Judul: Kerumunan Terakhir
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 357 halaman

--- [] ---

Menurut peringkat, kecepatan internet di Indonesia terletak di dua paling bontot di Asia Tenggara. Namun anehnya, Indonesia memiliki pengguna media sosial paling banyak. Dua fakta yang kontradiktif tapi masuk akal untuk dighibahin dan ditelaah secara ilmiah.

Dan pilihan ghibah buku kali ini adalah salah satu buku favorit saya yaitu Kerumunan Terakhir karya Mbak Okky Madasari. Penulis dari Magetan, Jawa Timur.

--- [] ---

Mayang: Hi, Mbak Okky. Asl pls? F/M? BB/TB?

Mbak Okky: ...

Mayang: Loh, mbak. Ini kan bukunya tentang medsos-medsosan. Harusnya kita ghibahin bukunya mbak dengan obrolan ala-ala chatting di medsos dong. Biar afdol!

Mbak Okky: *ketawa satire* Ya udah. Nama saya Okky Madasari. Asal Magetan. Perempuan. BB dan TB rahasia ya. Perempuan mana yang suka ditanya BB dan TB-nya? Emangnya lagi ujian masuk sekolah kedinasan?

Mayang: Hehehe. Kan biasanya anak Friendster dan mIRC begitu, mbak.

Mbak Okky: Oh, maaf. Saya bukan tim kedua medsos tersebut. Jadi awam.

Mayang: Emang Mbak Okky mainnya medsos apa?

Mbak Okky: Yahoo Koprol sama Nimbuzz.

Mayang: Hm... Umur memang nggak bisa bohong.

Mbak Okky: APA KAMU BILANG?!?

Mayang: Eh, maap, mbak. Canda. Hehe. Gimana kalau kita lanjut ghibahin buku mbak aja? Keburu musim dingin ini. Saya harus hibernasi.

Mbak Okky: Oke. Btw, kamu juga dari Jawa Timur ya? Logatnya sama.

Mayang: Ah, iya, mbak. Saya orang Kediri. Dulu sempat KKN di Magetan. Sekarang domisili Solo. Kenapa? Terlihat anggun ya karena udah lama tinggal di Solo?

Mbak Okky: Enggak. Masih petakilan.

Mayang: *manyun* Baik. Oh iya, mbak mau minum atau  ngemil apa? Saya siapin dulu.

Mbak Okky: Air putih aja.

Mayang: Yakin? Nggak mau Okky Jelly Drink nih biar sesuai dengan nama mbaknya?

Mbak Okky: AIR. PUTIH. AJA.

Mayang: Oke. Baiklah. *brb ngambil segelas air putih*

Mbak Okky: *nungguin*

Mayang: Ini mbak.

Mbak Okky: Makasih.

Mayang: Yuk, lanjut, mbak. Kita ghibahin Kerumunan Terakhir.

Mbak Okky: Ayo!

Mayang: Ini adalah buku Mbak Okky yang pertama kali saya baca loh, mbak. Saya belum baca yang Entrok dan Maryam. Juga buku anak-anak yang baru rilis. Saya bacanya nanti aja nggak papa ya. Soalnya ini buku yang paling relate dengan isi kepala saya.

Mbak Okky: Nggak papa. Memangnya apa isi kepala kamu?

Mayang: Saya udah nggak main medsos, mbak. Sama seperti di bagian akhir buku ini. Jay dan Maera berusaha mencari kehidupan tanpa medsos kan?

Mbak Okky: Oh, betul. Kenapa gitu?

Mayang: Karena banyak hal. Mbak kalau penasaran, bisa baca tulisan saya di sini deh.

Mbak Okky: Nanti ya kalau nggak sibuk.

Mayang: Oke, mbak. Lanjut. Terus kenapa Mbak Okky memilih judul Kerumunan Terakhir? Adakah suatu kejadian yang menyebabkan mbak ingin menamainya demikian?

Mbak Okky: Karena saya sedang konsen ke isu humanis dan pengaruh media sosial di kehidupan manusia sekarang sangat besar. Orang bahkan memilih untuk membaca komentar di medsos daripada membaca buku atau koran. Zaman udah berubah, May.

Mayang: Hm... Jadi begitu. Waktu saya membaca Kerumunan Terakhir, mbak tau nggak yang saya ingat pertama kali? Itu tuh. Novelnya Roy Saputra yang judulnya Ikan-ikan Mati. Itu juga membahas isu sosial dan dampak media digital, mbak.

Mbak Okky: Oh, ya? Bedanya apa dengan buku saya?

Mayang: Kalau di Ikan-ikan Mati, Roy Saputra membawa dampak media sosial pada perubahan dunia. Semuanya serba digital. Transaksi apa pun no cash dan latar belakang waktunya diambil di tahun 2050-an. Jadi ngambil setting di masa depan gitu. Isi ceritanya diperkuat dengan adanya unsur start-up dan perusahaan perangkat lunak lainnya.

Mbak Okky: Jadi bukunya lebih modern daripada buku saya. 

Mayang: Betul. Kerumunan terakhir mengambil setting masa kini. Seorang pemuda gaptek yang berasal dari desa dan pergi ke ibukota. Di sana ia mengenal internet dan menjelajahi kerumunan di tiap media sosial untuk merenung, menangis, dan tertawa. Premisnya beda. Tapi sama-sama mengambil tema dampak media sosial di kehidupan manusia.

Mbak Okky: Hm... Bagus juga. Kalau boleh tau, dari sekian banyak tokoh yang saya tulis di novel Kerumunan Terakhir, siapa karakter yang paling kamu sukai?

Mayang: Sejujurnya nggak ada karakter yang saya suka, mbak. Saya kesal dengan semuanya. Baca buku ini membuat saya geregetan dan gemas dengan tingkah laku Jay yang pemalas dan Maera yang terlalu ambisius dalam menjalani hidup. Tokoh lain juga sama aja. Ngeselin.

Mbak Okky: Hehe. Berarti saya berhasil dong bikin pembaca kesal.

Mayang: Iya, banget! Tapi saya suka dibikin kesal oleh Kerumunan Terakhir. Di beberapa babnya bahkan saya sempat bengong dengan narasi yang mbak tuliskan karena itu benar-benar menggambarkan apa yang ada di masyarakat kita sekarang. Mengunggah foto kontroversial dengan kolom komentar yang pro dan kontra. Memperoleh banyak pengikut. Membuat konten viral. Intinya, semua orang bisa menjadi terkenal jika mereka mau.

Mbak Okky: Betul sekali.

Mayang: Btw, mbak. Nama tokoh "aku" baru disebut tokoh Maera di halaman 82. Penantian cukup lama sampai saya tau nama Jayanegara. Itu kenapa? Apa karena dibawakan dari sudut pandang orang pertama sehingga Mbak Okky sengaja menyimpan nama tokoh utamanya sampai di halaman tersebut supaya kita bertanya-tanya. Gitu ya?

Mbak Okky: Sebenarnya nggak juga. Saya pengin ceritanya ngalir dulu sampai timbul percik-percik konflik. Kan sudut pandang orang pertama bisa mengambil alih porsi utama cerita. Kalau namanya baru disebutkan tokoh lain di pertengahan bahkan di belakang, nggak akan jadi masalah. 

Mayang: *manggut-manggut* Oh, begitu.

Mbak Okky: Iya. Terus, saya mau nanya. Bagian cerita mana yang paling kamu suka?

Mayang: Hm... Ini agak sulit karena ada beberapa adegan dalam novel yang saya ingat betul. Pertama, saya suka saat Jay akhirnya nekat ke kota dan mengenal internet. Tokoh Jay yang gaptek menjadi pribadi ksatria di dunia maya; social justice warrior. Dia nggak pernah absen Twitwor. Perubahan pribadi Jay di sini kentara banget sehingga saya jadi menyadari bahwa media sosial segitu berpengaruhnya ke psikis seseorang.

Kedua, saya suka waktu Maera hijrah ikut mainan medsos dan nulis cerita dewasa. Gaya hidupnya berubah. Pemikirannya semakin liar. Membuat saya mikir kalau gaya hidup  dan pemikiran seseorang amat ditentukan dengan apa yang dia lihat di internet. Ketiga, saya suka ending-nya. Saya suka bagaimana Mbak Okky menutup novel ini dengan pengungkapan rahasia antara Jay dan Maera. Tentang siapa tokoh SJW di medsos yang Maera sukai: Matajaya dan Akardewa. Novel ini salah satu yang kalau dibaca, akhirnya bikin lega. Meskipun Mbak Okky tetap mempertahankan rasa penasaran pembaca.

Mbak Okky: Di bagian akhir memang konflik Maera dibiarkan seperti itu. Hehe. Biar gemas.

Mayang: Saya memang gemas! Nggak ngira kalau semua premis sebab-akibat dan hubungan terang-gelap Jay dengan bapaknya akan menjadi kunci konflik. Itu brilian, Mbak. Main medsos selain mempermudah kehidupan, memang bisa menjadi bumerang di masa depan. Konsumsi digital masyarakat kita jadi mempengaruhi betul karakter mereka dalam keseharian.

Mbak Okky: Karena setelah dipelajari, manusia cenderung suka terpengaruh dengan lingkungan. Jadi apa yang mereka konsumsi menggunakan panca indera, itulah yang membentuk karakter mereka. Terlepas unsur "bawaan orok" yang mereka miliki. 

Mayang: Setuju! Dan kalau semua hal yang kita alami diumbar dengan mudah di media, orang lain akan mengonsumsi konten kita. Apa yang kita unggah di media, udah bukan milik kita lagi. Tapi milik semua orang yang melihatnya.

Mbak Okky: Padahal di luar negeri, ngambil konten orang itu harus izin loh. Nggak boleh sembarangan. Di negara kita seakan main comot aja buat berita.

Mayang: TERUS DITULIS PAKAI JUDUL KLIKBAIT. HIYA HIYA HIYA!

Mbak Okky: Hehehehe. Betul.

Mayang: Buku ini harus dibaca banyak orang sih, mbak. Menurut saya. Karena buku ini bisa menjadi renungan terhadap penggunaan media sosial di masyarakat. Pentingkah mengunggah ini dan pantaskah mengirim itu. Sayang banget sekarang media sosial justru menjadi ajang berkerumun dan menonton keributan digital.

Mbak Okky: Itulah hidup. Selalu penuh ironi.

Mayang: Ashiap, mbaaak.

Mbak Okky: Btw, kutipan mana yang paling ngena di kamu, May?

Mayang: Oh, saya paling suka kutipan di halaman 172, mbak. Mbak Okky menulis "Betapa pentingnya semua itu bagi mereka. Betapa kasihannya anak-anak muda zaman sekarang ini. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah dibuat haus perhatian. Semua ingin disukai, semua ingin punya banyak pengikut, semua ingin terkenal dan dikenal. Apa lagi yang menyedihkan selain menggantungkan kebahagiaan kita di tangan orang?"

Mbak Okky: Wah, sama. Saya juga suka bagian itu.

Mayang: TOS SINI, MBAK!

Mbak Okky: TOS!

Mayang: Saya jadi ingat, saya dulu pernah bikin puisi dan judulnya ada kerumunannya juga, mbak. Di situ saya menyoroti orang-orang yang hobi banget kalau ada kerumunan. Penasaran dan kepo. Tapi mereka cuma nonton dan bikin konten untuk diunggah. Nggak bantuin semisal rame-ramenya karena kecelakaan atau pencurian.

Mbak Okky: Itu yang membuat saya mempertanyakan kemanusiaan kita sekali lagi.

Mayang: Iya. Huhu. Ngomong-ngomong, terima kasih udah mau diajak buat ghibahin buku ya, mbak. Overall, saya suka buku mbak yang ini. Nanti saya mau beli buku-buku yang lain, ah!

Mbak Okky: Terima kasih kembali, May. Sukses terus.

Mayang: Mbak Okky juga semoga selalu bahagia dan terus berjuang untuk kepentingan humanisme di Indonesia. Sukses terus juga, Mbak Okky!

--- [] ---

"Manusia di Kerumunan"

Lalang lalang
Lalu lalang

Kejadian menegangkan
Membuat orang penasaran
Menjulurkan pikiran
Menjulurkan otak dan perasaan
Kecelakaan

Kerumunan
Menciptakan pembeda
Antara manusia berhati nurani
Dan manusia yang tak peduli

Kerumunan
Menciptakan sekat nyata
Antara manusia sejati
Dan manusia arloji

Kerumunan
Lalu lalang
Manusia penasaran

MDT - 01 01 16

0 Comments