Rebahan yang Produktif dan Kegabutan yang Dipertanyakan


Berita tentang virus korona yang merebak di Indonesia sejak awal tahun 2020 menyingkap banyak tabir penuh polemik di dunia kesehatan. Salah satunya adalah ketidaksiapan sektor kesehatan dalam menangani pasien masif akibat pandemi. Masyarakat yang bergantung pada keterbukaan informasi dari pemerintah merasa galau karena diombang-ambingkan oleh kebijakan yang terus berganti-ganti: bulan kemarin karantina wilayah, bulan ini sudah kenormalan baru. Tahun lalu jadian, tahun ini sudah jadi mantan.

#ehgimana

Berita-berita yang muncul di media massa juga seringnya menimbulkan semacam kepanikan baru. Kita disuguhi dengan teori konspirasi ngasal dan agenda tersembunyi para saintis. Sebaliknya, kita juga dijejali banyak sekali informasi salah kaprah mengenai penanganan pandemi yang tidak tepat guna. Hal-hal semacam itu bisa membuat pening kepala jika terus dipikirkan.

Sebagai orang awam, saya juga mengalami banyak hambatan untuk beraktivitas di luar seperti biasa. Yang tadinya bisa pecicilan ke sana kemari untuk mencari kesempatan memperbaiki masa depan, kini jadi duduk-duduk ngeteh sambil ngisi TTS sehariankadang main monopoli dan kartu remi juga. Agenda kerja ke beberapa lokasi jadi tertunda dan bahkan ada yang dibatalkan.

#akurapopo

Penyebaran virus korona memang mengharuskan kita untuk mengurangi interaksi dengan orang lain dalam jumlah besar. Namun, bukan berarti pandemi bisa memblokade kita dari hal-hal baru. Ada banyaaak bangeeet kegiatan yang bisa dilakukan saat karantina wilayah; bukan rebahan serta gabut saja. Ini adalah kesempatan emas bagi orang-orang yang mau mencoba peruntungan dengan hobinya. Yang tadinya bekerja sebagai karyawan 9 to 5, sekarang bisa mengembangkan minat dan bakat di sela-sela agenda kerja dari rumah.

Beberapa kegiatan berikut adalah hal-hal baru yang saya coba selama masa karantina. Ada yang bikin ketagihan, ada yang menghasilkan uang, dan ada yang mengganggu tetangga karena berisik dengan suara sumbang.

--- [] ---

1. Menulis Jurnal dan Menggambar Doodle


Sejak tahun lalu, menulis jurnal adalah bagian dari kegiatan rutin pagi dan malam yang tidak pernah saya tinggalkan. Menulis jurnal efeknya seperti pijat refleksi. Bedanya, pijat bisa membuat otot dan sendi relaksasi, sedangkan menulis jurnal bisa membuat neuron otak kita menjadi lebih aktif dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan. Segala 'racun' dan 'sampah' yang muncul di kepala bisa dipindahkan ke kertas. Saya memilih media kertas dibandingkan program pengolah kata di laptop untuk menulis jurnal karena saya bisa lebih ekspresif (tulisannya jadi keren kalau pakai pulpen boxi dan jadi cakar ayam kalau pakai pulpen pilot; khas anak sekolah). 

Selama pandemi, kegiatan menulis jurnal saya menjadi lebih aktif. Ada bab-bab yang harus saya kerjakan dan ada 'tugas' yang mesti saya kumpulkan setiap minggu, misalnya: daftar centang jogging harian, meditasi rutin dua kali sehari, dan susunan menu mingguan yang harus saya tepati. Sebab setahun kemarin massa tubuh saya turun sebanyak 10kg.

Selain berbentuk tulisan, saya juga menulis diari dalam bentuk gambar coretan alias doodle. Doodle membuat pikiran saya lebih segar. Gambar acak yang saya buat menunjukkan mood saya di hari itu. Doodle juga bisa menjadi media pelepasan emosi atau amarah saat saya sedang senang atau sedih. Seringkali saya membubuhkan simbol-simbol yang saya pelajari saat ikut Pramuka: sandi rumput atau sandi morse atau aksara Jawa.

2. Menjahit Luka dan Merajut Kenangan


Ibu adalah orang yang selalu marah-marah kalau anak perempuannya enggak becus melakukan pekerjaan rumah. "Kamu enggak apa-apa tomboi, tapi harus mahir melakukan pekerjaan rumah." Begitu ujarnya saat sedang mengomel. Sejak kecil saya diajari menjahit, menyulam, merajut, dan menenun. Kalau dalam seminggu belum setor hasta karya ke ibu, saya bisa dimarahi dan tidak diperbolehkan untuk bermain bersama teman-teman.

Kebiasaan itu muncul lagi saat pandemi. Selama karantina, saya menjahit boneka kecil-kecil dan merajut pembatas buku dari benang. Sulaman kristik untuk taplak meja juga sudah terselesaikan. Jangan salah, loh. Meskipun terdengar melelahkan dan membosankan, kegiatan ini bisa dilakukan sambil rebahan. Kamu tidak harus duduk 90 derajat saat merajut; sambil guling-guling atau tiduran pun bisa. Yang penting polanya sudah tahu.

Menjahit, merajut, menyulam, dan menenun bisa menjadi aktivitas alternatif sebagai mekanisme penangkal stres. Pikiran yang sempat cupet karena berita pemusnahan massal akibat virus korona menjadi lebih selow. Chill, man. Apalagi jika saat merajut ditemani dengan lagu-lagu original sountrack The Legend of Condor Heroes (1983) yang ada kecapinya, suasananya akan lebih wadidaw

3. Melukis dengan Kanvas dan Cat Akrilik


Melukis dengan cat akrilik di atas kanvas baru saya mulai sejak bulan lalu. Sensasinya, oh wow, sama sekali berbeda dengan bermain cat air di atas kertas! Cat akrilik memiliki tekstur yang lebih pekat daripada cat air. Tanpa media pengencer, cat akrilik bisa langsung dipulaskan ke kanvas. Pencampuran warna juga lebih ekstrem karena saya bisa gigit jari kalau hasil campurannya tidak kunjung memiliki gradasi yang saya mau. Jika salah, saya tidak bisa mengoreksinya dengan air seperti saat melukis dengan cat air. Alhasil, saya harus lebih hati-hati saat bermain warna (cat akrilik harganya kayak kuda).

Melukis dengan cat akrilik bisa membuat saya lupa waktu. Baru pegang kuas sebentar di sore hari, tahu-tahu sudah subuh, begitu pun sebaliknya. Kegiatan melukis bisa menjadi 'batas alami' supaya saya tidak sering memegang ponsel pintar dan membaca berita hoaks serta mengamati promo flash sale di Shopee.

4. Mencari Kunci Lagu Jadul Secara Manual


Lagu-lagu jadul (yang penyanyinya enggak terkenal) kadang tidak ada kunci ukulelenya di aplikasi Ultimate Guitar Chords. Padahal, saya pengin bisa memainkan lagu-lagu milik Anima (Bintang), Sahara (Kau Bukan Untukku), Bro (Diriku Menggila), The Fly (Terbang), dan Funky Chopral (Funchopat 2)Beberapa memang ada kunci gitarnya tapi enggak pas kalau di-genjreng menggunakan ukulele. Maka, bermodalkan telinga saya yang pas-pasan, saya berusaha mencari kunci lagu-lagu jadul yang menemani masa-masa SD saya.

Kemarin saya akhirnya menemukan kunci lagunya Greenmaster yang berjudul Bukan Karena Cinta (2009) setelah seharian coba-coba. Lagu ini dulunya selalu menjadi salah satu lagu pilihan wajib untuk festival band di sekolah; berjajar dengan Kotak (Terbang), Cokelat (Bendera), dan J-Rocks (Ceria). Mencari kunci dengan ukulele harus sabar dan telaten. Kegiatan ini bisa banget menjadi salah satu agenda baru saat pandemi. Selain nyenengin, main musik lawas juga bisa membawa kenangan lama pada masa sekolah.

--- [] ---

Meskipun kita tidak bisa benar-benar meraba ketepatan berita mengenai virus korona dan hanya bisa melakukan kegiatan-kegiatan baru di rumah, kita tetap bisa mendeteksi sejak dini gejala penyakit akibat virus ini dengan layanan satu atap yang disediakan oleh aplikasi Halodoc. Halodoc menyediakan pilihan layanan Rapid Test dan PCR Swab Test di beberapa lokasi di Indonesia, salah satunya adalah layanan covid test Surabaya. Canggihnya, nih, covid test bahkan bisa kamu pesan melalui lantatur alias layanan tanpa turun (drive thru) yang disediakan oleh aplikasi Halodoc. Sangat membantu, bukan?


Halodoc adalah salah satu aplikasi penyedia layanan kesehatan daring yang memiliki banyak fitur inovatif dan fungsional bagi pengguna. Cara mendaftar di Halodoc pun super-duper-gampang. Kamu dapat mengakses website Halodoc melalui browser jika kamu menggunakan PC atau laptop. Sedangkan bagi kamu yang lebih suka menggunakan ponsel pintar, aplikasi Halodoc bisa diunduh di Play Store (bagi pengguna Android) dan App Store (bagi pengguna iOS). Setelah itu, kamu akan diminta untuk memasukkan nomor ponsel dan melakukan verifikasi dengan kode unik rahasia yang dikirimkan melalui pesan singkat.

Voilaaa! Akun Halodoc kamu sudah jadi dan siap digunakan.

Sebelum memesan layanan covid test, kamu bisa berkonsultasi dulu dengan dokter yang tergabung di Halodoc melalui tautan "Chat Dokter Sekarang!". Dokter akan memberikan saran mengenai lokasi, biaya, dan ketersediaan layanan yang bisa kamu pilih sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, kamu juga bisa memesan obat atau vitamin yang dilengkapi dengan layanan antar ke rumah jika membutuhkan penanganan awal gejala virus korona. 

Halodoc juga dilengkapi dengan artikel terbaru yang ditulis oleh para dokter. Informasi seputar virus korona, perubahan statusnya di Indonesia, dan hal-hal yang terkait dengan Rapid Test serta PCR Swab Test bisa kamu temukan dengan mudah. Informasi kesehatan lain juga ada, loh. Jadi, kamu tidak perlu mumet mikirin berita dan isu konspirasi mengenai virus korona lagi.

Kalau kamu, apa nih, kegiatan barunya saat karantina?






Referensi gambar diambil dari:

22 KOMENTAR

  1. Menulis jurnal di kertas juga saya lakukan karena sensornya lebih sedikit ketimbang mencatat di memo ponsel atau aplikasi pengolah kata di laptop. Bahkan saya kira proses membuang racun di hati maupun kepalanya juga lebih efektif, ya meskipun jeleknya susah dibaca ulang karena tulisan tangannya hancur bukan main. Haha.

    Mantap merajut. Dulu SMP pas dapat pelajaran Tata Busana, saya suka banget menyulam. Nilai saya juga oke. Hebat juga dulu saya enggak terpengaruh kalau kegiatan itu tak pandang jenis kelamin. Anjir, narsis amat memuji diri sendiri. Tapi biasanya kan pada suka mikir itu kerjaan cewek. Sayangnya enggak dikembangkan lagi setelah itu sih, sebab ibu saya minatnya lebih ke tata boga alias dagang makanan.

    Tetap jaga kesehatan dan semoga sehat sentosa, May.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulis di jurnal terbukti ampuh untuk mengurangi stres karena lebih banyak sinapsis otak yang ikut bekerja, alhasil endorfin bisa optimal kerjanya untuk membuat kita merasa hepi. Udah terbukti di artikel-artikel empiris kalau makin jelek tulisannya justru makin puas ngeluarin uneg-unegnya. Aku pun jelek tulisannya; yang penting masih bisa dibaca oleh diri sendiri XD

      Padahal keterampilan hasta karya bisa buat media penyalur stres juga (selain menulis). Aku selalu kagum kalau ada cowok bisa hasta karya seperti kamu. Sekarang suka masak-masak berarti, ya?

      Makasih, Yog. Doa baik untukmu juga.

      Hapus
  2. Saya enggak punya kegiatan baru saat karantina karena ternyata, mau karantina atau enggak, hidup saya begini-begini aja (yah, masih lebih baik daripada begini-begini amat).

    Dan ketimbang menambah kegiatan baru, tampaknya korona lebih membikin kegiatan saya berkurang. Saya jadi makin jarang nongkrong dan makin jarang pacaran di luar rumah, misalnya.

    Makanya kalau lagi gabut, kadang-kadang saya buka Halodoc dan baca-baca artikel di sana. Mantap sekali memang Halodoc!

    Saya cinta Halodoc 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Picirin di liir rimih nggik misilih isil mimitihi pritikil kisihitin, Gip.

      Hapus
  3. Kegiatanku selama pandemi? Workout, masak-masak receh buat cobain resep di internet,beresin lemari, beresin rak buku, ngabisin stok film dan buku. Udah kayaknya itu aja. Journaling lagi juga baru beberapa bari lalu dimulai lagi meski nggak rutin hahaha. Oh ya aku sempat belajar gitar meski ga dilanjutin. Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aseeek masak-masak receh. Jangan lupa selalu minum vitamin dan cuci tangan menggunakan sabun, Tiw.

      Hapus
  4. Cieh merajut kenangan menjahit luka wqwq...

    Kegiatan baru selama pandemi? Enggak ada, kegiatan sebelum dan selama pandemi semuanya sama :))) jadi ak sangat menikmati harus di rumah aja ini mweheheheheheheheheheh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pandemi malah membawa manfaat untuk kaum-kaum rumahan seperti kita.

      Tapi aku kangen dolan ning angkringan. Huhu.

      Hapus
  5. Ada pulpen Pilot, jadi inget masa sekolah hehe

    Apa ya kegiatan baru yang saya kerjakan di saat pandemi ini, sepertinya sekarang jadi baca buku sama nulis dikit-dikit. Soalnya kebetulan semenjak Corona melanda, alhamdulillah kerja masih tetep gak di rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pilot emang pulpen lejen. Tapi saya #timsnowman karena hasil tulisannya lebih tebal. Hehe.

      Semoga tetap sehat dan tetap lancar rezekinya, Mas Dede.

      Hapus
  6. Tidak ada kegiatan baru selama karantina ini sih, mungkin lebih ke menekuni hobby lama yang sempet tertunda karena kerjaan, ngerjain pekerjaan rumah dgn lebih teratur, dan lebih bisa banyak tidur wkwkwk.

    Mba mayang rajin dan telaten banget ih nyulam dan menjahit jahit gitu. Aku pengen bisa juga T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kalau ketemu aku bawain kit hasta karya biar ada alasan buat nginep di situ, Nad. Kangen juga jalan-jalan di Gejayan sekitaran sushi story. Temenin, yaaa :D

      Hapus
  7. Selama masa pandemi banyak kegiatan yang sebelumnya jarang dilakukan menjadi kebiasaan yah.. btw, saya juga sering nulis jurnal tapi entah kenapa kadang ada hari terlewat begitu aja wkwk, alternatifnya ditulis di HP yang lebih simple karena tulisan bisa rapi dengan ketikan walau feelnya emang beda sih

    Saya sendiri kebanyakan ngadep laptop/gadget selama pandemi ini entah untuk menulis, menonton, atau scrolling sosmed, ehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah. Nulis di media apa aja oke supaya bisa menyalurkan isi hati (tapi nulis di jurnal pake tangan lebih enak, sumpah deh, ayo balik ngejurnal lagi *masih keukeuh*). Makasih udah berkunjung, Kak Zalfaa.

      Hapus
  8. Wuaah, mampir lg ke sini nih setelah jutaan abad berlalu. wkwk sumfah lebay skalihh.

    Sangat setuju jika semua kegiatan trsebut benar2 bkin otak refreshh. sejenak kita bsa ngelupain apa yg kita pikirin da fokus membuat karya. Haha. Itu btw cat akrilik seharga kuda beli yg merk apadah? Aku beli yg isi 12 merk maries.. 75rb sih. Kubilang trmasuk murah, yg mahal itu kalo 1 tubenya 75 :') kdang art supplies dan berbagai macam atk buat gtu2an memang hrganya bkin gila sih. Wwqwqwq. Aku msh team cat air, akrilik kselnya pas udh mix wrna blm dipake dah pda ngering. huahaa diriku krg pro sprtinya.

    Nulis jurnal di buku aku jg sering bkin. Catetan2 yg sekiranya gapenting2 amat dan bsa jd penting. Tp aku ga bkin hias2 yg aneh2 sih, asal corat coret aja. Wkwk. Sayangnya kegiatan menggambar dan menulis tidak bsa dilakukan smbil rebahan yaaw.. yg ada malah brakhir ngrjain di dalem mimpi. Heuumm.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luluuu, aku pernah nyobain Maries yang isinya 12 itu. Tapi isinya dikit banget. Untuk ngelukis di kanvas 30x30 cm^2 nggak cukup ternyata (ada 4 warna langsung abis). Kalau diitung-itung mending beli yang tube. Terus gliding-nya nggak enak. Lebih enak pake merek sebelah yang satu tube 75ml harganya 45rb. Makanya kubilang harganya mahal :c

      Atau Lulu ada rekomendasi merek selain Maries yang hasilnya smooth?

      Samaaa. Jurnal tahunanku bentuknya junk journal gitu alias jurnal sampah. Cukup membantu supaya nggak melulu curhat colongan di blog. Ada pikiran aneh-aneh, langsung nulis di situ dikasih ilustrasi sejelek-jeleknya (kalau lagi suntuk).

      Hapus
  9. Tidak menyangka kalau di akhir tulisan ada iklan yang terpasang. Hahaha...

    Awal-awal WFH, aku sempet berniat juga itu, belajar hal-hal baru. Tapi ya, ending-endingnya beneran cuma niat doang. Karena akhirnya, saya lebih suka rebahan dan menonton film dari situs bajakan *astaga*

    Mantep sekali May, ngelukis pakai cat akrilik segala. Aku yang anak seni aja belum pernah lho xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan ini salah satunya berkiblat dari tulisan promosimu di blog atuh, Wis. Haha. Kamu kan kadang nulis artikel yang ternyata termasuk tulisan berbayar dan ketahuan di paragraf akhir juga :p

      Aku malah udah hampir dua tahun nggak aktif nonton film. Bisa diitung jari setahun nonton film berapa kali, Wis. Kehilangan kenikmatan saat menonton film nih, kayaknya.

      Ini juga hasil coba-coba karena bosen megang cat aer mele XD Tapi ternyata sudah kubuktikan bahwa: cat minyak > cat air > cat akrilik.

      Hapus
  10. Salfok sama judul nomer dua kwkwkw

    Terbaik memang lah ya Halodoc ini
    Semoga makin banyak aplikasi jasa kayak gitu ya biar kita semakin mager hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah banyak banget dan keliatan sekarang kita jadi makin mager. Makan ada gofood, sakit ada Halodoc, kesepian ada Simsimi. Mantap.

      Hapus
  11. Gek namanya lantatur. Layanan tanpa turun. Hahahaha... Kiarin layanan tanpa atur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yo kui kepanjangan lantatur laine, Jung. Layanan tanpa atur. Hahaha.

      Hapus