What you miss is what you love.

Google Plus tutup bulan depan. Kabar ini saya tahu sebulan yang lalu dan saya ber-ooh sesaat sebelum melanjutkan makan. Dari banyak media sosial yang saya deactivate, Google Plus adalah satu-satunya media saya untuk sharing tulisan blog dan beberapa hal random lain. Terus kalau ditutup, saya share tulisan di mana?

Hiks :'(

Beberapa waktu lalu, saya juga sempat kena jingling dan kaget karena trafiknya dari Israel. Tapi kata mamas, itu nggak masalah. Itu tanda kalau blognya bagus. Bukan tanda kalau saya akan menjadi buronan tentara zionis karena bisa ngerakit bom elpiji.

*muter lagunya The Cranberries - Zombie*




(The Cranberries - Zombie)

Saya jadi ingat buku kumpulan puisi M. Aan Mansyur yang dibelikan oleh adik, ada salah satu puisinya yang berjudul Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta. Ada kalimat yang mengungkapkan bahwa manusia hidup terkutuk di dunia karena jangkauan kemauan mereka yang pendek dan kemampuan mereka yang panjang.

Nggak sinkron.

Ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

Ingin hati membagikan tulisan blog, apa daya Google Plus tak sampai.

Jadi setelah ini, kayaknya saya membagikan tulisan blog lewat merpati.

Oke.

Membaca tulisan-tulisan Aan Mansyur, seperti membaca isi pikiran yang ngaco di pagi hari. Atau malam hari setelah lelah bekerja. Memang isinya kebanyakan tentang cinta, tapi nggak cringe atau menye-menye banget. Mungkin karena buku puisi ini disandingkan dengan keindahan monokrom dari foto yang menyertainya. Dan buku ini dibuat untuk film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang semua pemainnya sudah dewasa. 

Saya juga suka dengan puisinya yang Di Bandara Hari Itu dan Pertanyaan Tentang Rindu. Keduanya adalah representasi kisah cinta beda lokasi dan itu liris. Bandara selalu menjadi tempat berpisah dan bertemu. Dua-duanya menyimpan makna dan rasa sendiri-sendiri. Sementara kabin pesawat dengan latar awan selalu menjadi batas di atas ketinggian beribu kaki yang membuat dua hati tersekat oleh jarak. Saya benci mengakui kalau kedua puisi itu relate dengan keadaan saya, tapi demikianlah manusia; selalu suka cocoklogi.

Semua puisi Aan Mansyur tidak membawa diksi yang berat. Semua ringan dan masuk akal untuk dinikmati saat pagi berteman teh tawar hangat atau kopi panas. Saya suka buku ini. Nanti saya ingin membeli buku Aan Mansyur yang satunya: Melihat Api Bekerja.

Sepertinya lucu juga kalau kejadian sehari-hari dan racauan isi hati dijadikan puisi kayak Aan Mansyur ini. Misalnya kejadian apes seharian. 

"AKU"

Aku
Berangkat kekuncian garasi
Otak kehilangan narasi
Motor tak bisa keluar
Emosi menguar
Pinjam motor ibu kos tanpa gaya
Berniat ambil uang ke bank untuk membeli kacamata
Tapi sayang oh sayang
Saldonya kurang

Aku
Kirim barang ke kurir pesanan pelanggan
Nggak ada kembalian
Akhirnya seribu jadi ngutang

Aku
Ke kampus dan kerja seperti biasa
Ambil uang di bank kampus
Antre dan diserobot ibu-ibu sampai aus
Keluar ATM hujan deras
Menunggu di beranda dengan suhu ganas
Sial, tak ada jas hujan di jok motor
Adanya hanya tisu bekas kotor
Aku lupa ini motor pinjaman
Aku terduduk lagi dan menahan

Aku
Pulang setelah menunggu sejam lebih
Balik ke kos karena hujan reda dan lirih
Menghindari genangan air
Tapi disalip ngebut mobil Brio yang melipir
(Bangsat kau pengemudi mobil!)
Basah semuanya baju, buku, laptop, motor, dan sepatu
Sampai kos mati listrik dan batere hp mulai layu

Aku
Pilek melanda
Ingus meraja lela

Surakarta, 4 Februari 2019

Setdah, keren juga puisinya.

*padahal sampah*

Tanggal 4 Februari memanglah tanggal paling apes yang saya alami sejak awal tahun 2019. Selain kepaesan tersebut, saya mau pindah kos dari kos lama nggak boleh. Semua fasilitas yang dulu saya keluhkan di sini sekarang diperbaiki. Dan yang paling membuat saya berat hati adalah teman kosan--Sekar dan Ima di tulisan ini--dan ibu warung samping yang masakan khas Jawa-nya ngangenin. Yang makanan di warungnya sering dibonusin ke saya.

Selain antologi Aan Mansyur, saya juga menyukai Rupi Kaur. Ada dua buku puisinya yang udah saya baca. The Sun and Her Flowers dan Milk and Honey. Dua-duanya bagus dan mesum. Di cetakan Bahasa Indonesia, banyak ilustrasi yang disensor. Sementara di cetakan aslinya, ilustrasi aslinya yang semi-erotis ada semua. Saya jadi merasa anu.

Tapi mari kita kesampingkan ilustrasi mesumnya. Rupi Kaur is really one of a kind. Kata-katanya mulus. Kalau dibilang puisi penuh, nggak juga. Rupi Kaur cerdas dalam memainkan diksi. Sebenarnya dia bahkan berkata bahwa petikan-petikan tulisan yang dia bagikan di media sosial, hanyalah sekumpulan frasa isi pikiran dan hatinya. Lalu orang suka dan menuntut lebih. Jadilah ia membukukan tulisan-tulisannya.

Dari semua tulisan Rupi Kaur, amat terasa kalau dia adalah perempuan yang mengusung feminisme. Semua tersirat di tulisannya. Itulah satu-satunya hal yang membuat saya nggak nyaman. Selebihnya, buku ini bagus kok. Dan sekali lagi, mesum.

Tapi kalau dibandingkan dengan Aan Mansyur, jujur saja saya masih lebih cinta dengan Aan Mansyur. Kalau disuruh memberi rating, saya akan memberi Aan mansyur empat bintang dan Rupi Kaur tiga bintang dari skala lima bintang.


--- [] ---

Kapan hari ada teman yang nanya, "May, puisi favorit kamu apa sih?"

Sampai hari ini, saya masih menyukai tulisan-tulisan John Keats. Terutama puisinya yang berjudul Ode to Nightingale. Puisi tersebut mengandung unsur sihir bagi saya. Setiap saya baca ulang, saya merinding, meringis, dan mengejang. Apalagi di bagian "that I might drink, and leave the world unseen". Biasanya saya menangis karena ingat hal-hal yang tertinggal di kepala. Kalimat itu seperti mewakili pikiran-pikiran depresif yang terkadang muncul saat saya letih sekali dalam menghadapi ini itu. Saya suka puisi ini melebihi diri saya sendiri.


Karya-karya John Keats udah pernah dideklamasikan di beberapa pertunjukan di dunia. Banyak juga ahli puisi yang menginterpretasi maknanya dengan wawasan mereka sendiri. Saya juga, sebagai orang awam, saya punya interpretasi sendiri terhadap puisi ini. Kadang-kadang puisi ini menyelamatkan saya, kadang-kadang justru membuat saya lebih depresi. Tapi saya suka. Kalau disuruh milih sesuatu untuk mendeskripsikan bagaimana saya hidup selama tahun-tahun ini, saya akan memilih puisi Ode to Nightingale.

Kalau kalian penasaran bagaimana puisi ini dibacakan, berikut saya sisipkan Ode to Nightingale karya John Keats yang dibacakan oleh Benedict Cumberbatch dengan suara seksi-berat-sopran-ngebass-serak-serak-basah-nggak-nahannya.


(Benedict Cumberbatch read Ode to Nightingale by John Keats)

--- [] ---

Sama seperti saat membaca novel, saaya memiliki playlist untuk membaca buku kumpulan puisi. Ada dua jenis playlist yang saya miliki: dangdut dan nostalgia.

Playlist lagu nostalgia untuk membaca antologi puisi

1. Panbers - Gereja tua
2. Ernie Johan - Kau Selalu di Hatiku
3. Rani - Bunga Flamboyan
4. Broery Marantika ft. Emilia Contessa - Setangkai Anggrek Bulan
5. Koes Plus - Diana

Playlist lagu dangdut untuk membaca antologi puisi

1. Rhoma Irama - Begadang Jangan Begadang
2. Rhoma Irama - Kehilangan
3. Manis Manja - Aduh Buyung
4. Meggy Z - Jatuh Bangun
5. Johny Iskandar - Judul-judulan

6 Comments

  1. "Apabila seseorang mengetuk pintu, berpikirlah ia akan nemberi sesuatu yang besar: memberi tahu kau telah dimaafkan, atau kau tidak perlu bekerja sepanjang waktu, atau ia telah memutuskan jika kau berbaring tidak ada yang akan mati."

    — penggalan sajak "Beberapa Hal untuk Dipikirkan" karya Robert Bly yang diterjemahkan secara lepas oleh Aan Mansyur

    ReplyDelete

  2. set dah, aku ngakak baca ini

    Ingin hati membagikan tulisan blog, apa daya Google Plus tak sampai.

    Jadi setelah ini, kayaknya saya membagikan tulisan blog lewat merpati.

    kasih tau caranya membagikan tulisan blog lewat merpati? wkwkwk

    ReplyDelete
  3. Pertama kali denger nama Rupi Kaur itu kayaknya pas di Twitter heboh soal empat puisi pendeknya yang jelek banget. Saya enggak mencari tahu lebih jauh karena kecewa juga sewaktu lihat puisi yang dimaksud. Wqwq. Berhubung kamu baca bukunya, mungkin beda banget kali.

    Buat sebagian penikmat puisi, mungkin bakal males sama beberapa puisi semacam itu, toh itu berupa twit yang akhirnya dibukukan. Buku puisi JokPin, Aduh, Aku Di-Follow, misalnya. Meski dari suatu sudut pandang bisa terlihat keren. Terus kalau dilihat lebih dekat atau pakai miskroskop, paling-paling: yah, gitu doang. Beberapa orang akan menuntut lebih. Masalahnya, ya penulis enggak akan pernah bisa memuaskan semua orang.

    Kalo buat sedih-sedihan (tapi hati-hati bisa malah depresi), coba baca puisinya Sylvia Plath, May.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak semua puisinya Rupi Kaur di dalam dua bukunya jelek sih, Yogs.Tapi menurutku ada yang nggak bisa dibilang sebagai puisi karena hanya berupa kutipan nggak penting--yang mungkin adalah buah pikiran liarnya (wkwk). Aku setuju dengan kalimatmu yang "penulis nggak akan pernah bisa memuaskan semua orang" karena itu sama seperti "kita tidak bisa membahagiakan semua orang". Sylvia Plath bagusss. Udah baca juga. Tapi aku lebih suka John Keats, Yogs.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.