Bulan April adalah bulan terberat bagi pencinta film MCU, serial GoT, dan serial TBBT. Sebagai fans karbitan tiga-tiganya, saya senang sekaligus sedih. Sampai-sampai nggak bisa nulis review-nya langsung setelah keluar dari bioskop dan nutup video player di laptop. 

Ibarat cuma mau makan tempe, saya malah dikasih nasi sebakul dan lalapan satu ember. Nggak pake alasan, semua harus dihabiskan dan diselesaikan. Siap nggak siap, tiga film dan serial yang saya sukai harus berakhir. Ya udah nggak papa, daripada harus dipanjang-panjangin kayak sinetron Indonesia, mending begini. Sudahi semua drama ini, mz!

Oke. Karena banyak. Saya bahas satu-satu dulu dimulai dari Avengers: Endgame.

--- [] ---

1. AVENGERS: ENDGAME


Orang kuat nggak butuh senjata untuk mewujudkan keinginannya. Ia hanya butuh orang pintar. Mungkin hal ini yang pas banget buat menggambarkan Avengers: Endgame. Sekuat-kuatnya Thanos, tanpa Maw dia nggak akan bisa mengacak-acak time travel machine milik anggota Avengers. Sama seperti anggota Avengers, tanpa Tony Stark dan Bruce Banner mereka nggak akan bisa mengembalikan Scott Lang jadi bapak-bapak (paling mentok jadi bayi atau orang tua kayak di dalam filmnya). Atau malah berakhir tragis dengan menciutnya Clints saat ujicoba kembali ke masa lalu (soalnya time travel seringnya messed up).

Prediksi kalau salah satu di antara Captain America dan Tony Stark akan mati memang terbukti. Tapi bagian Black Widow, saya sama sekali nggak nyangka. Dengan durasi waktu tiga jam (dan nahan pipis berkepanjangan), film ini bikin nggak bisa move on selama berjam-jam. Pertempuran antara Avengers dan Tim Sukses Thanos sangat seru. Apalagi saat Thor, Tony, dan Steve bertempur dengan Thanos, tiga lawan satu. People power sekali, bosque.

Yang nggak saya sangka lagi, meskipun nggak pakai infinity stones gauntlet, Thanos emang udah kuat dari sananya. Bagian paling seru adalah saat Thanos nyaris menggorok Thor dan meninju Tony sampai mati. Oh, ada lagi. Saat Thanos menghajar shield Captain America dengan pisau dapur raksasanya. Langsung rompal jadi setengah shield-nya.

Di balik semua itu, ending Avengers: Endgame cukup melegakan. Meskipun banyak yang mengritik bahwa seharusnya Tony dan Natasha mendapatkan apa yang mereka berhak karena udah berjuang mati-matian, tapi akhirnya udah pas. Steve ketemu Peggy, Tony bisa istirahat (soalnya kalau nggak wafat, Tony pasti udah kelayapan ke mana-mana jualan infinity stones), Bruce Banner menerima keadaan hybrid dirinya, dan Thor mengembara.

2. GAME OF THRONES


Kalau ending yang ini, jangan ditanya lagi, saya keseeel. Emang kayaknya director-nya sengaja bikin kesel. Habis dinaik-naikin saat Arya berhasil menghabisi Ice King, eh, dijatohin dengan ending yang "kurang memuaskan". Dany mati dengan cara yang paling nggak elegan sepanjang 8 season serial ini. Mati karena bucin dengan keponakannya sendiri. Huhu. Udah incest, matinya gitu lagi. Padahal saya udah nungguin Dany duduk di kursi kepemimpinan.

Terus matinya Cersei sama Jaime Lannister juga kurang greget. Mereka kalau bunuh orang kan sadis-sadis terus, tapi matinya basic banget anjer. Nggak ada bagian tubuh yang gore-gore atau darah yang muncrat-muncrat. Nggak sebanding dengan apa yang udah mereka lakukan. Padahal Cersei udah masuk ke daftar korban pembunuhan berantai ala Arya, tapi kenapa nggak dieksekusi sesuai jalan cerita? Kalau menurut berita sih, naskahnya terpaksa ganti karena yang lama (yang katanya berbeda dengan ending yang tayang) udah leaked.

Ending Game of Thrones jadi kayak nonton film azab di Indonesia. Cersei meninggal di reruntuhan. Dany dibunuh keponakannya. Nggak greget banget deh. Terus kursi kepemimpinan diambil alih oleh satu keluarga: Stark. Emang sih, apa yang menurut manusia sudah benar dan adil, belum tentu benar dan adil di mata Tuhan. *ahelah sok banget*

Meskipun begitu, Game of Thrones adalah salah satu serial yang nggak boleh dilewatkan untuk ditonton sampai habis. Bukan hanya karena sisi kolosalnya yang dapet dan menantang, serial ini juga seru dari awal sampai akhir karena jarang ada serial kolosal western yang mengangkat cerita perang saudara semacam ini. Hal-hal tabu yang ada di dalamnya juga bisa menjadi pelajaran bagi yang nonton. Tapi yang paling saya suka adalah vibe dari karakter-karakternya. Kalau berengsek ya berengsek banget, kalau cerdik ya cerdik banget. Semua tokohnya punya kekhasan sendiri-sendiri dan nggak ada yang terlalu menonjol. 

3. THE BIG BANG THEORY


Serial ini adalah serial terpanjang sepanjang masa. Season-nya aja ada dua belas. Setiap season isinya 24 episode. Tapi tenang aja, setiap episode hanya 18 sampai 20 menit kok. Jadi, kalau mau di-maraton-in, masih masuk akal banget. Saya baru ngikutin serial ini saat udah season 4. Mulanya nggak gitu suka karena terlalu nerd dan geek banget, juga sitkom. Kirain bakal mirip sama sitkom-sitkom lain yang banyak haha-hihi di latar suaranya.

Tapi... TBBT ini beda. Banyak fisika-fisikanya. Emang aq banget. Di awal, TBBT menceritakan tentang empat orang sahabat yang nge-geng karena menyukai game, film science fiction, nggak punya pacar, dan kuper semua. Empat-empatnya adalah mantan korban bully-an di sekolah lalu sekarang sama-sama bekerja sebagai peneliti di Caltech University. Leonard yang bekerja di bidang applied physics, Sheldon yang bekerja di bagian theoritical physics, Raj yang ngambil riset di bidang Astronomi, dan Howard yang seorang insinyur (dan astronot).

Cerita berkembang saat mereka kenal Penny (waitress at Cheesecake Factory aka artis belum jadi), Bernadette (farmasi), dan Amy (neurosaintis) yang menjadi pasangan on-off mereka. Masing-masing karakter punya keunikan sendiri-sendiri. Sheldon adalah seseorang yang punya OCD. Leonard adalah seorang yang punya mother syndrome (sering dijadikan obyek penelitian ibunya sendiri). Howard anak mama. Raj orang India yang sering jadi bahan bercandaan di kelompoknya karena nngomongnya lucu. 

Ending dari TBBT, saya pikir nggak bakal sempurna. Pengalaman saat nonton How I Met Your Mother, udah enak-enak, ending-nya nggak terduga (dan sedikit bangke karena "mother"-nya malah dibikin meninggal). Season-nya juga kan banyak; sampai 9. Makanya saya nggak mikir positif terhadap ending TBBT. Tapi ternyata ending-nya bagus banget. Heart-warming dan mengharukan. Serial sitkom ini dari awal bercandaan mulu sih isinya. Eh, malah akhirnya jadi bagus banget. Adegan penutupnya bahkan dibikin sama seperti adegan pertama kali mereka berkumpul: di sofa apartemen Leonard dan Sheldon dan makan bareng.

--- [] ---

Ending emang nggak terduga. Kadang sedih, kadang senang. Kadang bisa diprediksi, kadang di luar kendali. Karena hidup memang hanya tentang kadang-kadang.





Images are taken from:
https://www.hollywoodreporter.com/live-feed/big-bang-theory-chuck-lorre-explains-series-finales-sweet-last-scene-1211572
https://www.vox.com/culture/2019/5/6/18530741/game-of-thrones-season-8-episode-4-recap-the-last-of-the-starks-winners-losers
https://www.deviantart.com/the-dark-mamba-995/art/Avengers-Endgame-Wallpaper-Final-Battle-796899321
https://www.syfy.com/syfywire/how-avengers-endgames-massive-battle-was-painstakingly-made-piece-by-piece

2 Comments

  1. Hanya Avenger yang saya pahami dari tulisan ini, sisanya; BELUM NONTON!

    GoT saja cuma baru nengok season 1, itupun gak tamat. Kalo TBBT ssma sekali belum nonton.. Emang yah, jiwa penonton saya sepertinya sudah memudar~

    ReplyDelete
    Replies
    1. TBBT diikuti kalau lagi beneran selo aja, Dian. Episodenya terlalu banyak. Hehe. Kalau Game of Thrones bolehlah. Nggak ngebosenin kok, meskipun 8 season.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.