About Time. Don't rush something. It's about time.

Saya tidak pernah merasa seoptimis itu dengan sebuah kalimat basa-basi motivasi. Dulu, saya bahkan tidak menyangka akan diberikan hal-hal semacam ini dalam hidup. Satu tahun belakangan adalah satu tahun terberat dalam hidup yang membuat saya depresi. Hingga kini saya belum sembuh. Setidaknya media sosial sudah tidak ada, sehingga saya tidak harus membuka dan membaca status orang yang membuat saya semakin terpuruk.

Saya sangat berusaha. Apa yang saya lakukan, jika itu salah, saya sudah berusaha memperbaiki. Saya berusaha berdiri sebisa-bisanya dan masih sakit juga rasanya. Saya benar-benar ingin sembuh dan bebas lagi. Sangat tidak enak setiap pagi terbangun dan memiliki rasa sedih bertubi-tubi. Saya tidak percaya jika cinta menyengsarakan atau apalah itu istilahnya, sampai saya merasakan sendiri kalau itu ada. Ada dulu masanya saya tidak peduli dan mundur untuk menyembuhkan diri pada cinta yang lama. Tapi mengapa ini berbeda rasanya. 

Membeli benda-benda dengan corak zodiaknya, warna hitam, menulis surat-surat seperti isi chat yang tidak pernah saya kirim setelahnya, memakai bajunya setiap hari, dan seperti istilah anak remaja kebanyakan: bucin. Saya baru demikian setelah berpisah. Sandi komputer tertanggal di mana dia bertambah usia, jika mungkin dia membakar semua pemberian saya, saya justru memakai semuanya. Saya juga tidak tahu mengapa.

Ingin rasanya kembali waras tanpa merasa hampa setiap hari. Tapi sampai hari ini, saya masih menunggu ada pesan darinya telepon sebelum pagi. Tapi tidak ada apa-apa. Ponsel saya tidak pernah mendapat notifikasi. Dan saya tahu diri.

Sungguh, saya tahu diri.

Banyak hal sudah saya coba, meditasi, mengunjungi saudara lama, bekerja lebih keras, tapi semua tidak ada hasil. Saya menderita dan hanya ingin bunuh diri. Saya lelah sekali. Saya hanya ingin sembuh. Saya hanya ingin sembuh. Menulis di sini juga menjadi salah satu yang saya hindari untuk hal pribadi. Tapi pagi ini saya tidak tahan lagi. Jika doa tidak bisa menjangkau apa-apa, dan mungkin dia masih punya banyak prasangka, maka saya hanya ingin mengirim sedikit sinyal bahwa saya masih berharap ada sesuatu.

Saya tidak tahu harus apa dan bagaimana untuk bercerita pada seseorang. Saya hanya bisa diam, menangis, kadang merokok tidak jelas. Tidak sampai habis. Saya tidak tahu harus apa. Saya tidak tahu harus bagaimana. Kalau ada kesempatan untuk lari dan pergi atau apa saja untuk mendapatkan ketenangan, saya mau. Saya lelah sekali.

Buku ini saya temukan di bazaar dua minggu lalu dan isinya persis seperti tanda tanya yang selalu kami pertanyakan: Tentang waktu. 


(DJ Snake ft. Bipolar Sunshine - Middle)

I'll promise to build a new world for us two with you in the middle.

--- [] ---


Sejarah waktu dibahas mulai dari bab pertama: mengapa ada penanda waktu, mengapa namanya waktu, mengapa ada detik, menit, dan jam. Jika jam pasir tidak bisa merangkum waktu seharian, maka ilmuwan di zaman kerajaan mulai membuat sesuatu yang disebut "waktu manusia". Hal ini yang juga menjadi dasar mengapa ada istilah "jam biologis manusia".


Di bab "Wheels within Wheels", ada teori Brane World and Bulk yang menuliskan bahwa kita hidup di lembaran dunia (alam semesta) yang plural. Jadi bumi bukanlah satu-satunya tempat yang "sebenarnya" ditinggali dan memiliki peradaban. Ada tempat tinggal lain di horizon seberang dan koordinat berbeda. Jadi, kemungkinan itu ada.


Selama 341 halaman, Adam Frank menulis buku ini dengan dasar riset.  Di bagian penutup, saya mendapatkan bahwa konsep waktu yang sebenarnya digagas manusia, hanyalah sesuatu yang semu. Bukan parameter laten yang selalu diperhitungkan dalam eksperimen fisika dan sains lainnya. Hal ini membawa saya pada satu kesimpulan.

Waktu sebenarnya tidak ada.

So, why did time drive us crazy?

I look forward to having a lunch with you again.

(Twenty One Pilots - Legend)

Talking this shit together.

6 Comments

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.