Judul: Fisika Vs Yohanes Surya
Penulis: Yohanes Surya
Ilustrasi: Miki Ko
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2018
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 152 halaman

--- [] ---

Betapapun fisika mencoba membagi rahasianya, bagi para ilmuwan, cinta tetap menjadi keajaiban yang menakjubkan. Yang jelas Einstein ingin sekali menghubungkan cinta dan teori terkenalnya, sampai-sampai dia dengan serius berkata: "Letakkan tanganmu di tungku panas selama semenit, rasanya seperti satu jam, duduklah bersama dengan gadis pujaanmu selama satu jam, rasanya seperti semenit. itulah makna relativitas." - Profesor Yohanes Surya

Dan relativitas terhadap umur manusia juga terjadi pada orang dewasa sekarang. Orang dengan usia 20-30 sekarang lebih suka nonton kartun dari zaman mereka masih kanak-kanak daripada tontonan sinetron 17+. Sinetron yang menurut saya masih bisa ditonton adalah Tetangga Masa Gitu yang dulu tayang di NET TV. Sekarang udah tamat sih.

Kartun juga sama. Tiada hari tanpa We Bare Bears sekarang. Pokoknya sebelum ngapa-ngapain seharian, saya harus nonton Grizzly, Panda, dan Ice Bear dulu. Baru setelahnya saya beraktivitas. Kalau nggak gitu, saya bisa bad mood seharian.

Apalagi kalau udah ingat tesis. Wkwk.

Oke, balik ke topik.

Selama ngajar fisika, saya sadar diri kalau fisika adalah mapel yang dibenci anak-anak sekolah. Remidi adalah keharusan. Kalau nggak ada yang remidi, saya malah bingung sendiri apakah soalnya terlalu gampang. Atau mereka yang pakai jampi-jampi.

*guru suuzon mode on*

Membelajarkan fisika dengan sedemikian menarik sudah pasti jadi hal yang menguras otak saya. Juga dompet. Ide untuk ngajarin konsep usaha misalnya, nggak bisa dibelajarkan dengan cara konvensional dengan contoh sapi menarik pedati. Too old and too basic. Mereka pasti cuma manggut-manggut meskipun dalam hatinya, "So boring, maaam."

Kadang saya baca-baca tulisan Haw yang rubrik V-SIKA. Kadang juga nonton serial film yang ada fisika-fisikanya seperti The Big Bang Theory dan Doctor Who. Agar supaya otak aq tida mampet saat ngajarin murid-murid kesayanganqu ~

Maka saat nemu buku ini, saya sampai lompat-lompat kegirangan di kasir Togamas.

Pertama, saya suka Yohanes Surya.

Kedua, saya suka baca komik.

Ini adalah komik yang digambar oleh Miki Ko berdasarkan pembelajaran Yohanes Surya tentang fisika. Benar-benar referensi penting dalam kegiatan belajar mengajar fisika baik itu klasikal maupun privat. Sudah jelas, buku ini amat sangat saya rekomendasikan.


Ada sebelas sub bab cerita dalam komik ini. Masing-masing cerita mewakilli satu konsep fisika. Tokohnya adalah Profesor Yohanes Surya dengan dua murid kembar bernama Rangga dan Angga. Kembar tapi berbeda warna kulit. Dari segi  karakter aja buku ini udah unik. Rangga dan Angga adalah murid yang super pintar dan super nakal. Tak jarang, Profesor Yohanes Surya dibuat repot dengan polahnya yang ada-ada aja dan tampolable.

Dengan jalan cerita yang menyenangkan dan lucu, setiap sub bab cerita selalu diakhiri dengan penjelasan fisika. Nggak muluk-muluk pakai rumus yang ruwet, tapi menggunakan pendekatan yang ringan dan mudah dipahami. Saya rasa, semua orang akan paham dalam sekali baca karena semua paparan mengggunakan bahasa sehari-hari. Bukan murni fisika.

Kalaupun ada istilah seperti gaya dan momentum, maka definisinya akan ditambahkan. 

Pokoknya enak deh dipakai buat acuan membelajarkan fisika!


Salah satu bahasan yang saya suka ada di bagian fisika dan teknologi. Di sub bab kedelapan. Dijelaskan bahwa sekarang sudah era digital. Semua orang harus bersiap jika bersinggungan dengan sains dan teknologi. Big data awalnya juga dari fisika. Optik. Jadi kalau masih ada orang yang menanyakan, "Sebenarnya belajar fisika gunanya apa?" coba jejali mulutnya tasnya dengan buku ini. Dijamin setelah membaca, pikirannya akan lebih luas.

Bab lain menjelaskan tentang balet. Kenapa orang yang menari balet nggak jatuh meskipun hanya napak pada jempol kaki? Jawabannya ada pada konsep momentum sudut. Penjelasannya mengarah pada fenomena ibu-ibu penjual makanan yang dipikul dan akrobat naik sepeda di atas tali sambil membawa tongkat panjang sampai ke ujung.

Makin panjang tongkat yang dibawa orang akrobat tersebut, makin dia nggak mudah jatuh. Kenapa? Simpel, karena makin panjang tongkat makin berat bebannya. Pusat massa di tubuh orang tersebut akan mempertahankan kesetimbangan massa totalnya jika tongkat diletakkan tepat di tengah. Itulah mengapa tongkatnya nggak pernah dipegang di ujung.

Hal-hal inilah yang akan kamu dapatkan dari membaca Fisika Vs Yohanes Surya.

Menarik, bukan?

--- [] ---


Salah satu gagasan di dunia sains yang saya suka adalah kucing Schrodinger. Seekor kucing ditempatkan di dalam boks berisi zat radioaktif. Selama boks belum dibuka, maka kita nggak akan pernah tau apakah kucing tersebut sudah mati terkena racun dari zat radioaktif yang meluruh atau belum. Maka kondisi kucing di dalam boks bukanlah hidup atau mati. Tapi hidup dan mati. Hal ini kemudian banyak digunakan sebagai acuan eksperimen.

Sampai eksperimen selesai dilaksanakan dan ketemu kesimpulan, kita nggak bisa menyebutkan bahwa eksperimen tersebut gagal atau berhasil. Tapi eksperimen tersebut gagal dan berhasil. Barulah saat selesai, bisa dikatakan berhasil atau tidaknya.

Hal ini saya baca di buku apa ya. Saya lupa. Saya cuma punya fotonya. Huhu. Btw, gagasan ini juga dibahas di buku Fisika Vs Yohanes Surya.

--- [] ---


Di bab Robonaut Si Astronot Ajaib dan Stealth Bukti Keajaiban Fisika, saya jadi nyambung ke dua buku tentang kecerdasan tiruan dan intelegensi yang pernah saya pinjam dari perpus kampus. Keduanya pernah saya bahas saat menulis tentang film Ex-Machina. Profesor Yohanes Surya tampaknya dari dulu udah memprediksi kalau beberapa tahun ke depan akan muncul tren humanoid robot dan artificial intelligence. Dan benar, sekarang terbukti.

Padahal dulu riset tentang optik fiber dikesampingkan karena orang cenderung mengejar kekuatan adidaya dari nuklir sebagai sumber energi. Sekarang, semua negara berlomba-lomba mengembangkan optik fiber sebagai bahan baku dunia digital. Robot sekarang bukan cuma tau bagaimana bergerak, tapi juga mengeluarkan emosi.

--- [] ---


Bukan orang Biologi tapi suka baca buku-buku Biologi: saya. Kenal dengan Campbell--kitab Biologi yang tebalnya bisa untuk gebuk maling itu--membuat saya suka dengan Biologi. Terlepas dari praktikum bab reproduksi yang selalu ditiadakan, saya suka belajar tentang sistem saraf. Dulu setelah menulis tentang cita-cita, saya sempat ingin jadi ahli bedah syaraf aja. Biar ada alasan untuk saya mengotak-atik isi kepala seseorang. Tapi urung.

Jadi pas kuliah, saya kadang iseng membaca buku-buku neurobiologi dan gambar di atas adalah top three di bidangnya. Ingin bilang bangsat dan gokil secara bersamaan saat menutup ketiganya. Ternyata dari dulu Yohanes Surya lagi-lagi benar. Stealth dan penemuan wetware di bidang fisika didasari oleh neurobiologi. Kalau ada yang bilang bahwa biologi dan fisika itu bermusuhan, tampol aja mukanya pakai Campbell. Karena keduanya berperan penting pada penemuan humanoid robot dan articifial intelligence. Secara umum, buku ini cocok untuk mulai dibaca kalau kamu tertarik dengan perkembangan robot secara dasar. 

Tahukah kau, tubuhmu memiliki sensor penerima sinyal emosi dari luar? Sensor yang sama yang menghubungkan emosi sepasang anak kembar yang terpisah ratusan kilometer! Hei, benar-benar sensor yang hebat, bukan? Ketika pertama kali sepasang insan terpikat satu sama lain, masing-masing sensornya menangkap sinyal emosi cinta. Kontak mata, sentuhan punggung tangan, ucapan-ucapan cinta, dan rayuan-rayuan yang membuat hatimu cenat-cenut akan mempercepat penyamanan frekuensi cinta dengan dentingan seindah harpa yang paling merdu sejagat raya. Selanjutnya, semakin selaras frekuensi itu, perasaan nyaman akan tumbuh beriringan. Kemudian rasa rindu hebat akan menyertainya saat dua emosi berinterferensi saling menguatkan. - Profesor Yohanes Surya

4 Comments

  1. semalam Yoga ngepos tentang film Burning. Lalu ini ada bahas kucing schrodinger. Seolah udah digariskan bahwa seminggu ini jalan teorinya tentang hal-hal ini. Gatau org pada sepakat ato nggak, tapi nasib dari korban/ film Burning itu sendiri emang kayak kucing schrodinger. malahan ada kucingnya juga di filmnya buat simbolik. xD

    ...skip..skip..skip...

    Yohanes Surya dalam menjelaskan teori atau pelajaran emang jarang sekali pake rumus. pernah liat pas dia seminar di papua. jelasin GLB dan GLBB langsung praktik pake murid yang berjalan. Pake rumus jadi lama katanya.

    eh, kalo pernah baca buku pak Yohanes yang Berburu Bintang Sirius, sekalian aja di review lengkap-lengkap, May... xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku belum pernah nonton film Burning itu, Haw. Aku suka buku-bukunya Yohanes Surya. Emang beda ya kalau ngajar nggak matematis. Jadi pake alat apa pun yang ada yang sok hajar aja. Orangnya juga baik banget. Pernah ke UNS dan aku ikut seminarnya gitu. Dari jauh aja udah keliatan teduh dan berwibawa. Apalagi ngajar fisika.

      Delete
  2. ADAKAN PRAKTIKUM BAB REPRODUKSI, TOLONG WAHAI GURU-GURU BIOLOGI.

    Togamas jadi pindah kemana, May? Setelah pindah dari perempatan deket GM itu, aku belum pernah "niliki" tokonya yang baru. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Togamas pindah ke deket Diamond, Wis. Habis rel arah Stasiun Purwosari itu. Sekarang besar sih, tapi nggak lengkap malahan. Huhu.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.