Tidak Ada Mitigasi Patah Hati

by - May 16, 2020



Mitigasi adalah kata yang hampir selalu dibawa-bawa saat bencana terjadi. Kalimat "Ah, negara kita enggak pernah siap dengan adanya tsunami. Mitigasi bencana enggak pernah jalan!" dan "Apa itu mitigasi? Budaya kita adalah sambat, bukan mitigasi!" bermunculan di media massa. Kadang sebagai meme pemantik tawa di sana sini, kadang juga sebagai introspeksi dan refleksi diri―yang tentunya tidak benar-benar dilakukan. Namun, begitulah sisi alamiah kita sebagai manusia. Kita tidak akan benar-benar melakukan tindakan preventif jika tidak terkena dampak bencana secara langsung.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, mitigasi adalah tindakan mengurangi dampak bencana. Sedangkan menurut Merriam-Webster, mitigasi adalah proses atau hasil dari usaha untuk mengurangi dampak buruk dari sesuatu, misalnya: rasa sakit, rasa takut, rasa kehilangan, hal-hal berbahaya, atau hal-hal yang merusak. Dapat dikatakan bahwa mitigasi adalah upaya mengurangi 'akibat' dari suatu 'sebab'. Namun, entah mengapa mitigasi pada bahasa Indonesia lebih dikerucutkan pada bencana. Padahal, menurut beberapa ahli linguistik, mitigasi bisa diterapkan pada hal apa pun yang bersifat kausalitas.

Lalu, apakah patah hati termasuk dalam perihal kausalitas?

Patah hati tidak bisa dicap semata-mata sebagai akibat dari jatuh hati atau jatuh cinta. Sebab banyak orang yang jatuh hati justru memiliki harapan hidup yang lebih baik. Jadi, patah hati dan jatuh hati tidak memiliki hubungan linier seperti persamaan y = mx + c.

Lantas, siapa bedebah yang menjadi faktor terjadinya patah hati?

Tentu saja faktornya adalah―tak lain tak bukan―ekspektasi.

Empat buku berikut adalah buku-buku terbaik tentang patah hati, hancur ekspektasi, dan putus cinta yang pernah saya baca. Dua sudah diadaptasi menjadi film layar lebar, dua merupakan buku non fiksi, dan satu di antaranya bisa menjadi humor segar mengenai hubungan cinta kandas―yang bisa menendang bokongmu sampai ke ubun-ubun. 



(Hollywood Undead - Medicine)

--- [] ---


1. Heidi Priebe - This is Me Letting You Go (2016)



This is Me Letting You Go boleh jadi menjadi satu-satunya buku nonfiksi dan non-memoar dalam daftar ini. Biasanya saya skeptis terhadap buku-buku penyembuhan diri tentang patah hati karena urusannya pasti ke situ-situ lagi, seperti: mengikhlaskan, merelakan, mendoakan bahagia bagi mantan pasangan, melakukan meditasi, melepaskan masa lalu, dan memaafkan diri sendiri. Rasanya seperti sesuatu yang bullshit alias tahi banteng belaka kalau ngomongin kegiatan-kegiatan tersebut. Orang patah hati tidak akan bisa mendoakan yang baik-baik bagi mantan pasangannya. Apalagi jika mantan pasangannya berulah dan memicu pertempuran sengit alias lomba move on duluan.

Well, mendoakan supaya modar mungkin lebih ideal.

Nah, buku Heidi Priebe ini adalah salah satu buku penyembuhan diri yang paling masuk akal dan manusiawi untuk dibaca. Tidak ada hal-hal menggurui seperti yang kadang terlihat pada buku-buku non fiksi. Tidak ada hal-hal manis yang dipaksakan seperti mendoakan kebahagiaan mantan pasangan. Buku ini justru membuat orang-orang patah hati menjadi terbuka mata dan telinganya karena setiap babnya mengeluarkan racun yang ada di hati dan pikiran pascaputus. Heidi Priebe mampu menampar pembacanya sampai menangis, marah, kecewa, dan memaki diri sendiri (dan pasangan), sehingga penyakit bucin yang biasanya menempel di panca indera orang kasmaran menjadi hilang.

This is Me Letting You Go seperti media pelepasan emosi negatif karena patah hati, namun buku ini tidak membenarkan adanya penokohan antagonis dan protagonis dalam sebuah hubungan. Seperti pepatah lama "it takes two to tango", Heidi Priebe menyatakan bahwa apa-apa yang terjadi di antara pasangan sebelum putus adalah hubungan aksi-reaksi. Tidak ada yang mutlak benar dan salah (memangnya soal pilihan ganda?) karena apa yang dilakukan salah satu merupakan reaksi dari pihak yang satu lagi. Begitu terus siklusnya sampai keduanya putus atau mati. Itulah mengapa Heidi Priebe menyatakan haram hukumnya meng-ghibah mantan pasangan pada orang lain, apalagi pasangan baru. Sama saja seperti mengadu domba dua orang yang tidak saling mengenal (kalau enggak kenal ya, kalau kenal lain lagi ceritanya).

Kutipan paling nampol:
The people we meet at the wrong time are actually just the wrong people.

2. Nick Hornby - High Fidelity (1996)




Rob memiliki daftar nama mantan dan gebetan yang pernah mengisi hidupnya. Namun, nama Laura tidak ditulis di sana, meskipun gadis itu adalah mantannya yang terakhir; meskipun keduanya baru saja putus. Setelah putus dari Laura, Rob melakukan apa pun yang dia inginkan:  mendengarkan musik yang dia sukai, mengencani gadis-gadis yang ada dalam daftar, dan hidup seolah-olah Laura sudah mati. Namun, Rob menyadari bahwa dia belum bisa move on dari gadis itu. Penyangkalan-penyangkalan Rob justru menghadirkan pertanyaan baru: mengapa dia tidak bisa melupakan Laura, mengapa dia mencintai Laura, mengapa dia merasakan patah hati dalam hidup, dan mengapa dia merasa perlu berinteraksi dengan orang lain meskipun tidak menyukainya.

Secara premis, buku ini memiliki cerita yang sangat basic. Namun, kelincahan tulisan Nick Hornby dalam mengisahkan Rob yang patah hati akan membuatmu terkesan karena buku ini bukan hanya tentang musik pop dan kisah cinta yang telah tutup buku. Humor yang dibangun dalam cerita tidak memaksa dan tidak kuno. Nick Hornby barangkali sudah mengalami patah hati berkali-kali sehingga bisa menuliskan cerita cinta dan escaping strategy yang bagus melalui sebuah narasi lugasyang bisa ditertawakan dan ditangisi sekaligus. Poin plus pada buku ini adalah plotnya yang ringan tapi sarat pesan.


Nick Hornby cergas dalam memberikan kesan penokohan pada Rob. Semua pembaca bukunya akan teringat pada tokoh Rob yang pemurung, penyendiri, dan memiliki banyak sifat kontradiktifyang baru terlihat saat ia telah putus dari Laura. Rob membenci kerumunan orang, tapi ia resah jika tidak ada orang yang muncul di sekitarnya selama seharian. Rob menyukai kesendirian, tapi ia sering merasa kesepian. Dan masih banyak sifat kontradiktif pada Rob yang diceritakan dengan apik oleh Nick Hornby. Konflik pada novel ini cukup matang meskipun terkesan sedikit platonis pada aspek pengembangan emosional Rob. Bagi pembaca yang tidak menyukai hal-hal stagnan, bisa jadi justru membenci tokoh Rob yang seolah-olah menjadi pecundang karena putus dari Laura.


High Fidelity merupakan salah satu buku dalam daftar ini yang sudah diadaptasi menjadi film di tahun 2000. Buku ini termasuk dalam kategori fiksi bertema patah hati yang merupakan peringkat pertama versi saya. Tidak banyak buku cinta-cintaan yang saya baca, apalagi soal patah hati. Namun, buku ini barangkali menjadi buku yang akhirnya menyelamatkan saya dari ampasnya perasaan patah hati setahun belakangan.

Kutipan paling nampol:
People worry about kids playing with guns, and teenagers watching violent videos; we are scared that some sort of culture of violence will take them over. Nobody worries about kids listening to thousands - literally thousands - of songs about broken hearts and rejection and pain and misery and loss.
3. Elizabeth Gilbert - Eat, Pray, Love (2007)



Eat, Pray, Love adalah buku patah hati sepanjang masa yang selalu direkomendasikan pada orang yang putus cinta atau orang yang bercerai. Buku ini merupakan memoar sekaligus autobiografi yang bercerita tentang perjalanan patah hati si penulis setelah bercerai dari pasangannya. Elizabeth Gilbert memulai perjalanan kesembuhan dirinya melalui plesiran ke beberapa negara, yaitu: Italia, India, dan Indonesia. Perjalanan Liz―nama kecil Elizabeth―boleh jadi merupakan kombinasi antara guilty trip dan self-healing secara bersamaan. Ia ingin mengulang momen-momen bersama mantan pasangannya tapi ia melakukannya sendirian untuk merenungi dan berintrospeksi mengenai dirinya. Liz juga berusaha menyembuhkan diri dan melepaskan masa lalunya agar tidak terus menerus menyalahkan diri sendiri. Dikutip dari The Guardian, buku Eat, Pray, Love merupakan jalan pintas untuk mengetahui seputar agama Katolik, posisi bercinta ala kamasutra, dan ritual meditasi di Bali.

Secara konteks, buku ini termasuk buku yang bagus untuk sarana penyembuhan pascaputus, apalagi jika pembacanya adalah seorang perempuan. Oleh karena itu, saya memasukkannya dalam daftar buku terbaik tentang patah hati. Namun, secara substansi, buku ini adalah buku yang paling tidak saya rekomendasikan untuk dibaca jika dibandingkan dengan ketiga buku lainnya. Ada banyak pernyataan yang menurut saya terasa berat sebelah dan sangat subyektif dalam memandang perpisahan. Liz memandang kegagalan dalam sebuah hubungan adalah kesalahan dari salah satu pihak. Liz juga menulis seakan-akan perpisahan yang terjadi merupakan kesalahan mantan pasangannya. Padahal, Liz sendiri menuliskan bahwa ia membenci aturan dan pembagian peran dalam pernikahan yang menurutnya mengekang―tanpa mau berintrospeksi bahwa sebenarnya kesalahan ada pada dirinya (menurut saya).

Masalah di balik perpisahan Liz dan pasangannya adalah 'kekurangan', bukan 'ketidakcocokan'. Mari kita analogikan seperti deskripsi berikut. Seseorang membenci sebuah hubungan karena berpikir bahwa hubungan tersebut timpang lantaran salah satu pihak menunjukkan 'kekurangan'. Tanpa tedeng aling-aling, seseorang tersebut meninggalkan pasangannya tanpa diskusi lebih panjang dan memilih perjalanan meditasi untuk mendapatkan ketenangan diri. Daripada menyebutnya sebagai seseorang yang menjunjung tinggi self-love, ia justru terlihat egois dan sok sempurna. Apalagi jika konteks hubungannya adalah pernikahan, yang tanggung jawab di antara kedua belah pihak harus seimbang. Belum lagi jika ada anak. Meninggalkan anak dan pasangan dengan alasan 'kekurangan' pasangan adalah hal paling egois, apa pun alasannya. Selama 'kekurangan' bukan merupakan 'ketidakcocokan', seharusnya semua bisa dibicarakan sambil ngeteh. Bukan lari keliling dunia dan menghambur-hamburkan uang.

Kutipan paling nampol:
A true soul mate is probably the most important person you'll ever meet, because they tear down your walls and smack you awake. But to live with a soul mate forever? Nah. Too painful. Soul mates, they come into your life just to reveal another layer of yourself to you, and then leave. This is a good sign, having a broken heart. It means we have tried for something.
4. Daniel Handler - Why We Broke Up (2011)







Min Green dan Ed Slaterton putus. Beberapa waktu kemudian, Min Green menuliskan sebuah surat pada Ed Slaterton dan mengirimnya bersama boks berisi benda-benda kenangan mereka saat masih berpacaran, seperti: tutup botol minuman, tiket menonton film di bioskop, buku, mainan mobil-mobilan, sepasang anting-anting yang jelek, dan suvenir dari motel tempat mereka berguling-guling bersama. Min bercerita tentang bagaimana hubungan mereka secara eksplisit dan implisit dan bagaimana mereka memutuskan untuk berpisah pada akhirnya melalui deskripsi benda-benda tersebut.


Terasa magis dan sakral di satu sisi. Namun, overdramatis, asli.

Penokohan pada Why We Broke Up tidak cukup kuat untuk saya memberi nilai empat atau lima bintang. Tidak ada yang spesial dari tokoh Ed dan Min. Karakter Ed dan Min tidak meninggalkan 'bekas' apa pun saat buku ini selesai dibaca. Hanya saja, penulis berhasil 'menggiring' pembaca untuk kesal pada tokoh Min yang terkesan mendominasi hubungannya dengan Ed danlebih jauh lagimenguasai jalan cerita secara keseluruhan. Hubungan Ed dan Min adalah hubungan yang obsesif. Inilah pesan yang ingin disampaikan oleh Daniel Handler, yang barangkali memang mampu tersampaikan pada pembaca dengan baik. Min yang sejak awal tidak benar-benar menyukai Ed entah mengapa tidak jujur dari awal dan malah memutuskan untuk berpacaran dengan cowok itu. Dan parahnya, saya tetap tidak punya gambaran tentang Ed sampai di akhir bukunya. Sumpah, penokohan Ed jelek sekali. Dia seperti karakter ikan figuran yang ada di serial Spongebob Squarepantsantara ada dan tiada. Selain penokohannya yang jelek, karakter Ed sendiri juga jelek. Dia abusif dan kasar terhadap pasangan.


Penggambaran konflik yang dituliskan pada cerita tentang benda-benda kenangan mereka cukup masuk akal dan mampu menggambarkan perihnya patah hati yang terjadi di antara kedua karakter utama. Meskipun, ya, lebih banyak porsi patah hatinya Min daripada Ed. Membaca novel ini membuat pembaca masuk ke dalam pikiran Minyang akhirnya mengeluarkan semua uneg-unegnya pada Ed melalui tulisan. Saya ikutan kesal pada Ed dan juga membodoh-bodohkan Min yang mau-maunya diperlakuan seperti itu oleh Ed. Novel ini sebenarnya miskin kekuatan tulisan baik dari segi penokohan (seperti yang saya bahas di atas), struktur, dan permainan gaya bahasa. Namun, buku ini cukup menghibur untuk dibaca saat patah hati. Naik dan turunnya emosi para tokohnya mampu membuat kita merenungi satu hal: mengapa manusia suka sekali meromantisir patah hati?

Kutipan paling nampol:

“Stop saying no offense,” I said, “when you say offensive things. It’s not a free pass.”


--- [] ---


Buku terakhir adalah buku yang menginspirasi judul tulisan ini. Tentang mitigasi patah hati yang menurut saya hanyalah hoaks. Tidak ada orang yang sudah bersiap untuk sakit hati saat menyatakan jatuh hati dan terlibat dalam hubungan cinta. Tidak ada pertolongan pertama yang akan membuat luka kita kering setelah patah hati. Bahkan buku-buku di atas belum tentu membantu proses penyembuhan meskipun sudah kita baca sambil memikirkan untuk mati gantung diri di pohon bambu. Rasa sakit tetap membunuh, rasa kecewa tetap membuncah, dan rasa minder akibat merasa kurang akan tetap muncul. Jatuh hati dan patah hati bukanlah hubungan yang linier. Maka, ada baiknya, saya dan juga kamu mengurangi ekspektasi pada orang lain saat nantinya sudah jatuh hati lagi.

Karena tidak ada yang namanya mitigasi patah hati.

You May Also Like

0 Comments

A barrel of drink for me and you. Feel free to drop a comment or two.