Saya suka dengan beberapa tulisan Djenar Maesa Ayu dan Eka Kurniawan. Terlepas dari unsur mesum yang ada dalam bukunya, mereka memiliki teknik building case and story yang mumpuni dan kaya referensi. Satu tingkat di atas Ratih Kumala dan Fira Basuki. Keempat penulis tersebut sama-sama menulis cerita dengan riset budaya mendalam dan itu jarang saya temukan di novel-novel terbitan baru seperti sekarang.

Dan saat saya ngobrol dengan Sapta--seorang teman pegiat Gerakan Menulis Buku Indonesia--ia merekomendasikan nama Ayu Utami. Katanya, novelnya udah dicetak sampai 30-an kali. Jadi saya mulai membacanya: Saman.

--- [] ---

1. Saman - 1998

Saman bercerita tentang periode aktivis dan demonstrasi orde baru dengan sisipan tema agama, sosial, dan cinta. Tokoh utamanya adalah Saman, seorang pemuda yang dulunya bernama Wisanggeni. Ia mengubah nama dan sempat menjadi pendeta karena berjuang melawan pemerintahan yang otoriter. Saman berteman dengan empat sekawan bernama Shakuntala, Cok, Yasmin, dan Laila. Laila dan Yasmin menyukai pemuda itu, tapi yang memenangkannya hanya satu: Yasmin (dan cerita mereka menjadi plot utama). Kelimanya tumbuh dewasa dengan tantangan yang berbeda.

Novel ini mengambil sudut pandang orang pertama dengan multiple points of view. Di bagian pertama, Saman menuliskan cerita dari perspektifnya. Sementara di bagian kedua Shakuntala mengambil peran. Bagian akhir dipegang oleh surat-surat Yasmin dan Saman yang bergerilya. Mulanya saya nggak paham kenapa di bagian akhir menggantung. Eh, ternyata ada novel sekuelnya yang berjudul Larung. Ehehe. 

Dengan latar belakang jaman orde baru, saya kagum dengan penulisan Ayu Utami yang bebas dan tanpa rigid. Kayak nggak takut dibredel gitu. Padahal di tahun terbitnya novel ini pertama kali--tahun 1998--sedang rusuh pembredelan media cetak. Tapi tulisannya yang sarat kritik dan paradigma aman-aman aja dan malah dicetak ulang sampai 30 kali. Terhitung sampai tahun 2014. Bukan main memang tulisan Ayu Utami ini. Pas untuk yang suka dengan tema tulisan historis, sosial, dan spiritual. Terlepas dari banyaknya kesan sensual ya.

Pantesan banyak yang suka dengan novel ini. Udah diterjemahkan ke banyak bahasa karena legendaris banget. Ayu Utami adalah salah satu novelis yang menjadi founding fathers kebebasan menulis di Indonesia pada era orde baru. Nggak heran kalau karyanya mampu memenangkan banyak sekali penghargaan di dunia literasi. Salut!

2. Larung - 2001

Larung adalah sekuel dari Saman. Senada dengan judulnya, novel ini mengusung tokoh baru bernama Larung yang menjadi tokoh kunci dalam cerita. Meskipun begitu, saya kurang sreg dengan encounter-nya Larung yang samar di keseluruhan cerita. Karena penokohan Saman terlalu kuat dan membekas sejak buku satu, tokoh Larung yang seharusnya menjadi "pembebas" atau "pengkhianat" di kalangan aktivis menjadi overshadowed. Bahkan di saat-saat krusial (di bab-bab akhir tentunya), Larung kayak ngalir aja mengikuti takdir cerita. Beda dengan Saman yang sampai akhir terus menerus melakukan perlawanan.

Pemaparan konflik sebenarnya masih nyambung banget dengan Saman. Kalau nggak baca Saman dulu, dijamin nggak ngeh dengan apa yang dituliskan di Larung. Yah, namanya juga sekuel. Hehe. Cuma di sini saya beneran nggak suka dengan cara Ayu Utami meneruskan konflik yang ada pada Saman. Saya kurang menikmati ceritanya dan ingin cepat-cepat menyelesaikannya. Hampir seperti baca skimming. Jadi nggak afdol gitu karena ceritanya juga sedikit maksa. Karena memang benar, terkadang ada cerita yang nggak perlu dipaksakan selesai. Dan menurut saya Larung adalah salah satunya.

Meskipun begitu, ada hal yang saya suka dari Larung kok. Saya kenal istilah baru ini dan itu. Ayu Utami ini sungguhlah, salah satu penulis kesukaan saya. Selain pandai bermain kosakata dan majas, Ayu Utami nulisnya nggak pakai tedeng aling-aling. Seperti berteriak, "Bodoamat pokoknya saya nulis apa yang saya mau, selebihnya urusan masing-masing kepala dalam menerimanya." Dan dia nulis dwilogi Saman-Larung saat orde baru. Kurang nekat dan adrenaline junkie apa coba? Mau salim sama keberanian dan keyakinan beliau aq tu ~

Jadi, kalau mau belajar tentang sudut pandang baru tentang orde baru dan era reformasi, buku Larung (dan juga Saman tentunya ya!) bisa menjadi dua referensi yang mumpuni. Tentu saja harus mengambil waktu yang cukup karena, ehem, bukunya bikin mikir (saya puyeng bacanya karena seperti baca buku sejarah campur cerita stensil dan tulisan surat kabar, wkwk). Kalau dibaca saat sedang pusing justru bikin tambah pusing.

3. Maya - 2013

Sebenarnya Maya bukanlah lanjutan dwilogi Saman dan Larung (sepenangkap saya ya!), melainkan buku penghubung antara semesta dwilogi Saman dan Larung dengan seri novel Bilangan Fu (yang ketiga bukunya--Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, dan Lalita--belum saya baca karena belum beli, cuy). Bisa dibilang bahwa Maya adalah seri yang nomor empat. Kenapa buku ini nyambung dengan dwilogi Saman dan Larung? Yep, karena tokoh dalam Maya bukan cuma tokoh-tokoh yang ada di Bilangan Fu. Yasmin dan Saman ada di dalamnya dengan porsi pengendali cerita yang utama. 

Premis penggabungan dua semesta cerita ini membuat saya jatuh cinta dan langsung membeli Maya sebelum membaca tiga novel sebelumnya. Agak nekat memang karena saya jadi tersesat di beberapa bab setelah Yasmin dan Saman bertukar surat lagi. Seharusnya emang baca yang seri Bilangan Fu dulu baru mengulas Maya. Nggak tau diri banget sih, May :'(

Buku ini menjawab gamang yang ditimbulkan dwilogi Saman dan Larung sekaligus menutup era orde baru sebagai tema yang diangkat oleh Ayu Utami. Mau nggak mau juga kita akan dipaksa menerima fakta bahwa Saman dan Larung begitu ending-nya. Rasanya hal-hal yang dituliskan di dwilogi buku tersebut dijawab tuntas dalam buku Maya. Ada rasa sedih karena ternyata Ayu Utami menutup kisah Saman dan Larung sedemikian rupa, tapi ada juga perasaan bebas dan lega yang dulu sempat terperangkap karena menamatkan Larung.

Alur yang dibawa dalam Maya adalah alur maju. Sama seperti sebelumnya, media untuk bercerita adalah surat-surat dari Saman dan tambahan batu akik yang sepertinya mirip dengan batu bertuahnya Harry Potter. Ada klenik dan takhayul yang dituliskan dengan rapi di buku ini. Di suatu saat, saya bisa menikmati. Di sisi lain, saya kurang nyaman. Tapi bukan berarti novel ini nggak bagus ya. Porsi ada tidaknya unsur tertentu berbeda-beda di tiap orang. Dan bagi saya, tema tersebut agak membuat saya skeptis.

--- [] ---

Begitulah. Dari ketiganya saya paling suka Saman (tentu saja, hehe) karena paling ngena dan membekas. Biasanya saya nggak akan beli buku seorang penulis kalau udah membacanya dari hasil meminjam teman atau perpustakaan. Tapi saat membaca Saman, saya gemas ingin memiliki bukunya sendiri dan membaca ulang. Karena saya suka.

Mungkin setelah ini, saya akan membaca seri Bilangan Fu juga supaya lebih tau eksplorasi kepenulisan Ayu Utami yang--menurut saya--magis.

0 Comments