Beberapa waktu yang lalu saya nemu versi orkestranya lagu-lagu Bring Me The Horizon dan selama seminggu tanpa henti saya muter itu terus sampai download offline-nya di Youtube. Sejak itu, saya jadi suka nyari-nyari cover-an lagu punk dan rock yang diaransemen dengan sentuhan orkestra atau paduan suara. Lagu cadas kayak gitu kan bikin merinding dan olahraga ya (headbang anjir). Kalau dibikin orkestra, ternyata sensasinya beda sekali. bosque ~

Lagu-lagu BMTH seperti True Friends, Sleepwalking, Avalanche, Throne, dan Drown  menjadi lebih smooth tapi tetep teriak-teriak dengan iringan vokal latar. Makanya di postingan ini saya sisipkan supaya kalian teracuni lagu-lagu BMTH juga. Hehehe.


(Bring Me The Horizon - Orchestra and Choir Live Concert)

Berhubung lagu-lagunya BMTH selalu berisi pesan tentang pemberontakan jiwa dan raga (berat bats bahasanya), maka cocok untuk menemani tulisan tentang buku kali ini. Berikut adalah lima buku dari penulis rebel yang legendaris; siapa lagi kalau bukan George Orwell. Karena beberapa bukunya booming di Indonesia akhir-akhir ini, sekalian saya mau bahas lima dari total karyanya yang paling mencelus dan memantik gejolak para penikmat sastra.

EEEAAAAAA. 

Mari disimak ji ulasannya. Siapa tau bisa jadi rekomendasi bacaan baru bagi kamu yang mau hijrah menuju jalan vegan tanpa daging sebagai kudapan sehari-hari.

HIDUP ANIMAL FARM!

--- [] ---

1. Animal Farm - 1945


Selain lucu karena banyak babinya, buku ini membuat saya terseok-seok ketawa saat para binatang dimanusiakan oleh Orwell dan membuat revolusi. Novel Orwell yang ini udah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Pantesan setahun belakangan banyak banget rame dibicarakan oleh orang-orang. Yang paling saya suka dari Animal Farm adalah saat para binatang demo dengan berteriak "Kaki empat baik, kaki dua jahat!" selama berhari-hari.

Itu epic sih.

Personifikasi yang ditulis Orwell seperti menyentil orang-orang pemerintahan di zamannya. Buku ini penuh sarkasme, sinikal, dan perenungan. Bacanya bikin ngakak dan haha-hehe secara bersamaan. Oh iya, bukunya tipis kok. Cuma 144 halaman aja. Jadi bisa dibaca dalam waktu dua jam sambil ngopi dan menunggu dosen datang, misalnya.

2. 1984 - 1949


Novel ini sekilas mirip The Simpson yang bisa meramalkan masa depan. Ditulis pada tahun 1949, George Orwell mengambil latar belakang tahun 1984 pasca perang dunia kedua. Kalau dibaca, seperti baca ramalan yang terbukti semua di tahun 1984. Saya sampai bolak-balik ngecek berita dan fenomena yang ada di tahun tersebut apa aja (karena aq tu penasaran aq tu kok bisa kejadian semua ini Orwell cenayang apa bukan sih? hahaha). Tokoh Winston yang ada di dalam buku ini menjadi pentolan pemberontak bermata dua. Saya suka sekaligus benci dengan karakternya. Suka karena dia rebel dan pemberani, benci karena dia naif.

Bimbang lah pokoknya.

Buku ini terasa sedikit "kiri" sehingga cocok dibaca oleh kamu yang suka dengan Leila S. Chudori, Eka Kurniawan, maupun Ayu Utami. Sosok-sosok yang ada di dalamnya mengingatkan saya pada tokoh seperti Tan Malaka dan Soe Hok Gie. Salah salah, kita bisa mendapatkan paham yang keliru. Makanya buku ini harus dibaca dengan pelan dan pikiran yang ringan. Juga open-minded karena jika tidak, kita bisa ikutan menghujat buku ini sebagai pelopor aliran "kiri". Melalui 1984, Orwell menjadi salah satu penulis terbaik sepanjang masa.

3. Down and Out in Paris and London - 1972


Salah satu ciri khas dari buku-buku Orwell adalah selera humornya yang tinggi. Terlepas dari banyaknya satir dan sarkas yang dituliskan berdasarkan buah pemikirannya, Orwell benar-benar seorang pribadi yang senang bercanda. Kalau Animal Farm membuat saya terpingkal-pingkal dengan lawakan ala babi, Down and Out in Paris and London membuat saya tertawa karena isinya menertawakan diri sendiri. Iya, si karakter adalah orang yang suka menertawai dirinya sendiri. Rasanya saya seperti melihat sosok Orwell difiksikan di novel ini. Dan ya, di beberapa artikel, Orwell mengaku demikian. Jadi nggak heran lah. Hehe.

Bikin gemas.

Di sini, Orwell bukan bermain dengan politik. Tapi lebih berputar pada sosial dan masyarakat. Tokoh utamanya adalah seorang penulis yang melanglang buana di Paris dan London untuk mencari inspirasi. Di perjalanannya, ia menemukan bahwa kehidupan tidak segampang makan-tidur-buang air. Ada esensi yang lebih dari itu. Sisi humanis dan humoris Orwell kuat sekali muncul di bab-bab menjelang akhir. Benar-benar buku yang bagus untuk ditamatkan. Oh iya, buku ini cukup ringan ya. Hanya 200 halaman. Jadi bisa cepet selesai dibaca.

4. Homage to Catalonia - 1980


Sebagai buku sejarah dan biografi, Homage to Catalonia harus saya acungi sebelas jempol (satunya minjem) karena saya seperti membaca real-time headline news di buku ini. Usut punya usut, ternyata Orwell memang pergi ke perang sipil di Spanyol dan ia tellribat pada kudeta yang mengusung paham fasisme. Orwell melaporkannya dalam lembaran harian yang lalu dibukukan menjadi buku Homage to Catalonia. Bagi yang sedang ingin belajar sejarah komunis, buku ini adalah buku yang cocok menjadi pengantar untuk menjelajahi tema tersebut.

Asal jangan ikutan pahamnya.

Jika ingin skip keseluruhan bukunya karena kamu merasa terlalu "kiri", jangan khawatir. Saya merekomendasikan untuk membaca bab lima dan sembilan aja. Itu udah lebih dari cukup untuk mewakili isi bukunya. Di sini, terlihat sekali bahwa buku-buku Orwell dipengaruhi oleh paham yang dianutnya. Tapi di sisi lain, ia cerdas dalam menyajikan sehingga yang terlihat hanyalah plot cerita yang menegangkan dan penuh pemberontakan.

5. A Life in Letters - 2010


F. Scott Fitzgerald, John Steinbeck, dan Anton Chekov menulis buku biografi mereka dengan bentuk surat. Buku mereka masing-masing berjudul sama: A Life in Letters. Dan ternyata, George Orwell punya buku berjudul sama. Emang kayaknya semua penulis besar signet punya buku biografi beginian deh ya. A Life in Letters diterbitkan tahun 2010 dan diedit oleh Peter Hobley Davidson. Buku ini menceritakan kisah hidup Orwell yang harus berjuang mati-matian melawan masalah di hidupnya (dia memang suka nantangin masalah!).

Nggak ada kapoknya.

Orwell sempat memiliki luka di tenggorokan dan harus berjuang melawan TBC. Semua pahit manis Orwell dalam berjuang dan menulis diceritakan di buku ini. Karena kawan koresponden Orwell banyak sekali, maka buku ini dibagi menjadi beberapa bab. Ada bab paling saya suka: bab tentang pseudonim dan konsepnya yang dianut Orwell.

--- [] ---

Orwell merupakan salah satu penulis yang paling digemari pembaca di seluruh dunia. Tulisannya klasik dan sarat pengetahuan. Beberapa bukunya ada yang melibatkan emosi banget sih (ya namanya juga penulis), tapi banyak juga yang murni menceritakan fenomena dan peristiwa di zaman dulu. Selain pintar dalam merangkai cerita, Orwell juga brilian dalam membangun karakter di setiap bukunya (kecuali yang buku biopik ya).

Kalau di Indonesia, penulis yang sering di-"Orwell-Orwell"-kan adalah Eka Kurniawan. Ada pendapat kontra yang menentang bahwa Eka Kurniawan porsi menulisnya memang begitu. Eka ya Eka. Orwell ya Orwell. Sementara kaum pro akan bilang bahwa "rasa" dan "pembawaan" pada tulisan Eka banyak mengambil dari buku-buku Orwell.

Ya, kita nggak tau yang benar yang mana. Kadang-kadang membaca buku begini nggak perlu memperdebatkan latar belakang dan sudut pandang penulisnya. Lebih mudah dan indah kalau kita hanya menikmati isinya. Bukan begitu?





Images are taken from:
https://www.gq.com/story/1984-book-sales-kellyanne-conway
https://www.seriouseats.com/2017/10/the-food-lab-reading-list-down-and-out-in-paris-and-london.html
https://aleaway.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2018%2F06%2Fbooks-set-in-spain-homage-to-catalonia
https://www.hamhigh.co.uk/etcetera/books/george-orwell-a-life-in-letters-and-diaries-1-5260052
https://www.penguin.co.uk/books/177/177353/george-orwell--a-life-in-letters/9780141192635.html

0 Comments