Judul: Laut Biru Klara
Penulis: Auni Fa
Penerbit: Metamind
Tahun Terbit: 2019
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 329 halaman

--- [] ---

Tidak ada ayah yang benci anaknya. Termasuk Paman Bai sekalipun. Dia hanya tidak tahu cara mengungkapkannya saja, Nak. - hlm. 244 

--- [] ---

Semingguan ini saya suka baca-baca karya sastra lama lagi. Angkatan Balai Pustaka. Antara gabut dan bego ngabisin hari dengan sia-sia. Ehe. Terus nemu kosakata baru yang sesuai dengan keadaan dan perasaan. Ternyata, kata "rindu" itu banyak macamnya. Bukan kangen ya, itu sinonim. Rindu yang banyak senangnya disebut renjana. Kalau rindu yang banyak sedihnya disebut ribang. Ini anak-anak senja pasti suka dengan diksinya.

Pintu keberangkatan di bandara, isinya pasti orang-orang yang penuh ribang. Namun, pintu kedatangan di bandara, isinya pasti orang-orang yang sedang renjana.

Atau...

Di ribang resahku, ada haru yang membiru. Pada lelah-lelah malamku, kamu datang membawa renjana berkepanjangan. Juga rindu, yang katanya dibalut kelu.

*asik juga ya*

Selain asik belajar bahasa-bahasa gaul tahun 1950-an, saya juga menamatkan buku karya Auni Fa: penulis Topi Hamdan. Berbeda dengan Topi Hamdan yang mengisahkan seorang kakek bernama Hamdan dalam menjalani hidupnya dengan sangat sabar, Laut Biru Klara menceritakan tentang anak-anak pesisir laut dalam mengejar mimpinya. 

Sea, Klara, dan Gegar adalah anak-anak yang tinggal di Kampung Pesisir. Sea tidak pernah mau jadi nelayan seperti bapaknya. Ia gemar meniup seruling bambu. Klara adalah anak autis yang tinggal bersama bapaknya. Bapaknya kerap menyiksa Klara karena anak itu tidak mau menurut jika disuruh makan atau mandi. Kalau sudah marah, Paman Bai--ayah Klara--akan mengejar anaknya hingga Klara lari terbirit-birit dan nyemplung ke laut untuk bersembunyi di karang besar. Kalau sudah begitu, Sea dan Gegar harus mengajak bapak mereka untuk menjemput Klara. Barulah setelahnya, Klara mau pulang.

Masalah mulai muncul di halaman 70 ke atas. Klara dan Sea harus belajar tentang kehilangan dan kematian di usia yang masih sangat belia. Kemudian, muncul seorang anak perempuan bernama Biru. Pertemuan Klara dan Sea dengan Biru membuat ketiganya menjalani takdir yang tidak terduga-duga. Sea jadi punya harapan untuk mewujudkan cita-citanya yang lain, bukan menjadi nelayan. Klara juga jadi memiliki tempat untuk berlatih renang yang lebih baik.

Apakah keinginan mereka pada akhirnya bisa terwujud?

Kemenangan seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia adalah menundukkan diri sendiri. - R. A. Kartini


Sekali lagi, Auni Fa membuat saya menangis bahkan dari bab kedua. Sea yang memiliki keinginan kuat untuk mengejar mimpinya yang lain--bukan menjadi nelayan--harus dihadapkan pada hal-hal yang menggoyahkan keinginannya. Sea persis seperti anak-anak kebanyakan yang kalau ditanya tentang cita-cita, sudah bukan pilot dan dokter jawabannya. Ia tidak ingin jadi nelayan, tapi kalau ditanya mau jadi apa, dia belum tahu. Kebimbangan dan kegalauan anak-anak yang kentara saat berada di usia sepuluh hingga dua belas tahun.

Klara yang juga merupakan tokoh utama di buku ini benar-benar digambarkan sebagai anak autis yang memiliki kekurangan dalam hal cara berkomunikasi dengan orang sekitar. Namun, ia memiliki kekuatan berenang yang jauh lebih besar dibandingkan dengan anak-anak lain di Kampung Pesisir. Auni Fa bagus banget menggambarkan penokohan pada Klara. Autisnya Klara kelihatan nyata sekali, nggak pura-pura.

*ditabok*

Cerita ini ditulis dengan alur maju. Auni Fa menceritakan kehidupan di Kampung Pesisir dengan jelas. Birunya laut, cerahnya cuaca, kelabunya langit, dan bau ikan segar digambarkan dengan apa adanya di dalam novel. Saya jadi ingat daerah yang juga pesisir, sehingga mau lari ke pantai aja cuma sepuluh meter dari rumah. Kangen sekali.

Laut Biru Klara adalah salah satu novel anal-anak yang harus kamu baca. Kalau Ziggy pernah menulis cerita anak-anak yang dark yaitu Di Tanah Lada, maka Auni Fa mengambil sisi sebaliknya. Cerita di dalam Laut Biru Klara terasa hangat saat dibaca. Persahabatan Sea, Klara, Gegar, dan Biru membuat kita ngaca. Anak-anak, dipaksa bagaimana pun untuk mengikuti keinginan orang tua, pasti akan memberontak. Orang tua juga tidak boleh memaksakan cita-cita yang bukan diinginkan anaknya. Jika orang tua menjadi nelayan, maka anak tidak harus menjadi nelayan juga. Ini kayak nampar orang tua-orang tua yang ingin anaknya jadi PNS.

Bebaskan anak-anak mengejar mimpinya sendiri, apa pun keadaan mereka. Bahkan anak autis seperti Klara mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki bakat luar biasa. Laut Biru Klara juga menunjukkan sisi anak-anak yang polos dan suka bermain. Semarah-marahnya mereka saat berantem, Sea, Klara, dan Biru bisa berbaikan dengan mudahnya.

Yang membuat saya agak terganggu adalah penokohan Sea. Di beberapa bagian, Sea terlihat jauh lebih dewasa daripada teman-temannya. Biru yang lebih tua dari Sea malah kadang terlhat kekanak-kanakan. Cara bicara Sea saat marah atau keki dengan keadaan di sekitarnya juga membuat Sea terlihat lebih tua. Sea juga termasuk anak-anak yang overthinking. Padahal anak-anak kayaknya belum ada yang mikir sejauh Sea di keseharian.

Secara keseluruhan, Laut Biru Klara berhasil mengambil hati saya di 20 halaman pertama. Kalau kamu sedang ingin membaca buku dengan konflik ringan dan bertokohkan anak-anak, Laut Biru Klara harus menjadi bacaan wajib untuk kamu.

Orang-orang yang hebat di bidang apa pun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi. Namun, mereka terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menungggu inspirasi. - Ernest Newman

--- [] ---


Bulan lalu saya dikontak oleh penulis buku ini, Auni Fa, kemudian dikirimi bukunya oleh Tiga Serangkai. Tulisan ini diikutkan dalam #TIGASERANGKAIBLOGTOUR. Karena bertema laut, maka saya akan mengadakan kuis yang berhadiahkan giveaway buku Laut Biru Klara dari penerbit Tiga Serangkai. Tersedia tiga buku untuk setiap pekannya.

Syarat mengikuti kuis:

1) Peserta wajib mem-follow Twitter Tiga Serangkai (@Tiga_Serangkai) atau Instagram Tiga Serangkai Pustaka Mandiri (@tigaserangkai). Pilih salah satu saja.

2) Peserta wajib menyertakan nama lengkap dan medsos yang bisa dihubungi. Nantinya, peserta yang menang kuis akan dihubungi melalui medsos untuk konfirmasi lebih lanjut.

3) Peserta menuliskan pengalaman atau momen yang berhubungan dengan laut di kolom komentar, bebas. Misalnya, alasan mengapa menyukai laut, dan sebagainya.

4) Peserta membagikan tulisan di blog ini di berbagai sosial media seperti WhatsApp, Twitter, Instagram, dan Facebook (bisa berupa feed atau story) agar nuansa kuis semakin kompetitif.

*eaaa*

5) Peserta tinggal di wilayah NKRI.

Jadwal #TIGASERANGKAIBLOGTOUR juga akan dilakukan di beberapa blog berikut:

Dion Yulianto (dionyulianto.blogspot.com) selama tanggal 15-21 Juli 2019

Lila Podungge (justaveragereader.blogspot.com) selama tanggal 22-28 Juli 2019

Annisa (bacaananchan.blogspot.com) selama tanggal 29 Juli-4 Agustus 2019

Jadi, bagi kamu yang belum beruntung mendapatkan giveaway buku dari Tiga Serangkai di setiap blog, kamu tetap bisa mencoba ikutan kuis di jadwal blogtour selanjutnya. Jawaban kuis di kolom komentar ditunggu sampai tanggal 14 Juli 2019. Pemenang akan diumumkan di postingan selanjutnya setelah kuis ditutup. Yuk, ikutan. Laut Biru Klara menunggumu!

9 Comments

  1. Must be a good children's book

    Selalu suka buku cerita anak anak
    Ilustrasinya selalu nyenengin kepala hehe

    Tapi lebih suka lagi yang terjemahan sih, sama yang english ver jugaa

    Good luck for the blog tour!

    ReplyDelete
  2. Nama: Addiina Purnawangsih
    Email: addiinapurnawangsih@gmail.com


    Siapa sih yang tidak suka dengan laut? Setiap ada kesempatan, kita tak pernah melewatkannya untuk dimasukkan dalam daftar tempat yang harus dikunjungi. Ya, laut memang menawarkan keindahan tiada tara yang membuat kita bisa super relaks dari kehidupan nyata yang sangat sibuk dan melelahkan ini. Tapi, percaya atau tidak, menurut saya laut merupakan sumber inspirasi dan ketenangan. Pada suatu hari ketika saya mempunyai masalah entah itu dalam hal study, keluarga dan pekerjaan saya menyikapi masalah tersebut dengan diam dan memutuskan mencari suasana yang saya rasa cukup relaks dan tenang yaitu laut. Kenapa laut? Karena selain relaks dan tenang laut merupakan keindahan visual yang membawa manusia untuk selalu bersyukur dengan apapun keadaan kita. Bisa jadi ketika Tuhan menghadirkan suatu masalah didalam hidup kita itu karena kita kurang bersyukur sehingga Tuhan menghadirkan laut sebagai tempat yang indah, tenang dan relaks.



    Terimakasih :)

    ReplyDelete
  3. Nama: Fina Alfina Rohmah
    Email: finaalfina081@gmail.com
    Ig: fasofwa183

    Kenapa suka laut? Karena, melihat air laut yang biru, menenangkan pikiran. Menghirup semilir angin pantai, bisa memperbaiki mood. Mendengar deru ombak, menjadikanku ingin bermain² dan melupakan masalah sejenak. Suka ... Banget dengan pemandangan dilaut. Bagiku, laut adalah ciptaan Tuhan paling indah menurutku. Bagaimana tidak indah? Laut lebih luas drpd daratan, warnanya yg biru membuat siapa saja senang melihatnya, pasirnya yg putih memanjakan yang melewati. Andai saja rumahku dekat laut, mungkin aku akan selalu kesana saat kesulitan. Melihat laut sepanjang mata memandang, membuatku tenang ... Ngga tahu kenapa?? Aku Ciiinntaaaa laut!!!!

    ReplyDelete
  4. Nama : Altezza
    Email : yantiyunan03@gmail.com
    Ig : altezza.1

    Laut ... Ada banyak kenangan saat berbicara tentang tempat indah itu.

    Ya, saya punya banyak sekali kenangan dengan pantai atau laut. Saat bosan dengan hiruk-pikuk suasana kota, biasanya saya dan teman-teman kabur ke laut.

    Dari pagi sampai senja, ada saja hal-hal yang bisa dikerjakan di sana. Berkejaran dengan ombak, bermain pasir, berbagi tawa dan kisah. Terlalu banyak untuk bisa diungkapkan.

    Tapi saya yakin, semua teman-teman yg kini entah ada di mana mereka, pasti masih menyimpan memori kami tentang laut, tentang pantai, tentang cinta dan persahabatan.

    ReplyDelete
  5. Seandainya se-pede dulu. Pingin rasanya ikutan. Sayang belakangan ini masih lebih nyaman baca ketimbang nulis. Saat ngerasa kehabisan bacaan, baru inget sama blog nte. Plak banget lah..

    ReplyDelete
  6. Nama : Bela Fransiska Damayanti
    Email : belafransiska777@gmail.com
    Ig : belafransiska777

    Laut? Siapa sih yang tidak suka laut. Udara panas dengan angin semilir, pasir putih nan lembut, air berwarna biru dan ombak yang menggulung tinggi. Memang indah!
    Selain menawarkan keindahannya itu, laut juga buuanyak manfaatnya. Seperti hasil laut yang berupa ikan, garam, dll. Laut itu tempat yang sangat cocok untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuh kita dari rutinitas sehari-hari yang padat. Seperti bersantai di bawah pohon kelapa, sambil minum kelapa muda😁😁.

    Kebiasaan saya kalok pergi ke laut, pasti duduk di pasir, pegangan tangan bapak, sambil nunggu ombak dateng, byyurrrr🌊. Perasaan nya tuh antara menyenangkan dan takut kegulung ombak.
    Karena begitu banyak manfaat dan keindahan laut, tugas kita adalah menjaga kebersihan. Misalnya, tidak membuang sampah sembarangan. Kan kasian makhluk yang dibawah laut.

    Belajar lah dari seorang penyair Pablo Neruda, beliau begitu menghargai lautan karena memberinya pelajaran.

    "I need the sea because it teaches me" -Pablo Neruda-

    ReplyDelete
  7. Aaaah, pesisir! Salah satu pengalaman paling berkesan dengan perkampungan pesisir dan laut, adalah ketika saya berkesempatan untuk melakukan tugas KKN di Kepulauan Riau.

    Perlu perjalanan yang panjang untuk mencapai salah satu daerah terluar Indonesia yang berbatasan dekat dengan Negeri Jiran ini. Untuk sampai ke Selatpanjang, kami mengarungi Sungai Siak menggunakan kapal Jelantik selama 8 jam. Kemudian dilanjutkan dengan menyebrangi sebuah selat dengan kapal Kempang.

    (Kapal-kapal ini punya sensasi yang sungguh tidak ada bandingannya dengan kapal di Pulau Jawa. Penuh dengan kenangan bersama binatang ternak dan motor yanng menyebrang bersama kami hahaha)

    Perairan-perairan kecil ini, yang kemudian menjadi bagian dari nama Selatpanjang -ibukota Meranti-, merupakan penghubung penting di antara tiga pulau lainnya di kabupaten ini. Selat merupakan bagian dari rantai suplai kebutuhan sehari-hari dan media transportasi masyarakat lokal.

    Membaca kisah Klara, Sea, dan Gegar sebagai anak pesisir yang memiliki mimpi besar, mau tidak mau mengingatkan saya pada anak anak Desa Bantar yang bersemangat belajar untuk menggapai masa depan mereka. Desa ini merupakan salah satu desa yang berada di bibir pantau Pulau Meranti. Meskipun Banto -pelafalan Bantar yang digunakan masyarakat Melayu di sana- memiliki keterbatasan prasarana seperti listrik yang hanya nyala di malam hari serta air gambut yang berbeda dengan air biasa, hal ini tidak mengurangi keceriaan dan antusiasme mereka mengajak kakak kakak KKN untuk main di posko (dengan kedok belajar dan ngaji haha) dan melibatkan kami dalam kehidupan mereka mengeksplor lingkungan desa.

    Setting cerita yang berada di pinggir laut juga membawa saya bernostalgia dengan kehidupan di sana. Ada saat ketika kami mendayung sampan di pinggir hutan bakau dan hampir tenggelam karena ombak kapal besar yang kebetulan lewat. Strategi khusus untuk mengatasi ombak ini yaitu dengan memposisikan sampan tegak lurus dengan arah datangnya ombak, sehingga tidak akan membalikkan sampan.

    Sungguh memacu adrenalin.

    Laut, yang mungkin nampak seperti pemisah antar daratan, menjadi penyambung hidup dengan adanya kapal dan mimpi-mimpi besar. Kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki perairan laut sebesar 2/3 total areanya, menjadikannya bagian penting dari perkembangan anak bangsa, seperti ketika generasi muda Meranti menyebrangi perairan untuk menimba ilmu di kota yang jaraknya tidak dekat.

    Saya suka bagaimana Laut Biru Klara mengisahkan kehidupan pesisir yang tidak terpisahkan dengan negeri ini.

    Anindita Arifah Sekarsonya
    twitter: @sekarsonyaa
    085225385822

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.