BUKU 1 (GAMBAR KANAN)

Judul: Time Flies for Miss Wiz
Penulis: Terence Blacker
Penerbit: Macmillan UK
Tahun Terbit: 1997
Bahasa: English
Jumlah Halaman: 64 halaman

--- [] ---

BUKU 2 (GAMBAR KIRI)

Judul: The Fireworks-Maker's Daughter
Penulis: Philip Pullman
Penerbit: Scholastic
Tahun Terbit: 2006
Bahasa: English
Jumlah Halaman: 128 halaman

--- [] ---

Salah satu lagu favorit saya dari Breaking Benjamin adalah yang The Diary of Jane. Ada bagian yang menurut saya terasa magic saat didengarkan.

There's a fine line
Between love and hate
And I don't mind

Ada garis tipis yang memisahkan cinta dan benci. Juga hidup dan mati. Setipis itu sampai larangan dan imbauan juga terasa kabur. Mana yang benar dan blur, nggak ada yang benar-benar tau. Dan saya juga bingung ini ngomong apaan. Lanjut deh.

As I burn another page
As I look the other way
I still try to find my place
In the diary of Jane

Mirip dengan saya. Jika banyak orang menyimpan catatan masa kecilnya dalam diary yang akan dibaca saat dewasa, saya justru membakarnya. Tiap bukunya habis, saya ganti menulis di buku baru. Tapi yang lama saya bakar. Ini terjadi sampai saya lepas SMA. Jadi kalau ditanya apakah saya dulu suka nulis diary? Suka banget. Tapi saya udah nggak menyimpan itu semua sekarang. Saat kuliah saya lebih suka menulis di dokumen laptop atau daring.

Dua buku di atas pernah saya ulas di buku diary saya. 

Time Flies for Miss Wiz bahkan membuat saya dan ibu berseteru karena saya mengira beliau dari masa lalu. Ini pernah saya sungging dan singgung di postingan berikut, yang bahas cerita detektif-detektif. Ibu mendapatkan buku tersebut dari Kangguru. Radio Berbahasa Inggris dari Australia. Dulu ibu demen banget dengerin siaran itu. Kalau nggak salah airing-nya dari Bali. Dan ibu sering menang kuis. Time Flies for Miss Wiz merupakan salah satu hadiahnya.

Karena saat itu kakak saya membacanya, saya jadi ikut-ikutan baca juga. Bukunya terdiri dari dua bahasa. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ceritanya pendek sih. Cuma 64 halaman. Itu pun dibagi dua karena dwibahasa. Bisa dibayangkan betapa pendeknya kan? Nggak papa. Nggak semua yang pendek itu membosankan. Tergantung teknik.

#plak

Terence Blacker selaku penulis memiliki teknik yang bagus. Satu level di atas buku-buku dongeng Dancow yang tipis warna kuning itu. Enak banget dibacanya. Saya yang saat itu masih anak-anak juga nggak kesulitan memahami karena memang dia dongeng. Ringan. Sampai sekarang pun saat dibaca kembali, saya masih suka. Mungkin karena otak udah males mikir berat-berat, buku dongeng seperti Time Flies for Miss Wiz ini bisa jadi hiburan tersendiri.

Menceritakan tentang seorang guru yang menjelajah waktu bersama muridnya, Miss Wiz memiliki karakter yang nyentrik. Dengan tanggung jawab untuk menyelamatkan dunia, ia harus kembali ke masa lalu. Bisakah ia menyelamatkan dunia tanpa mengubah sejarah yang ada? Yeah, kamu harus membaca buku ini kalau mau tau kelanjutannya.

Karakter Miss Wiz di sini mengingatkan saya para karakter Daisy di Turtles All The Way Down. Di balik karakternya yang ngeselin, dia kreatif. Daisy nulis fanfiction kisah cinta Chewbacca yang merupakan karakter di film Star Wars. 

Ada beberapa seri dari serial Miss Wiz. Tapi saya belum pernah baca yang lain. Belinya di mana juga kurang tahu karena ini kan dulu hadiah. Beberapa kali ngubek-ngubek blog ebook colongan, tapi nggak nemu-nemu juga. Kalau ada yang jual, saya mau beli ya.

--- [] ---

Salah satu bab pada Time Flies for Miss Wiz mengingatkan saya pada buku dongeng berikutnya yang akan kita bahas. The Fireworks-Maker's Daughter karya Philip Pullman. Di suatu tahun di mana Miss Wiz dan muridnya terdampar, ia mendapati ritual kembang api yang dilakukan oleh penduduk saat membakar perempuan yang dituduh penyihir. 

Dari situ, Miss Wiz tau bahwa kembang api dinyalakan untuk perayaan. Baik perayaan baik maupun buruk. Dan jauh-jauh hari sebelum itu terjadi, di negara lain, Lalchand menjadi salah satu penemu ramuan kembang api yang bisa meletus-letus sampai ketinggian beberapa meter. Lalchand memiliki seorang anak bernama Lila yang ingin segera menjadi pembuat kembang api seperti ayahnya. Dari semua ramuan yang diajarkan, ada satu hal yang masih disembunyikan. Lalchand tidak mau memberi tahu putrinya.

Ramuan kembang api paling fantastis.

Namun sebagaimana anak-anak kebanyakan, makin ditantang, makin dia senang. Lila pun memecahkan rahasia ayahnya dengan menuju gunung Merapi bersama temannya; Chulak. Dia harus menemukan bahan utama kembang api paling fantastis untuk membuktikan pada ayahnya--dan juga orang dewasa yang lain--bahwa ia pantas menjadi pengrajin kembang api di kotanya. Berhasilkah Lila menempuh pendakian gunung pertamanya?

Buku ini mengajarkan pembacanya untuk memiliki tekad dan niat dalam hidup. Juga passion. Dan menggempur harga diri sebagai orang dewasa karena anak-anak cenderung lebih berani meraih mimpi mereka. Nggak ada takutnya. Nggak banyak pertimbangan.

Berangkat dulu, KO belakangan.

Lila termasuk anak perempuan yang gigih dan nggak mau kalah. Sama seperti dongeng-dongeng yang lain, semua berawal dari rasa ingin tahu. Philip Pullman menuliskan dongeng yang bagus banget dalam buku ini. Porsinya tepat dan pas buat anak-anak. Mengingat sekarang cerita anak-anak mulai tergusur dengan chicklit, The Fireworks-Maker's Daughter dapat menjadi referensi untuk melengkapi bacaan anak atau keponakan kita.

Dari dua buku tersebut, saya jadi tau kenapa kita dilarang bermain kembang api saat lebaran. 


--- [] ---

Sama seperti saat membaca buku-buku dengan genre tertentu, saya juga memiliki playlist yang saya dengarkan saat membaca dongeng anak-anak seperti Time Flies for Miss Wiz dan The Fireworks-Maker's Daughter. Mungkin bisa jadi referensi teman-teman juga saat membaca buku dengan tema yang sama. Selamat membaca dan mendengarkan!

Playlist membaca buku dongeng anak-anak:

1. Breaking Benjamin - The Diary of Jane
2. Green Day - Boulevard of Broken Dreams
3. The Fray - How to Safe a Life
4. B.o.B. ft. Hayley Williams - Airplanes
5. Lorde - Teams

Oh iya, selain ditemenin lagu, kadang saya suka membaca sambil mendengarkan podcast. Apa aja. Kadang podcast sains dan tekno yang ada di daftar postingan ini, kadang Retropus, kadang Box2Box karena keracunan si mas yang agak ganteng. Tapi sebagai sobat bloger yang baik dan budiman, saya sekarang juga suka ngikutin podcast teman-teman bloger yang sedang hits. Kalau mau membaca buku with different style, bolehlah mendengarkan podcast mereka. Dijamin bermanfaat dan menambah wawasan. #paidpromote

1. N Firmansyah - Podcast Blogger
2. Kresnoadi - Podcast Keriba-Keribo
3. Ichsan Ramadhani - Podcast Tanpa Beban





NB (Nambah Bicara): Yang bersangkutan nanti bisa menghubungi saya via email ya.
NBL (Nambah Bicara Lagi): Ditunggu itikad baiknya.
NBLL (Nambah Bicara Lagi dan Lagi): Segera.

16 Comments

  1. Hai Lila leh nalan nga? Motivatif sekali tokoh Lila ini ya.

    Btw, saya dulu sempat pengen jadi Benjamin Burnley di kehidupan selanjutnya saking kerennya dia. Wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya cuma mau jadi gitarnya Benjamin Brunley di kehidupan selanjutnya.

      *taunya jadi kecoa*

      Delete
  2. sayang sekali ya, diary yg lama ditulis susah payah penuh kenangan harus dibakar tanpa belas kasihan, padahal buku itu lebih bisa berguna buat bungkus gorengan lho xD

    ReplyDelete
  3. gue masih asing banget sama dua judul buku itu termasuk sama penulisnya.
    refrensi baca gue harus diperluas lagi sepertinya.

    gue sampai sekarang masih enggak bisa fokus kalo baca buku sambil dengerin podcast, kadang dengerin musik pun juga bikin enggak fokus. emang paling bener, baca buku ditempat yang sepi, pencahayaannya bagus. di kamar mandi emang paling cocok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca buku di kamar mandi? Benar-benar fenomenal temanku yang satu ini. Mantap, Uzi.

      Delete
  4. ahhh, keliatannya buku yang bagus
    I mean, hampir semua buku terjemahan itu bagus
    And I'm a big fan :))

    Ngakak di paragraf-paragraf terakhir soal podcast sih
    Sekarang gak jaman lagi paid post nunggu di email yaaa
    Post dulu, lalu tagih

    :)))))))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Philip Pullman is at another level, Ul. Kalau belum mau baca buku Philip Pullman yang tebal kayak yang judulnya Golden Compass dan kawan-kawan, buku The Firework-Maker's Daughter ini bisa jadi pijakan pertama. Bagus!

      Delete
  5. Buku yang menarik dan bisa jadi sesuatu yang menarik terhadap yang membaca ...Namun kembali ke karakter masing2 sih. Namun bila semua buku2 apa pun bentuknya bila hilang entah kemana atau dijual dan diloakkan seperti ada sesuatu yang hilang dari diri kita..😄😄

    ReplyDelete
  6. akkk masa aku baru tahu buku ini, May. wkwkwk
    keren juga ya

    ReplyDelete
  7. bisa paham baca buku gmna mbak, soalnya saya baca buku pasti harus beberapa kali baca baru paham...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diselang-seling antara buku fiksi dan nonfiksi mungkin bisa membantu, mas.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.