Ada tiga lagu Nirvana yang saya suka banget di antara semua lagu di albumnya: The Man Who Sold The World, Smells Like Teen Spirit, dan Lithium. Dan di postingan yang membahas buku Ava Dellaira yang berjudul Love Letters to the Dead kali ini, saya menyisipkan lagu Smells Like Teen Spirit sebagai teman untuk membaca surat dan ulasan ala-ala. Here we go.


(Nirvana - Smells Like Teen Spirit)

--- [] ---


Dear Ava Dellaira,

Saya tidak tahu harus berkata apa karena saya amat menyukai bukumu. Membacanya dari halaman pertama, sama seperti mendengarkan lagu-lagu Nirvana yang fenomenal dan monumental secara nonstop sampai halaman 336. Tadinya saya pikir isinya akan terlampau cheesy karena karakter anak remaja labil--Laurel--terlihat seperti memiliki masalah dengan isi kepalanya sendiri. Saya tidak paham kenapa Laurel menangis tanpa alasan di setiap waktu. 

Dear Ava Dellaira,

Dari awal kamu tidak membawa saya menemui titik terang. Laurel seperti remaja kelewat labil yang sedang berjuang melewati masa pubertasnya dengan fakta bahwa dia kehilangan seorang kakak bernama May. Kakak yang sekaligus guardian angel-nya sehingga Laurel seperti kehilangan seluruh hidupnya tanpa May. Saya jadi teringat adik saya. Kalau saya mati duluan, apakah adik saya akan kehilangan kakaknya seperti Laurel kehilangan May?

Dear Ava Dellaira,

Bagaimana kamu bisa menulis alur maju mundur dengan rapi dan tanpa cela? Kilasan peristiwa yang terjadi di hari-hari Laurel selalu membawanya pada kenyataan bahwa May ternyata melakukan hal yang sama. Kamu membuat tokoh Laurel sangat tergantung dengan kakaknya sampai ia tidak punya teman selain May. Kelewat sayang dengan May sampai dia nyaris meledak dan ingin menyusul kematian kakaknya. Itu sedih, kamu tahu itu kan? 

Dear Ava Dellaira,

Kamu berhasil membuat saya menangis di dua bab pertama karena mengajarkan bahwa tidak ada yang mudah dengan rasa kehilangan meskipun banyak orang di sekitarmu menawarkan telinga untuk curhat dan menangis. Laurel kehilangan May. Seperti saya pernah kehilangan semangka di kulkas kosan karena dimakan teman tanpa izin. Dua-duanya menyakitkan. Meskipun nyawa May dan sepotong semangka tidak bisa dibandingkan. Lebih mahal oreo.

Dear Ava Dellaira,

Saya suka bagaimana kamu menulis novel ini dengan bentuk lembaran-lembaran surat Laurel pada orang-orang yang berpengaruh di hidupnya seperti Kurt Cobain, Heath Ledger, Amy Winehouse, John Keats, Janis Joplin, Amelia Earhart, Jim Morrison, E. E. Cummings, Allan Lane, dan Judy Garland. Semuanya adalah orang yang sudah meninggal; sama seperti May. Kamu menulis diary Laurel berbentuk surat pada mereka sekaligus dengan isi cerita secara lengkap. Bagaimana ide itu bisa muncul? Saya benar-benar kagum dengan imajinasimu.

Dear Ava Dellaira,

Surat-surat aka diary Laurel ditulis dengan sudut pandang orang pertama sehingga saat membacanya, saya merasa seperti menjadi Laurel dan merasakan kehilangan seorang kakak yang amat berat. Ini seperti membaca buku Goosebumps namun versi drama. Saya dibawa masuk ke dalam perasaan Laurel dan isi kepalanya yang acak-acakan. Mengerti bahwa tidak mudah menjadi orang dengan masa lalu berat yang seakan bertanggung jawab atas semua kejadian. Saya merasakan Laurel rapuh seperti tokoh Aza di Turtles All the Way Down.

Dear Ava Dellaira,

Cara kamu mengakhiri novel ini terasa melegakan. Kalau tadinya saya dibuat mengadili diri sendiri dengan posisi Laurel dan mengutuki semua orang di hidup saya, di akhir cerita saya merasa lega. Meskipun bukan happy ending, tapi saya bahagia menutup bukunya. Tadinya mau saya jual bukumu, tapi tiap memandang cover-nya, saya merasakan joy and happiness. Agak berlebihan memang, tapi saya suka sensasinya. Jadi saya memutuskan untuk menyimpan bukumu kalau nanti ingin membacanya ulang (dan sepertinya dalam waktu dekat, hohoho).

Dear Ava Dellaira,

Semua novel dengan tema remaja berbahasa asing yang saya baca rata-rata mengangkat tema self and social-anxiety. Di sana isu ini tentang siklus pubertas benar-benar diperhatikan ya? Saya kagum loh. Banyak negara yang mengesampingkan hal itu dan lebih mengejar persaingan nilai Ujian Nasional siswa-siswanya. Padahal sisi psikologis remaja penting untuk diperhatikan. Salah salah kan bisa berbahaya untuk masa depan mereka. Iya nggak?

Dear Ava Dellaira,

Saya menghabiskan novel Love Letters to the Dead dalam waktu seminggu. Maafkan, banyak distraksi yang terjadi. Salah satunya adalah playlist yang kamu berikan di bagian belakang. Sialnya, saya terpengaruh dan membabi buta mencari lagu-lagunya di aplikasi musik yang ada di ponsel. Semua rekomendasi lagu yang kamu berikan benar-benar pecah. Saya nggak bisa membaca buku ini tanpa mendengarkannya. Itulah kenapa jadi lama selesainya.

Dear Ava Dellaira,

Kamu suka sekali Nirvana dan bahkan bilang kalau novel ini terinspirasi dari lagu-lagu Nirvana kan? Maka saya juga ingin bilang, saya dulu pernah menulis cerpen dengan inspirasi lagu The Man Who Sold The World. Tapi cerpen yang saya ikutkan lomba tersebut tidak menang. Dan sekarang entah ke mana karena hilang saat pindahan kosan. Ntos dulu yuk?

Dear Ava Dellaira,


Setelah membaca ini saya sadar bahwa pikiran-pikiran buruk di kepala bisa kapan saja membunuh kita. Perasaan menyesal dan marah pada diri sendiri biasanya lebih berbahaya daripada pada orang lain. Lebih susah lagi kalau kita tidak bisa mengeluarkannya. Seperti kata Laurel di kutipan yang ada di bab pertama (saya langsung menangis saat membacanya).

Dear Kurt Cobain, kadang-kadang musikmu terdengar seperti terlalu banyak yang ada di dalam dirimu. Mungkin bahkan kau tak bisa mengeluarkan semuanya. Mungkin itulah sebabnya kau mati. Seolah-olah kau meledak dari dalam. - hlm. 9

Saya teringat saat Chester Bennington meninggal dunia dua tahun lalu. Kakak saya sampai berkabung seharian karena ia tumbuh besar bersama lagu-lagu Linkin Park. Saat tahu vokalis favoritnya meninggal, kakak saya terpukul sekali. Seperti saya yang tidak percaya saat Anton Yelchin--aktor kesukaan saya--dan sahabat saya bernama Zahra meninggal dunia. Saya ingin sekali berteriak "A denial, a denial, a denial, a denial" seperti lirik lagu Nirvana di Smells Like Teen Spirit secara terus menerus. Kamu benar, kehilangan itu menyakitkan.

Dear Ava Dellaira,

Terima kasih sudah menulis buku yang bagus. Setelah ini kalau ada buku baru yang kamu tulis, jangan lupa berkabar ya. Saya akan membeli dan membacanya lagi. Semoga harimu menyenangkan dan jangan lupa like, comment, and subscribe channel aq y. Spread money, not hate. Have a good life, Ava Dellaira. I love you to the moon and not back. Mwah.


--- [] ---

By the way, lagu Nirvana yang Smells Like Teen Spirit ini ada cover version-nya dengan orchestra dan choir. Lumayan mantap untuk didengarkan juga sebagai penutup postingan. Sensasi orkestra dan paduan suaranya bikin merinding dan terngiang-ngiang. Hehe.


(Nirvana - Smeels Like Teen Spirit orchestra and choir cover version)

0 Comments