Judul: Jangan Ucapkan Cinta / Bukan Cinta Sesaat
Penulis: Mira W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 558 halaman

---- [] ---

"Sinetron banget, astaga..."

"Emang, ini penulis yang buku-bukunya selalu disinetronkan di tahun 90-an. Hehe."

"Rada stensil. Kayak baca tulisan Enny Arrow."

"Enny Arrow siapanya Green Arrow, May?"

"..."

--- [] ---

Jauh sebelum KPI eksis di dunia penyensoran, sinetron-sinetron vulgar yang mengangkat tema cinta-cintaan dulu bebas beredar setelah jam belajar anak-anak. Kalau kalian masih ingat dengan sinetron Tersanjung, Terbentur, dan Terjerembab yang episode-nya berjilid-jilid, kalian pasti berpikir ulang kenapa jaman dulu sinetron Indonesia nggak disensor.

Padahal adegan anuannya banyak banget.

Dan kegoblokan saya adalah melihat buku ini dari cover-nya. Bagus. Klasik dan vintage gitu. Tanpa pikir panjang, saya beli saat pameran. Tapi melihat halamannya yang sampai ratusan, saya urung membaca karena takut mati bosan. Akhirnya buku ini nganggur dua tahun di rak. Yang baca duluan malah Riani, teman saya. Dan nggak tahu dengan kekuatan bulan atau matahari, Riani menamatkan buku ini dalam sekejap. Cuma semalam.

I SALUTE YOU, RIANI.

Kata Riani, buku ini tebal tapi bisa dibaca dalam sekali duduk karena membuat penasaran. Nagihin. Tiap mau disudahi di bab sekian, dia geregetan sehingga dalam semalam bisa selesai. Riani ini antara nganggur atau memang nggak ada kerjaan.

Riani yang biasanya suka gore-gore aja bisa baca buku ini cepet, masa saya enggak? Akhirnya saya tertantang untuk membacanya juga. Perlu digarisbawahi, ulasan buku ini sampai akhir akan sedikit mengandung kata-kata kasar karena Bunda Mira tulisannya maynfak sekali. Untung saya bacanya dini hari. Dan saya jadi gemas untuk mengetik ini.

PERTAMA. TOKOH CERITANYA, MAAF, VINTAGE SEKALI.

Nama-nama yang dibuat Bunda Mira adalah nama-nama khas jaman dulu. Yah, namanya juga buku cetakan 40 tahun kepenulisannya, kita nggak mungkin bisa nemu nama-nama anak kompleks yang banyak konsonannya seperti Zizya, Fazya, Lizya, Libya, Zimbabwe, dan sekawannya. Atau nama-nama indie seperti Senja, Pagi, Esok, Sore, Subuh, Magrib, dan Kopi. Nama-nama tokoh di buku ini adalah nama-nama guru atau orangtua kalian. 

Niken, Bambang, Aldi, Eko, Roni, Sri, Rio, Bram, Dimas, dan Indah.

INDAH JUWITA PERMANA.

Setdah.

Sebenarnya nama-nama tersebut sampai sekarang masih sering muncul. Kalau kita main olok-olokan dengan nama bapak atau ibu--bahkan simbah--kita.

KEDUA. NAMA TEMPAT DI NOVEL INI OVERWHELMING.

Rumah Produksi Gilang Gemilang Entertainment. Punya Dede.

PT Merenda Masa Depan. Punya Niken.

PT Mencari Cinta Sejati. Nggak tahu punya siapa dan sampai sekarang nggak diketahui keberadaannya dan siapa sebenarnya direkturnya. Sering nongol di Facebook orang-orang yang foto dengan latar mobil Avanza berplat cantik.

Jangan berharap bahwa kalian akan menemukan tempat-tempat cozy buat nongkrong cantik di sini seperti yang biasa ada di novel-novel lulusan Wattpad (sudah dibaca di Wattpad satu juta kali!). Semua nama tempatnya masih kuno dan overwhelming. Kalau dibaca lucu sih. Mungkin beberapa pengguna Facebook yang masih menyisipkan PT Mencari Cinta Sejati di kolom afiliasinya merupakan penggemar berat novel Bunda Mira.

Meskipun ceritanya drama banget, saya malah ketawa ngakak tiap membaca setting tempatnya. Oke, saya kurang ajar. Maafkan saya, Bunda Mira.

KETIGA. ALURNYA RAPAT, SINGKAT, DAN PADAT.

Dua cerita yang ada di novel ini sama-sama memiliki alur yang padat. Timeline-nya sebenarnya panjaaang bangeeet. Sampai belasan tahun konflik yang terjadi di antara para tokohnya. Tapi nggak tahu kenapa, Bunda Mira sukses besar mengajak pembacanya untuk menamatkan buku ini. Mungkin karena narasi dan dialognya pas dan sesuai penempatan, saya jadi nggak bosan untuk membuka halaman selanjutnya. Selang-seling antara narasi dan dialog. Nggak ada yang mendominasi barang satu pun. Ini juga yang membuat tempo cerita terasa cepat dan nggak bertele-tele. Kalau diingat baik-baik, cara menulisnya mirip banget dengan Marga T. Penulis novel angkatan Balai Pustaka: Badai Pasti Berlalu.

Jangan Ucapkan Cinta terdiri dari 197 halaman. Sementara Bukan Cinta Sesaat adalah sisanya (558 dikurangi 197 berapa hayo?). Dari dua cerita tersebut, saya bisa bilang bahwa Jangan Ucapkan Cinta alurnya lebih cepat daripada Bukan Cinta Sesaat. Padahal konfliknya lebih banyak di cerita Jangan Ucapkan Cinta. Ini agak aneh buat saya.

KOK BISA SIH, ANJIR?

Buku-buku terbitan lama nggak ada yang bermain dengan struktur. Semua gaya penulisannya bahkan bisa dibilang sama. Bunda Mira gaya tulisannya mirip dengan Marga T. Sementara A. A. Navis memiliki teknik yang sama dengan Mochtar Lubis. Kebanyakan juga menggunakan bahasa baku dengan kosakata yang ada di KBBI. Tapi nggak tahu kenapa, bacanya nggak bikin bosan. Apakah ini bukti kalau tulisan lama lebih berkualitas?

Ah, tapi kan kualitas tulisan dipengaruhi banyak aspek.

Kayaknya lebih pas kalau novel-novel jaman dulu mengedepankan alur cerita. Makanya dengan teknik yang sama, kita tetap nyaman membacanya. Ini bukan berarti saya nggak suka dengan novel-novel sekarang ya. Saya tetap suka membaca novel terbitan sekarang karena, sekali lagi, kualitas tulisan ditentukan oleh banyak hal.

--- [] ---

Membaca buku ini, saya jadi sadar kalau batas antara cinta dan benci tipis sekali. Saya nggak bisa memberi rating pada buku ini karena saya cinta sekaligus benci. Saya cinta karena saya seperti menemukan tulisan bernada sama--alurnya rapat dan konfliknya banyak tapi nggak bikin bosan--seperti Marga T. Namun saya benci karena ceritanya kelewat klise. Kalau sekarang mungkin bisa dibilang "drama banget" oleh orang-orang.

Tambahan, yang membedakan Bunda Mira dan Bunda Marga adalah cara menyajikan konfliknya. Bunda Mira seperti terburu-buru. Sementara Bunda Marga pelan tapi pasti. Kesamaannya, keduanya memiliki nada dan teknik yang sama. Tema yang diangkat juga mirip. Dokter-dokteran dan dunia kesehatan. Tema luas di tahun 90-an.

Jadi, kalau kalian masih bingung dulu sinetron semacam Tersanjung terinspirasi dari mana, kalian wajib dan harus membaca buku ini.

4 Comments

  1. "... kalian wajib dan harus membaca buku ini."

    Aduh, kewajiban saya yang tercantum di kitab sudah banyak, itu pun belum terpenuhi semua. Mohon jangan menambah daftar kewajiban. Berat kali hidup saya ini, Kak. :(

    ReplyDelete
  2. yang bikin gue males baca buku novel tempo dulu, ya salah satunya karena itu. takut pas baca, ceritanya terlalu klise atau terlalu drama. dan setingan tempatnya, sama seperti yg lu jelasin diatas.

    tapi klo temen lu aja bisa menamatkan buku ini dalam semalem, kayaknya emang seru sih nih bukunya.

    jadi pengen baca...

    tapi buku-buku novel yg gue beli juga belom tamat semua dibaca uy :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertamanya aku juga enderestimate ceritanya kok klise banget. Tapi asik juga dibacanya, Zi. Kayak larut aja.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.