Cek Kesehatan Jantungmu dengan Membaca Buku Cetakan Penerbit Haru

by - May 28, 2020


Novel-novel dengan genre psychological thriller masih jarang ada di Indonesia. Penulis dengan genre tersebut juga sedikit. Sebut saja nama seperti Anastasia Aemilia yang menulis novel berjudul Katarsis (2013). Ketimbang disebut sebagai penulis cerita psychological thriller, Anastasia Aemilia lebih cocok disebut sebagai penulis-yang-membuat-cerita-menegangkan-dengan-plot-pincang-dan-terlalu-banyak-darah-serta-bacok-bacokan.

Saya kira genre psychological thriller enggak sekaku itu. Psychological thriller tidak melulu memiliki tokoh utama yang 'sakit', psikopat, dan pendendam; bernuansa darah, pembantaian sadis, dan kematian; serta berhiaskan benda-benda tajam seperti pisau, golok, dan silet. Sorry to say, penulis sepertinya terlalu berkiblat pada novel dan film barat dengan genre slasher yang mainstream macam Saw (2004), sehingga tidak melakukan riset dengan eskalasi yang lebih luas dan mendalam tentang gangguan psikologi klinis yang melatarbelakangi karakter Tara Johandi; karakter utama di novel Katarsis.

Meskipun demikian, saya tetap ingin memberikan empat, bahkan lima jempol baginya karena sudah berani mengusung tema novel yang minoritas. Enggak tanggung-tanggung, yang menerbitkan Katarsis adalah Gramedia Pustaka Utama; penerbit mayor yang biasanya jarang meloloskan novel dengan genre thriller, horror, dan slasher di tahun segitu. Katarsis sendiri pernah saya bahas secara singkat di tulisan berikut (Novel-novel yang Bisa Dibaca Tanpa Mikir).

Namun, satu-dua tahun belakangan saya menemukan penerbit yang mencetak buku-buku dengan genre psychological thriller. Memang semuanya merupakan terjemahan dari bahasa asing (terutama dari Jepang), tapi ini merupakan langkah berani untuk memuaskan hasrat psycho para pembaca novel di Indonesia. Siapakah penerbit buku yang saya maksud?



Untuk pembaca pemula, bisa jadi novel-novel barat bergenre psychological thrillerseperti karya Sebastian Fitzek, Dan Simmons, Jack Ketchum, dan Thomas Harristerlalu berat dan mengundang rasa mual berlebihan untuk dinikmati. Oleh karena itu, novel-novel Penerbit Haru bisa menjadi batu loncatan untuk mengukur tingkat ketahanan dan kemualan kita terhadap novel bergenre sama. Baru setelah itu, kita bisa memutuskan apakah kita mau menikmati novel-novel karya empat pengarang tersebut atau tidak.

Ibarat main game WormZone, lahaplah cacing-cacing yang kroco dulu, baru beralih ke cacing yang lebih besar supaya enggak kaget, nabrak, dan langsung matidan berubah jadi makanan untuk di-emplok cacing-cacing lainnya.

Berikut adalah beberapa rekomendasi buku bergenre psychological thriller dari Penerbit Haru yang bisa kamu pilih sebagai bacaan pertama tentang sisi tergelap manusia. Pro tip: Jangan terkecoh dengan keimutan beberapa sampulnya karena justru merekalah yang paling membuat mual!




(OST: Jingle Susu Murni Nasional Original)


--- [] ---

1. Girls in the Dark - Akiyoshi Rikako (2014)



Kalau kamu mencari novel psychological thriller dengan sudut pandang presisi dan penggambaran cerita yang tegangnya tepat sasaran, Girls in the Dark enggak boleh kamu lewatkan. Porsi dimulainya pas, proses 'penggiringan opini'-nya tanpa celah, dan akhiran ceritanya sungguh mantap jiwa. Eksekusi premisnya tepat guna dan bisa menunjukkan bahwa anak SMA memiliki sisi kelam yang 'belum matang' akibat proses pencarian jati dirinya. Pun menunjukkan fakta bahwa PERSAINGAN-ANTAR-PEREMPUAN-SANGATLAH-MENGERIKAN (saling jegal, saling cela, dan saling fitnah untuk mendapatkan popularitas adalah legal untuk dilakukan!). Sebenarnya ada beberapa hint, clue, dan imagery kalau ceritanya bakal ke situ, tapi samar. Samar banget sampai-sampai saya memaafkannya dan bisa memberinya bintang lima!

Kutipan ajaib:
Menggenggam rahasia seseorang sama dengan menggenggam jiwanya. - hlm. 227

2. Murder at Shijinso - Imamura Masahiro (2019)



Kalau kamu ingin membaca novel zombi-zombian dengan bumbu dan racikan yang lain daripada yang lain, Murder at Shijinso bisa menjadi pilihan tepat. Pengemasan plotnya rapi dan konflik yang dibangun menjanjikan. Minusnya hanya ada pada arogansi penulis yang terlihat ingin outsmart the readers. Jika itu bukan masalah, buku ini pasti menyenangkan untuk dibaca (tapi buat saya hal itu ganggu banget, makanya saya cuma kasih bintang dua!). Murder at Shijinso sebaiknya dibaca dengan pikiran terbuka oleh orang yang mau mencari benang merah antara fenomena zombi dan penyelidikan detektif untuk menemukan asal muasalnya dengan latar belakang kriminalitas.

Kutipan ajaib:
Cara manusia menghadapi zombi adalah refleksi isi hati mereka sendiri. - hlm. 397

3. Holy Mother - Akiyoshi Rikako (2015)



Kalau kamu ingin menikmati novel tentang kasih sayang sekaligus kenekatan seorang ibu dalam tulisan yang sarat hikmah, Holy Mother adalah jawabannya. Twist-nya naudzubillah bikin pengin misuh-misuh tujuh hari tujuh malam, aaarrrggghhh, kezeeelll bangeeettt aq tuuu!!! Meskipun twist-nya bangsat dan berengsek, menurut saya penulis bukan mau mempermainkan pembaca kok. Twist-nya justru memperkaya hasil 'judi togel' yang sejak awal dituliskan bahwa ending-nya bakalan piiip, piiip, dan piiip. Akiyoshi Rikako, I present my bow for the WTF and WTH hattrick piiip surprises! Buku ini benar-benar menunjukkan kalau, "INI LOH YANG NAMANYA PLOT TWIST, ANJ*NG!"

Kutipan ajaib:
Jika sebelum kelahiran anak itu dalam kuasa Tuhan, maka sesudah lahir anak itu ada dalam kuasa sang ibu. - hlm. 148

4. Giselle - Akiyoshi Rikako (2019)



Kalau kamu tertarik dengan dunia balet dan kisah-kisah yang ada di baliknya, Giselle adalah sasaran yang paling masuk akal. Beberapa buku berlatar dunia balet tidak ada yang sekaya dan semengagumkan Giselle. Kalau di buku yang lain Akiyoshi Rikako selalu fokus pada twist dan sudut pandang, maka di buku inilah kamu akan menemukan fakta bahwa penulis sangat cerdas dalam merancang riset untuk case building dalam cerita. Nuansa gotik dan mistis pada tarian balet dikemas dengan sejarah sarat fakta dan dikaitkan dengan konflik yang terjadi pada para karakternya. Hidup dan mati para karakternya hanya untuk balet. Rasanya seperti nonton teater balet beneran!

Kutipan ajaib:
Dalam dunia balet, bisa dikatakan sudah menjadi nasib balerina untuk merasa iri pada balerina lain, dan merasa rendah diri. - hlm. 44

5. Confessions - Minato Kanae (2019)


Kalau kamu menginginkan buku dengan tema pembalasan dendam yang penuh intrik dan menggelitik sisi gelapmu sebagai manusia, Confessions tidak ada tandingannyadi daftar rekomendasi ini. Minato Kanae jelas menjadi salah satu penulis Jepang favorit saya karena dia berhasil membuat saya bergidik ngeri dan pusing setelah membaca novelnya. Padahal, ceritanya tanpa adegan berdarah-darah. Dari novel ini saya belajar bahwa dua atribut yang dimiliki manusia, yaitu persepsi dan asumsi, adalah hal yang paling berbahaya. The one who can control them will conquer the world. Tak heran kalau semua orang selalu berpikir bahwa dirinya adalah korban alias playing victim. Padahal, bisa jadi, kitalah yang sebenarnya penjahat tapi kita tidak menyadarinya.

Kutipan ajaib:
Kupikir kita sebagai orang biasa mungkin telah melupakan kebenaran yang mendasarkita tidak benar-benar memiliki hak untuk mengadili orang lain. - hlm. 171

6. The Dead Returns - Akiyoshi Rikako (2015)



Kalau kamu ingin membaca novel psychological thriller yang dibumbui dengan drama anak sekolah yang cukup kentara atau kamu berencana membaca buku Akiyoshi Rikako untuk pertama kali, The Dead Returns bisa menjadi pembuka jalan. Satu, di antara semua buku Akiyoshi Rikako novel inilah yang paling 'hangat' dan lebih mudah diterima akal sehat. Dua, novel ini diceritakan dengan ketegangan yang pas dan konflik bullying yang berbeda. Membuat saya berpikir bahwa sanksi sosial secara mental rasanya ternyata jauh lebih sakit daripada sanksi sosial secara fisik. Aaaahhhh, sedihnya, been there done that :')

Kutipan ajaib:
Kau bilang keberadaanmu muncul karena pengorbanan orang lain. Tapi, bukankah semua orang juga seperti itu? - hlm. 156

7. Absolute Justice - Akiyoshi Rikako (2018)



Kalau kamu sedang suka buku dengan tema penghakiman sepihak dan pembalasan dendam yang kurang ajar, Absolute Justice adalah salah satu buku yang paling memenuhi kualifikasi. Sebagai pembaca, kita akan disuguhkan sisi penuh kebanggaan manusia sebagai salah satu sinner pride. Merasa paling benar, merasa paling jago, dan paling kuat ~ (kemudian nyanyi lagu dari film Petualangan Sherina). Membaca novel ini boleh jadi membuat kita menyadari bahwa tidak ada kebenaran apa pun yang bersifat absolut. Twist cukup nampol, tapi enggak sekuat Holy Mother. Keunggulan novel ini ada pada permainan emosi yang sangat membuat saya merasa ASDFGHJKL dan aaaakkkk... gila! *sembah sujud Noriko dengan kejeniusan murder plan-nya*

Kutipan ajaib:
Apakah kebenaran yang sempurna itu hal yang barbar, keras, dan jahat? Di sana tidak ada celah sedikit pun bagi kebaikan dan pengertian untuk masuk. - hlm. 226

8. Penance - Minato Kanae (2020)



Kalau kamu mencari novel bertema sama seperti Confessions atau novel karya Minato Kanae yang lain, yang lebih 'halus' dan nJawani, maka Penance bisa menjadi sahabat terbaik yang mengocok isi lambungmu. Saya tidak ingin mengomentari apa pun masalah substansi dari buku ini karena premisnya sangat mirip dengan Confessions. Apakah berarti buku ini bagus? Tentu saja. Namun, membaca buku dari pengarang yang sama dengan modus cerita yang mirip jelas membuat saya berpikir "meh". Tapi, tapi, tapi... Eksekusi pembangunan konflik di Penance > Confessions.  Keberingasan karakter di Penance >> Confessions. Sensasi enek saat membaca Penance >>> Confessions

Kutipan ajaib:
Aku tidak boleh mengharapkan hal yang lebih dari yang bisa aku gapai. - hlm. 157

9. Stillhouse Lake - Rachel Caine (2020)



Kalau kamu sedang menggemari cerita dengan tema ibu yang berjuang untuk lari dari psikopat demi melindungi anaknya, sehingga si ibu tersebut malah harus berubah jadi psikopat juga dan mengganti identitasnya, maka Stillhouse Lake adalah buku yang kamu cari. Ditambah lagi, buku ini tidak sesingkat buku-buku lain di daftar rekomendasi ini. Ada empat buku lain yang akan melanjutkan serial Stillhouse Lake. Oleh karena itu, beberapa bab di tengah akan terasa ngambang dan lambat alurnya. Poin plus dari buku ini adalah deskripsi karakter Gina Royal alias Gwen Proctor yang bisa menjadi role model heroine anti menye menye klub dan badass dalam melawan kebengisan si psikopat aka mantan suaminya sendiri. Tambahan, adegan pembunuhannya disturbing banget.

Kutipan ajaib:
Guns don't keep anyone safe. They only equal the playing field. - hlm. 301

10. Bone - Mijin Jung (2020)



Kalau kamu mencari novel psychological thriller yang tidak terlalu gore, suspense, slasher, maupun horror, justru cenderung ke arah drama romantis, Bone bisa menjadi alternatif yang baik dan benar. Tidak terlalu manis dari segi romantisme, pun tidak terlalu memusingkan seperti sembilan judul lainnya. Sangat bisa dinikmati bagi pembaca psychological thriller pemula yang mungkin menghindari adegan-adegan memualkan. Adanya ilustrasi foto yang melengkapi jalan cerita menambah nilai plus bagi Bone, sehingga pembaca bisa membayangkan cerita dengan visual yang lebih nyata.

Kutipan ajaib:
At some point in our life, we have to face a big problem caused by a little tiny mistake we have done. - hlm. 213 


--- [] ---

Penerbit Haru dulunya menerbitkan buku-buku slice of life seperti komik golongan darah, komik love story, dan terjemahan dari adaptasi film Makoto Shinkai, misalnya saja: Kimi No Nawa (2017) dan I Want to Eat Your Pancreas (2019). Namun, Penerbit Haru kemudian berinovasi dengan menerjemahkan novel-novel karya penulis Jepang, Korea, dan beberapa negara lain. Koleksinya pun bertambah, dari yang tadinya hanya genre romantis dan keseharian, sekarang kaya akan genre mystery, psychological thriller, dan self-development.

Semua hasil terjemahannya pun halus dan enggak kaku kayak kanebo kering (joke lawas!) saat dibaca. Girls in the Dark, misalnya, yang diterjemahkan oleh Andry Setiawan dari judul aslinya yaitu Ankoku Joshi (2013) memiliki hasil penerjemahan yang nyaman dan menyenangkan saat dibacaterlepas dari isi ceritanya yang miris, miris, miris, aaaarrrrgggghhh! Andry Setiawan berhasil menuliskan Ankoku Joshi ke dalam versi bahasa Indonesia dengan sangat apik. Saya bisa bilang begini karena beruntung sempat membaca novel tersebut dalam versi bahasa Inggris dengan judul The Dark Maidens (2018), sehingga bisa sedikit membandingkan hasil terjemahan keduanya. Hal ini membuat saya menyesal karena tahun lalu belum memasukkan Penerbit Haru dalam daftar penerbit mayor favorit di tulisan ini (Ngomongin Lima Penerbit Buku Favorit).

Padahal, Penerbit Haru keren banget!

Selain hasil terjemahannya yang bagus, desain bukunya juga selalu menarik. Membuat pembaca ingin segera membeli dan membacanya. Sinopsis ringkas di bagian belakang buku juga selalu intriguing dan membuat penasaran. Singkat kata, Penerbit Haru memenuhi kualifikasi sebagai penerbit buku yang jempolan.

Sekarang, kamu tertarik membaca judul yang mana dulu?

You May Also Like

2 Comments

  1. Akiyoshi Rikako ini udah macem Stephen King aja. Saya sendiri sebenernya bukan penikmat gothic. Kalau buku favorit dari Penerbit Haru itu Hyouka, soalnya tau dari animenya. Novel misteri tapi rada "cerah".

    Dulu dapet giveaway boneka golongan darah dari Penerbit Haru, sekarang bonekanya kepake jadi maenan keponakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hyouka aku malah belum baca. Kalau golongan darah udah khatam ketiga serinya. Wkwk. Aku sukanya yang surem-surem, Rip. *halah*

      Yaudah, sekarang keponakannya gantian dijadiin giveaway dari blog kearipan dot com.

      Delete

A barrel of drink for me and you. Feel free to drop a comment or two.