Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas adalah buku Eka Kurniawan yang pertama kali saya baca. Seperti kembali ke era sebelum filter kosakata menyerang, Eka nggak takut menggunakan kata-kata yang dianggap vulgar dan kasar bagi sebagian masyarakat. Pokoknya kata-kata yang nggak biasa digunakan anak tongkrongan senja dan kopi, Eka menggunakannya. Terkesan nggak puitis memang, tapi Eka adalah salah satu penulis yang menurut saya apa adanya. Dan nekat sekali. Dan penuh nyali.

Saat saya me-review buku Eka Kurniawan yang pertama saya baca, saya sudah bertekad akan membaca karya-karyanya yang lain. Pokoknya tiap ada teman yang punya bukunya, akan saya pinjam. Apalagi setelah saya tahu kalau Eka ini suaminya Ratih Kumala: cerpenis dan novelis yang terkenal dengan tulisan relistis dan bengis. Ternyata mereka satu paket. Cocok deh. 

Draf tulisan tentang Eka Kurniawan ini udah ada sejak berbulan-bulan yang lalu. Tapi karena saya belum meneruskan, jadi belum muncul di laman. Kayaknya dulu nggak saya teruskan karena mendekati bulan puasa. Saya takut nulis yang mesum-mesum. Nanti blog saya ditutup Memkominfo. Jadi, saya pending dulu. Sekarang, baru saya terbitkan.

Karena, seperti hutang, draf blog harus dibayar lunas.

--- [] ---

1. O - 2016

Apakah ia memiliki cinta? Tidak. Ia tak pernah mencintai siapa pun. Tak ada burung pelatuk lain yang menarik perhatiannya. Ia burung tanpa cinta. Jika ada cinta, itu hanya cinta kepada pekerjaannya mematuki batang pohon. Tak lebih. Bagi makhluk lain, apa yang dilakukannya terlihat menyedihkan. Tapi siapa kita sehingga berhak menghakimi perasaan makhluk lain? - Eka Kurniawan

Novel kedua Eka yang saya baca. Di buku ini, saya belajar tentang sisi lain humanisme dan personifikasi secara bersamaan. Ceritanya, seekor monyet O ingin menikah dengan kaisar dangdut bernama Entang Kosasih. Mereka adalah sepasang monyet dimabuk cinta yang ingin menikah di bulan sepuluh. Tidak seperti kisah kebanyakan, Eka berani menggebrak meja editor dengan kisah unik bin ajaib yang ada di novel O. Namun, untuk kisah seperti ini, halamannya terlalu banyak dan deskripsinya terlalu kepanjangan. Agak bertele-tele untuk ditangkap intisarinya. Di bab-bab awal, ceritanya sedikit membosankan. Kemudian, guyon satir ala Eka Kurniawan banyak muncul di bab pertengahan sampai akhir.

Yang saya sukai dari novel ini adalah Eka membawa pembaca naik turun secara fluktuatif seperti gaya bercerita novel-novel yang mikir. Mungkin Eka ingin menyampaikan bahwa hewan pun berpikir seperti manusia kebanyakan dan manusia berpikir seperti hewan kebanyakan. Sejujurnya saya suka dengan cerita-cerita personifikasi semacam ini. Saya juga menyukai Animal Farm (sampai-sampai saya sering ngomong sendiri kalau sedang melihat hewan di jalan). O adalah novel yang mampu membuat saya ikut menangisi dan menertawakan jalan cerita O dan Entang Kosasih. Benar-benar novel yang membuat kita menanyakan sisi humanisme kita sebagai manusia sekali lagi.

Oh iya, novel ini termasuk novel Eka yang paling tebal. Bahkan lebih tebal daripada Cantik Itu Luka. Namun, ceritanya asik untuk diikuti, sehingga kamu bisa lupa waktu. O sebagai tokoh utama seringkali berucap, "Nggak gampang jadi manusia". Saya jadi bertanya-tanya pula saat membaca. Memangnya gampang jadi binatang?  

2. Lelaki Harimau - 2004

Kyai Jahro mengucapkan doa-doa yang tak dimengerti Margio, sebab pelajaran mengajinya tak tuntas betul, pernah khataman namun tak pernah memahami makna, membuatnya sekedar mengangkat tangan dengan telapak tangan terbuka sementara keranjang berisi kelopak bunga tersisa dijejakkan di gundukan tanah, ia amin berkali-kali mengikuti orang lain. - Eka Kurniawan

Ada harimau di dalam buku ini. Buku Eka Kurniawan yang ini termasuk tipis dibandingkan buku-bukunya yang lain. Namun, buku ini memiliki cerita yang paling berat dari semua buku-buku Eka yang pernah saya baca. Pertama membaca buku ini saat masih sekolah, saya nggak paham. Kedua, saya tetap nggak paham. Akhirnya saya umpetin di rak buku bagian belakang kalau ingin membaca lagi. Baru kesampaian saya baca lagi sebulan lalu dan akhirnya... tetap nggak paham juga. Memang bacanya nggak boleh cepat-cepat. Harus dipahami sampai menangis. Kalau perlu sambil zikir karena buku ini membuat pembacanya mikir.

Saya ketar-ketir saat tahu bahwa novel ini mengangkat tema yang menjadi cikal bakal slogan "mulutmu harimaumu". Kayaknya slogan itu muncul karena ulah Margio yang serupa dengan harimau. Di awal buku, kamu akan langsung disajikan pemandangan gore saat Margio membunuh Anwar Sadat dengan cara menggigit lehernya. Intinya, Margio menjadi pahlawan harimau dengan menghabisi dan menghakimi orang-orang bejat.

Alur Lelaki Harimau adalah maju mundur. Kadang kita disajikan masa lalu Margio dan hal-hal yang melatarbelakangi perilakunya. Kadang kita dibawa maju dan melihat kejadian di sekitar Margio pada saat ini. Plus, kita akan melihat bagaimana akhirnya tingkah laku Margio yang dipengaruhi oleh kehidupannya. Tidak ada asap jika tidak ada api. Mungkin itu peribahasa yang tepat untuk menggambarkan Lelaki Harimau secara keseluruhan.


3. Cantik Itu Luka - 2002

Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada. - Eka Kurniawan

Di buku ini, Eka mengambil latar tempat di Indonesia dan latar waktu di masa penjajahan Belanda serta Jepang. Saking panjangnya ceritanya (bayangkan aja, lama waktu di novel ini melewati dua generasi penjajahan di Indonesia), buku ini memiliki tebal 496 halaman yang sinopsis di bagian belakangnya pelit banget. Sedikit berbeda dengan novel-novel Eka yang lain. Ceritanya, ada seorang perempuan peranakan Belanda dan Indonesia yang bernama Dewi Ayu. Karena saat itu Indonesia sedang genting akibat transisi pemerintahan, Dewi Ayu terpaksa menghadapi masa-masa sulit karena masih keturunan Belanda. Ia terpaksa menjadi pelacur bagi tentara-tentara Jepang.

Saking banyaknya pelanggan Dewi Ayu, ia sampai tidak tahu siapa saja ayah dari ketiga puterinya yang juga cantik-cantik. Karena ia merasa bahwa kecantikan akan membawa petaka (zaman dulu sama kayak sekarang, yang jelek disembunyikan, yang cantik main iklan), Dewi Ayu lalu bersumpah menginginkan anak yang jelek rupanya supaya anak keempatnya tidak dilecehkan dan melecehkan laki-laki lagi. Saat lahir, anak keempatnya benar-benar jelek. Namun, Dewi Ayu memberinya nama Cantik. Cukup lucu, tapi tolong jangan ditertawakan karena dua belas hari kemudian, Dewi Ayu meninggal dunia.

Ini adalah novel paling mesum dan vulgar karya Eka yang saya baca selama ini. Eka nggak tanggung-tanggung menggambarkan bahwa perempuan hanya menjadi sasaran nafsu saja di masa penjajahan. Nggak ada artinya selain alat kepuasan seksual. Kayaknya gara-gara ini makanya Ibu R. A. Kartini berusaha mewujudkan emansipasi. Saya suka konsep yang diceritakan Eka di buku ini. Terlepas dari banyaknya adegan ena-ena yang eksplisit, saya suka dengan ide Eka yang menceritakan sisi lain dari perasaan perempuan di masa lalu. Dengan riset mendalam, novel ini ada. Makanya saya jadi bertanya-tanya, apa iya sebenarnya leluhur kita memperlakukan perempuan dengan demikian rendahnya? Dan sekarang, bicara pendidikan seks saja tabu di masyarakat. Padahal, kalau ditinjau dari sejarah, pelecehan seksual hampir selalu terjadi di setiap daerah.

--- [] ---

Dari beberapa novel Eka Kurniawan yang saya baca, saya paling menyukai Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Novel tersebut terasa lebih dekat dan natural untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari. Isi ceritanya adalah tentang Ajo Kawir yang impoten. Itu saja. Kan nyata banget ada penyakit demikian di kalangan para pria. Kalau novel yang lain, ada beberapa bagian yang sangat terasa superstition-nya, sehingga saya jadi bengong karena skeptis. Dunia magis dan tuah kurang masuk di akal saya. 

Eka Kurniawan adalah pengamat yang bagus. Tambahan, ia pemberani. Tidak takut mengangkat tulisan bertema tabu dan melawan "adat kesopanan" literasi dengan menggunakan kosakata yang bukan menjadi kebiasaan penulis di Indonesia. Sebenarnya, kita juga bisa menjadi penulis seperti Eka Kurniawan yang mengangkat tema kontroversial (karena ngomong sama temen tongkrongan kan kadang-kadang kasar juga). Hanya saja, kita tidak punya nyali. Karena makin dibaca, novel Eka Kurniawan makin terasa manusiawi.

0 Comments