Cuaca Cerah Hari Ini dan Aku Masih Memikirkanmu Setiap Jam Tiga Pagi

by - June 14, 2020



Tulisan ini dibuat tepat satu tahun setelah momen bandara dan pertemuan yang dibatalkan dan diunggah tepat pukul 15.10 WIB.

Tanggal 14 Juni 2019 pukul 15.10 WIB.

Itu adalah waktu kedatangan pesawat Lion Air dengan kode penerbangan JT641 dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Itu adalah momen sekali seumur hidup yang tidak akan pernah saya lupakan.

Itu adalah saat saya dan seseorang bernama Kang Morfin berpisah di persimpangan jalan. Dan kami berdua harus berdiri di atas kaki sendiri untuk melanjutkan hidup yang sempat tertunda karena keinginan-keinginan egois yang sebenarnya memang harus diakhiridan hanya perlu disyukuri.

Tulisan ini mungkin nantinya akan menjadi sesuatu yang monumental untuk saya beberapa tahun ke depan (kecuali saat dibaca ulang malah bikin pengin muntah karena sok tribute to banget dan jika hal itu terjadi maka tulisan ini akan saya arsipkan). Sebab selain isinya yang memang berisi hal-hal remeh seputar perjuangan saya untuk meraih mimpi bersama Kang Morfin, akan ada baris-baris penuh kenorakan yang menceritakan awal mula saya mengenalnya. Iya, kata-kata gombal yang aduhai. Yang muncul saat awal-awal perkenalan kami. Yang suatu hari dia sematkan bersama dengan foto hasil editan Photoscape berwarna hitam putih dari hasil jepretan seorang teman. Di situ dia berpose duduk di atas rumput, tertawa meringis, dan mengenakan kaos emyu. Caption di bawahnya bertuliskan: "Saya mengirimkan foto ini untuk bu guru."

Asyu.

WKWKWK.

Sebuah sepikan mematikan yang entah mengapa waktu itu bisa membuat peredaran darah saya kejang-kejang, jantung dag-dig-dug tidak terkontrol, dan mimpi basah di malam harinya. Pekerjaan mengajar jadi berantakan karena kebanyakan senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Tugas akhir tidak lagi tersentuh karena jadwal bertukar pesan pendek menjadi lebih menggila.

Baiklah.

Atas nama mie chengsepiring makanan khas asal kota Makassar—yang nikmatnya melebihi kombinasi seluruh makanan lezat di alam semesta (bahkan melebihi nikmatnya Indomie!), izinkan saya menuliskan ramalan cuaca untuk hari ini. Semoga tidak terlalu cringe untuk dibaca dan dinikmati.


(Naff - Kenanglah Aku - Cover by Felix Irwan)


--- [] ---


Hari-hari menuju momen perpisahan (anjir, dangdut banget) adalah hari-hari yang sangat pelan. Enggak ada kegiatan yang bisa saya lakukan selain rebahan, makan, dan mengecek ponsel terus-terusan. Pun menjelang hari penjemputan (anjir, ini justru bikin ngeri), ada tanda skakmat yang membuat saya berpikir bahwa Kang Morfin sebetulnya tidak akan datang. Kalau enggak salah, waktu itu kami sudah mulai tidak saling kontak. Namun, karena saya nekat dan bebal, saya tetap berangkat ke bandara (contoh perbuatan masokis, jangan ditiru).

Pagi-pagi sekali saya sudah naik kereta menuju stasiun Maguwo. Bukan apa-apa, selain saya masih berharap untuk bertemu dengannya, sayang banget kalau tiketnya dibuang-buang. Kan sudah dibayar seharga delapan ribu rupiah.

*pokoknya enggak mau rugi*

Tiba di bandara, saya manjer laptop untuk bekerja sambil menunggu pukul tiga sore. Jadwal kedatangan pesawatnya memang jam segitu tapi saya sok datang lebih pagi agar bisa mengatur napas (dan mau dicap tepat waktu tingkat Aztec) untuk menyambut beberapa kemungkinan jawaban, yaitu:

1) Kang Morfin datang sambil membawa baliho besar bertuliskan "Hayoloh, nungguin ya ternyata, padahal udah enggak kontakan".

2) Kang Morfin tidak datang tapi mengirim pesan singkat berisi "Anda belum beruntung hari ini, silakan pulang ke Solo".

Dan beberapa opsi lain seperti:

3) Kang Morfin datang tapi pura-pura enggak kenal waktu kami bertemu karena dia amnesia seperti di sinetron Azab.

4) Kang Morfin datang tapi membawa seluruh keluarganya dan kami langsung menikah di KUA terdekat.

5) Kang Morfin tidak datang karena ada jadwal nge-buzz mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.

6) Kang Morfin tidak datang karena ketiduran dan lupa jadwal keberangkatan pesawatnya.

"Ada yang hilang jiwaku tak tenang ~ "*

*Lirik lagu New Eta - 7 Sumpah

Namun, saat seluruh penumpang JT641 turun, saya tidak melihat perawakannya yang biasa mengenakan kaos hitam polos, celana panjang training, tas legendaris yang ada jaring-jaringnya, dan tas besar berisi dagangan baju-baju.

Dia benar-benar tidak jadi datang.

Dan ponsel saya masih diam. Tidak ada notifikasi.

"Lambat sang waktu berganti, endapkan laraku di sini, coba 'tuk lupakan bayangan dirimu yang selalu saja memaksa 'tuk merindumu ~ "*

*Lirik lagu Naff - Terendap Laraku

Saya masih berusaha berpikir tenang dan berasumsi kalau dia akan datang di penerbangan selanjutnya dengan armada lain. Odong-odong misalnya. Tapi di bandara juga tidak terlihat ada tukang odong-odong lewat. Maka saya menyerah. Pukul enam sore, saya memutuskan pergi dari bandara Adi Sucipto.

Waktu itu, kebetulan saya dan Kang Morfin memang berencana ketemuan dengan pasangan bloger paling kondang di industri 4.0: Adya dan Ebri. Kami berempat janjian di dua tempat: Sushi Story Gejayan dan Malioboro, untuk makan sushi dan menikmati wedang ronde yang lokasinya ada di depan Starbucks. Saat Adya dan Ebri datang ke lokasi pertama, mereka langsung memasang wajah bingung karena saya sendirian (Kang Morfin ke toilet?).

Setelah tahu kronologi kejadian, ekspresi mereka berubah menjadi prihatin dan cemas kalau-kalau saya bakal melakukan hal yang bukan-bukan. Ebri langsung bernyanyi, "Hei! Jangan melamun! Enggak ada gunanya! Enggak akan mengubah keadaan! Awas! Kamu kesurupan! Kemasukan setan! Jadi lupa diri! Jadi tambah edan! ~ "* dan kami bertiga diusir mentah-mentah dari Sushi Story.

*Lirik lagu Kobe - Positive Thinking

HEHEHE. ENGGAK GITU.

Ebri dan Adya menenangkan saya. Bahkan Ebi mencoba menghubungi Kang Morfin melalui chat WhatsApp. Meskipun jawabannya hanyalah, "Suruh dia pulang ke Solo aja, Eb. Enggak usah nunggu saya. Saya enggak bakal datang."

Dikabari seperti itu justru saya ngelunjak. Saya mau melampiaskan penantian. Saya mau memuaskan diri dan mabuk-mabukan. Saya lantas mengajak Ebri dan Adya ke Malioboro. Saya mau minum wedang ronde sampai kembung!

Waktu itu, saya sama sekali tidak menangis.

Usai pertemuan dengan Ebri dan Adya, yang berujung pada tragedi wedang ronde, saya sendirian dan merenung. Saya juga masih belum menangis.

Barulah saat saya keluyuran di sepanjang Ring Road utara, mengenang jalan yang saya dan Kang Morfin lalui saat masih bersama, saya menangis sampai beberapa orang yang melintas berusaha memberikan saya tumpangan, tisu, tatapan aneh, dan ekspresi simpati. Dulu kami pernah berjalan kaki dari Gejayan menuju Malioboro dan saling melempar game sambung lagu. Aturan permainannya: saat saya menyanyikan sebaris lagu dan berhenti di satu kata, Kang Morfin harus melanjutkannya dengan lagu lain yang awalannya kata tersebut. Begitu pula sebaliknya. Dan bisa ditebak, sayalah yang menang.

*terima kasih Winamp, 4shared, MP3Skull, Stafaband, dan Mediafire*

Saya mengulangi hal itu sendirian dan menangis. Memang begitulah fungsi kenangan, jika bukan untuk diingat kembali, maka hanya perlu ditangisi.

"Mau tak mau kuharus melanjutkan yang tersisa, meski semua telah berbeda dan tak akan pernah ada yang sama. Semoga angin berhembus membawakan mimpi baru, meski kutahu takkan pernah ada yang sanggup mengganti keindahannya ~ "*

*Lirik lagu Jagostu - Mau Tak Mau

Ada beberapa gambar di ponsel yang mengabadikan tanggal-tanggal sakral itu. Saya membuat miniatur tanjung Bira dan dermaga Galesong. Saya meneliti satu per satu tulisan pengumuman yang menunjukkan jadwal kedatangan pesawat. Saya melihat para penjemput mulai resah karena yang ditunggu belum muncul di pintu kedatangan. Saya mengamati betapa pertemuan dan pelukan (juga tangis bahagia yang membuncah) adalah momen-momen manusiawi yang muncul secara impulsif saat orang yang datang dan orang yang menjemput sudah saling menemukan. Saya menunggu di beberapa tempat pertemuan yang kami janjikan. Dan terakhir, empat hari setelahnya, saya pulang dengan tangan kosong. Menunggu kereta di Maguwo untuk kembali ke Solo. 



"Semua tak sama tak pernah sama apa yang kusentuh apa yang kukecup, selembut belaimu, tak ada satu pun yang mampu menjadi sepertimu. Sampai kapan kau terus bertahan? Sampai kapan kau tetap tenggelam? Sampai kapan kau mesti terlepas? Buka mata dan hatimu, relakan semua ~ "*

*Lirik lagu Padi - Semua Tak Sama


Setiap hari selama dua minggu setelah pulang ke Solo, saya tidak melakukan apa pun selain menyusun ulang rencana ke depan yang berantakan terkait dengan: 1) rencana pindah ke Takalar yang otomatis batal karena saya tidak punya siapa-siapa lagi di sana, 2) rencana mencari pekerjaan baru di kota lain karena saya telanjur resign dari pekerjaan di Solo, 3) rencana menyelesaikan administrasi dan birokrasi yang bikin mumet di rumah dan kampus, serta 4) rencana mengikuti seminar di Bandung dan ketemuan dengan Agip.

Dua minggu tersebut menjadi neraka dunia yang rasanya selalu membuat enek dan ingin muntah. Mimpi buruk datang di siang bolong dan lamunan panjang datang setiap malam. Jam metabolisme saya terbalik dan hidup saya seperti ada di penghujung usia. Apakah semua sia-sia selama setahun ini? Tidak. Apakah saya benar-benar putus dari dia? Iya. Apakah saya harus berhenti dan mati hari ini? Mungkin. Namun, saya harus menyelesaikan apa yang saya mulai. Maka saya menempel fotonya di dinding lemari dan mengucapkan "selamat pagi" setiap hari demi menjaga kenangnya agar tidak usang seperti artefak zaman penjajahan. Saya juga tetap menulis surat-surat untuknya meskipun tidak pernah saya kirim. Hanya saya simpan di balik binder.

Kebiasaan baru saya yang buruk muncul. Setiap minggu dua pak Gudang Garam harus ada di tangan untuk mencegah saya menangis menye-menye bagaikan seniman di film FTV. "Lebih baik mati lantaran rokok daripada mati karena patah hati, enggak banget gitu loh," begitu pola pikir guobluok saya waktu itu.

Dengan sisa-sisa tabungan, saya juga mencoba banyak mekanisme coping dan escaping dengan mencoba beberapa hobi baru (#RIPDUIT).

1) Saya membeli ukulele yang kemudian saya beri nama Alex—derivatif nama vokalis band Arctic Monkeys yang garis wajahnya mirip dengan Kang Morfin (11:12...ribu sama dia mah tapi mirip kok suer!). Saya mempelajari banyak sekali lagu, terutama lagu-lagu Twenty One Pilots dan Arctic Monkeys. Setiap hari saya memainkannya dengan nada sumbang dan suara fals yang dipaksakan.

2) Saya membeli Kobo: perangkat khusus untuk membaca buku elektronik, rekomendasi seorang sobat kesayangan, yang saya beri nama Tyler—derivatif nama vokalis band Twenty One Pilots yang selalu menuliskan lirik dengan kata-kata simbolik dan arkais (dan klip video yang super duper kreatif!).

3) Saya menukar kurang Lena—laptop kesayangan saya yang bermerek Lenovo—untuk mendapatkan tambahan uang demi berangkat ke Bandung. Saya menukarnya dengan Della—nama laptop baru saya yang bermerek Dell. Della pernah dua kali membantu pemilik sebelum saya dengan baik. Kini Della juga membantu saya dengan baik meskipun dia sering ngadat kalau saya lalai membersihkan kipasnya (Della ngambekan kayak bayi gula).

4) Saya belajar melukis dengan cat air dan menjualnya sebagai pembatas buku. Keuntungannya tidak banyak tapi bisa membantu saya menabung lagi sedikit demi sedikit (terima kasih, Njus, karena sudah mengajari saya melukis dengan telaten). Baru-baru ini saya juga mencoba cat akrilik dan minyak. Melukis membuat saya tenang karena saya bisa menuangkan amarah di setiap pulasan warna. Semakin acak gambarnya, semakin menunjukkan bahwa saya sedang marah. Semakin 'crat-crot' warnanya, semakin saya ekspresif.

Di akhir Juni 2019, saya ke Bandung untuk mengikuti seminar UPI di Gand Mercure. Namun, saya batal bertemu dengan Agip karena waktu kami tidak bersisipan. Tanggal seminar adalah tanggal yang sama seperti penutupan MIWF 2019 di Makassar. Saya masih nekat ingin membeli tiket pesawat Bandung-Makassar dan memberikan kejutan. Namun, saya sadar kalau semua tindakan masokis saya tidak akan ada gunanya. Maka saya berhenti.

Saya pulang lagi ke Solo dan bersiap untuk pindah ke pulau sebelah: Bali.

"Saya mau membeli rumah di pesisir Bali dan tinggal di sana sampai tua, yang." Katamu suatu hari.

"Saya ikut!" Timpal saya dengan polosnya. Mengira bahwa kami tidak akan putus saat itu.

Tapi akhirnya kami putus juga. Saat berada di kapal feri, saya hanya bisa misuh-misuh tak berkesudahan karena memikirkan ulang kalimat tersebut.

Dasar anak ingusan kau, May!

Kang Morfin juga pernah bercerita perihal transportasi umum yang membuatnya mual. Dia hanya bisa naik pesawat. Membuat saya berpikir nakal untuk menjerumuskannya ke laut saat kami naik feri di lautan. Meskipun begitu, saya menyukainya seperti melihat orang tanpa kekurangan. Kang Morfin adalah PKK—Pangeran Kadang Kadang—saya yang menyimpan banyak kotak misteri dan membuat saya penasaran sehingga mau menjadi kekasihnya (dan menghancurkan sikap skeptis saya terhadap konsep pacaran digital!).

"Saya suka sama kamu karena kamu membuat saya nyaman, May."

KILL.

"Harapan saya hanya satu: saya duduk sama kamu di beranda rumah, makan jagung rebus, dan menyesap teh di kala hujan sore hari."

DOUBLE KILL.

"Saya nggak bisa hidup tanpa kamu. Kamu adalah perempuan yang bisa membuat saya merasakan bahagia sampai titik tertinggi dan sedih sampai titik terendah di sepanjang hidup saya."

TRIPLE KILL.

Percakapan tersebut membuat benteng Takeshi pertahanan mulai lembek karena kepanasan. Nalar tidak lagi berjalan dan logika mandek beroperasi. "Iya, mari kita pacaran." Jawab saya kemudian sambil senyum-senyum menjijikkan.

Momen "aw aw aw" yang sekarang membuat saya berkata "ew ew ew" kalau diingat-ingat. Setelah itu, malam hari selalu diisi dengan jadwal konser tunggal oleh suara pas-pasan saya. Awalnya, kami hanya main tebak lagu dan membicarakan poni lempar Andika Kangen Band yang fenomenal itu. Lambat laun, dia ngelunjak minta dinyanyiin. DINYANYIIN.

"Kamu nyanyi dong, yang. Suara kamu 'kan bagus banget kayak Christina Aguilera."

Kalimat tersebut jelas terasa bagai hinaan kejam yang pernah saya terima karena suara saya enggak level dibandingkan dengan Christina Aguilera. Christina Kolera mungkin lebih pas. Saat menjawab, saya nyaris mengumpat, "SIANJ—Iya, sayang. Mau lagu apa?". Namun, saya mencoba bersikap manis karena status kami sudah berubah. Takut kalau langsung diputusin aq tu ~


"Itu loh, lagu yang kamu dengerin dari series Big Bang Theory."

"Oh, Soft Kitty?"

"Bukannya Soft Pussy ya?"

"KAMU KETULARAN YOGAESCE SAMA ICHAKHAI YA? KITTY JADI PUSSY?"

"Hehehehe, maaf, yang, lidah saya kepeleset."

Dusta. Dia pasti habis nonton Fake Taxi!

Namun, semenit kemudian, saya sudah mulai menyanyikan lagu tersebut dengan nada suara Andante ketukan 3/4 dan ekspresi malu-malu...in.

"Soft kitty, warm kitty, little ball of furrrrrr. Happy kitty, sleepy kitty, purr, purr, purrrrrr ~ "*

*Lirik lagu Penny Hofstader - Soft Kitty

Setengah jam kemudian, dia tertidur. Begitu seterusnya selama beberapa bulan kami bersama. Kadang-kadang saya juga menyanyikan lagu Always karya Panic! At The Disco yang selalu berhasil membuat matanya berkaca-kaca.

"It was always you, falling for me. Now there's always time, calling for me. I'm the light blinking at the end of the road, blink back to let me know ~ "*

*Lirik lagu Panic! At The Disco - Always

Kadang-kadang dia ngelunjak dan meminta supaya saya menyanyikan lagu Iis Dahlia, tapi karena saya takut disawer teman kosan, dia mengalah. Iya, kamar di kosan saya temboknya setipis rok pramugari sehingga kalau pacaran via telepon pasti kedengaran. Makanya tiap pagi ada teman samping kanan atau kiri saya yang keluar kamar dan langsung muntah karena serangan fatal dari suara saya yang semerdu suara jangkrik (maaf ya, teman-teman kosan :'c).

Hal-hal seperti itulah yang membuat saya rindu pada momen bersama. Apalagi kebiasaan. Menghilangkan kebiasaan jauh lebih susah daripada rasa sayang itu sendiri. Makanya setelah putus saya jadi suka menyanyi sendiri sebelum tidur. Bodo amat dengan nasib telinga teman-teman kosan. Yang penting saya nyanyi!

Sekarang, saya sudah berangsur-angsur membaik. Tidak serapuh seperti saat kita berpisah di pertemuan yang kamu batalkan setahun lalu (tepat di tanggal ini). Saya belajar banyak dari kamu. Saya menapaki titik kehidupan tertinggi bersama kamu dan jatuh di palung kesedihan paling dalam juga karena kamu. Selentingan kabar tentangmu terkadang mampir satu dua kali. Saya paham dengan kebiasaanmu yang selalu butuh 'pendengar', jadi apa pun keadaanmu sekarang, saya bisa maklum. Saya tidak pernah menyesali hal-hal yang terjadi di antara kita karena saya sangat bahagia saat bersama denganmu.

Kamu ingat waktu kita makan mie cheng pertama kali usai kamu menjemput saya di bandara? Saya salah tingkah dan kamu tidak berani menatap mata saya sama sekali. Kita makan dalam hening walaupun saya ingin berteriak dengan urakan bahwa mie cheng adalah makanan terlezat yang pernah saya cerna. Juga saat kamu mengenalkan coto makassar. Satu-satunya makanan dengan daging sapi tebal yang saya bisa makan tanpa mual karena ia sungguh sedap.

Terima kasih juga untuk semua hal yang telah kamu berikan: Andreas, Jonathan, buku teka-teki silang yang kamu kirimkan setelah saya mengirimkan surat perdana untukmu, kaos dan pin Halo Makassar!, buku-buku bacaan dari Togamas Gejayan, cincin dengan ukiran namamu yang masih saya kenakan, dan kehangatan keluarga di pesisir pantai Galesong. Tanpa dukungan proposal contoh yang kamu kirimkan, VR School tak akan bisa dilirik investor seperti sekarang. Saya juga tidak akan mampu mengembangkan Linking Job bagi orang-orang berpenyakit mental untuk mendapatkan pekerjaan. Satu ucapan terima kasih saya kepadamu masih tersemat di salah satu artikel jurnal akademik saya yang baru terbit jika kamu berkenan mengintip di sini

Mengutip kata mentor meditasi saya di Ubud:

"All is forgiven because we've all been happy."


"Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu 'kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku. Namun takkan mudah bagiku meninggalkan jejak hidupmu yang telah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah ~ "*

*Lirik lagu Samsons - Kenangan Terindah

Oh iya, sebagai tambahan:

Selamat ulang tahun di tanggal 12 Januari 2020 lalu. Maaf jika ucapan ini terasa sangat terlambat. Tidak ada doa dan harapan apa-apa dari saya karena hak itu mungkin sudah dimiliki orang lain. Namun, saya hanya ingin menyampaikan bahwa cuaca hari ini cerah. Secerah pertemuan pertama kita di hari Sabtu tanggal 7 Juli 2018, yang diiringi acara nobar di Pasar Segar Makassar untuk pertandingan perempat final Piala Dunia 2018, saat Brasil melawan Belgia. Saat saya pertama kali mencicipi lezatnya kopi Toraja.

Selamat melanjutkan hidup.

You May Also Like

8 Comments

  1. Mba Mayang, apakah itu maksudnya selamat ulang tahun di tahun 2020?

    Anyway I'm so ecstatic to see that you finally could go on with your life and become the happier version of yourself compared to a few months ago.

    Selamat melanjutkan hidup juga mba Mayaaaang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iya. Hahaha. Salah nulis mulu tahun 2019 karena udah nggak sekolah. Alasan klasik. Makasih udah dikoreksi, Nad.

      Yoih, tetap sehat tetap semangat dan tetap jalan-jalan bersama awok-awok team.

      Delete
  2. Ini mungkin alasan kenapa adegan bandera jadi adegan paling klise di sinema, dan meski sering diulang-ulang ga pernah bosen. Pantas saja sesuai sama obat psikotropika itu, Kang Morfin ini punya efek samping bikin mabuk kepayang juga.

    Haduh itu pas ngemention Padi, langsung kesetel Piyu lagi nyanyi "semua tak sama tak pernah sama" di kepala (bukan hasil donlot dari Stafaband sori saya punya kaset aslinya, suaranya lebih gurih).

    Selamat menghadapi hidup baru paska pagebluk ini juga, Mayang. Hwaiting!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Shombong amath yang punya kaset aslinya.

      Anda tidak pernah merasakan gelinya dipandangi foto mas-mas yang ada di gambar latar lagu hasil donlotan Stafaband ya?

      Delete
  3. Kurang lagu dnagdut ini, May. genre paling penting padahal di situasi begitu. sebesar apa pun masalah hubungannya, ya, dibawa joged saja~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woiya.

      Ning kene aku ngenteni kowe
      Adoh-adoh aku tekan kene
      Persik Kediri ayo dimenangke
      Yen wis menang JOGED RAME-RAME

      Hok a hok e ~

      Delete
  4. Dari sini aku jadi tau kalau Mbak Mayang punya khazanah permusikan yang sungguh luar biasa!

    Banyak lagu yang ada di sini jadi aku dengarkan juga wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, padahal isi tulisannya dangdut banget, Tiw. Ahahahak.

      Sekalian aku bonusin tambahan rekomendasi lagu anti-galau:

      1. Kucing Tidak Sekolah
      2. Odong-odong
      3. Balonku Ada Lima

      Delete

A barrel of drink for me and you. Feel free to drop a comment or two.