Judul: Sebuah Tempat di Mana Aku Menyembuhkan Diriku
Penulis: Ardy Kresna Crenata
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 332 halaman

--- [] ---

Buku ini tidak memberikan healing effect sama sekali. Berbeda dengan judulnya yang menyisipkan frase "menyembuhkan diriku", buku ini justru membuat saya babak belur karena kesal dan memukulkan buku ini ke kepala saya saat membacanya. Berlebihan? Iya. Tidak apa-apa. Beberapa waktu ini memang isi kepala sedang tidak keruan, jadi ya, mohon maklum kalau buku saja bisa bikin kesal bukan kepalang.

Saya tidak memiliki harapan apa-apa saat membuka halaman pertamanya. Oh, salah. Hal yang pertama kali saya baca dari buku ini adalah epilog dari Zen Hae yang cukup panjang (untuk ukuran sebuah epilog, ini panjang jang jaaang). Tapi tak apa, mungkin karena Zen Hae punya banyak masukan dan sanjungan untuk Ardy Kresna Crenata: si penulis novel ini.

Ada beberapa hal menarik tentang buku ini. Membaca judulnya, saya jatuh cinta tanpa perlu konfirmasi untuk kedua kali. Kebetulan buku ini adalah buku milik adik saya (dan sekarang saya berpikir apakah dulu dia mengerti saat membaca isinya karena hampir semua cerpennya saru), sehingga saya tidak boleh langsung melemparnya saat Ardy sudah mulai mengacaukan diri saja. Lebih baik saya menghajar diri saya sendiri daripada menghajar buku ini. Kalau rusak, bisa-bisa adik saya ngamuk. Jadi, ya, tahan diri sendiri lah.

Lalu, buku ini memiliki banyak ilustrasi di dalamnya. Dengan tema ngeri-ngeri sedap dan surealis, saya langsung suka, "Oh, ini pasti buku tentang pikiran-pikiran buruk karena patah hati dan kehilangan." Pikir saya. Namun, kenyataan memang tidak selalu sejalan dengan harapan. Buku ini isinya tidak jauh-jauh dari dunia persenggamaan. Mungkin kalau ada sistem poin seperti di game-game Android, poin untuk munculnya kata "senggama" di dalam buku ini bisa panen gold medal. Banyak banget.

Saya cukup takjub dengan isinya yang selalu melibatkan aktivitas seksual (dan makin pusing karena adik saya dulu membeli buku ini, kenapa, Ya Tuhan? Kenapaaa?). Sebenarnya ritmenya mirip seperti tulisan-tulisan Djenar Maesa Ayu dan Eka Kurniawan. Mesum dan legit. Tapi saya tidak menangkap pesan "menyembuhkan" dari buku milik Ardy ini. Sama sekali bukan cerita-cerita yang menyembuhkan. 

Oke lah, jika judul pada sampulnya mengacu pada salah satu judul cerita pendek di dalamnya. Oke. Tidak masalah. Tapi bahkan cerpen tersebut tidak memiliki kesan menyembuhkan. Dibilang cerita stensilan, buku ini juga tidak cukup menggairahkan. Jadi, mesumnya lempeng sekali. Saya tidak tahu maunya penulis apa; menyajikan kasus-kasus depresif dengan tema dewasa atau kasus-kasus aktual yang sengaja menggantung (dengan tema dewasa).

Saya sampai bingung mau mengulas segi apanya lagi. Intinya, saya kurang suka dengan penyajian Ardy. Cerpen ini subjektif, sangat subjektif. Tentu saja itu hak Ardy selaku penulis untuk berlaku subjektif hingga 100% dan saya juga punya hak untuk membaca dan meresapinya. Dan mengulasnya sambil menyesali hidup.

Mungkin kumpulan cerpen karya Ardy ini sepatutnya dibaca oleh orang-orang yang waras dan hidupnya sedang baik-baik saja supaya ingat bahwa roda kehidupan itu berputar. Kalau dibaca oleh orang yang sedang oleng seperti saya, sama saja bunuh diri.

Disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri perubahan itu. Sebuah titik hitam, lalu sebuah pusaran. Dan satu per satu semuanya terisap. - hlm. 42

--- [] ---

6 Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukunya menarik. Saya juga sempat membaca beberapa buku modelan begini; ada unsur seksualya dan kadang bikin sebal sama diri sendiri.

      "Awas bunuh diri, Yan" bahkan sampe ada yg pernah bilang kayak gitu.

      Tapi gatau kenapa, kalau sedang kacau, pikiran tidak keruan atau semacamnya, baca buku kayak gini malah 'tambah asyik' dan tidak mau berhenti? Apakah ini yang dinamakan 'menikmati luka?'

      Uwadaaaw...

      Delete
    2. Sungguh saya terpukau dengan penyelaman diri Dian Hendrianto melalui cerita yang menyayat pikiran.

      Delete
  2. Saya gak mau jadi masokis.

    -Haw anda bajingan.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.