Judul: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Jumlah Halaman: 264 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia

Katarsis adalah novel yang saya beli di Gramedia jauh hari. Namun, novel ini baru saya tamatkan seminggu lalu saat perjalanan ke Bandung. Sengaja saya tempatkan di urutan pertama karena novel ini level agak mikirnya paling tinggi dari kumpulan novel-novel yang bisa dibaca tanpa mikir. Mengusung aliran adrenaline patcher alias thriller, Katarsis adalah film Saw yang dinarasikan. Bacok sana bacok sini. Mutilasi sana mutilasi sini. Adegan berdarah-darah digambarkan dengan vulgar oleh Anastasia Aemilia. 

Katarsis memiliki alur maju mundur. Tara Johandi yang memiliki kepribadian plus plus menjadi sosok mirip Profesor yang ada di film Saw. Novel ini cukup menyenangkan dan menegangkan untuk diikuti. Mengingat bahwa novel dengan tema seperti ini masih sangat jarang di Indonesia (apalagi yang nulis juga orang Indonesia), maka novel Katarsis ini sangat pantas diapresiasi. Intrik, ngeri, dan out of the box.

Hidup ini aneh. Semua berupa serpihan. Wujud utuhnya baru akan muncul setelah kematian, karena pada saat itulah serpihan terakhirnya baru terlihat. - hlm. 234


Judul: Fantasy
Penulis: Novellina A.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 312 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia

Fantasy adalah novel yang berada di urutan agak mikir sampai nggak mikir sama sekali. Dengan sampul elegan ala-ala musik klasik dan gambar piano, novel ini langsung menggambarkan isi keseluruhan ceritanya. Satu hal yang selalu saya tahu. Saya nggak terlalu suka novel yang isi dialog antar pemainnya bilingual 50:50. Saya suka novel yang 100% Bahasa Indonesia atau English sekalian. Atau kalau butuh menyisipkan kutipan dan percakapan dwibahasa, usahakan ada bahasa yang utama. Fantasy ini bahasanya campur-campur, jadi saya kurang menikmati jalan ceritanya. 

Melihat banyak banget kutipan yang saya dapatkan dari buku ini, saya bisa menyimpulkan kalau buku ini adalah buku novel yang semi-motivasi. Alurnya maju dan mundur. Tapi bagian mundurnya kadang nongol nggak dikasih peringatan atau sekat. Kalau nggak fokus, bacanya bisa terkesan lompat-lompat. Di sini saya paling suka dengan karakter Bryan. Karakter kunci yang menyadarkan keruwetan karakter lainnya. 

That's why folks said, don't trap yourself in one room with the same person for more than 24 hours, unless you are well-prepared to see her/his colors. - hlm. 160


Judul: Dandelion
Penulis: Iwok Abqary
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 200 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia

Kalau nggak suka teenlit dan cerita yang bikin menggumam, "Yaelah, cinta-cintaan!", maka novel ini bisa di-skip aja. Dandelion menjadi hal yang paling ikonik dalam buku ini. Dan itu nilai tambahnya. Kalau dilihat dari jalan cerita, mohon maaf, sedikit biasa saja. Tapi novel ini super-ringan untuk dibaca kalau lagi nggak mau baca novel-novel yang bikin mikir. Dandelion bahkan bisa dibaca sekali duduk dalam waktu kurang lebih satu jam.

Yara dan Ganesh yang jadi tokoh utama di dalam novel ini adalah dua remaja yang beranjak dewasa. Mereka saling mencintai, tapi keadaan "kasta" keduanya berbeda jauh. Seputar materi gitu lah. Konflik mulai muncul satu dan dua. Apalagi saat mereka kemudian LDR-an. Jadi, sudah bisa ditebak sendiri nanti cerita di dalamnya seperti apa. Alur ceritanya maju nggak pakai mundur. Bahasanya khas anak remaja yang ceria sekaligus menye-menye. Yang saya suka dari novel ini adalah pembahasan tentang dandelion-nya. Di situ diceritakan mengapa nama tanaman itu dandelion dan sejarahnya. Sungguh menambah pengetahuan.

Aku terlalu buta untuk merasa ditinggalkan. - hlm. 30


Judul: Hujan Daun-daun
Penulis: Lidya Ranny, Tsaki Darachi, Putra Zaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 248 halaman
Bahasa: Bahasa Indonesia

Sebenarnya novel ini ada di urutan kedua. Tapi saya malas mindahin foto dan tulisan karena telanjur mengunggah dengan urutan demikian (bloger pemalas). Hujan Daun-daun urutan mikirnya nomor dua setelah Katarsis karena ceritanya ruwet. Nggak tahu ruwetnya karena ditulis oleh beberapa kepala (karena ini merupakan Gramedia Writing Project yang diselenggarakan di tahun 2014) atau karena emang dasarnya jalan ceritanya ruwet. Saya nggak bisa membedakan keduanya. Karakternya muncul saling tindih dan tanpa perkenalan. Masalah yang muncul seperti tumpah ruah dari segala dimensi. Saya jadi nggak ngeh klimaksnya di bagian mana karena terlalu banyak yang dibahas.

Ceritanya adalah tentang Tania, seorang gadis kuliahan yang tinggal dengan kakek dan neneknya. Punya teman namanya Stella. Dicomblangin dengan Adrian. Ketemu ibu tirinya. Katanya punya saudara kembar yang hilang. Ibunya bunuh diri dan ayahnya kecelakaan. Dari banyaknya masalah yang dipaparkan, seandainya saya jadi Tania, saya pasti menggugat penulis supaya nggak dijadikan pemeran utama. Capek sekali hidupnya.

Tapi kalau ia tidak mengambil risiko ini, bagaimana ia bisa tahu? - hlm. 94


6 Comments

  1. Kemungkinan dari semua itu cuma mau baca Katarsis. Saya anaknya kan pengin mikir. Wqwq. Kalau dibaca tanpa mikir, nanti enggak menantang kemampuan menulis saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katarsis sempat booming di Goodreads, Yogs, dibahas banyak pembaca. Cobain deh.

      Delete
  2. Tidak mungkin aku baca novel tanpa mikir. Karena seperti sudah ada sistem otomatisnya, otak akan memvisualisasikan kalimat-kalimat pada novel menjadi sebuah alur adegan. Ini mikirjuga kan? Hehehe.

    Yang ga mikir itu kalau baca ingredients pasta gigi waktu pup ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak pernah baca komposisi pasta gigi kecuali kalau lagi dipotong saat mendekati habis di akhir bulan.

      Delete
  3. Saya dengan yakin akan melewatkan Katarsis karena ndak doyan dengan hal hal yanh berbau seram 😁😁😁😁

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.