Jika bandara bisa berbicara, mungkin ada banyak hal yang bisa dia ungkapkan. Terlampau banyak hingga mungkin ia mulai menangis dan membanjiri landasan pesawat. Semua pesawat lantas tergelincir saat akan mengudara dan terperosok saat menukik turun. Karena perpisahan dan pertemuan di bandara adalah dua hal yang saling mengutuki.

Saya mencinta dan membenci bandara secara bersamaan. Ada hal-hal tentangmu di sana yang selalu datang kala menunggu pesawat tiba. Tentang pertemuan yang kau batalkan. Atau juga perpisahan terakhir kita yang penuh air mata. Saya tahu tidak ada hal yang bisa membuat saya melupakanmu. Satu detik pun, bahkan. Karena itu, ada ritual baru setiap sekian minggu yang harus saya lakukan. 

Menunggumu di pintu kedatangan.

Bahkan jika saya tidak sedang bepergian seperti sekarang--dan harus bergegas mengejar penerbangan berawan ke arah timur--saya tetap akan datang. Menunggumu seperti dulu. Kau mungkin tidak datang. Namun, setidaknya, saya bisa melihat bayanganmu mengenakan kaos hitam dan celana terusan (juga sepatu olahraga kesayanganmu).

Oh, maaf. Saya terdistraksi oleh gol Marcus Rashford. Ini pukul 11:48 dan saya sedang menonton klub kesayanganmu bertanding dengan AC Milan di ICC: pertandingan pre-season. Mungkin kamu juga sedang menontonnya. Mungkin juga tidak. Apa pun itu.

Mari kita lanjutkan. Biasanya tas punggung hitam berjaringmu juga menemani dan berisi hal-hal ajaib yang kadang tidak saya pikirkan. Buku catatan, pulpen, dan sikat gigi tanpa odol. Terkadang saya berpikir mengapa kamu tidak pernah membawa odol sendiri. Terkadang saya juga gemas jika melihatmu memamerkan gigi. Saat kesal kala kita bertengkar, terkadang saya juga ingin meninjunya sampai rontok. Namun, hal itu tidak pernah saya lakukan. Membayangkanmu ompong tentu lucu sekali. Dan saya suka itu. Tanpa ditinju pun nanti gigimu juga rontok. Tinggal menunggu waktu.

Kamu pernah berpikir tidak mengapa di setiap bandara dipasang papan prakiraan cuaca?

Hari ini saya menemukan alasannya.

Semua perjalanan, baik darat, laut, dan udara, memiliki risiko yang sama. Fatalnya, semua sama-sama berisiko kematian karena kecelakaan. Tidak ada yang tahu kapan datangnya dan kapan terjadinya. Dan uniknya, manusia tidak bisa memilih.

Menit 25. De Gea kebobolan oleh tendangan de la Torre.

Sama seperti sifat zat. Kau tentu tahu ada tiga jenis zat di dunia ini, secara umum: padat, cair, dan gas. Ketiganya memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Zat padat, tidak perlu menempati suatu wadah. Dia memiliki bentuk sendiri. Oleh karena itu, kereta, bis, mobil, truk, motor, dan sepeda, tidak membutuhkan prakiraan cuaca. Kau bisa sepedaan saat hujan tiba atau ngebut di jalanan Pettarani tanpa takut terkena turbulensi dari sambaran petir. Kereta juga tidak akan terlambat jadwal meskipun hujan badai. 

Berbeda dengan laut. Analogikan hal itu dengan zat cair. Zat cair cenderung menempati ruang yang telah disediakan: air dalam gelas (bentuk air menyerupai bentuk gelas), kuah Indomie dalam mangkuk (bentuk kuah menyerupai bentuk mangkuk), dan sebagainya. Maka, saat kapal laut berlayar dan terkena ombak besar, airnya bisa masuk ke dalam kabin dan menempati seluruh ruangnya. Kapal bisa tenggelam. Nyawa bisa melayang. Sehingga kita tahu, dilarang berlayar jika ombak sedang tinggi dan pasang.

Lalu, pesawat terbang. Prakiraan cuaca sebelum penerbangan harus dilakukan karena kendaraan berbasis avtur tersebut akan terbang di udara bebas. Zat gas. Zat gas tidak punya batasan, tidak menempati ruang dan menyerupainya (seperti zat cair), dan tidak memiliki bentuk sendiri (seperti zat padat). Maka dari itu, bepergian dengan pesawat terbang memiliki risiko paling besar di antara semuanya. Ada parameter yang muncul karena ketiadaan batasan pada zat gas: cuaca, tekanan udara, dan kelembapan (mutlak dan nisbi). Jika ketiganya tidak ditepati, risiko kecelakaan udara bisa terjadi. Maka dari itu, penerbangan sering ditunda jika salah satu dari ketiga parameter tersebut tidak terpenuhi.

Saya sering menulis surat untukmu. Tapi tidak pernah saya kirim. Kadang saya teringat The Notebook dan ingat bahwa kamu menyukai film tersebut. Buku bersampul bola sekarang menjadi catatan saya saat menonton bola. Yang kamu bilang bahwa saya tidak paham bola, memang iya. Saya hanya suka menontonnya sejak kecil. Dan karena sekarang kamu tidak pernah bawel lagi tentangnya, maka saya bawel sendiri di buku itu.

Terdengar gila. Tapi memang saya tidak tahu apakah masih waras.

Di bagian sampulnya ada logo PSM yang saya potong dari koran. Saya beli di bapak-bapak loper yang biasanya di pinggir jalan. Sekaligus beli TTS baru. Yang lama sudah habis.

Begitu dulu. Babak satu sudah selesai.

I found a nice place for you to crave when hitting Jogja again next time.

Kula namung karep panjenengan sehat lan bahagia.

Sayang dan rinduki.

2 Comments

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.