Jadi pekerja serabutan kuncinya adalah satu: harus banyak sabarnya. Keputusan resign dari sekolah dulu sempat menjadi hal yang membuat saya mengalami titik balik. Saya merasa jadi sampah dan membuang murid saya; meninggalkan pengabdian. Di sisi lain, saya butuh duit. Gaji honorer udah sering jadi perdebatan di media sosial. Jadi saya nggak akan curhat lagi di sini. Setelah itu, saya mencoba banyak pekerjaan. Sampai kalau ditanya orang yang nggak benar-benar kenal, saya lebih baik menjawab kalau saya pengangguran.

Jadi guru les yang menyisir jalanan sampai malam tetap saya pertahankan karena saya tetap butuh mengajar. Biar nggak pikun sama materi. Ehe. Terus sekarang kerja di kantor penerjemah sebagai penerjemah lepas Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris dan sebaliknya. Hal yang paling ngehe--dan menyita kesabaran lebih--adalah saat klien nawar translate-an kayak nawar cabe di pasar. Mereka cut off tarif dan mengejar saya sampai mampus. Kalau nggak cocok, biasanya mereka membandingkan dengan tarif translate di tukang fotocopy.

PADAHAL KAN DI SONO PAKAI ENGINE.

Saya manual, Jubaedah.

Selain itu, sempat nyoba jualan buku juga di salah satu marketplace. Jualan juga harus sabar. Ada yang udah nanya-nanya dan nggak jadi beli, ada yang minta diturunin berat bukunya biar ongkirnya murah, ada yang nawar seratus ribu dapat tiga padahal harga bukunya masing-masing lima puluh ribu, dan banyak kejadian aneh lainnya. Yang paling lucu, pernah ada pembeli yang semalaman ribet mau beli ini dan itu tapi nggak jadi karena ongkirnya mahal. Disuruh pakai jasa pengiriman yang murah nggak mau karena pengin bukunya nyampe cepet buat unboxing. Eh, besoknya buku yang dia mau dibeli orang. Dan dia marah-marah.

*pura-pura mati*

Kadang kalau senggang, saya menulis artikel SEO dengan keyword sama yang diulang-ulang. Pernah saat itu nulis niche food lima puluh artikel dan saya cuma diberi waktu satu bulan. Yang baru-baru ini, saya juga menulis dengan tema pregnancy sebanyak 104 artikel yang membuat saya mentok sampai nangis-nangis karena bosan. 

Kalau sedang mentok ide dengan kerjaan tulis menulis, saya selalu mengingat-ingat tiga hal tentang writers' block.

Twenty One Pilots: I do not have writers' block. My writer just hates the clock.

Okky Madasari: Writers' block hanyalah mitos. Writers' block terjadi karena kurangnya riset sebelum dan saat menulis.

Azizah: Writers' block adalah kondisi malas, lelah, dan mentok ide yang jika dipaksakan akan menjadi tulisan yang belepotan.

Terlepas dari writers' block itu beneran ada enggak, saya menemukan seorang penulis yang lincah dalam merangkai kata-kata. Nggak tau isi kepalanya apa tapi dari tiga buku yang udah saya baca, tiga-tiganya berbeda dalam segi struktur dan gaya bertutur. 

Seorang penyuka lontong sayur, dongeng anak-anak, dan babi.

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

--- [] ---


Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 240 halaman

Tema cerita dari buku Di Tanah Lada adalah: a kid with broken-home background. Ava--panggilan untuk Salva (atau Saliva karena papanya menganggapnya nggak penting seperti ludah)--adalah seorang anak umur enam tahun yang usianya seperti tujuh belas tahun. Karakter Ava mengambil peran utama dalam novel ini sehingga Di Tanah Lada mengambil sudut pandang orang pertama. Dari situ jadi kelihatan bahwa Ava seperti bukan anak kecil umur enam tahun dalam menghadapi masalah-masalah di hidupnya. Ia kerasukan si penulis.

Namun paparan di atas sama sekali nggak mempengaruhi rasa cinta saya pada buku ini.

Saya. Suka. Buku. Di Tanah Lada.

Dan saya dengan pasrah jatuh cinta pada Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Ada beberapa hal yang saya ulas di sini. Pertama, pembawaan Ziggy dalam membentuk karakter utama. Dengan sudut pandang orang pertama, saya jadi bisa menyelami isi kepala Ava--selaku karakter utama--sekaligus Ziggy; penulis dari buku ini. Ziggy mungkin udah baca-baca tentang banyak kasus broken home sebelumnya dan menciptakan karakter Ava yang luar biasa menakjubkan. Dia anak-anak dengan usia remaja. Entah kenapa emosi Ziggy seperti tersisip di situ secara tersirat dan tersurat. Kadang-kadang di bagian tertentu, saya jadi merasa Ziggy mengalami hal itu di masa kecilnya terutama saat Ava marah dan menangis.

Saya juga jadi ketularan benci pada karakter papa Ava yang hobi judi tapi nggak menang-menang. Buang-buang duit aje lu, Jaenudiiin ~

Ibarat nonton sinetron Tersanjung, saya ingin masuk ke dalam buku dan menggampar papa Ava pakai balok kayu. Saya dibuat kesal oleh karakter itu. Ziggy pintar banget mempermainkan emosi pembacanya dengan karakter papa yang berengsek.

Saya paling suka bagian di mana Ava dan P makan lontong sayur waktu mereka mau minggat menuju stasiun. Juga momen saat keduanya memperdebatkan M. Poirot. Apakah M itu singkatan dari Muhammad seperti kebanyakan nama orang. Saya juga suka percakapan-percakapan kecil mereka membahas romantisme. Maaf untuk sedikit spoiler-nya tapi Ziggy seperti mengatakan bahwa anak kecil menemukan cinta mereka pada hal tak terduga.

Ava adalah anak berumur 6 tahun yang bertemu P berumur sepuluh tahun. Keduanya sama-sama broken home, menemukan kecocokan saat bermain bersama, dan dengan gampangnya minggat dari orangtua masing-masing untuk menuju tanah lada. Seperti menampar kasus-kasus orang dewasa yang jatuh cinta tapi nggak mau berjuang dengan pasangannya.

Tapi, Ziggy, mereka masih anak-anak!

Saya sangat cinta bagaimana mereka digambarkan sebagai dua anak dengan masalahnya masing-masing. Bagaimana masalahnya dibangun dengan rapi. Sampai halaman 238, saya hampir selalu menahan diri dan bersyukur lega bahwa ceritanya mulai membaik dan bagus. Meskipun nggak ada masalah klimaks, karakter dari buku ini sudah klimaks di tiap penggambaran emosinya. Dan latar belakangnya, tentu saja. Dan di saat saya udah mikir "wah, bagus nih akhirnya", Ziggy malah mengakhiri buku ini dengan cara di luar dugaan!

KENAPA, YA TUHAAAAAN, KENAPAAAAA?

MAAF, ZIGGY, IZINKAN AKU MEMBANTING BUKUMU!

*bruk*


You got me!

Ending bagus menurut saya bukan ending yang happy. Tapi ending yang masuk akal. Dan Di Tanah Lada nggak memiliki ending yang masuk akal. Saya kayak membaca buku The Boy in Stripped Pajama dan The Book of Lost Things secara bersamaan.

Tapi di sisi lain, berarti Ziggy berhasil membuat saya ternganga dan melongo karena saya sebenarnya suka dengan cerita-cerita semacam itu. Hanya saja, cara Ziggy menyampaikannya itu loh. Seperti saya seekor ikan yang udah dikasih pancing, saya udah makan umpannya, dan dia menarik saya ke atas sampai kerongkongan saya koyak oleh kailnya. Tapi begitu saya terluka dan megap-megap di permukaan air, Ziggy melepaskan saya kembali ke lautan.

WHAT THE HELL, ZIGGY?

Selain akhirnya, saya kurang suka karakter Ava yang masih enam tahun tapi kelewat dewasa dan terlampau cerdas untuk anak seusianya. Dia menggunakan kepolosannya dengan berani. Kayaknya anak sekarang nggak ada yang sampai seperti itu deh mikirnya. Nggak realistis. Dan poin-poin selebihnya saya suka. Secara keseluruhan, saya suka buku ini karena saya menemukan sisi lain dari cerita anak-anak broken home. Mungkin kalau nanti saya membaca ulang, saya akan menyukainya karena sebenarnya saya suka tema ceritanya.

Deep and dark children stories dengan ending yang twist abis.

Jadi, semua orang adalah satu orang. Kata Mas Alri, makanya setiap kamu melukai orang, kamu melukai diri sendiri juga. Dan, setiap kamu membuat orang senang, kamu membuat kamu sendiri senang. - hlm. 141

--- [] ---


Judul: Jakarta Sebelum Pagi
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 270 halaman

Pertama, saya jatuh cinta dengan semua sub judul yang ada di buku ini. Beda dengan buku-buku yang lain, Ziggy memiliki isi pikiran yang menurut saya unik dan nyentrik dengan caranya sendiri. Salah satu sub judulnya yaitu "Saat Bahkan Lontong Sayur Pun" membuat saya tergelitik untuk membacanya duluan padahal saya baru selesai membaca bab pertama. Saya suka lontong sayur dan saya setuju gagasannya bahwa lontong sayur dapat memadamkan emosi jiwa. Oke, ini aneh. Tapi saya suka dengan pikiran-pikiran Ziggy di buku ini.

Menceritakan tentang Emina--bukan merek kosmetik--yang memiliki stalker issue dan malah berlagak seperti detektif untuk menemukan siapa orangnya. Orang yang mengirimkan bunga-bungaan dan surat dengan awalan "B.A.R." alias burn after reading dari masa lalu. Emina menjalani harinya dengan analogi babi-babian yang menurut saya lucu karena penulis sepertinya sedang suka dengan novel Animal Farm karya George Orwell.

Call me nuts but I like that.

Baru ini saya saya ketawa-ketiwi membaca pemikiran seseorang yang membahas babi. Padahal beberapa waktu lalu saya gondok karena mendapatkan kupon makan di kedai babi padahal saya sedang butuh coto Makassar. Dan Ziggy dengan brilian, sekali lagi, menggunakan analogi babi yang tepat guna dalam menggambarkan semua teman-temannya. 

Membuat saya ingin berteriak, "ZIGGY, TOLONG KATEGORIKAN AKU SEBAGAI BABI!"

Novel ini bernuansa komedi-romantis. Ada dramanya juga. Sebenarnya saya berharap lebih agar Ziggy agar proses pencarian stalker ini memiliki efek-efek seperti thriller atau cerita detektif. Tapi sepertinya saya terlalu berharap lebih. 

Sensasi geregetan dan gemas karena Emina ngeyel menantang creepy stalker ini hanya ada di lima bab pertama. Bab-bab selanjutnya terasa hambar. Saya juga suka dengan karakter Suki--anak kecil penjual bunga, teh, dan kue yang merangkap anak pemilik apartemen di mana Emina tinggal--karena dia bawel, cerdas, dan terlihat dewasa sebelum usia. Bahkan dia sepertinya lebih dewasa daripada Emina dan ini membuat saya kurang nyaman.

Emina seperti tokoh penuh rasa ingin tahu yang tinggi tapi kurang cerdas dalam menghadapi hidupnya. Suki seperti memegang kendali penuh dan... Hey! Karakter utamanya kan Eminaaa. Bukan Sukiii. Tapi porsinya kenapa banyakan Suki?

Yang saya suka dari buku ini, kamu akan dibawa jalan-jalan oleh Emina dengan petualangannya bersama Nissa, Suki, dan stalker-nya yang bernama... Rahasia. Hehe. Serius, buku ini harus dibaca! Jangan menyia-nyiakan tulisan penulis out of the box seperti Ziggy. Seenggaknya bacalah satu bukunya dalam sisa waktu hidupmu.

Dari buku ini, saya tahu bahwa Ziggy adalah salah satu penulis dengan kekayaan literasi dan film yang paling banyak yang pernah saya tahu. Tulisannya di Jakarta Sebelum Pagi banyak dipengaruhi cerita-cerita seperti Silence of the Lamb, Doctor Who, Scott Pilgrim Vs The World, dan banyak referensi lain tentang upacara minum teh.

Oh, nama karakter dalam buku ini aneh-aneh. Dan saya suka itu!

Kadang-kadang orang membaca buku supaya dikira pintar. Lalu mereka membaca buku sastra terkenal, buku yang mendapat penghargaan. Dan meskipun mereka nggak menyukainya, mereka mengatakan sebaliknya karena ingin dianggap bisa memahami pemikiran sastrawan kelas atas, ini adalah bodoh. Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar; bacalah karena kamu mau membaca; dan dengan sendirinya kamu akan pintar. - hlm. 72

--- [] ---


Judul: Semua Ikan di Langit
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 260 halaman

Saat pertama kali membaca buku ini, saya langsung teringat pada serial Tayo dia bis kecil ramah melaju melambat Tayo selalu senang. Tolong jangan gampar saya. Tapi beneran saya ingatnya itu. Karakter utama dalam buku ini adalah bis yang memiliki trayek Dipatiukur-Leuwipanjang. Dan pada akhirnya, si bis bertemu dengan sosok Beliau untuk mengarungi angkasa dengan ditemani ikan julung-julung. Berpetualang dalam kehidupan.

Dari julukan semantik "Beliau" yang dipaparkan Ziggy di dalam buku Semua Ikan di Langit, saya mulai paham kalau buku ini adalah buku tentang interpretasi Tuhan. Di bab-bab awal saya kurang ngeh maksudnya apa sih kok ada bis kota yang jalan-jalan ke angkasa ditemani kecoa dan anaknya yang berupa ikan julung-julung. Lalu makin ke belakang, makin saya paham bahwa Ziggy berusaha meraba apa itu Tuhan dan bagaimana memaknainya.

Seperti imajinasi kita waktu kecil, saat kita pertama kali diajak beribadah, kita pasti bertanya kenapa dan bagaimana. Kenapa harus menyembah Tuhan? Kenapa beragama? Tuhan itu apa? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang kadang membuat orangtua kita mengeluh saat menjawabnya. Namun berbeda dengan buku-buku yang membahas hal tentang keimanan dan ketuhanan seperti di tulisan saya ini, Ziggy dengan gaya nyentriknya menulis sesuatu yang membuat pembacanya terheran-heran. Buku ini penuh dengan kontemplasi.

Buku ini kayak gabungan dari Tottoro, Le Petit Prince, dan Maya sekaligus. Dibandingkan dua novel sebelumnya, otak saya kayak diubek-ubek oleh Ziggy lewat buku ini. Saya bingung, takjub, miris, senang, sedih, dan ketawa surem sampai akhir bukunya.

Sekali lagi, Ziggy membawa periode kepenulisannya pada level yang berbeda.

MAKANAN KAMU SEHARI-HARI APA SIH, ZIGGY?

Meskipun ada setengah bagian dari bukunya yang terasa surealis banget sampai membuat saya mual saat membaca, tapi buku ini berada di porsinya. Saya yakin Ziggy menulis buku ini berdasarkan imajinasi dan pikiran liarnya saat masih kanak-kanak tentang apa itu Tuhan. Karena dulu saya juga memiliki rasa penasaran yang sama.

Ide bis Tayo dan kecoa yang mendampinginya, juga ikan julung-julung yang selalu merasakan perubahan pada tokoh Beliau, membuat saya nggak berhenti berdecak dan bertanya. Sebenarnya Ziggy ini kenapa sih? Isi kepalanya apa? Kok bisa wawasan literasi dan ceritanya begini luas. Dia baca buku berapa banyak setiap minggu? Dia namatin serial film atau nonton movie berapa banyak dalam sebulan? Kok bisa nulis beginian.

Otak saya bahkan nggak nyampe di beberapa bagian tulisannya.

Saya paling ingat di bagian saat Nad si kecoa harus mati digencet batu karena meragukan Beliau. Bis Tayo ingin menangis tapi nggak bisa. Akhirnya Beliau memberikan kesempatan pada bis Tayo untuk menangis dan air matanya menjadi bunga.

Dan lagi, dibandingkan buku Di Tanah Lada dan Jakarta Sebelum Pagi, novel Semua Ikan di Langit menggunakan bahasa yang cukup baku tapi variasinya banyak. Maka wajar kalau novel ini menang juara satu di sayembara Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2016. Kalau Di Tanah Lada dulunya juara dua di sayembara yang sama di tahun 2014. 

Ada beberapa kalimat justifikasi dan judgemental yang dituliskan Ziggy pada bab-bab setelah halaman seratus. Dan sejujurnya saya kurang menikmati itu. Alih-alih membiarkan kita berimajinasi tentang bagaimana Beliau menanggapi ciptaannya, saya seperti membaca opini Ziggy yang sedikit sinikal dan sarkasme pada manusia.

Di tiga bab terakhir, Ziggy mengarah pada peristiwa munculnya Dajjal (mungkin?) karena muncul tokoh yang memiliki karakter berkebalikan dari Beliau. Saya dibuat menangis saat Beliau akhirnya menangis kehilangan bis Tayo tua kesayangannya.

Lalu ending-nya. Kalau buku Di Tanah Lada dan Jakarta Sebelum Pagi membawa saya pada kelegaan dan pelepasan di akhirnya, maka Semua Ikan di Langit kebalikannya. Saya malah makin bertanya-tanya karena merasa nggak terpuaskan. Sebagai orang yang benci cliffhanger dan disclosure---tapi cinta spoiler wkwk--saya nggak bisa nangkap maunya Ziggy apa. Buku ini jadi nggak ubahnya seperti Le Petit Prince dalam pendekatan filosofis. Dongeng anak-anak yang dibikin supaya pembacanya mikir dan merenung. Kalau ada yang bilang buku ini bisa dibaca sambil nyantai-nyantai, jangan percaya. Buku ini "berat" sampai akhir.

Oh, tapi saya suka dengan ilustrasi berwarna buku ini!

Tapi menurut saya, kalau Tuhan mau membuat sesuatu dengan tidak sempurna, dia bisa saja. Dia kan bisa melakukan segala hal; mungkin saja membuat sesuatu dengan begitu sempurna, mungkin saja membuat sesuatu dengan tidak sempurna.  Masalahnya kan manusia saja yang melihatnya dengan cara yang berbeda, membangun opini mereka sendiri tentang apa yang sempurna dan tidak sempurna. Mereka anggap sesuatu ini, anggap sesuatu itu: padahal sebenarnya penilaian mereka itu tidak ada artinya. Sempurna itu hanya konsep buatan, diciptakan karena mereka-kita-suka menilai dan menghakimi satu sama lain. Yah, begitulah manusia! - hlm. 121

--- [] ---

Dari tiga novel Ziggy yang udah saya baca, ada hal-hal yang quirk namun identik dengan isi kepalanya; lontong sayur, babi, dan anak-anak serbatahu. Ada artikel tentang Ziggy yang menuliskan bahwa ia dulunya ingin menjadi penulis cerita anak-anak. Namun karena pasarnya sempit, Ziggy lalu menjadi penulis novel. Rasa dan karsa anak-anaknya masih terasa kental di tiap bukunya sehingga saya menyimpulkan bahwa ia tidak benar-benar meninggalkan passion-nya. Energi anak-anaknya masih membekas di setiap cerita.

Tokoh Suki di novel Jakarta Sebelum Pagi dan karakter Ava di novel Di Tanah Lada menjelaskan semuanya. Dan yang bikin penasaran, Suki dan Ava sama-sama broken home. Ziggy kayaknya suka dengan buku-buku Alice in Wonderland dan The Book of Lost Things beneran. Dia suka anak-anak dan cerita anak. Tapi yang temanya gelap. Di buku Jakarta Sebelum Pagi, alih-alih membahasa versi normal Cinderella yang manis, ia malah membiarkan karakter Emina dan Nissa berdebat tentang versi aslinya. Saudara tiri Cinderella memotong jari kakinya agar muat di sepatu kulit. Bukan sepatu kaca. Ironis dan kritis sekali.

Karakter anak-anak yang dewasa sebelum usia di buku-buku Ziggy agak membuat saya merinding, sejujurnya. Tapi saya penikmat buku dengan tema thriller, jadi saya suka-suka aja. Cuma kadang ngerasa kasihan dan nggak adil pada tokoh anak-anaknya. Mereka semestinya belajar dan bermain tanpa rasa takut. Tapi di tulisan Ziggy, kebahagiaan anak-anak seperti direnggut. Saya jadi mikir sih, apa ini cara Ziggy untuk menyuarakan fenomena masa kini?

Anak-anak sekarang dijejali teknologi terlampau cepat sehingga mereka adaptif dengan kemudahan. Tapi itu juga ngeri karena kehangatan yang muncul saat bermain petak umpet dan berpelukan dengan teman tanpa mikir "gimana caranya naikin level game PUBG" dan "papa mama sayang aku nggak ya" seperti amblas. Hilang ditelan hiruk pikuk gawai. 

Memaksa anak-anak untuk ikut dalam penderitaan orang dewasa sama aja seperti kita memaksakan kepercayaan kita pada orang lain. Atau perempuan muda--yang nggak hamil atau sakit--yang mengomentari laki-laki di gerbong kereta karena laki-laki tersebut nggak mau memberikan tempat duduknya. Atau orang-orang yang menyuarakan emansipasi dan kesetaraan gender karena mereka ingin semua manusia dipandang sama. Tapi kalau laki-laki yang menangis atau sakit di bis kota, perempuan muda sehat nggak mau memberikan kursinya. Sementara saat perempuan yang sakit atau menangis, laki-laki dipaksa mengalah.

Nggak akan benar-benar ada yang namanya kesetaraan gender. Semua udah ada kodratnya. Kita nggak bisa memaksa ikan untuk terbang dan burung untuk renang. Semua udah ada porsinya. Begitu pula peran orang dewasa dan anak-anak di dunia.

Mungkin inilah yang ingin disampaikan Ziggy.

Bahwa anak-anak berhak bebas menjalani dunia nyatanya tanpa memikirkan hal-hal pelik di kehidupan orangtuanya, keluarganya, dan juga dunia maya.

Tiga novel Ziggy juga memiliki rasa dan nuansa yang berbeda. Ziggy benar-benar penulis yang berani bermain, mencoba, dan bereksplorasi dengan banyak sudut pandang, tema, dan struktur. Biasanya kan penulis cenderung menulis dengan gaya yang itu-itu aja. Tapi Ziggy tidak. Dia menokohkan manusia, hewan, dan benda mati.

Di Tanah Lada mengangkat tentang kisah broken home yang diceritakan dari sudut pandang pertama seorang anak-anak. Jakarta Sebelum Pagi memakai sudut pandang orang ketiga dan ceritanya romansa berbalut komedi dan drama. Sementara buku Semua Ikan di Langit merupakan buku spiritual yang ditulis dari sudut pandang orang pertama yang tokoh utamanya adalah bis kota. Lebih tepatnya, bis DAMRI. Benda mati. Ajaib dan unik bukan?

Terakhir, saya mau mencoba menyukai lontong sayur.

Biar bisa mikir seliar dan seimajinatif Ziggy.

*melipir ke warung*

4 Comments

  1. Lengkap banget, May. Bahkan bisa sekalian curhat. Wqwq. Jadi inget kebiasaan saya dulu-dulu (terkadang sekarang juga, sih). Risiko orang jualan kayaknya emang gitu dah. Ada aja calon pembeli yang aneh-aneh. Bilang minat buku itu, jangan kasih siapa-siapa, tapi kok transfernya ditunda-tunda. Sebagai penjual kita mesti tegas ketika ada orang lain yang mau juga. Biasanya bakalan saya kasih jangka waktu sehari penuh buat orang yang udah pesen duluan. Kalo enggak bayar juga, kasih deh ke antrean selanjutnya. Apalagi kondisinya ini betul-betul butuh uang, dan pembelinya bukan temen yang udah kenal deket juga.

    Saya baru pernah bikin satu ulasan buku Ziggy, Jakarta Sebelum Pagi. Itu pun cukup singkat karena dicampur buku lainnya yang saya baca pada 2017. Novel itu dialognya panjang-panjang banget kayak cerita manga. Sempet males gitu, tapi termaafkan karena obrolannya sering bergizi.

    Ziggy bikin narator bus DAMRI itu padahal jauh sebelum Tayo terkenal. Syukur, saya bacanya juga lebih awal. Citranya belum ternodai. Hahaha.

    Salut sama method writing dia karena berhasil melepas bayang-bayang dari novel sebelumnya. Ya, meski kadang-kadang saya heran, pasti ada gagasan atau opini pribadi dia yang terlihat jelas. Jatuhnya kan milik penulis, bukan si tokoh. Halah, sendirinya juga sering, Yog.

    Terus, kenapa selalu ada tokoh anak kecil yang anomali di setiap tulisannya. Atau itu dibikin buat ciri khas? Saya malah enggak kepikiran Ikan di Langit itu referensinya Le Petit Prince. Justru Tanah Lada yang jelas-jelas buku warisan dari ibunya si P. Sayangnya, misteri akan orang tua dia itu ketebak banget. Akhir kisahnya juga bikin teriak, anjing! Saya penggemar kisah yang sedih-sedihan, tapi enggak gitu juga.

    Wah, komentar saya juga panjang rupanya. Udahan, ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku senyum-senyum baca komentarmu yang Tayo Tayo itu. Wkwk. Emang sih udah duluan Ziggy nulis yang bus damri, tapi karena aku bacanya setelah nonton serial tayo, jadi keinget Tayo-nya. Case breakdown Ziggy ini penuh riset dan referensi nggak sih? Hampir di setiap bukunya dia selalu mengeluarkan buku dan film yang udah dia baca. Nggak heran sih dia menang Sayembara DKJ dua kali. Dia punya daya atrik tersendiri. Kalau untuk anak-anak, itu karena dia pernah diwawancara dan ditanya ingin jadi apa dulunya. Dia jawab mau nulis buku anak-anak. Makanya semua bukunya ada unsur anak-anaknya.

      Delete
  2. Semakin banyak membaca, semakin saya menyadari bahwa penulis-penulis yang kita kagumi (hampir selalu) memiliki beberapa kesamaan referensi. Entah di genre komedi atau roman atau apa pun, banyak penulis kenamaan yang menyampaikan hal-hal sama dengan penyampaian yang berbeda. Berarti, saya harus lebih banyak membaca lagi supaya bisa mengejar mereka. Menjadi dewasa itu, rumit, ya, May.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rumit tapi harus dinikmati, Gip. Karena menjadi dewasa adalah bagian dari hidup. Btw, udah baca tiga buku Ziggy ini atau udah baca salah satunya?

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.