Judul: You are the Apple of My Eye
Penulis: Giddens Ko
Penerbit: M Novel
Tahun Terbit: 2014
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 350 halaman

--- [] ---

Dulu waktu SMA, ada seorang anak laki-laki namanya Musa. Nama lengkapnya kece badai. Radita Musa Wahyu Putranto. Musa ini seorang siswa di SMK yang 90% isinya berkelamin laki-laki. Sisanya perempuan tapi seragamnya bukan rok. Celana panjang juga. Alkisah Musa ini terkenal ganteng dan ramah luar biasa. Kata orang-orang yang udah ketemu langsung sih orangnya baik banget juga. Dan yang terpenting: kaya raya.

Motornya gonta-ganti. Pun juga pacarnya.

Kan dulu standar kegantengan seseorang amat ditentukan oleh apa yang dia kendarai. Kebanyakan cowok yang masih naik angkot, biasanya nggak punya pacar. Sementara cowok yang punya motor Astrea, ceweknya cupu. Kalau Ninja atau Satria, ceweknya modis dan bohai. Nggak tau ketentuan dari mana tapi seringnya begitu.

Nah, Musa ini pernah naik Ninja. Pernah naik Satria. Pernah juga sesekali naik vespa menembus senja hari usai pulang sekolah.

Pokoknya, motor selalu ganti-ganti mereknya.

Mungkin usaha bapaknya dealer kali ya.

Terus... masa-masa SMA di tahun 2010 adalah masanya Facebook mulai ramai merajai warnet. Kalau sebelumnya di bagian home komputer itu isinya shortcut Friendster, setelah 2010 isinya jadi Facebook. Yang tadinya ngisi deskripsi dan mainan layout, jadi ngisi timeline dengan aneka kuis dan postingan antar teman.

Istilahnya wall-wall-an. Alias dinding.

Mark Zuckerberg kayaknya dulu anak grafiti yang suka bikin mural saat tengah malam di dinding tetangga makanya istilah menulis di profil teman namanya wall.

Setelah itu, nggak tau kenapa nama Musa ini merebak di SMA seluruh Kabupaten dan Kota Kediri. Pokoknya booming banget. Hampir tiap orang tahu kalau ditanya nama Musa yang gantengnya nggak bagi-bagi itu. Dan cewek-cewek jadi membuat standar baru: belum jadi cewek gawl kalau belum berteman dan wall-wall-an sama Musa di Facebook.

Oqe.

Sebagai cewek yang kebelet gawl dan eksis juga, saya nggak mau ketinggalan dong. Sore-sore setelah pulang sekolah, saya mampir ke warnet. Saya add tuh si Musa di Facebook. Padahal kenal juga enggak. Pokoknya add dulu, ditolak belakangan.

PATHETIC BANGET.

Namun Musa kayaknya bukan tipe yang onlen Facebook terus-terusan lewat notifikasi SMS itu. Iya, dulu kan notifnya masih SMS tuh. Ngaksesnya kalau nggak diwarnet ya di hp yang bagus yang ada GPRS-nya. Dan setelah menunggu sejam, saya nggak mendapatkan notifikasi bahwa Musa sudah accept permintaan pertemanan saya.

Bayk. Akhirnya aq pulang.

Dua minggu berikutnya saya menjadi orang paling mengenaskan di kalangan geng SMA. Beberapa teman-teman saya yang notabene lebih cantik, lebih aduhai, dan lebih terkenal, bergosip bahwa mereka sudah berteman dengan Musa padahal baru mengirim permintaan pertemanan di hari sebelumnya. Bahkan ada yang udah wall-wall-an kenalan dan ngobrol ke sana kemari. Lah, saya dua minggu nggak diterima-terima.

Padahal selama dua minggu itu, tiap pulang sekolah saya mampir warnet hanya untuk membuka Facebook dan nungguin apakah si idola anak SMA tersebut sudah accept akun saya. Saya sampai jarang main game online lagi karena harap-harap cemas Musa bakal menerima dan ngajak wall-wall-an tiba-tiba. Bego tingkat poseidon. Wkwk.

PADAHAL AQ NAKSIR JUGA ENGGAK.

PENASARAN AJA AQ TU.

Masuk minggu ketiga, saya sibuk dengan persiapan lomba English Debate NSDC. Jadi lupa nungguin konfirmasi si Musa-bodoamat-mau-di-accept-kagak-Facebook-gua-itu. Facebook nggak pernah lagi saya buka. Sama sekali.

Lalu sebulan atau dua bulan setelahnya, tim saya sempat juara NSDC itu. Mewakili kabupaten. Terus beberapa koran dan majalah sekolah ada yang meliput. Sorenya setelah ada wawancara dengan majalah sekolah SMK-nya Musa, saya main ke warnet. Niatnya mau nge-blog dan nge-game seperti dulu kala. Tapi jari iseng membuka Facebook.

Ternyata... ADA NOTIF KALAU MUSA MENERIMA PERMINTAAN PERTEMANAN ANDA.

Lebih dari itu, dia udah nge-wall aja.

"hy, lam kenal. aq musa."

Karena kegirangan, tanpa babibu, saya balas wall-nya.

"hy, lam kenal jg. aq mayang."

"qm nak SMA II ya? aq SMK XXI."

"iya."

"udah pulang sekolah y? lg dmn?"

YAIYALAH UDAH PULANG. KALAU BELUM MANA BISA NGENET.

"udah. di warnet nich. qm?"

"udah jg. ini lg nongkrong sm tmn2q di warkop deket sekolah."

"oh iya, salam bwt tmn2 qm y."

SOK AKRAB BENER.

"iya. udh disalamin kok. btw, qm yg menang debat itu bkn y, yank? eh, aq panggil 'yank' gpp yach. soalnya nama qm lucu."

SERAH ELU DAH, MUSAAA.

"y silakan aja. heem, yg debat itu."

"wah, keren bgt qm, yank. udah cantik, pinter bahasa inggris pula. aq suka dech."

SEPIKNYA BOLEH BANGET.

"hehe, mksh."

"its like you are the apple of my eye, may."

"eh, mf. bahasa inggrisnya udh bener blm? hehe."

"bener kok. hehe jg."

Sekarang mungkin saya bisa ngakak ketawa-ketawa gini ya. Tapi dulu... Hm... Bayangkan rasanya menjadi salah satu dari teman Facebook seorang Musa. Satu di antara 5000 orang. Kan dulu Facebook kalau udah 5000 orang udah nggak nerima pertemanan lagi ya. Meskipun saat accept saya temannya Musa masih 4000, tapi bentar lagi pasti jadi 5000.

Dan saya salah satunya.

Yes, target jadi cewek gawl di SMA sudah tercapai!

Setelah itu, kami jadi sering wall-wall-an. Pokoknya tiada hari tanpa wall dari Musa. Lalu seminggu setelahnya, Musa mulai ngajakin ketemuan dan tukar nomor hp. Tapi saya nggak mau. Saya maunya temen dinding di Facebook aja. Saya lupa sih pastinya kenapa kok nggak mau ketemu Musa. Tapi yang jelas saya selalu nolak dan ngeles kalau dia ngajak ketemuan. Kadang alasan diare, kadang alasan pulang cepat karena takut dijewer ibu.

Lalu tiba-tiba, Musa nongol di depan SMA saya. Dengan motor barunya yang penuh skotlet warna ngejreng sampai nggak ketahuan itu merek apa.

Saya udah telanjur keluar gerbang kan. Mau naik angkot. Dan Musa ngeliatin. Dia turun dari motor dan naruh helmnya. Saya udah mau mati rasanya. Takut juga kenapa cowok itu frontal banget aslinya. Sampai nyamperin ke sekolah.

Hampir sampai di dekat saya, Musa senyum.

Wanjir, emang ganteng sih.

Yang paling saya ingat, mata Musa tuh agak ijo lumut warnanya. Kayak matanya Gabriel Batistuta. Nggak tau asli apa softlense. Tapi jaman dulu kayaknya belum rame penggunaan softlense di kalangan anak SMA deh. Jadi kayaknya asli.

Seketika saya mau nyamperin kan. Mengira dia datang untuk saya meskipun saya nolak terus saat diajak ketemuan. Sesaat saya mikir Musa serius naksirnya.

Lalu Desi--yang mana adalah teman sekelas saya, yang terkenal cantik karena seorang model majalah sekolah--lari menghampiri Musa. Mereka lalu gandengan dan ketawa-ketiwi bareng. Lalu pergi naik motor. Musa sempat lihat ke arah saya bentar banget.

Dan dia pergi.

Iya, pergi sama Desi.

Setelah itu dia nggak pernah ngirim wall lagi sama sekali. Beberapa kali juga saya lihat berganti foto profil dengan beberapa perempuan. Desi sendiri putus dari Musa seminggu setelah kejadian tersebut. Kilat banget jadiannya. Kilat juga putusnya.

Saya juga jadi sadar sendiri kalau Musa nggak akan pedekate ke cewek yang nggak punya modal apa-apa. Hampir semuanya memiliki sesuatu. Itulah kenapa dia accept permintaan pertemanan saya sewaktu saya menang lomba. Bukan sebelumnya.

*iris-iris bawang*

--- [] ---

Buku You are the Apple of My Eye ini merupakan buku yang ditulis Giddens Ko dan diadaptasi menjadi film Taiwan dengan judul yang sama. Ko Ching Teng menuliskan kisah cinta masa remajanya dengan cara yang lucu dan menggemaskan. Beda dengan film Thailand yang banyakan jokes-nya, film Taiwan ini lebih kepada drama.

Sama seperti filmnya, You are the Apple of My Eye memiliki rasa manis dan pahit yang seimbang. Namun Gidden Ko memiliki ciri khas tersendiri dalam menuliskan cerita. Dia menggabungkan unsur platonis dan roller coaster di saat bersamaan. Apalagi saat Ko Ching Teng berantem dengan Shen Cia Yi yang sampai nangis-nangis dan hujan-hujanan.

Jika kalian ingin menikmati You are the Apple of My Eye dalam versi dan suasana yang berbeda, buku ini akan cocok menjadi salah satu bacaan wajib.

Menutup postingan, saya mau ikut-ikut scene akhir filmnya.

Ko Ching Teng: SELAMAT TINGGAL MASA REMAJAKU.

Saya: SELAMAT TINGGAL MUSA FAKYU.

4 Comments

  1. Ibuk, hati-hati, ibuk. Nanti tulisan ini dibaca sama muridnya lagi, di screen shoot, disebar sama anak-anak, terus dipanggil pihak sekolah lagi. Bagaimana? Wkwkwk *ini aku tau pas ndengerin podcastnya si Firman X Mayang, lho*

    Itu aku banget ya Allah. Jaman SMA masih naik angkot.

    ReplyDelete
  2. Zaman SMA-mu alay banget, May. Saya yang saat itu hina aja, setelah baca ini langsung merasa mendingan. Wqwq.

    Gila, internetan masih GPRS? Kayaknya HP saya pas kelas 3 SMK udah Edge atau 3G deh. Terus itu enggak usah ke warnet kalau mau login Facebook. Kan ada 0.facebook dan Snaptu.

    Saya juga enggak modal apa-apa dulu. Ke sekolah aja jalan kaki. Sangu pas-pasan. Malah ceweknya yang punya motor. Kalau kencan pakai motor dia. Apa saya modal tampang, ya? Eh, tapi otak saya waktu itu enggak bego-bego amat, sih. Seringnya pasti masuk peringkat 10 besar, walaupun saya enggak peduli juga sama urutan ngehe macam itu. Wahaha.

    Kalau baca kalimat "selamat tinggal masa remajaku" jadi ingat tulisan tahun 2012 tentang seseorang yang datang pada waktu yang tidak tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, masih. Aku dulu masih pakai nokia yang lama. Pokoknya kalau ngenet pake GPRS itu lah muter-muter gambar bumi. Kalau mau Friendster-an atau Facebook-an ke warnet dulu. Wkwk.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.