--- [] ---

Hello.

My name is Irma and I'd like to tell everyone that I am fine.

--- [] ---

Selera musik seseorang bisa ditentukan dari kepribadiannya. Dan aku menyadari bahwa yang sebaliknya pun--bahwa kepribadian memengaruhi selera musik--bisa terjadi. Segala tentang Gean dan apa yang menjadi selera musiknya telah melebur, barangkali menyatu denganku dan aku menyukainya. Jadi seharusnya aku bisa merasa baik-baik saja dengan memutar lagu-lagu Linkin Park kencang-kencang setiap pagi tiba. Aku sampai membeli tape bekas di salah satu toko daring dan mencuri--meminjam tanpa izin--kaset-kaset Linkin Park milik kakakku. Suaranya tidak sejernih yang seharusnya karena kaset itu lama. Tapi itu tidak penting.

Aku tidak yakin apakah dia masih menyimpan "mixtape of happiness"--yang sekarang mungkin menjadi "mixtape of sorrow"--yang dulu kukirimkan saat kami mulai berkenalan. Pada akhirnya, mungkin Gean membenci semua isinya dan bahkan mematahkan kepingnya jadi dua atau lebih buruk: membakarnya. Aku tidak tahu. Tapi satu grup band yang sama-sama masih kami dengarkan sampai saat ini--kukira begitu karena aku tahu dia sangat menyukai grup band ini seperti aku menyukainya--yaitu Twenty One Pilots. 

Liriknya depresif tapi lagunya bahagia. Sama seperti yang ada di hidupku dan Gean--barangkali. Maksudku, bahwa mungkin jika aku bertemu dengannya tanpa jatuh cinta dan tanpa mencoba agar kami bersama, aku sudah depresif dari sananya. Gean yang memiliki masa lalu lebih gila lagi kupikir memiliki jiwa depresif lebih tinggi daripadaku. Dan ketidakwarasan kami justru menjadi awal mengapa kami saling jatuh cinta.

Aku ingat kalau Gean selalu memuji selera musikku--yang katanya tidak pernah absen dan sesuai dengan zaman sekarang. Padahal aku sendiri tidak terlalu paham musik zaman sekarang seperti apa, seperti yang diceritakan Gean.

Setiap pagi sambil memutar musik-musik Gean, kuucapkan salam pada satu-satunya foto diri Gean yang kupasang di balik lemari. Kadang aku terdengar menggelikan jika sedang bercakap dengannya dalam foto. Berharap bahwa fotonya ikut bergerak dan tersenyum. Dan saat kurasa aku cukup baik-baik saja melewati hari, kututup pintu lemari dan berharap esok yang lebih baik. Lalu aku bersandar pada tembok kamar dan membayangkan Gean di sini, berbicara dan bertanya tentang fisika yang dia tidak paham. Bercanda remeh dan telentang. 

Saat ulang tahun, aku datang ke tempat di mana kami menghabiskan hari dan Gean menunggu pergantian hari di mana aku bertambah usia. Tapi Gean tidak pernah muncul. Kurasa dia tidak akan muncul sampai hari selesai dan aku melewati ulang tahun dengan kediaman yag tidak dapat kudefinisikan dengan baik.

Lucu melihat tadinya aku bisa sendiri melewati aktivitas sehari-hari, dan kini, setiap terbangun lalu tidur lagi, aku akan merasakan lumpuh luar biasa, terkadang sampai menangis. Jam 3 sore dan jam 3 pagi adalah masa-masa terberat dalam hariku. Terasa sakral karena aku selalu--hampir selalu--menangis di momen itu karena teringat Gean. Jika Gean menganggap aku mungkin baik-baik saja, tidak, aku tidak akan pernah lagi baik-baik saja.

Kutipan yang ditulis salah satu pengarang itu benar. Ketika seseorang telah menyentuh inti jantungmu, maka yang datang setelahnya hanya menyentuh kemungkinan-kemungkinan. Terkadang aku masih marah karena Gean menuduhku macam-macam padahal aku sangat berusaha meyakinkannya--dan meyakinkan diriku sendiri--untuk sembuh bersamaku. Tapi aku tahu bahwa dia perlu waktu. Setelah sekian kejadian tidak menyenangkan menimpa hidupnya beberapa tahun terakhir.

Kututup cangkir bekas kopi. Puntung rokok bekas lekas kumatikan karena jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.

Aku ada janji.

--- [] ---

Aku datang dua belas menit sebelum seseorang dengan setelan jas putih-putih datang menghampiriku. Annie yang duduk di sampingku sambil membawa tabloid bulanan--dan katalog perabotan dapur dari IKEA yang mungkin tidak akan pernah dia beli karena Jack melarang--segera bangkit dari duduknya. Menyalami pria tadi dengan wajah riang. Aku tidak mengerti kenapa ekspresinya terlihat menyeringai. Mungkin Annie kebanyakan gula pagi ini.

Tiba-tiba aku merasa mual dan berkunang-kunang. Aku tidak siap untuk hari ini. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membatalkan janji karena orang yang akan kutemui sudah hadir di depan kami. Tidak etis rasanya pamit. Tapi aku benar-benar merasakan goncangan pada perutku. Sama seperti yang kurasakan beberapa bulan lalu.

"Lucy, ada apa denganmu?" Annie meraba wajahku dan menggenggam tanganku erat tanpa ampun. Aku tidak tahu harus apa selain menatap matanya sampai kurasakan bola mataku seperti hendak keluar dari tempatnya. Dan kerongkonganku terasa aus tanpa asupan air. Nadiku seperti perih dan nyeri padahal luka di sana sudah kering. Aku benci perasaan ini. Aku butuh rokok.

Dengan sekali sentak aku menjatuhkan rokok dan penyulut dari kantongku. Seperti sakau dan tanpa merasa malu, aku berusaha menyalakannya sampai kurasakan tangan seseorang menahanku dengan perlahan, "Ruangan ini ber-AC. Tolong jangan merokok di sini. Oke?"

Aku menatap mata Dr. Lampard dalam-dalam dan berusaha mengendalikan kegilaan yang baru saja menimpaku. Matanya biru dan jernih seperti menampar semua perasaanku keluar dari tempatnya. Annie dengan segera mengeluarkan obat asam lambung dan menyuruhku duduk kembali. Kutelan cepat-cepat untuk menghindari tatapan Dr. Lampard yang sedari tadi seperti menyelidiki. Yeah, aku mulai membenci pria ini.

"Lucy, tidak apa-apa. Tidak akan ada yang terjadi. Semua baik-baik saja. Bernapaslah." Annie menepuk-nepuk punggung tanganku dengan sabar. Mungkin karenanya, atau entah karena obat asam lambung itu mulai bekerja karena dilumat enzim-enzim yang namanya asing bagi telingaku, aku mulai mengatur napas. Kesadaranku mulai membaik.

"Banyak orang yang mengalami hal serupa." Dr. Lampard mengambil posisi duduk di samping kiriku. Sekarang aku terjepit olehnya dan Annie. Aku tidak bisa kabur lagi. Saat kunang-kunang tidak lagi meliuk-liuk di depan mataku, aku mulai merapikan diri. "Maaf." Sambil berkata demikian, kuulurkan tangan untuk menjabat tangan Dr. Lampard. Pria itu membalasnya dan tersenyum simpul. Aku semakin terlihat memalukan dan ingin lekas mengakhiri pertemuan ini.

Papan otomatis dengan tulisan Narada berwarna hitam---atau mungkin abu-abu, aku tidak tahu pasti karena pandanganku masih kabur--seperti menyala dan menghipnotisku untuk segera memasukinya. Dan kurasa aku mau. Supaya pertemuan ini selesai karena perutku bergejolak sekali lagi. Aku merasa panas dingin dan sensasinya tanpa ampun membakar semua kepercayaan diriku. Tangan Annie masih mengelus pundakku dengan sabar. Aku mungkin tidak bisa sesabar Annie saat berhadapan dengan diriku sendiri. Antara menggampar dan menendang diriku sendiri dari sini, ada dua pilihan yang bisa kuambil.

Lalu dengan serta merta aku memejamkan mata sambil mengingat-ingat foto kecil Gean yang polos. Gean yang belum memiliki masalah. Gean kecil yang senyumnya lepas bersama saudara dan temannya. Kemudian kurasa hangat di bagian dada. Napasku mulai teratur.

"Bolehkah aku melihatnya sekarang?" Tanyaku kemudian. Dr. Lampard dan Annie sedari tadi diam dan memandangiku, kemudian tersenyum senang karena orang yang ada di hadapan mereka akhirnya kembali sedikit waras. Aku kagum aku masih bisa membuat orang lain percaya aku waras, di saat aku sendiri tidak percaya lagi dengan apa yang disebut kewarasan. Semua orang sinting dengan jalannya masing-masing, kurasa. Cerdik tidaknya menyembunyikan adalah kunci ketidakwarasan itu sendiri.

"Lucy, kurasa aku perlu memperkenalkan diri terlebih dahulu. Bolehkah?" Dr. Lampard mulai gusar karena tahu bahwa kliennya kali ini tidak sabaran dan mudah panik. Aku sadar diri.

"Yeah, aku Lucy. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman."

"Tidak masalah. Annie sudah cerita sebagian besar alasan mengapa kau butuh seorang Narada."

"Bolehkah aku melihatnya sekarang?" Aku semakin tidak sabar. Dr. Lampard tetap tenang dan tidak segera berdiri membawaku ke ruangan Narada sialan itu. Jika tidak ingat bahwa kami sama-sama orang dewasa, sudah kutendang bokongnya.

Dr. Lampard mungkin merasakan emosiku padanya yang seperti berlama-lama dalam menahanku--atau bahwa mereka takut aku akan mengamuk di dalam karena tidak puas dengan Narada yang ditawarkan. Narada yang tidak seperti Gean. Bahwa aku tidak senang dengan ajakan Annie ke sini lalu berbuat anarkis dengan membakar seluruh fasilitas dan laboratorium yang ada. Seperti anjing labrador yang hilang kendali.

"Aku tahu dari Annie kalau kau seorang saintis. Dan pernah merakit robot sendiri." Dr. Lampard berkata seolah-olah kami sedang menjalani terapi psikologi dan bukan proses jual beli. Sedikit muak, aku mengangguk agar dia menghentikan omong-kosong ini.

"Baiklah, mari kita ke dalam." Akhirnya, Ya Tuhan. Sedikit beban di sekujur tubuhku mulai mereda. Dr. Lampard berjalan mendahului kami. Tempat ini penuh dengan ruangan kubikel yang disekat dengan tembok kedap suara. Baunya seperti ruangan rumah sakit--yang mana sangat kubenci--dan alkohol atau mungkin etanol bertebaran untuk menjaga agar ruangannya tetap steril. Tapi Narada bukanlah manusia yang butuh kesterilan. Atau entahlah. Aku tidak paham mengapa bau alkoholnya sebegitu menyakitkan.

Begitu pintu dibuka, aku melihat sepuluh Narada yang berdiri di sebuah ruangan mirip tabung inkubasi. Dengan banyak sekali kabel yang melingkari tubuh mereka. Seperti manusia utuh, tapi aku tahu mereka mendapatkan nyawa dari wet ware dan aritifical intelligence. Masih terhenyak, dan aku sadar bahwa aku sangat jauh tertinggal dari teknologi mereka yang sudah membuat robot mirip manusia. Persis, bahkan. Aku mendekat pada salah satunya.

Berdiri di depanku tabung kaca berisi Narada yang tingginya hampir 170 centimeter dan berjenis kelamin pria. Kulitnya sedikit cokelat seperti terbakar sinar matahari karena terlalu lama di pantai. Aku jadi teringat Gean saat dia pamit mencari kerang. Narada di depanku memiliki rambut hitam kecokelatan dan bola mata yang, entah apa warnanya, karena matanya masih tertutup. Aku pernah membuat robot pengikut garis yang ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan kecanggihan penemuan Dr. Lampard. Hasrat ingin mendampratnya langsung sirna berganti dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.

Dia berutang materi kuliah untuk membuat humanoid robot padaku.

"Aku menyiapkan lima Narada yang spesifikasinya, maksudku, secara biologis sangat mirip dengan Gean-mu, Lucy." Lucu sekali dia saat menyebut "Gean-mu". Aku semakin kagum karena dia bisa tahu tentang Gean, mungkin dari cerita Annie dan fotonya. Mungkin juga Dr. Lampard bahkan telah membaca blognya. Aku beringsut ke tabung kedua. Yang ini sangat mirip Gean. Rahangnya yang tegas dan tubuhnya yang kurus membawaku pada pertemuan pertama kami di bandara.

"Aku ingin..."

"Masih ada tiga yang belum kau lihat. Ambillah sedikit waktu. Jangan buru-buru memutuskan." Dr. Lampard menyela dan mempersilakan aku melangkah ke tabung ketiga.Yang ini juga mirip Gean dan aku semakin bingung memutuskan.

Begitu pula Narada keempat dan kelima. Seakan semua mengejekku karena terlampau lemah dalam mengambil keputusan dan semua menjadi kacau dan semua menjadi terlambat dan aku merasakan mati sekali lagi. Sial! Sungguh sial!

"Santai, Lucy. Kalau tidak bisa hari ini, tidak apa-apa. Besok kita datang lagi. Aku tahu kau belum menyiapkan hati." Annie yang kupikir sejak tadi juga diam karena kagum dengan teknologi Narada angkat bicara dan memegang pundakku. Sekali lagi.

Ada sepuluh Narada yang kulihat saat memasuki pintu tetapi hanya lima yang diperkenalkan oleh Dr. Lampard. Setelah kulihat baik-baik dan selama lima belas menit berkeliling untuk melihat lima Narada lainnya---yang berjenis kelamin perempuan--aku mendapatkan keputusan.

"Dr. Lampard, aku sudah memutuskan."

Dengan hati-hati, Dr. Lampard mendekatiku dan seakan menjadi orang paling mistis menjawabnya, "Kau pasti memilih Narada nomor tiga. Dia yang paling mirip dengan Gean, bukan?" Aku sering berpikir, orang dengan kepercayaan diri berlebihan akan mati lebih cepat. Namun, aku berharap Dr. Lampard tidak mati lebih cepat. Meskipun dia sok tahu. Oh, atau mungkin dia memang hanya ingin menyenangkan kliennya.

Aku menggeleng, "Tidak. Aku ingin Narada nomor delapan."

Dr. Lampard sedikit keheranan. "Bukankah kau ingin Narada yang mirip Gean?" Aku memikirkan dia yang bingung karena semalaman sudah menyiapkan Narada yang mirip Gean tapi aku tidak memilihnya. "Narada yang kau pilih, Lucy, dia perempuan."

"Memang." Kataku tenang. "Aku tidak pernah secara spesifik berkata aku ingin Narada yang mirip Gean." Dan kini kulihat Annie seperti ingin mencekik leherku dengan tatapan kesalnya. Mungkin dia sampai berbusa sudah menceritakan karakter Gean--bahwa Gean adalah lelaki yang memiliki sifat begini dan begitu--pada Dr. Lampard. Tapi aku sudah menentukan.

Dr. Lampard mendekati Narada nomor delapan dan entah memencet tombol dan mencopot kabel apa saja, sehingga pada akhirnya Narada itu bisa hidup dan mata jernihnya menyala kecokelatan. Dia bukan mirip Gean. Dia mirip aku. Maka aku memilihnya. Kedengarannya seperti menemukan kembaran yang terpisah sekian lama. 

Dan dia melangkah ke arahku. Seakan menemukan ibu karena baru lepas dari cangkang telur sialan yang memerangkapnya berbulan-bulan.

Aku merasakan perutku bergejolak dan kepalaku oleng lagi saat ia semakin dekat. Hanya satu meter dari tempatku berdiri. Dia sungguh manusiawi. Bibirnya sedikit kering, mungkin karena alkohol atau semacamnya--yang membuatnya tetap steril. Mukanya pucat dan ada mata panda sepertiku yang bekerja tak tentu waktu. Rambutnya sebahu dan kecokelatan. Sedikit berantakan. Dia diam dan menatapku sambil sesekali mengedipkan mata. Seperti terbangun dari tidur panjang dan sekarang berhadapan dengan orang asing yang sedikit banyak simetris.

Aku meneliti garis-garis kehidupan pada Narada perempuan ini yang kemudian berkata, "Hello. My name is Irma and I'd like to tell everyone that I am fine."

Lagu Twenty One Pilots mendadak terngiang di otakku.

--- [] ---

to be continued...

--- [] ---


(Twenty One Pilots - My Blood)

2 Comments

  1. Saya teringat Black Mirror episode Be Right Back.

    Saya pengin pesan satu jadinya. Narada yang bisa mendekati gambaran Rani di imajinasi. Wqwq.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.