganggap bahwa orang yang belum mencapai batas standar disebut dengan kaum marginal. Hal ini kerap terjadi di masyarakat kita. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya, ya.

Contohnya, nih:

Si A baru menyukai Naruto. Lalu dia dengan polosnya gabung ke komunitas penyuka anime dan terjadilah percakapan berikut ini.

Anak baru: WOE, AKU INI ANAK ANIME, LHO. AKU CINTA ANIME. SALAM KENAL, SENPAI SEMUAH!

Elitis grup: Emang lo udah nonton anime apa aja?

Anak baru: NARUTO, SENPAI. KLEAN TAU GAK KALAU NARUTO ITU ANIME YANG LIFE-CHANGING BANGET! SUMPAH! AKU SUKA BANGET SAMA KARAKTER ANDIKA KANGEN BAND ALIAS ITACHI UCHIHA!

Bisa dipastikan sang elitis akan langsung nge-kick si anak baru dari grup dan mengumpat, "SAMPAH!".

Ada dua hal yang bisa dipetik dari hal tersebut. Si anak baru mengalami Dunning-Krueger Effect dan sang elitis mengalami Better-Than-Average Effect (juga konsep kasta dan perangkap ego alias ego traps). Si anak baru merasa dunia anime hanya sebatas Naruto. Dia tidak menyadari bahwa dunia anime jauh lebih luas daripada itu karena dia memang tidak tahu. Namun, level kepercayaan dirinya sangat tinggi sampai bernyali masuk ke grup anime yang diketuai oleh kakek lejen...di dunia anime bukan hentai. Sementara sang elitis akan marah-marah dan biasanya membuat postingan (bahkan thread) untuk membahas bedanya penyuka anime dan non-penyuka anime.

"JANGAN SEKALI-KALI MENYEBUT DIRI KALIAN PENCINTA ANIME KALAU CUMA TAHU BLEACH, NARUTO, ATAU ONE PIECE"

Begitu tajuknya.

Padahal, Dunning dan Krueger menjelaskan bahwa kasta dalam selera itu sebenarnya palsu. Muncul akibat adanya bias psikologi dan rasa sombong yang merupakan pengaruh kedua efek psikologis tadi. Si anak baru tidak bisa dicap bukan pencinta anime karena nyatanya dia suka Naruto. Dia hanya belum tahu anime yang lain. Sang elitis juga enggak berhak menghakimi orang lain dan menetapkan standar 'bukan pencinta anime' pada orang lain karena Dunning dan Krueger menjamin secara empiris bahwa orang elitis tidak mungkin 100% tahu semua hal tentang topik tersebut (dalam konteks bahasan ini yaitu topik anime). Juga, orang yang benar-benar tahu banyak dan mendalam tentang suatu topik biasanya justru diam, mengamati, dan baru menjawab jika ditanyai pendapatnya. Orang seperti itu tidak akan memberikan label 'di bawah standar' dirinya dan mencela pendapat atau selera orang lain karena dia sendiri masih merasa bahwa pengetahuannya kurang (Malle, 2005; Otten, 2005).

Hal ini didukung oleh esai berikutnya yang ada di PART III mengenai perbandingan diri dengan orang lain. Persepsi sosial mengenai fenomena viral bisa terjadi manakala orang yang menyaksikan memiliki suara pro dan kontra. Esai yang ditulis oleh Hudges dan Malle menjelaskan konsep asimetris diri dan orang lain. Mengutip dari halaman 156 di buku ini, "Membandingkan diri sendiri dan orang lain adalah kegiatan tak terbatas waktu". Fenomena terkait yang baru terjadi di masyarakat kita adalah kasus Kekeyi Rahmawati Putri Cantika (beuh, saya sampai hafal nama lengkapnya). Kritik destruktif dan konstruktif muncul di kolom komentar video klip lagunya. Kaum elitis (cenderung kontra) dan libertarian (cenderung pro) muncul menyuarakan pendapatnya.

Namun, apa pun yang mereka sampaikan dan bandingkan, adsense Kekeyi tetap menyala. "HAHAHA. PERSETAN KLEAN SEMUA!" Mungkin gini batin Kekeyi.

PART IV merangkum ketiga bab sebelumnya dengan esai-esai yang berisi himbauan untuk meninjau ulang konsep diri, kategori sosial, dan ingroup favoritism (sikap pilih kasih terhadap kelompok sosial tertentu yang dimiliki oleh individu guna mengidentifikasi dirinya). Ada tiga esai di bagian ini. Esai pertama menceritakan pengaruh konsep diri saat seseorang menghadapi penilaian sosial. Apakah seseorang bisa menahan diri untuk tidak serampangan membalas perlakuan orang lain atau justru mengambil sikap berani dan melawan konsensi sosialnya? Semua dijawab di esai ini. Esai kedua menjelaskan tentang kecerdasan (IQ, EQ, dan SQ) yang dimiliki seseorang dalam menghadapi kehidupan sosial di masyarakat. Esai terakhir, esai ketiga, menunjukkan hubungan antara individu dan sosial yang dimulai dari konsep awal penciptaan manusia. Dari esai terakhir, saya belajar tentang The Tripartite Model: konsep definisi diri terhadap lingkungan sosial yang terdiri dari reactive distinctiveness, reflective distinctiveness, dan creative distinctiveness.

Terakhir, buku ini ditutup oleh bab enam yaitu konklusi yang berisi esai sesuai judul bukunya: The Self in Social Perception: Looking Back and Looking Ahead. Dunning menjelaskan tentang aspek egosentris manusia dan Krueger memaparkan mengenai ketiadaan empati yang berujung pada terkikisnya humanisme di diri manusia abad 21. Semua orang berlomba untuk menjadi yang paling beda, paling benar, dan paling awal. Dari sinilah cikal bakal teori Dunning-Krueger Effect muncul dan penelitian tentangnya mulai dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan luas secara empiris.

Tentang Dunning-Krueger Effect yang Membuat Seseorang Merasa Superior.


Dunning-Krueger Effect adalah salah satu keadaan psikologis yang menunjukkan kesebandingan antara tingkat keyakinan dan tingkat kebijaksanaan. Semakin rendah kebijaksanaan seseorang, semakin tinggi keyakinannya dan sebaliknya. Namun, keadaan sebaliknya hanya terpenuhi sampai di titik tertentu. Jika dilihat dari grafik, seseorang akan mengalami fase tidak tahu apa-apa hingga sedikit tahu tapi merasa sangat yakin (disebut Mount of Stupid). Bahkan tingkat keyakinannya sangat tinggi hingga mencapai titik kulminasi hiperbolik. Hal inilah yang disebut dengan Dunning-Krueger Effect. Lalu, perlahan-lahan kurvanya mengalami penurunan dan sampailah seseorang pada fase mulai tahu lebih banyak. Di fase ini, seseorang mulai belajar lebih banyak karena sadar akan kekurangannya. Hal ini ditunjukkan pada bagian valley of despair.

Kurva akan naik lagi. Namun, kenaikannya tidak akan sedrastis di fase awal. Pelan tapi pasti. Selama kenaikan kurva, seseorang akan memperkaya dirinya dengan pengetahuan dan pengalaman (yang menerapkan pengetahuan tersebut) sebanyak-banyaknya. Pada fase ini, seseorang akan mendapatkan pencerahan terhadap apa yang ia pelajari dan terapkan (disebut slope of enlightment). Hingga suatu saat ia sampai pada titik tertentu di mana tingkat keyakinannya sudah setinggi pengetahuan dan pengalamannya. Kurva akan melandai dan fase berikutnya berubah menjadi fase keseimbangan antara tingkat keyakinan, pengetahuan, dan pengalaman (wisdom mastery). Hal ini ditunjukkan oleh bagian plateau of sustainaiblity.

Manusia yang mengalami Dunning-Krueger Effect akan menjadi seseorang yang merasa superior. "Aku merasa tahu karena aku sudah nonton 3 anime di dunia." Misalnya demikian. Sementara orang yang memiliki wisdom mastery alias sudah khatam melalui efek psikologis tersebut akan merasa bahwa dirinya selalu kurang. Ilustrasi Photoscape berikut mungkin bisa membantu.



Dunning-Krueger Effect terjadi, misalnya, saat seseorang merasa sudah menonton 3 dari keseluruhan anime yang dia tahu. Biasanya dia dengan bangga akan bercerita ke orang lainbahkan di banyak kasus mereka menjadi lajaklaku dan lewah atas pencapaiannya menonton 'sedikit' anime. Hal itu terjadi karena dia sejatinya tidak tahu bahwa pengetahuannya tentang anime hanya sedikit; bahwa anime jauh lebih luas dari judul big three yang sudah dia tonton.

Singkat kata, Dunning-Krueger Effect adalah keadaan di mana seseorang tidak tahu tentang apa yang tidak dia ketahui.

Ingat Kembali Peribahasa di Pelajaran Bahasa Indonesia.


Kalau kita ingat-ingat, ada, loh, tiga peribahasa yang sangat sesuai dengan Dunning-Krueger Effect dalam bahasa Indonesia. Inilah peribahasanya:

1) Tong kosong nyaring bunyinya.

2) Padi semakin berisi semakin merunduk.

3) Bagai katak dalam tempurung.

Peribahasa yang pertama menunjukkan bahwa semakin sedikit pengetahuan seseorang, maka semakin keras dia bersuara di depan publik. Bisa juga dimaknai secara harfiah dengan melempar batu sembunyi tangan pada tong sampah berbahan seng. Pasti bunyinya "KLONTANG". Berbeda kasus jika tong sampahnya terisi penuh. Bunyinya kalau enggak "TUING", ya "NGIK".

Peribahasa kedua menunjukkan bahwa seseorang yang sudah mengalami Dunning-Krueger Effect bisa menjadi seseorang yang menguasai kebijaksanaan. Semakin diam, semakin sering mengamati, dan semakin sering belajar. Lambat laun, mulutnya tidak akan gembar-gembor menyerukan apa yang mereka tahu lagi. Mereka akan diam sampai orang lain bertanya mengenai pendapatnya. Barulah di situ ketahuan kualitasnya yang mumpuni (Patrick Star misalnya).

Warganet Mengalami Dunning-Krueger Effect Tanpa Mereka Sadari.

Dunning-Krueger Effect banyak sekali muncul dari dunia maya. Tengoklah sudah berapa warganet yang membuat thread tentang konsep-konsep dunia, misalnya: logical fallacy, body-shaming, feminisme, patriarki, standar calon suami 30 juta, dan masih banyak lagi (saya tahunya hanya sampai situ karena sudah tutup akun Twitter sejak lama). Coba renungkan mana yang benar-benar tahu dan bijaksana dalam menyampaikan pengetahuannya, dan mana yang hanya berniat pamer atau panjat sosial (atau mencari followers dan cuan!).

Jika banyak waktu luang atau benaran enggak punya kerjaan, coba tengoklah di kolom reply. Hal-hal tersebut bisa menjadi pengamatan menarik untuk eksperimen sosial dan pembelajaran diri sendiri. Warganet tanpa mereka sadari memperlihatkan Dunning-Krueger Effect yang mereka alami secara telanjang. Rasanya seperti melihat seseorang melewati fase mengompol saat masih kanak-kanak. Namun, jangan ditertawakan. Sebab saya yakin bahwa semua manusia di dunia pasti pernah mengalami Dunning-Krueger Effect (setidaknya sekali).

Kecerdasan versus Kepintaran di Serial Spongebob Squarepants.

Kepintaran (smartness) dan kecerdasan (intelligence) adalah dua hal yang berbeda. Orang pintar bukan berarti cerdas. Namun, orang cerdas seringnya pintar. Dari sinilah mengapa kepintaran dikaitkan dengan aspek kognitif saja, sedangkan kecerdasan dibagi menjadi beberapa aspek. Menurut Gardner (2003), ada sembilan jenis kecerdasan, yaitu: linguistik, logika-matematika, kinestetik, spasial, musikal, eksistensial, naturalis, interpersonal, dan intrapersonal. Masing-masing kecerdasan memiliki ciri-ciri yang berbeda.

Itulah mengapa saya membawa premis Patrick Star di awal tulisan untuk mengawali ulasan buku The Self in Social Judgment. Patrick di episode wumbo serta di episode 1) dan 2) menunjukkan bahwa ia cerdas. Sementara Patrick di episode 3) menujukkan bahwa ia pintar. Patrick yang cerdas menunjukkan bahwa ia memiliki sikap sebagai pengamat yang baik. Ia mengamati Spongebob yang bingung saat menggunakan sabuk Mermaid Man karena telanjur mengecilkan ukuran tubuh Squidward. Saat itu, Spongebob bertanya pada Patrick bagaimana caranya menggunakan sabuk tersebut dengan benar. Lalu, masuklah ke adegan saat Patrick menjelaskan perihal W untuk WUMBO.

Patrick di episode 1) juga demikian. Ia tidak pernah disorot kamera melatih batu balapnya tapi ia menang (meskipun penonton berkata bangsat karena enggak masuk akal). Sebuah kekonyolan yang tidak disangka-sangka. Sementara Patrick di episode 2) melakukan pengamatan saat Spongebob sibuk ingin terbang. Apakah ada adegan di mana Patrick menggurui Spongebob untuk terbang? Tidak ada. Patrick diam karena Spongebob tidak bertanya. Di akhir cerita, barulah Spongebob melihat Patrick bisa terbang dengan mata kepalanya sendiri.

Momen tersebut menunjukkan bahwa Patrick adalah karakter street-smart.

Kebalikan dari ketiga episode tersebut adalah episode di mana Patrick menjadi pintar karena otaknya tertukar dengan koral. Patrick melakukan protokol ilmiah yang njlimet dan terus menerus menjelaskan apa yang ia lakukan kepada Spongebob. Di saat inilah Patrick terkena Dunning-Krueger Effect. Hal ini paling kentara saat Patrick pamer kemampuan bermain klarinet pada Squidward.

Momen tersebut menunjukkan bahwa Patrick adalah karakter book-smart.

--- [] ---

Buku The Self in Social Judgment adalah salah satu buku psikologi yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Sebagai orang sains yang awam tentang dunia psikologi, saya mendapat banyak tamparan dari buku ini. Saya mengalami hampir semua efek bias psikologi yang dipaparkan oleh penulis-penulis esai di dalamnya. Merendahkan diri sendiri? Cek. Egosentris? Cek. Perangkap ego? Cek. Better-Than-Average Effect? Cek. Dunning-Krueger Effect? Cek.

Namun, dari buku ini juga, saya belajar menerima kepribadian saya di masa lalu yang sangat 'sampah', yaitu: hanya ada dua hal di dunia sains, benar (1) dan salah (0). Otak saya hanya berisi hal biner dan  tidak mau menerima keluwesan berpikir orang lain yang tidak sejalan. Boleh dikatakan, saya termasuk tipe book-smart banget. Padahal, dengan membaca banyak buku, tidak menunjukkan bahwa saya lebih daripada orang lain. Saya juga tidak bisa menerapkan apa yang saya baca secara praktikal. Semua saya telan mentah-mentah.

Sekarang, justru setelah saya resign dari pekerjaan di kampus dan sekolah, saya menjadi lebih fleksibel. Pengetahuan yang dulu saya terima pelan-pelan saya terapkan pada kehidupan sehari-hari. Misalnya saja konsep trigonometri dan fisika kuantum. Dulu, saya menganggap bahwa keduanya susah dan tidak praktikal. Namun, beberapa waktu ini saya menyadari bahwa kedua materi tersebut berguna untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah pada kehidupan sehari-hari (saya menggunakan trigonometri untuk mengganti genteng rumah yang bocor dan fisika kuantum untuk mengecek kebocoran). 

Jadi, street-smart dan book-smart itu bagaikan dua sisi mata uang (koin) yang saling melengkapi. Keduanya bisa muncul dalam diri manusia dan menguatkan satu sama lain. Sisi book-smart akan kita dapatkan dari belajar secara formal di sekolah, membaca buku, atau mendengarkan siniar. Sementara sisi street-smart akan kita peroleh dari pengalaman sehari-hari, observasi terhadap lingkungan, dan penerapan pengetahuan yang telah kita dapatkan sebelumnya.

Seperti move on dari kejadian pahit di masa lalu, kebijaksanaan memang susah diraih; namun bukan berarti mustahil. Ingatlah Patrick yang aslinya jenius.

Apakah kamu termasuk warganet yang mengalami Dunning-Krueger Effect?









Referensi diambil dari:

https://onlinepethealth-info.com/2019/12/12/the-dunning-kruger-effect/
https://gambarspongebob2019.blogspot.com/1973/08/gambar-spongebob-dan-patrick-keren.html
https://www.amazon.com/Self-Social-Judgment-Studies-Identity/dp/1138006106
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/da.21997
https://psycnet.apa.org/record/2009-24023-020
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780123855220000056
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0167487013000949
https://link.springer.com/article/10.1007/s11256-007-0047-9
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/1467-9922.00227

You May Also Like

22 Comments

  1. lagi-lagi, pelajaran filosofi begini menghadirkan dua sisi semcam pro kontra. entahlah, setiap kali saya membaca konsep kebaikan di dunia, yang muncul pasti dua hal yang berbeda, berlawanan, tapi tingkatnya disejajarkan.

    mungkin itu demi kebaikan, sehingga tak ada yg merasa lebih atau menang juga. saling memaklumi. secara batin, mungkin akan meningkatkan ketenangan. namun, perlahan saya jadi tidak menyukai konsep ini. terlebih saat saya sedang menutup "pola pikir baik".

    terlalu banyak pemakluman yang terjadi di sekitar saya. "tergantung niatnya" "yang penting baik". niat padahal gak ada yg tau, kebaikan kalo hanya pada satu orang atau kelompok namanya juga bukan kebaikan...

    kalo kedua sisi tadi seimbang, nggak ada yg berubah di sana. diam sama kuat dan menabung pemakluman sebanyak mungkin. saya menginginkan kedua sisi ini bertabrakan adu kuat. dengan aturan, yang kalah mengikuti yang menang. untuk berubah dan meningkatkan standar/dasar.

    setelah itu, silakan kontra lagi, tapi tak boleh dengan wisdom di bawah standar kemajuan yg telah dibuat.

    entah ini saya ngetik apa dan mungkin ngalami yg disebut "better than average" tadi, tapi saya memang mulai tidak menyukai konsep keseimbangan, terutama keseimbangan yang tidak saling menguatkan.

    tidak semua keseimbangan itu saling menguatkan dong. ada satu yang membangun cepat, satunya memunaskan cepat. bukan sama-sama membangun perlahan. arrgggh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang susah ngomongin keseimbangan. Aku sepakat kalau keseimbangan memang bisa bersifat destruktif dan konstruktif, Haw. Malah aku mikirnya keseimbangan itu lebih dominan pada destruktif. Bisa dilihat dari beberapa fenomena: perang Kurawa dan Pandawa, petahana dan oposisi, dll. Di fisika juga dua gelombang yang memiliki arah amplitudo berbeda adalah paduan dua atau lebih gelombang yang bisa mencapai titik ekuilibrium tepat kembali di sumbu-x (interferensi destruktif alias saling melemahkan).

      Sementara dari hasil paparanmu, keseimbangan 'di luar' tercapai tapi memupuk pemakluman dan menghancurkan 'sisi dalam' diri si empunya pemakluman (akibatnya bisa stres dan mengalami krisis eksistensial). Terjadi juga pada kalimat "tergantung orangnya", dan seperti katamu "tergantung niatnya" juga "yang penting baik".

      Kalau masih mumet, coba ingat lagi tentang konsep pasangan: hidup-mati, baik-buruk, dan yin-yang. Ilmu psikologi memang ruwet, itu fakta. Persepsi kita terhadap ilmu psikologi yang bikin mikir 'sok baik', 'sok seimbang', dan lainnya, itu fana. Muncul karena value judgment kita sendiri.

      Akhir kata, kita joged dulu.

      HOK A HOK E! BUKAK SITIK JOSH!

      Delete
    2. oke. bentar, joged dulu sebelum bales.


      iya, saya juga sudah diceramahi banyak penulis tentang kefanaan dan persepsi maupun asumsi yang kadang mengintai bisa menerkam diri itu.

      ***

      ..dan persepsi psikologi, terhadap psikologi orang yang mempersepsikan psikologi konsep kehidupan itu juga suatu kefanaan. Kan? munculnya juga karena persepsi.

      saya juga sadar bahwa tak ada kebeneran (pemikiran/anggapan) yang mutlak, tapi, saya menyingkirkan hal tersebut sebentar. seperti saya sebut di atas, menutup pikiran baik. sejujurnya saya juga bingung ini mau ngejelasin apa dan mau berdiskusi tentang apa. xD cuma saya selalu terganggu dengan konsep dua mata koin yang tak bisa dipisahkan, menjaga keseimbangan dan saling membutuhkan itu.

      jadi teringat saya dengan seorang pastur dalam cerita Khalil Gibran yang tidak jadi memusnahkan iblis terakhir. sebab, kalo iblis mati, pasturnya tidak bisa lagi berceramah menyampaikan kebaikan. nggak ada iblis, nggak ada pemicu kejahatan, semua orang baik, pasturnya akan terabaikan, tak dapat apa-apa, hidupnya bisa lebih sulit, lalu dia merawat iblis itu dengan sepenuh hati. saling membutuhkan, iya, seimbang juga iya, tapi tetap saja tergelitik bahwa ada yg salah di sana. kayak gitu.

      justru saat saya dulu perlahan mengolah konsep pasang2an tadi, ampe kesel sendiri pas mau tidur, saya melihat itu bukan sebegai keseimbangan atau pelengkapan. baik dan buruk. apakah hidup ini akan benar2 membosankan jika tidak ada keburukan?

      surga neraka. lalu apa benar2 seimbang kehidupan nanti saat semuanya diganjar. yg buruk terus dapat keburukan (neraka), yg baik selalu diberkahi kebaikan (surga)? apa gunanya kedua itu berlangsung? semenyenangkan apa melihat orang yang disiksa repeat jutaan miliar kali bagi yg maha segalanya?

      atau apakah pada akhirnya yg disiksa itu akan dikumpulkan dgn penghuni surga? kalo demikian, bukannya konsep keseimbangannya jadi hilang? kalo memang tujuan akhirnya jadi satu sisi (dikumpulkan bersama yg baik), untuk apa selama ini dikenalkan konsep berpasangan yang jadi memaklumi banyak ketidakbenaran?

      adohai, May, postinganmu ini ngulik sekali hal-hal yang udah saya gencet dalem-dalem. padahal bahasan utamanya tentang ketahuan dan ketidaktahuan. udah ah. mending saya kembali nonton Nella KHarisma saja.

      Delete
    3. Awalnya mau komen begini: Tomat dimakan langsung ya enak, di jus enak, di masak juga enak. Mau statusnya buah atau sayur, formalitas aja deh wkwkwkw.

      Kemudian baca komentar2 di atas, jadi keasyikan menyimak di sini.

      Delete
    4. @Haw: Semoga kamu udah nonton video klip Nella Kharisma - Bayu Moto yang baru rilis minggu kemarin.

      "...dan persepsi psikologi, terhadap psikologi orang yang mempersepsikan psikologi konsep kehidupan itu juga suatu kefanaan. Kan? munculnya juga karena persepsi."

      Persepsi/opini (data kualitatif) dan asumsi (data kuantitatif) yang sudah diteliti berdasarkan metode ilmiah secara empiris dan mendapatkan temuan tertentu (secara berulang agar reliabel dan berdasarkan parameter penilaian kuali dan kuanti biar valid) berarti geser sebutannya menjadi teori. Sama seperti kita mendapatkan teori psikologi yang lain (teori psikosomatis misalnya). Persepsimu terhadap keseimbangan yang bertabrakan dulu baru nanti adu kuat dan kita lihat siapa yang menang untuk menjadi standar/batas baru harus diuji dulu. Jika belum, namanya masih persepsi 'kan? Buah pikiran manusia yang berkontemplasi.

      Jadi, menggalaui sesuatu yang masih persepsi itu boleh sampai mempeng tapi jangan berlebihan. Kayaknya aku juga mesti baca beberapa referensi lagi tentang ini supaya nggak terkesan "cuma bisa ngomong yang baik-baik doang tentang psikologi" karena aku pun masih angin-anginan menyikapi keseimbangan. Apalagi keseimbangan yang kamu jabarkan di komentar kedua.

      Aku sendiri 'kurang' meyakini konsep surga dan neraka yang dijelaskan oleh guru agama sejak dulu. Kalau memang pada akhirnya orang dikumpulkan jadi satu di surga, berarti apa gunanya orang di dunia yang berusaha berbuat baik? Di mana letak keseimbangannya? Rasanya konsep dosa seperti utang yang harus kita bayar lunas nantinya. Belum lagi perihal karma, hari pembalasan, dan lain sebagainya. Namun, balik lagi ke tujuan penciptaan manusia. Kalau di kitab, kita diciptakan untuk menjadi khalifah. Makna khalifah sendiri jauh lebih luas daripada sekadar menjauhi larangan-Nya dan melakukan perintah-Nya; menjaga bumi dari kerusakan. Menjaga bumi dari kerusakan pun jika ditelaah jobdesc-nya luas. Jadi apakah orang jahat dan baik ada supaya dunia seimbang? Aku tidak berpikir demikian. Mungkin kacamataku yang belum mampu menelaah apa itu 'keseimbangan'.

      Delete
    5. @Zahrah: Semua orang bebas memperlakukan tomat sesuai selera, ya? Terima kasih sudah nyimak, Zahrah.

      Delete
    6. Sama seperti kasus mitos jadinya. Opini pribadi, yg berkembang menjadi asumsi karna sudah melewati metodologi pengamatan (niteni), sehingga jadilah suatu "teori mitos". Tapi kita akan sepakat kalo mitos itu banyak kesalahannya. Entah karna data yg kurang, atau metodologi yg salah, atau penarikan kesimpulannya yg keliru.

      Seperti itu juga yg saya lihat mengenai konsep2 keseimbangan atau teori2 tersebut. Karna pengumpulan data pun hanya mementingkan untuk mendapatkan "data minimal agar memenuhi" saja. Yg artinya, banyak data lain yg sama tapi sifatnya berbeda yg luput disertakan.

      Dibanding pengujian apakah benar, yg sulit dilakukan, saya lebih fokus pada teknik kenapa itu tidak salah yg mengacu pada pengujian/pengamatan konsep keseimbangan.

      Kalo mau melebar. Kita arahkan pada hal kecil ttg psikologi manusia yg beda pendapat tapi sama kuat.

      Misalnya ttg bubur diaduk dan tidak. Kedua hal tersebut sama2 kuat. Ujungnya menimbulkan pemkaluman. Terserah masing2. Akibatnya, permasalah mengenai hal tersebut tak pernah selesai, selalu saja muncul.

      Pertentangan pertambangan kalo kasus berat yg mana ini bahasannya udah melebar haduh lah mbuh. Sama2 kuat antara pendukung dan penolaknya. Akibatnya, tak ada yg berubah, pertambangan terus jalan. Pertentangan tolak-dukung terus berlanjut. Semuanya terus berlanjut. Hal ini yg saya sebut keseimbanagan itu perlu diuji lagi. Apakah harus selalu seimbang, atau harus ada fase mengalahkan dulu.

      Misal bubur diaduk kalah dulu ama yg tidak diaduk. Sehingga saat ada pertanyaan mana yg benar, kita sudah tau ketetapan yg benar. Agar pertentangan tidak terjadi. Namun, bukan berarti menuduh makan diaduk itu salah. Itu hanya ekspresi diri. Semacam itu. Tentu ini gak absah, belom didukung nama besar dan terpajang rapi di rak buku. Boleh diabaikan.

      Lalu, apa menurut pandanganmu/asumsi/opini ttg keseimbangan hubungan sosial manusia perihal baik dan buruk?

      Delete
    7. @Haw: Mitos memiliki kedudukan yang sama seperti teori tapi parameter dan definisinya berbeda sekali, Haw. Persamaannya selain kedudukan juga waktu. Keduanya sama-sama lampau. Bedanya, aku ambil dua contoh. Mitos Yunani kuno. Kenapa disebut mitos? Karena duluuu banget ada orang yang melihat langsung, lalu diceritakan turun temurun mengenai mitologi tersebut hingga ke anak cucu cicitnya, dan sampailah pada generasi kita. Orang tahu mitologi yunani? Tahu. Apakah bisa membuktikannya sekarang? Tidak. Karena itu dari cerita turun temurun yang diyakini benar dan terjadi, dan poinnya kenapa dia satu kedudukan dengan teori, ada orang terdahulu yang memang mengalami dan melihat langsung kehidupan Yunani kuno.

      Sedangkan teori, ambillah teori aljabar matematika aka porogapit. Orang bisa menghitung dan membuktikan bahwa 2+2=4 dan hasil pembuktiannya "bisa dilihat" oleh orang lain secara langsung, saat ini. Sedangkan pembuktian mitos, "tidak bisa dilihat" oleh orang lain secara langsung, saat ini. Namun, itu tidak membuat mitos sejajar dengan asumsi dan persepsi. Karena persepsi hadir sebagai buah pikiran manusia (kita dikasih tau konsep bubur diaduk dan berpikir kalau itu enggak membangkitkan selera makan itu persepsi). Dan asumsi hadir sebagai pengandaian manusia terhadap sesuatu (udah nonton Naruto episode 1, bersambung, berandai-andai apa yang terjadi di episode 2 itu asumsi).

      Mengapa ada data yang minimal alias batasan data yang digunakan di setiap analisis dalam menemukan benang merah konsep keseimbangan? Karena: 1) Keterbatasan si pengolah data, 2) Pertimbangan galat/error yang muncul jika data diambil dari skala besar dan hasil yang berbeda-beda, dan 3) Kode etik penelitian. Data outlayer yang berbeda dari hipotesis awal penelitian akan "dipencilkan" dan tidak ikut dalam analisis, sehingga hasil dari banyak penelitian mengenai konsep keseimbangan itu memang kurang tepat.

      Aku pun sering mengkritisi beberapa portal jurnal yang semena-mena membuang data berbeda, dalam kasus sains. Seringkali aku melihat metode salah kaprah dalam pengujian jurnal psikologi, tapi aku nggak bisa ngasih kritikan karena bukan bidangku. Aku pun hanya mengamati. Sampai hari ini belum terjawab mengapa ada pemakluman dan kasus "cutting data" di artikel-artikel psikologis.

      Oke, ke bubur diaduk dan tidak diaduk. Konsensus masyarakat untuk melabeli salah satunya menjadi "cara makan bubur yang salah" itu larinya ke kesepakatan sosial dan kecenderungan minor mayor. Kalau mau dibuktikan, ya perlu ada survei menyeluruh misalnya, di google doc, untuk mengetahui seberapa banyak tim bubur diaduk dan tidak diaduk. Namun, apakah semua orang Indonesia bisa turut mengisi surveinya? Kurasa tidak.

      Masalah pertambangan, demo menolak dan legowo menerima ini sebenarnya juga masalah minor mayor. Yang menerima itu nggak mungkin semuanya benaran menerima. Mereka mungkin menolak tapi dalam hati. Akhirnya semua aktivitas pertambangan terus berlanjut. Siapa yang menang? Nggak ada. Yang menolak nggak menang, yang menerima juga nggak menang. Karena adanya penolakan atau tidak sebenarnya tidak menjadi soal bagi yang berkuasa (inilah mengapa konsep kapitalisme penting untuk dipelajari).

      Namun, untuk urusan keseimbangan, rasanya terlalu sempit kalau kajiannya hanya seimbang terus. Aku sepakat dengan adanya persepsi fase mengalahkan dan fase menguatkan. Pun pengujiannya masish perlu dilakukan tanpa semena-mena memotong data yang berbeda supaya konklusinya valid (setidaknya masuk akal).

      Menurutku keseimbangan hubungan sosial manusia bukan perihal baik dan buruk. Aku lebih menganut teori kausalitas ketimbang teori keseimbangan (kalau sosial).

      Delete
    8. kan itu juga yg kujelaskan. mitos dianggap teori, karena para pengamatnya saat itu sama-sama membuktikan, namun, ketika ada data baru, penemuan baru, metodologi baru, pasti kita bisa dengan mudah menyebutnya salah. makanya saya sebut jika kita melihatnya sekarang, kita akan sepakat itu salah. emang itu poinnya.

      itu dia. itu. persepsimu ttg apakah semua orang bisa mengisi surveynya, apa tidak bisa memperlakukannya sama, dengan mengambil langkah aturan teori yang memerlukan data minimal? JIka ada metode pembuktiannya, secara struktur dan pencampuran bahan makanan, juga penurunan rasa karena indera penglihat dan pengecap, bukankah itu juga bisa ditentukan nama yang bisa dijadikan patokan "sebenarnya".

      di perihal pertambangan ini, sepertinya kita bakal ada PR, jika tidak ada yang menang, atau tidak ada yg kalah, tapi tetap berlanjut, yang artinya lebih mengarah kuat pada yang setuju (bukan penerimaan, tapi setuju atau menolak), kelompok mayor/kapitalis ini akan di posisikan sebagai pihak mana.. karena meletakkannya sebagai penguasa yang bebas melakukan apa pun, bisa menabrak semua aturan dan teori yang ditemukan.

      saya bukan penganut teori apa-apa, sih. belum mungkin. saya hanya menyukai hal-hal yang situasional. kalau kausalitas, tidak bisa saya anggap berdiri sendiri, dia akan masuk di hampir semua teori yang muncul terkait interaksi sosial.

      saya tidak pernah menyalahkan teori yang sudah orang buat juga, toh itu berasal dari berbagai pengamatan dan percobaan yang benar. yang saya soroti, bagaimana jika teori tersebut tidak bisa berdiri sendiri atau fasenya belum lengkap. tentu dengan sebelumnya melakukan pengamatan sendiri terhadap hal-hal terkait anomali teori yang tersorot. dan memepertahankan teori sendiri mati-matian setelah melakukan pengamatan itu menyenangkan, terlepas apakah akhirnya akan salah atau benar. karena dalam ilmu pengetahuan, salah itu bukan hal yang penting, asalkan tidak ada manipulasi atau kebohongan.

      (kayaknya kalo orang melihat balasan saya dalam komentar ini, saya bakal dianggap orang bebal, bebas sih xD) btw terima kasih sudah menanggapi dgn serius, bahkan menggunakan susunan kalimat yang sangat baik meski saya menjawabnya dengan kalimat yg kelewat disederhanakan dan membuat salah tangkap.

      Delete
    9. Bebal gimana? Enggak keliatan bebal. Cuma diskusi dua arah doang. Aku juga jadi melebar balasnya. Mungkin lain kali kita balik ke main core aja soalnya pikiran kita sama-sama 'mbeleber', Haw.

      Delete
  2. “The general population doesn’t know what’s happening, and it doesn’t even know that it doesn’t know,” kata Noam Chomsky.

    Ada buku lanjutan yang berkaitan dengan tema yang kamu singgung. Judulnya ‘Violence: Six Sideways Reflections’ bikinan Slavoj Zizek.

    Oke, mendengar nama itu, mungkin kamu akan bilang bahwa itu buku kiri. Dan memang betul. Tetapi ada satu hal menarik dari Zizek: Kekerasan Objektif. (Tema yang kamu angkat ini dibutuhkan untuk bisa memahami pemikiran Zizek, yang ujung-ujungnya bakal membawa kita ke pembahasan soal empati—dan sosial-ekonomi.)

    Omong-omong, apakah jargon “hidup seperti larry” sudah bisa kita ganti dengan “hidup seperti patrick”?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cocok memang sabda Noam Chomsky untuk postingan kali ini. Tengkyu.

      Aku enggak pernah melabeli buku dengan aliran kanan maupun kiri. Zizek aku udah baca beberapa (paling suka yang Hegel dan yang membahas tragedi 9/11--aku lupa judulnya apa, Gip). Memang dia lekat banget sama persoalan kekerasan dan empati antar sesama--persis yang sempat kita singgung kemarin. Nanti aku akan coba membaca judul yang kamu berikan.

      BISA BANGET, BOSQUE. HIDUP SEPERTI PATRICK! HIDUP WUMBO!

      Delete
  3. Aku nebeng komen ajah. Gak tau mau komen apa. Cuma suka bacanya ajah. Serius. Gak bohong. Oh May... Here we go again

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagi cendolnya, Gan. Sundul juga jangan lupa biar masuk hot trit.

      Delete
  4. Tapi Wumbo dengan membalik lambang M di sabuk yang dibilang Patrick enggak bikin Squirdward jadi besar lagi, kan? Omongannya cuma konsep aja?

    Pada masanya, setiap kali tahu suatu hal duluan yang terasa baru (entah itu musik, film, buku, dsb.) dan teman di sekitar belum atau ketinggalan, saya sering merasa lebih keren dan menganggap mereka norak. Hahaha.

    Terus sebagaimana tingkatan menuntut ilmu yang bilang itu tahap pertama dan merasa tahu segalanya, saya tentu sudah melewatinya. Sudah masuk ke tahap selanjutnya. Kini bisa lebih kalem menanggapi orang sejenis tahap kesatu--selama pernyataannya enggak keterlaluan. Saya rasa sulit masuk ke tahap ketiga yang benar-benar merasa enggak tahu apa-apa, sebab tetap aja ada sifat arogan dalam diri, misalnya mengejek orang lain sebatas di pikiran. Namun, kadang-kadang sekalian mengejek diri sendiri sih, karena setelahnya bakal terpacu mencari referensi lebih banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Nggak bikin jadi besar lagi, wkwk.

      Fase better-than-average memang pasti muncul di diri setiap orang, Yogs. Tapi balik lagi, mengingat bahwa kita hanya satu dan karya manusia (buku, musik, film) ada buanyak buanget, kita akan sampai di titik merasa kerdil dan tidak pantas buat merasa lebih keren.

      Kalau jatuhnya udah ke mengejek diri sendiri juga saat mengejek orang lain, berarti kamu masuk ke fase menuju wisdom mastery. Arogan itu manusiawi karena seerti yang kukutip dari buku tersebut "Membandingkan diri sendiri dan orang lain adalah kegiatan tak terbatas waktu". Pintar-pintarnya kita mengelola emosi dan ego supaya ejekan dalam pikiran tidak keluar secara serampangan dan menyakiti orang lain. Sebab setiap orang punya kapasitas pengetahuan dan kemampuan belajar yang berbeda-beda.

      Delete
  5. Huah saya manggut-manggut aja bacanya. Sesekali nyengir karena... ya ampun saya nggak ngerti. :')
    Nyengir saya paling lebar pas baca "Menurut Gardner...". Jadi inget kuliah kependidikan mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya dek Robby kesayangan mampir ke sini. Sukaaa! Hehe. Iya nih, Garder, Piaget, Ausubel, dan sekawannya memang sangat membekas di ingatan.

      Delete
    2. Huehehe, sebenernya sempat mampir beberapa kali mbak. Tapi nggak ninggalin jejak aja hehe

      Delete
    3. Iya, kolom komentarnya baru dibenerin juga, Rob. Makasih ya, udah main.

      Delete
  6. Awalnya aku menyimpulkan bahwa patrick itu bodoh dan jorok, tapi dia jenius juga heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Patrick itu jenius. Joroknya hanya kedok. Hehe.

      Delete

A barrel of drink for me and you. Feel free to drop a comment or two.