Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2012
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 449 halaman

--- [] ---



(Twenty One Pilots - Legend)

--- [] ---

Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang. - hlm. 206

Halo. Apa kabar di sana? Terkadang saya masih menanyakan pada diri sendiri dua tahun yang lalu. Apa jadinya kalau saya bertemu kamu lebih cepat, dan mungkin saja memiliki kamu lebih cepat daripada dia. Apakah ada jaminan akan ada cerita lain tentang kita bersama tanpa gangguan? Mungkin juga tidak. Tidak ada jaminan dalam hidup. Bahkan asuransi pun tidak cukup membantu saat kita berada dalam keadaan genting.

Setelahmu, hal-hal kecil sering sekali membuat saya patah hati. Setiap hari bagai kiamat kecil yang kadang dihiasi senyum dan tawa hambar. Kata tetangga kos, kamar saya seperti kandang zombie. Hawanya muram dan dingin. Bukan saya enggan berinteraksi lagi, tapi tidak ada lagi kejadian apa pun yang membawa bahagia. Saya sukar sekali bahagia dan dibahagiakan. Maka saat ada sesuatu yang membuat saya tertawa, sudah pasti bukan karena buku lagi. Bukan curian e-book gratisan di jejaring cyber lagi. Bukan itu.

Kadang saya membaca suratmu yang masih ada di dalam dompet, mengenang bagaimana tulisanmu yang jelek bagai cakar ayam dan tersenyum sambil mengenakan Andreas. Kemeja joger biru donker pemberianmu. Sesekali saya memilin kertas berisi surat-surat saya setelah kamu pergi. Yang tidak pernah saya kirim karena saya tidak cukup bernyali untuk tahu keadaanmu di sana. Dan biaya kirim mahal (kamu ingat kan waktu saya mengirim teh merek Dandang saja berapa ongkosnya). Nanti kalau sudah sepulau, baru saya kirim.

Dua bulan ini saya belajar menggambar dengan cat air, diajari Justin. Ternyata saya bisa sedikit-sedikit. Saya juga membeli Alex, sebuah ukulele tenor, supaya bisa bermain lagu-lagu Twenty One Pilots untuk mengusir rasa rindu abadi. Sekarang saya sudah bisa enam kunci dasar. Lagunya baru bisa dua. Happy Birthday dan Stressed Out. Kadang-kadang sekarang saya masak karena kemarin membeli teflon baru. Maag saya tidak pernah kambuh, tapi saya kena infeksi tomcat. Sudah sebulan ini gatal-gatal. Kalau malam hari, terkadang rasa gatalnya tidak tertandingi melebih gatal tangan yang lama tidak memegang uang.

Mengurus administrasi banyak hal selama dua bulan ini terasa sangat menguras energi. Kalau kita sedang membutuhkan orang untuk membantu, tiba-tiba ada saja hal yang membuat mereka tidak peduli. Kemarin, saya mengurus berkas wisuda dan kecewa karena sertifikat tes Bahasa Inggris saya ternyata sudah kedaluwarsa. Pihak UPT Bahasa kampus tidak mau tahu dan saya harus punya yang baru. Saya berusaha collected, calm, and chill, you know. Pulang ke kos dan diam sambil mendengarkan lagu Smithereens. Namun, hal-hal begitulah yang justru menjadi momen-momen kiamat saya setiap hari. Setelah kamu pergi.

Ya, sudah, saya rela. 

Tapi setelah urusan resign dan wisuda kelar, saya bakar kampusnya.

Hehe.

Bercanda.

Prediksimu salah, kau tahu? Nyatanya, saya tidak bisa hidup (tenang) tanpamu.

Saya selalu ingin bercerita tentang penulis bernama Leila S. Chudori. Dua dari keseluruhan bukunya sudah ada di rak sejak Desember 2017 dan saya masih belum saja bisa menuliskan ulasannya. Ada bagian dari buku yang selalu membuat menangis dan berhenti. Saking depresifnya atau saking bagusnya, saya sampai tidak bisa membedakan.

Pulang bercerita tentang seorang eks-tapol (mantan tahanan politik) di tahun 1965 yang akhirnya mengungsi ke luar negeri dan membuka rumah makan nusantara bersama kawan-kawannya seperjuangan. Semata-mata untuk mengobati rindu pada Indonesia. Dimas Suryo namanya. Saya yakin Leila selaku penulis adalah seseorang yang kaya akan literatur. Selera bacaan dan daftar buku-buku yang telah ditamatkannya disisipkan ke dalam novel Pulang. Meskipun ceritanya mengambil tentang latar sejarah Indonesia di masa PKI--isu PKI, tapi saya menemukan hal lain yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Leila bukan sembarang menulis cerita. Riset mendalam tentang sejarah kelam Indonesia dipelajarinya dengan detail. 

Jangan dipikir Leila akan menjadi seorang penulis yang menampakkan kecenderungan politik dan segalanya. Tidak sama sekali. Banyaknya bacaan yang menjadi dasar penulisan buku ini malah membuat Leila menjadi seorang penulis yang "netral". Bukan 100% netral sih, ada beberapa bagian yang membuatnya terlihat mendukung salah satu pihak. Pun ada pula yang membuatnya terlihat kontra dengan pihak tersebut.

Dimas Suryo selaku tokoh utama menjadi pokok yang dibahas di dalam cerita. Itu di bagian pertama. Di bagian kedua, sudut pandang cerita disetir oleh Lintang Utara Suryo, anak Dimas Suryo hasil perkawinannya dengan Vivienne Deveraux. Setelah ayahnya sering sakit-sakitan karena diliputi rasa bersalah dan ingin pulang ke Indonesia, Lintang membulatkan niat untuk mewakili ayahnya "pulang". Mengenal asal-usulnya. Lintang pulang di tahun 1998 saat Indonesia sedang carut marut karena aksi penghilangan massal sejumlah mahasiswa dan proses lengsernya Presiden Soeharto dari tahtanya tepatnya pada tanggal 21 Mei 1998.

Saya pernah belajar sejarah. Dan saya tahu sejarah adalah garis tertulis yang tidak bisa dihapus dengan penghapus secanggih apa pun. Ia akan tetap ada. Namun, bagi saya, dan kamu pasti sudah tahu kalau saya selalu anti berbicara politik (antara saya yang tidak paham dan memang politik yang lebih rumit dari fisika), buku ini tidak terasa membelok ke aliran "kanan" atau "kiri". Berbeda dengan buku George Orwell yang terasa sekali memasukkan paham yang dianutnya pada buku-bukunya. Leila S. Chudori adalah penulis cerdas yang "netral".

Saya tidak merasakan unsur politik yang magis dan justru merasakan adanya kesan egaliter antar tokoh yang berperan. Dimas yang tidak bisa melupakan Surti, Surti yang menikah dengan Hananto, Dimas bertemu Vivienne, Dimas memiliki anak bernama Lintang, Surti memiliki anak bernama Alam. Keduanya bertemu dan semuanya menjadi terkait. Daripada menyajikan kisah cinta semua tokohnya dengan gamblang atau kisah politik era orde baru yang seram, Leila menggabungkan keduanya. Bukan cinta berlatar politik, bukan politik berlatar cinta. Dan penggabungannya sangat halus sampai-sampai saya tidak bisa bilang genre buku ini apa. Kegaduhan di kepala Leila seperti dituangkan semuanya.

Dari novel Pulang, saya jadi sedikit banyak tahu tentang trauma para keluarga korban dan kekejian penyiksaan di zaman komunis. Betapa Indonesia pernah mengalami hal mengerikan dengan dibuangnya ribuan mayat di penjuru nusantara. Saya sering melihat ada ritual setiap hari Kamis di pesisir sungai Bengawan Solo. Ada yang membaurkan bunga. Ada yang membawa foto dan terlihat sedih dengan ekspresi kosongnya. Semuanya rata-rata sudah tua. Katanya untuk mengenang keluarga mereka yang dulu dibunuh dan mayatnya dibuang ke sungai. Saya hanya mendengarnya sambil lalu. Tapi lewat buku ini, cerita tersebut dikonfirmasi (setelah ini saya pikir-pikir kalau lewat Bengawan Solo).

Saya ingin suatu hari kamu ketemu Leila S. Chudori. Sebenarnya, beliau akan datang di acara UWRF bulan depan. Dan saya akan menjadi volunteer. Mungkin akan ada kesempatan untuk saya dan kamu ngobrol dengan beliau setelahnya. Saya sungguh penasaran.

Bagian yang paling membuat saya sedih adalah saat Dimas akhirnya "pulang". Bagi saya, Leila adalah penulis yang merayakan kehidupan dan kematian sekaligus. Mungkin beliau juga menangis saat menulis bagian-bagian tertentu dari novel Pulang.

Cerita Pulang ditulis dengan alur maju mundur. Surat-surat dari semua tokohnya memegang kendali di buku ini, sekaligus memainkan emosi. Saat Surti menuliskan pengalamannya dipenjara dan diintimidasi oleh utusan pemegang kuasa, emosi saya kayak diaduk-aduk bersama adonan donat mentah dan dibuang karena gagal mengembang. Mencelus rasanya melihat perempuan di zaman itu hanya jadi "pijakan" dan "buangan".

Pulang memiliki banyak kenangan bagi saya sebagai pembaca. Termasuk ke dalam buku yang jika dibaca lebih dari sekali tetap akan menggetarkan hati. Saya bukan penggemar sejarah, tapi saya berusaha menghargainya. Mungkin setelah ini saya akan mulai membaca lagi sejarah Indonesia. Saya merasa durhaka karena tidak tahu apa-apa tentang tradisi Kamisan dan lain sebagainya. Saya bukan hanya sekadar warga negara biasa, tapi saya warga negara yang apatis. Yang hanya bisa ngomel kalau prosedur administrasinya ribet.

Maafkan saya, Indonesia.

Pernahkah kamu berpikir saya aneh? Setelah membaca buku malah minta maaf pada negara. 

Saya aneh. Saya aneh. Saya aneh.

Sekarang kalimat itu berdengung di telinga saya.


--- [] ---


Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 373 halaman

--- [] ---


(Twenty One Pilots - Neon Gravestones)

--- [] ---

Yang paling sulit adalah ketidakpastian. - hlm. 259

Novel kedua Leila S. Chudori yang ingin saya ceritakan kepadamu adalah Laut Bercerita. Kisah hidup Biru Laut, tokoh utama di buku ini, mirip dengan kisah Winston di novel 1984 karya George Orwell. Ia berusaha membantu adanya kesetaraan pada warga di negaranya tapi justru dicap pemberontak dan akhirnya ditangkap secara paksa oleh kelompok dari markas Elang (kelompok militer yang ditugaskan melakukan "pembersihan" pada yang membangkang). Di 1984 ada Bos Besar yang memimpin selama bertahun-tahun, di Laut Bercerita ada Presiden Soeharto yang juga memimpin selama bertahun-tahun. Novel 1984 diakhiri dengan proses eksekusi Winston, novel Laut Bercerita diakhiri dengan proses eksekusi Biru Laut yang membuat jeri.

Dua buku tersebut sama-sama mewakili kalimat saya bahwa, "Kekuasaan mutlak membuat segalanya terlihat mudah untuk dihancurkan". 

Buku Leila berhasil membuat saya yang tadinya hanya ngetem di pikiran-pikiran eksak menjadi lebih terbuka dengan sejarah Indonesia. Saya juga memiliki kakek dari ibu yang dulu "dijemput" oleh ajudan negara tapi tidak pernah dipulangkan. Hingga kini, ibu masih sering mengenangnya lewat bunga tapak dara yang selalu dirawatnya. Antara merawat kenangan atau merawat luka, saya tidak tahu bedanya. Yang saya tahu, ibu kehilangan sosok ayah yang tidak diketahui di mana jenazah atau makamnya. Dan kami tidak punya foto hidupnya.

Laut Bercerita, seperti judulnya, mengusung cerita tentang sekelompok mahasiswa yang berusaha mengupayakan kesejahteraann bagi warga. Khas anak muda yang baru mengenal paham-paham baru pra-dewasa dan ingin membantu sesama. Terasa kritis kalau saya baca. Apalagi saat Biru Laut sudah bernarasi tentang "Indonesia yang baru" tanpa adanya kekuasaan permanen dan sentimen terhadap perubahan pada pola pikir penduduknya.

Sama seperti Pulang, tema novel ini adalah sejarah yang digabungkan dengan unsur cinta. Cinta yang ditulis di sini juga sama seperti karakter cerita di novel Pulang. Cinta yang kaya antara keluarga, sahabat, kekasih, dan yang paling krusial adalah cinta pada negara. Berbeda dengan nasib Dimas Suryo di novel Pulang yang akhirnya bisa "pulang" ke Indonesia, nasib Biru Laut lebih tidak menyenangkan karena mengalami siksaan panjang sebelum akhirnya "pulang" ke dasar laut. Laut tidak sempat mengecap "Indonesia yang baru" seperti yang sudah lama digaungkannya bersama teman-teman seperjuangan. 

Saya sangat terpukul di bagian pertama novel dan langsung kalap karena merasa lapar mendadak. Belum ada buku-buku sebelumnya yang pernah saya baca bisa menimbulkan efek mual dan lapar sekaligus seperti Laut Bercerita. Thomas Harris adalah novelis pengarang Silence of the Lamb dan pencipta tokoh Hannibal Lecter yang tenar itu. Buku-bukunya berisi narasi slasher, tapi saya baik-baik saja. Tidak seperti efek setelah membaca Laut Bercerita. Psikis dan mental saya dipermainkan, sehingga saya merasa sedih berkepanjangan.

Pertama kali menamatkan buku ini, saya sampai tidak sanggup menulis ulasannya karena rasa kehilangan Asmara Jati dan keluarganya yang kehilangan sosok Biru Laut terasa mencekik. Karena saya merasa relate. Karena kakek saya pun pergi tanpa jenazah yang dipulangkan lagi. Karena sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana beliau dikuburkan. Apakah dengan layak, apakah dalam kondisi terpotong-potong, apakah nasibnya seperti tokoh Laut di dalam novel ini? Semua ketidakpastian tersebut merenggut sisa kepedihan saya yang lama tidak mendengar kabarmu dan sedang rindu. Saya benci diri saya yang seperti itu.

Novel ini ditulis dengan alur maju mundur. Sama seperti Pulang, surat-surat Laut dan adiknya, Asmara yang seorang dokter, menjadi kunci. Bahasanya tidak berat dan tidak sekuat buku-buku sejarah. Yang saya cermati dari buku kedua karya Leila ini, saya tahu bahwa Leila adalah penulis yang sangat dipengaruhi oleh bacaan-bacaannya. Sangat kentara beliau sudah melahap cerita pewayangan hingga katam dan juga buku-buku luar negeri lintas generasi dengan multi-referensi dan banyak tema. Beberapa kali Leila menyisipkan tokoh, adegan, dan moral value dari Ramayana, Mahabharata, Panji Semirang, Macbeth, Rethorical of Renaissances, dan buku-buku karya Anton Chekov serta Victor Hugo.

Sepertinya memang semakin banyak pengetahuan, semakin netral pula seorang penulis dalam menuliskan cerita. Meskipun tidak bisa dipukul rata. Kadang ada penulis yang justru jadi condong ke suatu paham karena bacaannya terlampau banyak. Dari kedua karya Leila S. Chudori, saya jadi punya banyak reading list baru. Yey!

Setelah saya membaca Laut Bercerita lagi, saya merasa perlu menulis ulasannya karena saya ingin buku ini dibaca lebih banyak orang. Kasus-kasus di zaman orde baru adalah kasus-kasus yang digaibkan. Tidak banyak jejak sejarahnya karena semuanya abu-abu. Versi A sampai Z bisa kamu temukan di media massa. Tapi, kalau kamu senggang, cobalah membaca buku ini nantinya. Kamu akan mengerti mengapa Indonesia yang dihajar teknologi seperti sekarang menjadi pribadi yang mudah tersinggung dan berkecil hati. Mental kita sudah dibentuk menjadi mental pengecut namun pemberontak dari sananya. Sejak dulu kala.

Makanya, sedikit-sedikit ada yang aneh dan lucu, viral. Jika ada tetangga atau teman yang kesusahan, digosipkan dan dijauhi. Namun, kalau ada orang-orang kita yang berkarya di luar negeri, tiba-tiba semua orang berlomba untuk menjadi penting dengan menuliskan komentar-komentar overproud di kolom jejaring sosial. Sedikit sekali saya menemui orang yang hidup dalam sederhana dan tidak berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

Saya juga begitu.

Dan Laut Bercerita menjadi salah satu media yang menyadarkan saya.

Jika kamu sudah membaca tulisan ini, terima kasih. Setidaknya ada tanda dari alam yang memberitahu pada saya jika kamu baik-baik saja, secara fisik, mungkin. Yang terbaik untukmu. Sisanya hanya doa sumbang saya. Semoga kamu sehat dan bahagia.

Kalau ada kesempatan untuk bertemu lagi, saya ingin pulang ke laut untuk bercerita denganmu. Mungkin tentang Leila S. Chudori dan dua bukunya. Mungkin juga tentang penemuan baru di dunia sains sambil belajar Bahasa Inggris.

Seperti saat itu.

6 Comments

  1. "Mungkin pada saat itulah Vivienne perlahan berhasil menjadikan Paris seperti rumah persinggahan. Bukan rumah. Tetapi rumah persinggahan." - Hlm. 85

    ReplyDelete
  2. Belum sempet baca dua duanyaaa. Baru beli yang kumcernya, dan pernah nonton video dia interview Joko Anwar ngomongin film Spiderman. Hohohoho. Pulang masih takut buat beli karena tebel banget. Mudah2an kapan2 beneran kebeli dan kebaca. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo ragu dengan kualitas buku, dan gak punya koneksi internet buak ngakses web review, kamu harusnya bertanya pada Yoga akbar, rekomendasinya terpercaya, dia orangnya gemar membaca...

      Delete
  3. Hallo may...
    Tadi aku iseng nge-searching namaku di google terus ada namaku di blog ini, baru inget... aku buka, ternyata masih aktif... gimana kehidupan berumah tangga?
    Oiya tentang buku Pulang itu, beruntungnya aku pernah ikutan project tentang seseorang eksil yg punya restoran indo di Paris.. yg nampaknya menjadi sebuah bagian dari buku itu... mungkin kapan2 bisa ngobrol...

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.