Salah satu ritual saat masuk kampus dulu adalah penyuluhan dari kepolisian dan BNN. Dua hal prior yang kata kampus harus dilaksanakan berhubung ISIS dan NII sedang rame saat itu. Tahun 2012 saat saya masuk kuliah S1, Solo bahkan sedang ruwet-ruwetnya karena banyak teror dan bom di mana-mana. Beraninya, pelaku melakukannya saat siang bolong.

Yang paling saya ingat adalah kasus penembakan polisi di daerah Matahari Singosaren--yang merupakan pusat perdagangan gawai. Ada juga di daerah kampus ISI kasus bom bunuh diri. Selama dua bulan setelahnya, Solo nggak pernah tenang. Begitu pula hape saya.

Hampir tiap malam, bapak dan ibu menelepon. Atau SMS. Pokoknya nggak pernah absen.

2012 belum ada WA, by the way.

Bapak selalu mengirimkan pesan dengan isi yang sama. Yang diberi signature message.

--- askum ---

lagi apa, mbak?
sudah pulang dari kampus?
sudah makan?
jauhi bom-boman!
jangan lupa sholat!
oke?

--- bapak ---

Itu pesan, sepertinya sudah diatur biar jadi template. Atau nggak pernah dihapus di kotak pesan terkirim. Supaya tiap hari bisa dikirim lagi dan lagi. Makanya sampai sekarang tiap menulis apa pun dan melakukan pemenggalan, saya selalu menggunakan tanda strip.

Karena tanda strip adalah bapak. Bapak adalah tanda strip.

Kalau nggak SMS, biasanya bapak dan ibu telepon. Pertanyaan pertama yang diucapkan keduanya setelah salam selalu, "Ada bom-boman lagi nggak di Solo?"

ADANYA BOM-BOM CAR, PAK.

Mengingat Solo memang salah satu sarang terbesar gembong teroris, termasuk Abu Bakar Baasyir, yang rumahnya nggak jauh dari kampus. Kalau saya nggak langsung balas atau angkat telepon, bapak dan ibu pasti miscall sampai belasan kali. Dikira saya sudah join komunitas bom panci. Padahal saya malah nyaris join komunitas MLM duta glori komuniti.

Melihat banyaknya isu-isu agama yang--entah kenapa--sekarang rame di mana-mana, saya jadi mikir, mungkin sebenarnya dari dulu isu agama ini selalu jadi bahan utama media untuk kasus apa saja. Tapi medianya belum seluas sekarang. Orang dulu belum kenal bikin thread di Twitter bahas politik-agama, komedi-agama, dan cinta-agama. Twitter dulu masih basic.

Sekarang, kalau dilakukan pencarian dengan keyword "agama" di tab Google, isinya bahkan aneh-aneh. Boleh dicoba sendiri kalau penasaran. Hehehehehe.

Padahal kalau diteliti lebih jauh, sila pertama Pancasila kan "Ketuhanan yang Maha Esa". Bukan "Keagamaan yang Maha Esa". Jadi bukan sepantasnya saat pertama bertemu orang atau ngefans dengan idola, yang ditanyakan adalah agamanya. Itu tidak etis, bosque ~

Agama kita bukan satu-satunya yang ada di Indonesia. Pun dunia.

Bolehlah kita mengimani sampai berdarah-darah, tapi bukan berarti kita memaksakan kepercayaan dan keyakinan kita tersebut kepada orang lain. Terlebih jika sampai timbul konflik akibat nggak adanya toleransi--dengan takaran yang tepat. Udah cukup dulu ada pertikaian antar suku dan agama di beberapa kota besar di Indonesia. Jangan ada lagi. Kalau ada yang bicara tentang perintah bela agama, coba seimbangkan juga dengan anjuran bela negara. Mempertahankan kerukukan antar masyarakat bukankah termasuk aksi bela negara? Atau kalau mau, sekalian ikut perang di perbatasan deh. Lebih berguna daripada perang di dunia maya. Sayang kuotanya kalau dipake berantem doang.

Katanya NKRI harga mati. Maka jangan sampai karena perbedaan agama, NKRI jadi mati. 

Melihat adanya kisruh agama di Indonesia, yang kalau kita lakukan riset digital justru makin membuat pusing, mungkin perlu adanya kembali pada buku.

Ada beberapa rekomendasi buku yang akan membantu kamu menemukan jawaban atas keraguan iman kamu selama ini. Untuk yang mempertanyakan eksistensi agama dan paradigma pengiringnya. Buku-buku ini nggak seberat kitab fiqih, kitab kuning Arab gundul, buku perjanjian baru (new testament) dan buku perjanjian lama (old testament). Masih mudah banget untuk dipahami sambil ngopi dan ngobrol cantik. Berikut daftarnya.

--- [] ---

1. TUHAN, MAAF, KAMI SEDANG SIBUK

Judul: Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk
Penulis: Ahmad Rifa'i Rif'an
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2011
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 352 halaman

Hidup butuh uang. Bahkan sedekah pun butuh harta meskipun sedekahnya berupa tenaga--misalnya ngumpulin dana usaha di Car Free Day untuk donasi korban bencana. Kan habis itu tetep butuh makan. Buku ini adalah buku yang membuat kita merenung bahwa hidup itu singkat. Bahkan lebih singkat dari tidurnya seseorang di kehidupan selanjutnya. Hampir semua waktu kita habiskan untuk melakukan hal-hal tanpa melibatkan Tuhan di dalamnya.

Ahmad Rifa'i Rif'an nggak serta merta ngomongin ini dari sudut pandang kita harus terus ibadah secara fisiologis. Namun lebih kepada pikiran. Menurutnya bahkan memikirkan Tuhan saja, itu termasuk ibadah. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca pertama kali jika kamu sedang dalam kebimbangan beragama. Buku ini akan menampar imanmu sekali lagi.

Meskipun kita ternyata tidak beriman dan agama kita cuma warisan.

--- [] ---

2. LAPIS-LAPIS KEBERKAHAN

Judul: Lapis-lapis Keberkahan
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Tahun Terbit: 2014
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 514 halaman

Salim A. Fillah memang lebih terkenal dengan bukunya yang nikah-nikah itu. Tapi percayalah, nggak semua gagasannya mengarah pada topik tersebut. Lapis-lapis Keberkahan adalah buktinya. Dari 500 halaman lebih yang dituliskannya, saya bisa merangkum isi bukunya dalam satu kata, "bersyukur". Iya, buku ini mengajak kita untuk selalu menyukuri hal-hal yang terjadi dalam hidup kita. Hal baik dan hal buruk. Meskipun ia juga mengatakan bahwa manusiawi saja kalau kita mengumpat atau marah pada nasib. Tapi jangan berlarut-larut dan berlebihan.

Misalnya saat sedang naik motor pelan menghindari genangan, tiba-tiba disalip mobil ngebut. Basah deh. Sisi syaiton kita pasti ingin mengeluarkan kamus bahasa binatang dan sumpah serapah. Tapi kalau ingat buku Salim A. Fillah, sisi malaikat kita akan berpikir, "Oh, mungkin orang itu buru-buru karena burung beonya mau melahirkan. Makanya ngebut ke rumah sakit."

Meskipun kita nggak tahu kalau mungkin burung beonya mandul.

--- [] ---

3. SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA


Judul: Seribu Masjid Satu Jumlahnya
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: 1990
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 164 halaman

Cak Nun adalah salah satu role model saya dalam ber-Tuhan. Pernah sekali ikut jamaah maiyahnya dan beliau berkata demikian, "Agama itu letaknya di dapur. Tidak masalah mau pakai wajan merek apa di dapur, yang utama adalah makanan yang disajikan di warung sehat. Maka ukuran keberhasilan orang beragama bukan pada sholat atau umrohnya, melainkan pada perilakunya. Pun juga agama. Nggak masalah agama apa pun yang dianut, yang penting output-nya di masyarakat baik. Bisa membantu saat dibutuhkan." Terus saya menangis sampai pilek karena menurut saya kalimat beliau itu menampar ulu hati.

Di buku Seribu Masjid Satu Jumlahnya, Cak Nun juga menuliskan gagasan-gagasan yang didapatkannya dari ngaji kitab semua agama, pengalaman hidup, dan renungan. Percayalah, buku ini penting banget buat dibaca. Seenggaknya sekali seumur hidup. Iqra, Milea. Bacalah. Cak Nun is the real McCoy. Meskipun bahasannya ringan, Cak Nun mengolahnya sedemikian puitis sehingga tanpa sadar kamu akan menangisi hal-hal paling mendasar di hidupmu. 

Meskipun kita mungkin balik lagi hura-hura keesokan harinya.

--- [] ---

4. TUHAN DALAM SECANGKIR KOPI


Judul: Tuhan dalam Secangkir Kopi
Penulis: Denny Siregar
Penerbit: Mizan Media Utama
Tahun Terbit: 2016
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 192 halaman

Pernah berpikir nggak kalau FTV yang azab-azab itu justru lebih dekat dengan penistaan agama daripada kasus BTP dulu? Islam digambarkan sebagai agama yang penuh azab dan nggak jarang judulnya sengaja dilebih-lebihkan agar lucu. Bahkan di salah satu televisi swasta, ada acara parodinya. Menurut saya pribadi, itu lebih menistakan. Tapi orang sepertinya salah prioritas. Yang digugat besar-besaran malah iklan Kinderjoy dan iklan Shopee. Namun dari semua judulnya, belum ada yang seperti ini, "Jualan Politik Berkedok Agama, Seorang Caleg Mati Disengat Ubur-ubur Tanpa Nama". Mungkin karena politik-politikan jadi nggak berani.

Denny Siregar adalah salah satu pengamat politik di Indonesia yang cukup kritis. Beberapa artikelnya menuai pro dan kontra. Namun kalau kita kesampingkan unsur jahanam itu, kita akan mengenal sosoknya lebih dalam melalui Tuhan dalam Secangkir Kopi. Berbeda dengan buku Cak Nun, Denny Siregar lebih mengajak kita tertawa dalam menyesapi keimanan pada Tuhan. Salah satu gagasannya yang saya suka adalah, "Doa seharusnya tidak dipanjatkan untuk mendikte Tuhan, tapi untuk bercengkerama tentang keseharian dengan-Nya."

Meskipun saat berdoa, kita seringnya memang menuntut Tuhan.

--- [] ---

5. LAYLA MAJNUN


Judul: Layla Majnun
Penulis: Nizami Ganjavi
Penerbit: Navila
Tahun Terbit: 2010
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 236 halaman

Kalau orang mengulas buku ini dari unsur cinta-cintaannya, maka saya lebih suka membahasnya dari segi keyakinan dan ketuhanan. Layla dan Qays jatuh cinta namun dipisahkan oleh kasta politik dan agama keduanya. Latar belakang berbeda membuat mereka harus terlunta-lunta sampai mati karena tidak bisa saling memiliki sampai akhir hayat. Mirip dengan kasus Romeo dan Juliet. Serta Sampek dan Engtay--legenda dari China. Semua berunsur sama: politik dan agama. Dua unsur paling hype di Indonesia tahun ini.

Kisah cinta Layla dan Qays--yang kemudian berubah nama menjadi Majnun--dikotori oleh pemahaman agama yang kurang tepat. Nizami Ganjavi menuliskan ini bertahun-tahun yang lalu. Mengisyaratkan bahwa perbedaan pandangan dalam iman dan politik memang menjadi faktor krusial dalam hubungan antar manusia sejak dulu kala. Sampai sekarang terus terjadi.

Meskipun kita tahu bahwa media pemberitaan yang memperkeruh suasananya.

--- [] ---

6. KAKI YANG TERHORMAT


Judul: Kaki yang Terhormat
Penulis: Gus Tf Sakai
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 113 halaman

Kaki yang Terhormat memiliki 12 cerita pendek yang semuanya saling bersinggungan dengan tema agama dan politik daerah. Bedanya, Gus Tf Sakai ini membawanya dalam lingkup lokal atau kedaerahan. Buku ini membuka mata kita bahwa ada beberapa daerah di Indonesia yang kadar toleransinya tinggi dan yang kadar toleransinya rendah. Termasuk juga menyoroti tentang hubungan birokrasi dan keimanan yang terjadi di desa-desa. Salah satu cerpennya menceritakan tentang bagaimana petani di desa bekerja keras banting tulang di siang hari dan beribadah di malam hari. Sementara bos besar yang membeli hasil panennya foya-foya di klub malam kota. Menikmati keuntungan dengan cara duniawi abis. Mirip sama Hotman Paris.

Dari 12 cerpen yang ada, Gus Tf Sakai berhasil menunjukkan kepada pembacanya bahwa hubungan antar manusia sama pentingnya dengan hubungan dengan Tuhan. Semua harus seimbang dan nggak boleh ada yang mendominasi. Satu saja timpang, bisa menggugurkan kedamaian hati. Kalau hati nggak damai, hidup pasti berantakan.

Meskipun kedamaian hanyalah milik Saint Loco seorang.

--- [] ---

7. ROBOHNYA SURAU KAMI


Judul: Robohnya Surau Kami
Penulis: A. A. Navis
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 138 halaman

Sama seperti Kaki yang Terhormat, Robohnya Surau Kami adalah kumpulan cerita pendek. Buku ini ditulis oleh A. A. Navis. Ada 11 cerpen di dalamnya dan tentu saja yang paling membekas di dalam ingatan adalah cerpen yang pertama; dengan judul yang sama seperti bukunya. Dalam cerpen tersebut, Kakek Garin bunuh diri dengan menggorok lehernya menggunakan pisau cukur. Pisau cukur. P-I-S-A-U-C-U-K-U-R. Jadi ingat salah satu adegan di Happy Tree Friends yang tokohnya membebaskan diri dari robohan pohon menggunakan sendok. 

Kakek Garin bunuh diri karena bualan Ajo Sidi bangke. Ia bercerita tentang kisah haji Saleh yang masuk neraka. Haji Saleh berdialog dengan Tuhan dan dimasukkan ke neraka karena dianggap lalai memikirkan keluarganya. Hanya beribadah untuk dirinya sendiri saja. Kakek Garin merefleksikan itu pada dirinya yang memang tidak berharap harta lebih. Yang penting keluarganya makan, itu sudah cukup. Tapi karena Ajo Sidi, ia jadi overthinking dan bunuh diri. Ia berlebihan dalam memikirkan azab dan neraka Tuhan sehingga tanpa sadar termakan omongan orang yang bahkan nggak lebih baik kelakuannya daripada Kakek garin.

Meskipun Ajo Sidi bangke nggak peduli dengan kematian Kakek Garin setelah itu.

--- [] ---

8. THE ALCHEMIST



Judul: The Alchemist
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Harper Collins
Tahun Terbit: 1993
Bahasa: English
Jumlah Halaman: 197 halaman


Sebenarnya kalau ngomong The Alchemist ini, pendapat para pembacanya sangat terpecah belah. Ada yang suka banget dan ada yang nggak suka banget. Beberapa bahkan benci buku ini karena isinya katanya "terlampau delusional". Unsur personal legacy yang dibawakan oleh Paulo Coelho nggak sampai di nalar sebagian pembaca. Ada yang bilang kalau buku ini terlalu relijius sehingga nggak masuk kalau dibaca orang agnostik dan ateis. Kalau di awal dikatakan bahwa ini buku self improvement, seharusnya gagasan yang dibawa bukan muter-muter pada agama. Namun di sisi para kaum pro, buku ini memotivasi mereka untuk keluar dari depresi.

Saya sendiri termasuk yang suka dengan buku ini. Menurut saya, isinya nggak condong pada agama tertentu kok. Cuma sisi relijiusnya memang kental banget. Tapi ada beberapa hal yang saya kurang suka. Paulo Coelho mencampuradukkan paham spiritual dan agama yang menurut saya berbeda. Spiritual lebih luas dari agama. Di akhir buku pada halaman terakhir, saya justru mendapatkan kekosongan dari isinya. Tapi saya mikirnya mungkin memang itu yang dimau si penulis. Supaya kita merasa kosong dan merenung.

Meskipun merenungnya sambil nonton doujin.

--- [] ---

9. THE BOOK OF REVELATION



Judul: The Book of Revelation
Penulis: Rudolf Steiner
Penerbit: Rudolf Steiner Press
Tahun Terbit: 1999
Bahasa: English
Jumlah Halaman: 282 halaman


Saya membaca buku ini setelah membaca Bibel sedikit. Terpelatuk juga oleh buku Stephen Hawking yang Brief History of Time. Rudolf Steiner mengungkapkan gagasannya dalam segi teologi. Tentunya nggak ketinggalan tentang dugaan konspirasi bahwa Injil telah berubah dari masa ke masa. Ini yang membuat orang membuka mata bahwa setiap orang boleh judgemental terhadap paham atau kepercayaan--dan keyakinan tertentu, tapi jangan sampai menuduh tanpa bukti. The Book of Revelation bercerita bahwa agama bersifat fleksibel.

Di sini, penulis menyoroti tentang perjanjian lama dan perjanjian baru serta apa yang membedakan keduanya. Waktu saya baca ini, memang isinya agak berat karena membahas bukti-bukti dan riset-riset yang secara tahunan dilakukan penulis. Ia juga membahas perbedaan Protestan dan Katolik dengan enigma-enigma. Sebuah buku yang cocok dibaca jika kamu mulai tertarik mempelajari teologi dan kepercayaan yang lain.

Meskipun kamu denial, kamu harus mengerti bahwa kebenaran tidaklah mutlak.

--- [] ---

10. TRILOGI SI CACING DAN KOTORAN KESAYANGANNYA



Judul: Trilogi Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
Penulis: Ajahn Brahm
Penerbit: Awareness Publication
Tahun Terbit: 2011
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: Sekitar 300 halaman tiap buku


Ini adalah buku yang sempat rame di tahun 2012-2016. Seri ini diadaptasi dan diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul Opening the Door of Your Heart yang ditulis oleh Ajahn Brahm. Penulis adalah lulusan Cambridge University dengan jurusan Theoritical Physics. Fisika teori. Setelah lulus, ia terpanggil untuk pergi ke Thailand dan mendalami ajaran Buddha. Ia lalu menulis buku-buku motivasi yang didapatkan dari pengalaman spiritual, kogitif, afektif, dan psikomotoriknya. Ajahn Brahm tidak memaksakan keyakinannya pada para pembaca bukunya. Ia bahkan menuliskan bahwa bukunya bisa dibaca semua orang dengan latar belakang apa pun. Namun karakter Buddha yang menjadi dasar kepenulisannya masih terasa.

Saya suka banget buku ini. Kalau buku-buku di atas cenderung lebih berat karena membahas agama-politik, agama-cinta, dan agama-ketuhanan, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya menekankan pada pedoman hidup "chillin the moment". Nggak usah terlalu menyiksa diri dengan masalah yang muncul sehari-hari. Kalau nggak bisa diselesaikan, ya diterima.

Meskipun kita pasti lebih banyak sambatnya.

--- [] ---

Kalau muslim, wajibkan diri seenggaknya baca satu ayat Al-Quran setiap hari. Satu halaman lebih baik. Selembar apalagi. Nanti ritmenya ditambah sehingga bisa satu ain atau ruqu setiap hari. Lalu bisa ditambah lagi dan lagi. Asal konsisten. Baca juga terjemahannya.

Ya, May, ya?

*ngomong sama diri sendiri*

Oh iya, baca kitab suci agama lain juga nggak ada salahnya kok. Saya dulu pernah baca Bibel, Kitab Perjanjian Baru, dan Kitab Perjanjian Lama juga. Kalau kitab suci agama Buddha dan Hindu, saya belum. Tapi sewaktu ikut diskusi teologi dengan teman, saya menyadari bahwa semuanya sama saja. Isinya adalah mengajarkan tentang kebaikan. Nggak ada yang enggak.

Semua agama tidak ada yang menyarankan kita untuk menyalahkan agama lain.

Semua agama tidak menganjurkan kita untuk menanyakan agama orang lain.

Semua agama mengajarkan bagaimana kita menjadi manusia.

Seperti narkoba, jika dikonsumsi dalam takaran sewajarnya--untuk alasan pengobatan dan anestesi misalnya, maka tidak akan membuat mabuk. Beda dengan konsumsi serampangan. Bisa membuat sakaw dan overdosis. Rokok dan alkohol juga sama. Makanya ada yang bilang kalau orang bisa mabuk agama. Merasa pengetahuan agamanya paling banyak, lalu kurang tepat dalam memahami dan mengamalkannya. Asal mula fanatisme dan terorisme adalah dari situ. Lalu istilah dalam agama--jihad misalnya--jadi bergeser. Mengalami degradasi.

Jadi, saya memandang agama sebagai perantara. Istilah lainnya mak comblang lah. Media yang menyambungkan kita pada Tuhan. Pedekate tanpa mak comblang sebenarnya bisa-bisa aja kan? Saat kita beriman pada Tuhan, kita bisa menggunakan perantara, bisa juga nggak melalui perantara alias langsung. Semua tergantung keyakinan dan kepercayaan.

Kadang kalau dipikir, saat kita lebih yakin dan percaya diri untuk mendekati gebetan, kita malah nggak perlu pakai perantara kan? Langsung aja todong saat pulang sekolah. Tapi kalau kurang percaya diri dan kurang yakin, biasanya kita minta tolong teman. Namun tak jarang yang berakhir ditikung. Kalau dianalogikan ke agama, sepertinya cukup masuk akal.

Bukannya berakhir dekat dengan Tuhan, kita malah ditikung agama.

Sama seperti hantaran kalor atau energi panas dari suatu benda ke kulit kita. Bisa melalui perantara seperti sendok pada Indomie kuah yang panas saat hujan deras di sore hari atau air kopi pada secangkir Nescafe klasik yang baru diseduh di pagi hari. Bisa juga tanpa perantara seperti pancaran sinar matahari atau radiasi panas api unggun yang sampai ke kulit kita.

Keduanya tetap membuat kita merasakan energi panas.

AGAMA / ANALOGI FISIKA / ANALOGI CINTA-CINTAAN

Beragama / hantaran energi panas dengan perantara / dengan mak comblang

Ateis atau agnostik / hantaran energi panas tanpa perantara / tanpa mak comblang


Karena secara basic, ber-Tuhan itu hubungannya dengan iman. Bukan agama. Kalau dilakukan atas dasar takut adanya karma, azab, pahala, dosa, surga, dan neraka, itu bukan agama. Tapi kalau dilakukan dengan ikhlas, barulah itu bisa disebut agama.

Btw, saya nemu perbincangan Gofar Hilman dengan Danilla Riyadi dan Jason Ranti. Dua musisi yang sedang saya sukai. Mungkin bisa ditonton kalau sedang selo-selonya, daripada ghibah di media sosial atau nontonin videonya Atta Bledek dan Ricis Factory. Ehe.


(#NGOBAM: Ngobrol Bareng Musisi - Danilla Riyadi)


(#NGOBAM: Ngobrol Bareng Musisi - Jason Ranti)

12 Comments

  1. Yap, diskusi (meskipun lebih seringnya jadi debat) tentang agama itu udah sejak dulu.

    Ada yang diskusi masih dalam satu agama—dan akhirnya terpecah—kayak Martin Luther di Roma, ada yang agama dan ilmu dunia kayak Hypatia di Alexandria atau Galileo di Italia, ada yang diskusi beda agama kayak Isa di Yerusalem, dan generasi kita cuma mengulang kejadian-kejadian itu. Mendiskusikan agama mana yang benar; jadi ateis atau bertuhan; atau apakah Tuhan kita udah benar. Nah, karena sebenarnya kita cuma mengulang, jadi kita emang bisa banget belajar dari sejarah, belajar dari yang udah-udah. Belajar untuk mengambil yang positif-positifnya, tentu.

    Soal baca kitab agama lain, setuju juga. Enggak ada salahnya pelajari agama lain supaya bisa memahami pola pikir dan keyakinan mereka, dan membawa kita menjadi pribadi yang lebih toleran. Soalnya banyak orang saling menyalahkan justru karena enggak paham agama yang mereka salahkan. Yah, bisa dibilang asal menilai sebelum berusaha mempelajari. Hoho.

    Dan, ya, karena agama bukan warisan, kita emang harus skeptis dan banyak bertanya; bukan untuk mencari celah kesalahan, melainkan menambah keyakinan.

    Masyaallah.

    ReplyDelete
  2. Baru pernah baca satu buku dari daftar di atas. Pantas saya jauh dari Tuhan. Wkwk.

    By the way, WhatsApp sudah ada sejak 2009. 😜

    ReplyDelete
  3. Tuhan, agama, diri sendiri, dan gebetan, perantara, diri sendiri, sebagai analogi itu kayaknya nggak begitu tepat deh. karena Tuhan dan agama itu nggak bisa dipisahkan. Orang bisa saja mengaku dirinya percaya dengan Tuhan, tapi selama dia tidak mengetahui tata cara bertuhan, dia tidak bisa dikatakan benar-benar percaya dengan Tuhan. Tapi kalo perantara (teman), ada tidaknya tetap saja kita bisa mendapatkan.

    anggap semua orang sudah bertuhan dan beragama. Yang jadi problema selanjutnya adalah berbeda. Apakah dengan membaca semua kitab agama bisa membuat orang mengerti? nggak. Karena walo sesama mengajarkan ttg kebaikan dan kedamaian, masing2 agama ada satu bagian yang menyindir orang di luar agamanya. "Jangan seperti orang ini..." seperti itu kalimat pengantarnya. Di kitab Tripitaka yg terkenal dgn ajaran kasih sayangnya ke semua makhluk hidup juga ada menceritakan ttg kaum di luarnya yg tentu tidak disebut agamanya secara terang.

    Tau kan dgn Zakir Naik? Dia membaca dan bahkan hafal banyak kitab agama lain. Apa dia menganggap org di luar agamanya sepadan dengannya? Kalo liat video yg beredar, nggak. Dia akan tetap menyebut agamanya sendiri paling benar, karena memang itu yg dimaksud dgn beragama. Jadi, mengetahui dan membaca kitab2 lain itu juga nggak ada bedanya. agama kita itu adalah contoh salah bagi agama yg lain. (walo begitu, saya juga tetap saja membaca ajaran agama lain. )

    Mempelajari agama sendiri dengan benar itu tetap lebih baik. mabuk agama yg seperti kita lihat itu bukan karena org terlalu banyak mengkonsumsi agama. bukan karena terlalu fanatik dengan agama. melainkan salah dalam beragama dan belajar agama dari org yg salah.

    karena kalo memang benar beragama dengan benar dan fanatik, justru hasilnya akan memandang semua ciptaan tuhannya itu hal yg patut disayangi dan diperlakukan dengan baik. misal anjing yang dicap sebagai haram saja oleh tuhannya, tetap diminta untuk diperlalukan dengan baik.

    tiap agama memang menjadikan kepercayaan lain sebagai contoh buruk, tapi jika kita paham dengan kitab kita masing2, paham dengan agama kita masing2, di sana tersirat kalimat "sayangi semua makhluk tuhan" "perlakukan mereka dengan adil" "jangan menyakiti org lain".

    (kalo ada yg salah di pemahaman saya itu, ingetin loh ya!)

    Tapi kayaknya buku yg bisa menenagkan orang dari latar agama apapun itu adalah:

    11. Buku rekening sendiri dengan nominal angka 12 digit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Btw, aku nggak bilang kalau "mabuk agama yg seperti kita lihat itu bukan karena orangg terlalu banyak mengkonsumsi agama". Menurutku juga sama, ada yang kurang tepat dalam memahami dan mengamalkannya.

      Terima kasih buat diskusinya, Haw.

      Delete
    2. Setuju sama kalimat terakhirnya Haw. Yang atasnya gue gak mau baca.

      Delete
  4. "Sama seperti Kaki yang Terhormat, Robohnya Surau Kami adalah kumpulan cerita pendek...."

    Kalimat itu rada ambigu kalau diteruskan, May. Secara enggak langsung, Kaki yang Terhormat malah termasuk buku si Navis. Meski sebetulnya saya paham maksudmu. Perlu diubah kalimatnya. Haha.

    Baru baca Robohnya zaman sekolah dulu. Masih membekas sampai sekarang. Selain daftar di atas, saya baca Sejarah Tuhan, Karen Amstrong. Bukunya bikin ngantuk. Mungkin bisa jadi cara termudah ketika lagi susah tidur selain merancap--sebagaimana pengakuan salah seorang lelaki bernama Firman di twitnya. Wqwq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih koreksinya, Yogs. Iya, pas dibaca lagi agak aneh ya.

      Btw, aku belum baca yang Sejarah Tuhan. Nanti aku masukin reading list karena seperti katamu, bisa untuk teman sebelum tidur kalau ngantuk. Karena aku nggak merancap. Nggak punya titit aku tu ~

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.