--- [] ---

"Kau bisa memesan Narada dengan spesifikasi apa pun; sebagai kekasih, suami, sahabat, saudara laki-laki, atau bahkan anak. Kau bebas memilih, Lucy."

--- [] ---

Pagiku selalu sama. Terbangun dan tidak tahu harus apa selain menjalani rutinitas harian sebagai pekerja lepas. Juga relawan sebagai tambahan.

Terkadang masa mudaku terasa sia-sia dengan selalu bermimpi di hari yang sama. Terbangun dengan perasaan yang sama. Pikiran yang sama. Hari di mana aku mengenalnya dan memberanikan diri untuk menulis pesan.

Saat itu dia masih orang asing.

Sekarang dia menjadi hal yang luar biasa familiar di dalam otak dan sel darahku.

Hai, dengan tukang servis ban motor?

Jika mengingatnya, hatiku bisa meronta seperti remaja puber yang baru sembuh ingusan. Jatuh cinta ternyata semenyenangkan itu.

Kalau saja semua bisa diperbaiki dengan mudah. Kalau sudah seperti itu, aku hanya bisa mengingatnya dan menangis. Namun, satu yang kutahu, tidak ada satu pagi pun yang terlewat tanpa aku mengingat keseluruhannya dan berdoa untuknya.

Jika bukan aku yang bisa membahagiakannya, aku harap Tuhan bisa.

--- [] ---

"Laporan bulan ini tidak lepas dari deposit. Kau sudah tahu?" Annie menumpuk kertas-kertas di mejaku dan mengambil kursi untuk duduk.

Buru-buru aku mematikan rokok.

"Depositnya tidak sebanyak itu," jawabku sambil mengangkat kertas bertuliskan simbol mata uang. "Kau sudah bilang Arya?"

"Aku telah melaporkan ini pada Arya. Dia bilang tidak apa-apa. Acara galang dana seminggu ke depan tetap akan berhasil tanpa kendala." Jelas sekali Annie sudah mengatasi ini. Jika masalah keuangan, dia memang ahlinya. Masalah sebesar apa pun, Annie sudah punya solusinya. "Omong-omong, kau baik?"

Aku mengangguk sambil tersenyum tipis. Annie adalah satu-satunya orang yang tahu tentang hidupku. Setidaknya untuk saat ini. "Bagaimana di rumah? Jack dan Theo?"

"Mereka baik. Theo sangat rindu bibinya, kau tahu?" Sambil berkata demikian, Annie membereskan kertas-kertasnya dan bersiap melangkah pergi. "Mampirlah akhir pekan. Aku belikan buah."

"Kurasa itu bukan ide yang bagus."

"Ayolah, Lucy. Theo merindukanmu. Dia ingin membuat roket air lagi denganmu. Aku dan Jack bisa gila jika mendengarnya merajuk untuk merakit roket air. Kau tahu kami tidak bisa. Theo selalu bilang, 'ajak Bibi Lucy ke rumah', 'Bibi Lucy lama tidak berkunjung', dan sebagainya. Aku bertaruh kau juga merindukannya."

Aku mendesah panjang. Sudah lama memang aku tidak mampir ke rumah Annie. Dua bulan ini aku lebih banyak menghabiskan akhir pekan di rumah dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Tidur. Tidur. Tidur. Membaca sedikit. Lalu tidur lagi.

Sungguh tidak produktif.

Mungkin saatnya aku bertemu si kecil Theo lagi.

"Baiklah, Annie. Tapi dengan satu syarat."

"Dua pak rokok?"

Aku mengiyakan.

"Kau akan mendapatkannya!"

 --- [] ---

Theo berumur enam tahun. Annie dan Jack memiliki anak tepat setelah satu tahun pernikahan mereka. Sejak Theo masih bayi, aku kerap mampir dan menggendongnya. Acapkali kuajak dia pulang dan tidur denganku. Kalau sudah begitu, Annie dan Jack bisa bersungut-sungut karena merasa bayinya kuculik. Padahal aku hanya meminjam saja.

Tidak seperti ayah dan ibunya yang memiliki rambut lurus, Theo mirip kakeknya. Rambutnya keriting dan sedikit pirang. Aku berani menjamin kelak dia akan diburu agen bintang film.

"Bibi Lucy, kau lama tidak kemari!" Theo berlari ke arahku dan langsung minta digendong. Sedikit kewalahan karena dia langsung menggigit lenganku. "Kau jahat, Bibi lucy!"

Aku meringis karena gigitannya lumayan kuat. Ada bekas gigi di lengan kananku. "Hei... Siapa yang mengajarimu menjadi kanibal? Dilarang menggigit atau kita tidak jadi merakit roket air!"

Theo diam. Namun, semenit kemudian tertawa keras karena tahu ancamanku hanya bualan.

Aku tidak menyangka perkembangan Theo sepesat itu. Hanya tidak bertemu beberapa bulan saja beratnya sudah naik drastis. Menggendongnya lebih berat daripada mengangkut gabah. Aku menurunkannya perlahan dan kami bergandengan ke meja makan.

"Ayo, Theo. Siapkan tempat duduk Bibi Lucy. Kita makan dulu sebelum merakit roket air." Annie menyiapkan piring untuk kami berempat. Jack datang menghampiri di belakangnya sambil membawa satu teko es limun. "Letakkan tekonya di situ, Sayang."

Jack menuruti istrinya. Lalu mengatur kursinya sendiri untuk duduk. "Bagaimana kabarmu, Lucy?"

"Baik. Bagaimana denganmu?" Aku duduk di kursi berdampingan dengan Theo.

"Ya, begitulah. Pekerjaan arsitektur sepertiku tidak akan pernah benar-benar baik. Proyek dan tender berkejaran. Langka sepertinya aku bisa duduk tenang begini." Jack berkelakar sambil menyendok selai kacang. Semenit kemudian roti lapisnya sudah siap makan.

Annie menyendokkan nasi goreng ke piringku dan menambahkan potongan mentimun di atasnya, "Makanlah yang banyak, Lucy."

Aku menikmati ini. Sudah lama aku tidak makan bersama dengan orang lain. Lima menit duduk dan beres. Aku tidak terlalu menikmati waktu makanku. Hanya untuk mengisi energi. Persetan dengan perkara enak dan tidak enaknya.

Theo menyuap nasi gorengnya dengan lahap. Senang melihatnya banyak makan. Anak-anak seumur Theo banyak yang tidak bisa makan dengan tenang. Dan bergizi. Ada yang harus mengadu nasib untuk berebut nasi bungkus di jalanan.

Mendadak aku teringat anak di bawah jembatan layang Pettarani.

Bagaimana kabarnya? Apakah barang dagangannya laku terjual hari ini?

"Bibi Lucy, apakah bibi baik-baik saja?" Theo menyenggol tanganku yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk nasi goreng Annie. "Masakan ibu keasinan ya?"

"Tidak, Theo. Nasi goreng Annie sungguh lezat!"

"Lalu kenapa diam saja?" Theo menuntut jawaban. "Bibi Lucy rindu Paman Gean ya?"

Apakah aku merindukannya? Apakah aku merindukan kaki-kakinya yang bergesekan saat tidur? Apakah aku merindukan tangannya yang terus mengusap dada saat akan terlelap? Apakah aku merindukan diamnya yang seakan tenang tanpa emosi? Apakah aku merindukan tawanya yang lepas saat aku berlaku receh? Apakah aku merindukan caranya makan yang kadang berantakan? Apakah aku merindukan caranya menatap mataku dalam-dalam? Apakah aku merindukan tingkahnya yang terkadang malu saat melihatku berbuat lucu? Apakah aku merindukan suaranya? Apakah aku merindukan wajahnya? Apakah aku merindukan tulisannya? Apakah aku merindukannya?

Aku diam. Tapi air mataku yang jatuh dan menjawabnya.

--- [] ---

Annie dan Jack mengantarkanku ke depan. Hari sudah larut malam. Aku harus pulang. Mungkin aku akan naik Uber karena aku malas menunggu bis di halte. Kupikir aku juga akan mampir sebentar ke toko buku dan membeli majalah bulanan.

"Kau yakin tidak menginap saja, Lucy?"

Aku menggeleng, "Kau yakin tidak membiarkan Theo ikut denganku, Annie?"

Lalu kami tertawa. Aku tidak ingin menginap dan Annie serta Jack tidak akan membiarkan Theo kuculik lagi. Meskipun aku ingin.

"Terima kasih makan gratis dan rokoknya hari ini. Selamat malam, Annie, Jack." Aku pamit dan melambaikan tangan.

Tapi Annie mencegahku pergi. Tangannya menggenggamkan sesuatu pada tanganku. "Apa ini?"

Annie dan Jack kulihat berangkulan dan menatap mataku dalam-dalam. Aku membuka lipatan benda yang diselipkan pada tanganku. Sebuah kertas. Lebih tepatnya kartu nama.

Project Narada Pte Ltd
HUMANOID ROBOT
ARTIFICIAL INTELLIGENCE
+62 813 XXXX XXXX
hr.ai@narada.com

Annie dan Jack memandangku seakan berutang sebuah penjelasan. "Lucy, kami tahu kau sangat mencintai dan merindukan Gean. Namun, tidak baik hidup lama dalam kesepian." Hati-hati kutangkap saat Annie menata kalimatnya.

"Minggu lalu, Jack berkenalan dengan Dr. Lampard. Inventor humanoid robot Narada. Di sana, orang membeli humanoid robot Narada dengan teknologi artificial intelligence yang benar-benar mirip manusia. Persis, kubilang. Kau bisa memesan Narada dengan spesifikasi apa pun; sebagai kekasih, suami, sahabat, saudara laki-laki, atau bahkan anak. Kau bebas memilih, Lucy. Saat mengetahui tentang Narada ini, kami, aku dan Jack, berpikir bahwa mungkin ini bisa menjadi solusi."

Aku melihatnya dan Jack secara bergantian. Kupikir aku tidak pantas dikasihani. Justru kedua temanku yang iba pada keadaanku. Apakah aku sebegitu menyedihkan?

"Terima kasih atas perhatian kalian. Namun, kurasa aku tidak membutuhkan ini." Aku mengembalikan kartu nama itu pada Annie. "Selamat malam."

--- [] ---

to be continued...

--- [] ---



(Halsey - Without Me)

0 Comments