Title: Man and His Symbols
Author: Carl Gustav Jung
Publisher: Dell
Year of Publishing: 1968
Language: English
Pages: 451 pages

--- [] ---


(Twenty One Pilots - Implicit Demand for Proof)

--- [] ---

The individual is the only reality. - hlm. 83

--- [] ---

Ada pesan-pesan yang tidak ditampilkan secara eksplisit pada buku Carl Gustav Jung yang ini. Pesan-pesan psikologinya implisit. Cocok lah dengan lagu Twenty One Pilots yang saya sematkan di atas. Semuanya implisit--hampir semuanya. Sama juga seperti alunan piano di depannya yang membawa semerbak kebangsatan bagi emosi, pengantar yang ditulis Jung saat memulai bukunya juga penuh teori permukaan yang membangsati pikiran, sehingga tidak lain tidak bukan hanya ada kata bangsat di dalam pikiran, meskipun kata bangsat terkesan kasar untuk diucapkan dan dituliskan dalam sebuah postingan ulasan buku non-terjemahan.

Man and His Symbols adalah buku pertama Jung yang saya baca beberapa tahun lalu. Dan untuk kepentingan ulasan biar scheduled post-nya bisa banyak meskipun ditinggal si pemilik blog, alias saya benci membuka blog akhir-akhir ini jadi saya anggurin aja, namun saya tetap ingin ada isinya dan terjadwal, makanya saya membaca ulang buku ini dan saya sadar akan satu hal: saya bodoh. Bodoh sekali sampai rasanya mau mati.

Buku-buku psikologi semacam ini biasanya isinya membuat ngamuk karena otak saya yang isinya kebanyakan hal-hal numerik harus menikmati bahasan yang kualitatif. Kadang bikin haus dan lapar setelah membacanya. Namun, buku Jung tidak demikian. Saat satu per satu simbol dibahas, saya jadi tahu kalau saya adalah pembaca yang butuh ilustrasi (dan empat sehat lima sempurna), saat bukunya non-fiksi. 

Makanya dulu belajar sejarah nilainya lima terus.

Simbol-simbol yang dibahas Jung pada buku ini membawa saya untuk terus membaca sampai bab akhir. Dengan bentuk copy-an lawas yang ukurannya segenggam, saya bisa membacanya (ulang) dalam waktu tiga hari. Buku Jung cetakan pertama yang langka ini ada di perpustakaan kampus saya. Dan kebetulan, hanya ada satu eksemplar.

Jung membahas simbol yang ada pada mitos, legenda, patung, pahatan, dan gambar yang ada di larik-larik peninggalan manusia dari zaman dulu hingga sekarang. Mengapa manusia butuh sesuatu yang simbolik? Sederhana, karena manusia membutuhkan pengakuan.

Sebuah analogi bangsat yang saya dapatkan dari buku Jung.

Makanya nggak heran kalau ada julukan "manusia gila pengakuan". Misalnya saja seorang inventor yang menemukan cara mengolah koran bekas menjadi uang logam. Ia akan dikenang dan dibuatkan patung untuk mengingatkan jasanya dalam mengentaskan kemiskinan. Yah, semacam itulah. Jung sendiri membawa sebuah paparan bahwa simbol-simbol yang manusia ciptakan menjadi semacam kode dan sandi untuk eksistensi.

Contohnya, beri saya tanda jika kamu masih menunggu di sana. Dengan tulisan ini, saya memberi tahu bahwa saya akan pulang. Dan tidak pergi lagi.

Contohnya demikian.

Contohnya.

Tulisan sendiri merupakan simbol dari pikiran dan perasaan kita. Sedih, senang, mabuk, teler, dan kekenyangan, tulisan bisa mewakili setiap momen dan tanpa disadari, semuanya terpaku pada satu hal: abadi. Dengan simbol, manusia bisa meninggalkan jejak pada manusia setelahnya untuk belajar dan mengambil hikmah dari apa yang sudah terjadi di masa lampau. Persis seperti orang menulis diary. Jika membaca buku ini sambil mendengarkan musik yang tepat, pikiran bisa melayang dan memikirkan: "gading" seperti apa yang akan kau tinggalkan di bumi? Apakah sampah? Apakah sumpah serapah?

Sebagai pemula dalam dunia Jungian (karena saya berencana membaca bukunya yang lain), saya jadi sadar akan kebodohan saya. Saya pernah menyalah-nyalahkan Solo karena menurut saya kota ini sial. Saya mengalami banyak kegagalan dan kekalahan di sini. Namun, saya gagal dan kalah bukan karena Solo. Solo tidak salah apa-apa. Justru Solo yang mengajarkan saya bahwa nasi sayur pakai telur harganya hanya lima ribu di burjo. Semurah-murahnya makanan anak kosan di berbagai kota, Solo tetap tidak ada tandingannya.

Buat saya, simbol Solo untuk saya adalah kesederhanaan.

Dan kelak, beberapa saat lagi, saat saya sudah tidak tinggal di Jawa lagi, saya akan menyadari bahwa bukan Solo yang membuat saya merasa mati.

Saya hanya belum bisa berdamai dengan hati.

--- [] ---

Selamat tinggal, Solo.
Terima kasih atas enam tahun pengalaman yang tak terbayarkan.
Mungkin di sana nanti saya akan merindukan kemurahan(biaya hidup)mu.






Picture is taken from:

6 Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikut makanya. Pesawat mahal kalau pulang ke Jawa nanti. Hahaha.

      Delete
  2. Mau ke mana, May? Kayak judul blog ini, kah? Bertualang ke mana saja. Hahaha.

    Bicara soal simbol, Batman bikin simbol kelelawar untuk membagi ketakutannya itu kepada para musuhnya. Saya harus bikin simbol apa, ya?

    Sepertinya saya ingin menjadi simbol kesedihan yang bisa membuat dia tertawa. Cukup dia saja. Cukup satu orang saja. Rasanya kesedihan saya bisa menjadi makna.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.