Novel kadang terlalu membosankan untuk diikuti kalau jumlah halamannya terlalu banyak. Biasanya, kalau lagi nggak mood baca novel, saya beralih pada kumpulan cerpen yang isinya lebih ringan dan antara satu cerita dengan yang lain nggak saling berhubungan. Itu lebih enak dibaca dan dibawa-bawa selama perjalanan. Selain itu, formulanya pendek. Kita nggak perlu mikir terlalu panjang dan ribet dalam menghabiskan dan menikmatinya.

Berikut ada 10 (plus 15) rekomendasi kumpulan cerita pendek asli Indonesia yang bisa menjadi teman ngopi atau ngeteh di sore hari. Semuanya ada di toko buku (dan terakhir saya ngecek, rata-rata udah masuk ke iPusnas). Selamat memilih dan membaca!

--- [] ---

1. Corat-coret di Toilet - Eka Kurniawan

Ada dua belas cerita pendek yang terdapat di kumpulan cerpen Eka Kurniawan ini. Seperti biasa, Eka cerdas dalam berbagi paragraf. Dibandingkan novelnya, saya emang lebih suka kumpulan cerpennya Eka sih. Ringan dan bisa dibaca dengan cepat tapi meninggalkan bekas. Kayak minum espresso gitu deh. Dikit tapi membekas paitnya. Semua cerpen di buku ini ditulis pada era orde baru. Jadi jangan heran kalau semuanya berlatar pemberontakan dan perjuangan. Cerpen favorit saya dari buku Corat-coret di Toilet adalah Kandang Babi.

2. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi - Eka Kurniawan

Tujuh belas cerpen yang ada di dalam buku ini sudah pernah diterbitkan di berbagai surat kabar dan majalah. Berbeda dengan kumpulan cerpen sebelumnya, Eka mengambil tema sehari-hari yang dekat dengan kita. Saya paling suka dengan cerpen berjudul Penafsir Kebahagiaan di mana Jimmi dan Markum, ayahnya, baku hantam karena rebutan hak asuh anak atau cucu. Juga cerpen Teka-teki Silang ala ramalan yang membuat merinding. Di buku ini kelihatan kalau Eka adalah penulis yang referensi dan gaya menulisnya variatif.

3. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma - Idrus

Idrus menulis buku ini menjadi tiga babak (kayak pembagian waktu gitu) yaitu: Jaman Jepang, Coret-coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Yang bikin saya cinta dengan buku ini adalah cara Idrus menyampaikan ceritanya dengan gaya yang penuh humor dan jenaka. Salah satu buku untuk escape to a good mood. Saya paling suka cerpen yang berjudul Jalan Lain ke Roma. Mengisahkan laki-laki yang mencoba banyak profesi selama hidupnya. Buku ini memberi gambaran jaman penjajahan Jepang secara nyata.

4. Seribu Kunang-kunang di Manhattan - Umar Kayam

Kata Umar Kayam, New York adalah paradoks. Makanya ia menulis kumpulan cerpen berjudul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Ada sepuluh cerita pendek yang nyempil di buku ini. Semuanya bikin hati nano-nano dan "eh, kok gini?" setiap selesai baca cerita. Umar Kayam dari dulu emang terkenal mood changer banget. Dari semua cerpennya di buku ini, saya paling menyukai yang Musim Gugur Kembali di Connecticut.

5. Senyum Karyamin - Ahmad Tohari

Berisi 13 cerita pendek karya Ahmad Tohari, Senyum Karyamin menjadi salah satu kumcer terbaik yang pernah saya baca. Dulu minjemnya di perpus sekolah dan hampir lupa nggak dibalikin saat lulus. Hehe. Baca cerpen Ahmad Tohari rasanya kayak belajar flora dan fauna karena isi cerpennya nggak jauh dari dua tema itu. Saya suka caranya menuliskan kesederhanaan masyarakat pedesaan dan lika-likunya. Paling favorit adalah cerpen Orang-orang Seberang Kali yang menceritakan tentang masyarakat yang jadi penyabung ayam.

6. Dilarang Mencintai Bunga-bunga - Kuntowijoyo

Kalau mau belajar konsep pragmatisme dari hal yang ringan, kamu bisa membaca kumcer karya Kuntowijoyo ini. Sebagai salah satu karya klasik yang mahsyur, Dilarang Mencintai Bunga-bunga berhasil menjadi salah satu referensi pembaca literasi untuk belajar tentang kesetaraan dalam sudut pandang lelaki. Kalau perempuan boleh menuntut hak kebebasannya, kenapa laki-laki masih dibatasi untuk menyukai hal-hal yang terkesan feminin seperti menyukai bunga, menangis, dan saling memeluk satu sama lain. Perspektif yang bagus.

7. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu - Hamsad Rangkuti

Saya ingat banget dulu kumcer ini hanya ada satu di perpus sekolah sehingga saya harus nunggu lama banget buat pinjam. Bahkan sampai ada antreannya. Wkwk. Setelah dapat, saya pun membacanya dan tahu kenapa cerpen ini sangat diminati. Hamsad Rangkuti menulis cerpen dengan gaya realitas (atau malah sedikit surealis) tapi gayanya sederhana. Saya paling suka cerpen yang Lagu di Atas Bus. Menceritakan tentang pemutaran lagu Indonesia Raya di dalam bus yang membuat semua penumpang harus khidmat sesaat saat mendengarkan.

8. Rumah Kopi Singa Tertawa - Avianto Parianom

Delapan belas cerpen di dalam buku ini bisa dibilang bertema sama: perenungan spiritual. Kita akan menanyakan alasan hidup (dan tujuan hidup) sekali lagi dan kadang ngeri karena mendengar cerita ini dan itu dari orang lain. Ketakutan-ketakutan kecil yang ditimbulkan Rumah Kopi Singa Tertawa akan membuat kita ngakak sambil membodoh-bodohkan ironi hidup sendiri. Cocok dibaca kalau sedang mumet berat karena ini sungguh menghibur. Saya paling suka yang Cara Mati yang Kurang Aduhai. Itu bangke bener ceritanya sih. 

9. Godlob - Danarto

Diterbitkan pertama di tahun 1987, Godlob menjadi salah satu cerpen kontemporer yang mengkhawatirkan untuk dibredel di eranya karena berisi cerpen yang agak provokatif. Tapi saya suka. Danarto adalah penulis yang buas, liar, dan lugas dalam menyusun paragraf. Menurut saya, ada kesamaan dari Danarto dengan Edgar Allan Poe dalam memilih diksi: ngeri dan gamblang. Saya merinding dan mati-matian menahan keinginan untuk menutup buku saat tengah malam karena cerpen-cerpennya memang semistis itu.

10. Bidadari yang Mengembara - A. S. Laksana

A. S. Laksana menulis dua belas cerpen di buku ini dan semuanya bagusss. Saya paling suka yang berjudul Menggambar Ayah dan Seorang Ibu yang Menunggu. A. S. Laksana boleh jadi adalah penulis yang bisa menjadi role model untuk menciptakan twist di setiap akhir cerita. Pasti ending-nya nggak terduga dan nggak disangka bisa begitu (A. S. Laksana ini bacaannya apa aja ya?). Semua cerpennya rapi dan sarat narasi rapat. Salah satu cerpen yang nggak boleh dilewatkan untuk dibaca seumur hidup karena beneran sebagus itu.

--- [] ---

Selain sepuluh rekomendasi di atas, ada juga tambahan lima belas rekomendasi kumcer yang udah saya bahas satu-satu di postingan-postingan berikut. Dulu bahasnya belum dikelompokkan, jadi tiap selesai, saya tulis ulasannya. Boleh dicek ya. Hehe.

1. Dongeng Pendek tentang Kota-kota dalam Kepala - Mashdar Zainal (di sini)

2. Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek - Djenar Maesa Ayu (di sini)

3. Bulan Bugil Bulat - Yanusa Nugroho (di sini)

4. Kaki yang Terhormat - Gus Tf Sakai (di sini)

5. Mere Matkadevi - Tulus Ciptadi Akib (di sini)

6. Robohnya Surau Kami - A. A. Navis (di sini)

7. Filosofi Kopi - Dee Lestari (di sini)

8. Madre - Dee Lestari (di sini)

9. Bastian dan Jamur Ajaib - Ratih Kumala (di sini)

10. Sepotong Senja untuk Pacarku - Seno Gumira Ajidarma (di sini)

11. Jodoh - A. A. Navis (di sini)

12. Jakarta Sebelum Pagi - Montsreza dkk (di sini)

13. Perjalanan Rasa - Fahd Djibran (di sini)

14. A Cat in My Eyes - Fahd Djibran (di sini)

15. Rectoverso - Dee Lestari (di sini)

0 Comments