"Kata Padi di salah satu lagunya yang berjudul Sang Penghibur: Di dalam hidup ada perhentian, tak harus kencang terus berlari." Irma mengembuskan rokoknya sambil memijit kepalanya perlahan.

Aku memperhatikan setiap sudut kota dengan mata berkaca-kaca. Irma tidak tahu, aku tidak benar-benar berhenti. Bukan karena tidak bisa, melainkan tidak tahu bagaimana caranya. Asap rokoknya pedih mengenai mata, tapi aku enggan berkomentar.

Tanpa rokok, Irma tidak bisa berpikir jernih. Dengan rokok saja masih melantur.

"Kau mau makan?" Tangannya menyodorkan sebatang rokok.

"Aku bukan pemakan tembakau."

"Merokoklah."

Aku diam. Terkadang aku memang ingin mencoba bagaimana rasanya mengisap tembakau.

"Ayolah, siapa tau kau jadi lebih waras."

"Aku tidak sinting, Irma."

Irma membuang muka dan melempar sisa puntung rokoknya, lagi. Sudah lima jam kami mengobrol di sini dan dia telah menghabiskan satu pak rokok tanpa jeda. Seharusnya, akulah yang berkomentar tentang kesintingannya. Irma bilang, dia tidak akan berhenti merokok kecuali dia mati. Tapi kalau rokok bisa dibawa ke kuburan, dia akan merokok bahkan saat sudah dimasukkan ke dalam peti mati.

"Kau tahu, aku juga pernah patah hati. Karena aku jauh lebih sinting daripada kau saat mengalaminya, maka aku menyuruhmu merokok. Kalau tidak mau, melacur saja. Itu akan membuatmu lebih tenang." Irma menyulut rokoknya yang ke-dua puluh lima. Sungguh ingin kusumpahi agar mulutnya tersulut api. 

"Tidak ada orang yang baik-baik saja setelah patah hati, May. Aku tidak menyuruhmu agar sembuh dalam sebulan. Lukanya bisa seumur hidup. Bahkan jika kita mencintai orang yang berengsek--yang ditentang oleh dunia sekalipun, jika hati dan otak sudah memutuskan untuk mencintai, maka perpisahan akan terasa mematikan."

"Dia tidak berengsek, aku yang berengsek."

"Kalian berdua tidak berengsek, takdir yang berengsek."

"Lantas, aku harus apa, Irma?"

Irma menyodorkan kotak itu lagi, "Merokoklah."

Aku menepisnya sekali lagi. Mungkin sudah belasan kali aku melakukannya karena Irma bebal. Atau mungkin, karena aku yang bebal.

"The point when you talk about you want him to come clean into your family, I get it. So you plan to just get rid off your own problem and give a break before marrying him. Just to make sure your family will accept him without worry. Is it right?"

"Yes. But he forced me to talk right away, said it was only his last demand."

"The two options were your family would let you close your case and he came after a year or your family totally would reject you and him."

Aku mengangguk.

"Instead of going smoothly, he said he could not wait for you again, accusing you of the things you've never done. He mistook you to your past mistakes."

Aku mengangguk lagi.

"You two foolish lovebirds. You love too much. You get hurt double."

Aku mulai menangis lagi.

"Menangis sambil merokok itu enak. Cobalah." Irma mulai menyulut satu batang rokok lagi dan langsung menjejalkannya pada bibirku. Rokok sialan itu membuatku diam. Tangisku reda tiba-tiba.

Lalu lalang kendaraan mulai sepi. Aku hapal karena sering menghabiskan malam sampai pagi di sini. Dari semua tempat, jalanan Malioboro selalu menjadi lokasi di mana aku diam, menyepi, dan menemukan orang asing untuk diajak bercerita. 

Irma pun demikian. Namun, ditambah keunikannya dengan merokok, aku baru menemukan orang asing sepertinya. Irma berbeda.

"Aku selalu merokok kalau sedang stres atau butuh inspirasi. Peduli setan jika mati kena kanker paru-paru." Katanya saat kami berkenalan tadi. Baginya, rokok sudah seperti makanan pokok.

Obatku dulu buku. Aku bisa berhenti menangis bahkan hanya dengan menghirup bau sampulnya. Kini, semua tak sama lagi. Buku tidak mengubah apa pun.

"Kau masih mencintainya?"

Pertanyaan Irma retoris. Aku bahkan tidak perlu menjawabnya dengan kata-kata lagi.

"Ya, ya, ya. Tidak usah dijawab. Aku sudah tahu."

Aku mulai mengisap rokok di bibirku dalam-dalam. Ternyata tembakau tidak seburuk itu.

"Boleh aku memberi satu saran?"

Aku diam. Tidak mengiyakan, tidak pula menolak.

"Kalau kau benar-benar mencintainya, berhentilah berspekulasi dan meratapi diri. Lanjutkanlah hidup. Kau tidak perlu bertanya apakah dia baik-baik saja, apakah dia juga mencintaimu, merindukanmu. Hidupi dirimu lagi. Kau kan belum mati."

Kata-kata Irma mengambang. Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya.

"Istirahatlah. Lalu mulai lagi. Selesaikan apa yang ingin kau selesaikan. Tidak usah buru-buru. Aku yakin dia pun sedang melanjutkan hidupnya."

Aku mengisap rokokku dalam-dalam sampai paru-paruku terasa sesak. Namun, aku tidak ingin berhenti. Kalau aku berhenti merokok, aku pasti menangis.

"Kau sungguh-sungguh mencintainya, kan?" Irma mengulangi pertanyaannya.

Aku mengembuskan napas perlahan. Asap rokok membumbung dari hidung dan mulutku. Beradu dengan asap rokok Irma di udara. "Ya, aku sangat mencintainya."

Irma tersenyum. Membuang puntung rokok beserta kotaknya. Sepertinya itu rokok terakhir yang dia bawa di dalam saku.

"Lanjutkanlah hidupmu, May."

Aku menatapnya beranjak dari kursi dan berjalan menjauh. Sedetik tangannya melambai. Lalu bayangannya kabur ditelan angin malam. Irma pergi dengan cara paling elegan yang pernah aku lihat. Dia sinting, tapi aku yakin aku lebih sinting darinya.

Aku terus merokok sampai tembakau di dalam puntungnya habis. Setelah ini, mungkin aku akan membeli dua kotak lagi.

Aku harus merokok saat stres dan butuh inspirasi. Agar tidak menangis lagi.

--- [] ---


(Coldplay - The Scientist cover by Natalia Lacunza)

--- [] ---

Come up to meet you
Tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are

I had to find you
Tell you I need you
Tell you I set you apart

Tell me your secrets
And ask me your questions
Oh let's go back to the start

Running in circles
Coming up tails
Heads on a science apart

Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh take me back to the start

I was just guessing
At numbers and figures
Pulling your puzzles apart

Questions of science
Science and progress
Do not speak as loud as my heart

Tell me you love me
Come back and haunt me
Oh and I rush to the start

Running in circles
Chasing our tails
Coming back as we are

Nobody said it was easy
Oh it's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I'm going back to the start

6 Comments

  1. "Merokoklah sampai kau mampus, sebab yang akan mampus duluan biasanya orang yang tidak merokok tapi berteman dengan perokok!" - Deleted scene.

    Ada dua tipe orang yang kalau dinasehati sampai berbusa pun akan percuma; orang yang sedang jatuh cinta, dan orang yang sedang patah hati.

    ReplyDelete
  2. Suatu hari nanti saya ingin mengobrol (sambil merokok) bersama Irma!

    ReplyDelete
  3. Carry on.. Carry on.. Like its nothing really matter..

    Queen - Bohemian Rhapsody

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.