Kalian tau Keane nggak? Band yang terkenal dengan lagu Somewhere Only We Know. Akhir-akhir ini, saya sedang suka dengan lagunya yang berjudul Bend and Break karena habis nonton cover version-nya yang dibawakan oleh Noah. Mas Ariel emang suaranya nggak pernah salah. Merdu. Banget. Sampai. Saya. Mau. Pingsan. Dengernya.

Apalagi yang bagian, "Meet me in the morning when you wake up".

IYA, KETEMU BESOK PAGI YA, MAS ARIEL. AKU BIKININ SARAPAN DEH ~

Dan lagu aslinya ternyata juga enak. Inti lagunya adalah menyesali kenapa tokoh dalam lagu nggak mau melakukan apa yang dia mau dulu-dulu. Kalau aja dia lebih berani dan sabar, mungkin dia sudah bertemu dengan sosok "you" yang dituliskan di dalam barisan liriknya.


(Keane - Bend and Break)

Ini jadi mengingatkan saya pada lagu Two Door Cinema Club yang juga menceritakan hal sama. Judulnya What You Want. Ada verse-nya yaitu "And I can just tell what you want, you don't want to be alone". Ini nyambung dengan apa yang diinginkan tokoh dalam lagu Keane tadi. Dia nggak mau sendirian. Dia butuh seseorang untuk menemani hidupnya tapi dia nggak berani mengutarakan hal itu pada orang yang bersangkutan. Akhirnya semua terlambat.


(Two Door Cinema Club - What You Know)

Dua lagu tadi, jadi membuat saya berpikir. Kalau digabungkan, cerita di lagu Bend and Break akan menjadi sekuel dari lagu What You Know. Sebuah analogi yang sama dengan ketiga novel ini: Aksara, Kapitan Pedang Panjang, dan Tabula Rasa.

--- [] ---


Judul: Aksara
Penulis: Azizah
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2018
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 268 halaman

Pandu adalah seorang editor artikel penting macem esai dan rubrik harian. Semua tulisan nonfiksi dia yang ngedit. Dan hal itu bikin dia mampet saat nulis cerpen maupun novel. Dari semua cerita kesuksesan Pandu yang dijabarkan Azizah, tokoh utama tersebut dikarakterkan dengan kuat sebagai pribadi yang mendambakan kesempurnaan. Dan satu lagi, ia ingin punya pacar penulis karena menurutnya hal itu akan membangkitkan sisi imajinasinya lagi.

Nah, saat Pandu ketemu Pasa, mulanya ia cocok dengan perempuan yang bekerja sebagai desainer tersebut. Namun Lama-lama Pandu balik lagi. Dia mau kesempurnaan. Dia mau pacar penulis. Yang mulanya obrolan dengan Pasa terasa menyenangkan, akhirnya jadi membosankan. Pandu selalu ingin menyudahinya cepat-cepat. Masalah makin rumit saat Sandra--mantan Pandu--datang lagi di kehidupan mereka. Sandra ini dekat dengan dunia tulis menulis. Jadilah mereka bertiga terjebak di ruang dan waktu yang sama.

Begitu premisnya.

Saya pertama kali membaca buku Azizah ini dan pada sepuluh lembar pertama agak nggak nyambung dengan ceritanya. Seperti kilat, munculnya adegan ini dan tokoh ini terasa plas-plas tanpa pembukaan dan jeda. Tiba-tiba kenal Pasa. Tiba-tiba muncul Sandra. Dari awal, buku ini penuh metafora. Mungkin Azizah memang sengaja memasukkan banyak majas dan bahasa prosa--juga puisi--di ceritanya. Dan saya, jujur saja, kurang menikmati itu.

Isinya jadi kurang lepas dan kisah cinta mereka seperti di permukaan saja. Tapi saya suka karakter Pandu di sini. Dia digambarkan sebagai laki-laki yang memasang kriteria tinggi untuk pasangannya. Karena terlalu mengejar kriteria, Pandu lupa bahwa Pasa sebenarnya sudah amat sempurna dengan caranya sendiri. Pandu sangat mewakili anak muda sekarang yang memiliki ego tinggi saat menjalin cinta. Harus begini dan harus begitu. Saya suka karakternya.

Dari buku ini, saya belajar tentang pembangunan karakter yang baik dalam sebuah cerita.

Kadang sesuatu yang mengganggu kelak akan dirindukan. - hlm. 82

--- [] ---


Judul: Kapitan Pedang Panjang
Penulis: Fira Basuki
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2010
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 265 halaman

Djagad--panggilan untuk Lelananging Djagad--adalah seorang pangeran keturunan keraton Jogja. Pada zaman penjajahan Jepang, ia berkelana ke Sumatera dan bertemu Siti. Namun mereka tidak direstui. Di sana, lelaki dibeli saat menikah dan dibuang saat ada masalah atau cerai. Sementara keluarga Siti tidak mau membeli Djagad. Akhirnya ia berkelana ke Surabaya. Dengan huru-hara kedatangan Belanda lagi, Djagad mengenal Kemuning yang menjadi relawan di barak perawatan korban perang. Karena jatuh cinta, Djagad melamar Kemuning. Namun gadis itu menolak karena ia tidak suka melihat Djagad yang tidak ikut berperang.

Karena patah hati, ia akhirnya berkelana lagi dan berperang bersama Laksamana La Patau dari Bugis, Sulawesi Selatan. Di sini diceritakan sejarah La Galigo dan kapal pinisi. Ia sempat menikah dengan We Tenri--anak Laksamana La Patau--yang meninggal semalam setelah pernikahan. Kalau di sini laki-laki yang membeli perempuan dengan uang panai, namun Djagad dibebaskan dari semua itu. Ia juga sempat mengunjungi makam Diponegoro di Makassar, anak Sultan Hamengkubuwono III. Pada akhirnya, Djagad kembali ke Jawa dan melamar Kemuning sekali lagi. Mereka menikah dan memiliki anak serta cucu bernama Sekar, Laras, dan Dimas. Yang masing-masing lalu juga berumah tangga.

Cerita lalu dilanjutkan oleh Laras yang menghadapi peliknya masalah hidupnya pasca bercerai dengan Ron, suaminya yang berasal dari Amerika. Ia harus mengurus Rose sendirian dan struggle dengan cibiran banyak orang karena dipandang tidak becus berumah tangga. Sampai akhirnya ia jatuh cinta sekali lagi, dengan seorang pemuda misterius bernama Rain. Namun hubungan mereka terkesan on-off karena Rain tidak memberikan kepastian.

Begitu premisnya.

Yang saya suka dari gaya penulisan Fira Basuki adalah dia mampu membuat pembacanya geregetan emosi saat konflik-konflik dalam ceritanya terjadi. Sama seperti novel Fira Basuki yang saya sukai--Biru--novel ini ditulis dengan alur maju mundur. Namun flashback-nya bukan pada satu tokoh, melainkan tokoh yang berbeda. Masa sekarang diisi dengan diary Laras dan masa lalu diisi dengan diary Djagad. Iya, buku ini ditulis dalam bentuk diary.

Namun satu hal yang saya selalu kurang suka dengan bukunya. Ada mistis dan kleniknya yang mana selalu membuat saya skeptis. Saya sadar mungkin ini dipengaruhi banget oleh sisi spiritual Fira Basuki sendiri. Tapi saya, sekali lagi, kurang suka. Dan ada beberapa bagian cerita yang terasa dipaksakan sehingga terasa ngambang saat membaca. Fira Basuki juga masih mengangkat tema dewasa dengan banyak adegan stensil di dalamnya, tapi tidak terlalu vulgar. Masih wajar mengingat ini lebih menekankan pada unsur sejarahnya. Multi-negara dan multi-daerah sekali. Penulis fasih dalam budaya dan adat di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi sekaligus. Ditambah dengan petualangan Laras ke beberapa negara. Novel ini kaya.

Dari buku ini, saya belajar tentang bagaimana membangun riset untuk cerita.

Aku ingin menerapkan teori band-aid, Laras. Kalau band-aid menempel di kulitmu lama, makin lama, makin sakit saat dilepas. Bahkan mungkin ada rambut yang ikut tercabut, bukan? Coba kalau baru ditempel langsung ditarik, pasti nggak terlalu sakit. - hlm. 137

--- [] ---


Judul: Tabula Rasa
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2004
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 185 halaman

Novel ini terdiri dari empat bab yaitu: 1) In Memoriam: Krasnaya, 2) In Memoriam: Violet, 3) Ego Distonik, dan 4) Ego Sintonik. Bab Krasnaya, persis seperti sub judulnya, menceritakan kisah kasih Galih dan Krasnaya--seorang perempuan asal Rusia yang merupakan pelukis. Galih yang anak duta besar Indonesia pacaran dengan Krasnaya. Karenanya, Krasnaya mendapat masalah besar dan dibunuh oleh agen intel Rusia. Galih lalu pulang ke Indonesia. 

Bab kedua tentang Raras dan Violet. Ia jatuh cinta pada Violet namun tidak pernah bisa mengatakannya. Berbeda dengannya, Violet heteroseksual. Ia pacaran dengan beberapa laki-laki; Burhan dan Gale di antaranya. Saat Violet meninggal lantaran overdosis narkoba, Raras seperti ikut mati dan menggila. Setelah melihat proses kremasi Violet di Solo, di rumah duka Tiong Ting, Raras pulang ke kosnya di Jogja naik kereta Prameks dan sholat. 

Uniknya, dua orang patah hati tersebut bertemu di kampus sebagai mahasiswa dan dosen. Galih dan Raras lalu berpetualang menyambuhkan patah hati masing-masing dan belajar lagi untuk jatuh cinta. Keduanya sama-sama ditinggal mati pasangannya. Namun Raras jelas memiliki kondisi yang lebih memilukan. Ia tidak pernah memilih untuk jadi lesbi, tapi ia mencintai Violet sedemikian kuatnya. Dengan Galih, ia harus belajar menjadi seorang heteroseksual. Dan itu teramat susah, apalagi ia belum sepenuhnya mengikhlaskan Violet.

Begitu premisnya.

Saya dulu pertama kali membaca buku di tahun 2012 karena rekomendasi mbak-mbak penjaga perpustakaan. Katanya, yang nulis alumni kampus yang sekarang bekerja di Trans TV. Istri seorang penulis juga namanya Eka Kurniawan. Dan setelahnya, Ratih Kumala menjadi salah satu penulis favorit saya sepanjang masa. Saya cinta buku ini. Dari sekian kisah cinta yang ditulis orang Indonesia, baru ini saya menemukan yang berani membawa tema hubungan sesama jenis; lesbian. Sudut pandang Raras saat menceritakan Violet terasa tajam dan intim di saat bersamaan. Emosi mereka sama seperti pasangan heteroseksual. 

Sama seperti Galih pada Krasnaya. Bedanya, Raras harus cemburu melihat Violet berpacaran dengan beberapa lelaki. Ratih Kumala juga gokil saat memberikan gambaran bagaimana Krasnaya mati dan bagaimana Violet mati. Membuat ngeri pembaca. Yang tadinya merasakan romantis sampai ubun-ubun, selanjutnya jadi bergidik horor karena penulis memberikan deskripsi gamblang tentang bagaimana proses kremasi Violet terjadi. Saya merinding.

Latar belakangnya diambil dari beberapa negara. Rusia, Kanada, dan Indonesia. Sama seperti Fira Basuki, Ratih Kumala luwes dalam menceritakan bagaimana atmosfer ketiga negara tersebut. Apalagi di bagian Krasnaya. Ia seperti tahu betul bagaimana komunisme di sana berlangsung selama bertahun-tahun. Tulisannya cerdas dan kaya berdasarkan riset. Tapi tetap, saya paling suka dengan unsur permainan emosi yang dituliskan Ratih Kumala.

Dari buku ini, saya belajar bagaimana merpermainkan emosi pembaca cerita.


Argus: Tidak ada hubungan apa pun yang bisa memberikan jaminan, Raras.
Raras: Why not?
Argus: Karena yang bisa memberi jaminan hanya asuransi! - hlm. 158

--- [] ---

Ketiga novel ini memiliki kesamaan. Sama-sama menulis dengan latar budaya yang bermacam-macam. Dan bisa ditebak, bahasanya juga variatif.

Aksara membawa tema vintage dari pelosok Lombok, ingar bingar ibukota, dan romantisme Paris. Bahasa yang digunakan di dalamnya juga tiga. Bahasa Indonesia yang utama. Lalu percakapan antar tokohnya sesekali menggunakan Bahasa Perancis dan Bahasa Inggris. 

Di Kapitan Pedang Panjang lebih banyak lagi. Ada Bahasa Indonesia, Bahasa Minang, Bahasa Makassar, Bahasa Jawa, Bahasa Inggris, dan Bahasa India. Semuanya terjadi pada universe Djagad dan Laras secara bergantian. Mereka menjelajah dunia.

Sementara di novel Tabula Rasa, Ratih Kumala menulis ceritanya dengan Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Rusia. Galih dan Krasnaya banyak mengambil peran di Rusia. Sementara Raras dan Violet di Indonesia dan Kanada.

Ketiganya juga membawa latar belakang yang luas. Aksara lebih pada sastra dan seni. Kapitan Pedang Panjang menceritakan agama, ekonomi, dan sosial. Tabula Rasa lebih pelik lagi; politik, agama, ideologi, gender, dan pandangan seksual.

Namun ketiganya tetap menitikberatkan pada bahasan yang sama yaitu cinta. Ketiganya rumit. Meski saya akui yang paling rumit terjadi pada novel Kapitan Pedang Panjang. Intriknya juga lebih mumet pada novel Fira Basuki tersebut. Tabula Rasa, jika dipahami dengan keluasan pikiran, akan sah-sah aja dibaca meskipun gay dan homo adalah tema yang tabu untuk dibicarakan di masyarakat kita. Sementara Aksara, kisah cintanya biasa banget.

Jika ketiganya digabungkan, hm, saya nggak tahu deh jadinya akan seperti apa. Tapi dengan karakter kepenulisan ketiganya, saya rasa mereka bisa menjadi tripel kombo yang mengguncang dunia sastra dan literasi. Kalau di game, mereka bisa jadi big boss naga berkepala tiga yang dihadapi pemain pada level terakhir. Saking kayanya cerita yang mereka tulis, skill aktif dan pasifnya bisa memberikan damage yang besar sehingga menguras HP dan MP para pemain. Mungkin yang bisa ngalahin cuma Dewi Lestari. Hehe.

6 Comments

  1. Saya baca tulisan ini karena terpancing oleh judulnya. Jiwa saya merasa terpanggil. Saya baca dengan sabar untuk mencari bagian mana yang akan dibongkar oleh seorang Mayang, ternyata, sudah pandai clickbait, ya, Anda hey Anda?!

    ReplyDelete
  2. Yapp. Setuju kalo yang bisa ngalahin kayaknya cuma Dee. Baca novel nya bikin lupa dunia nyata. Tulisannya keriting karna majas tapi enak dibaca dan nggak bikin bosan sama sekali. cerita nya legendaris. imajinasi nya meledak ledak kwkw

    aku belum pernah baca tiga tiga nya sih. Agak penasaran pengen baca yang tabularasa karna keluatan lebih bagus, selain juga karn dua buku lainnya kena kritik pedes wkwkkw

    anyway menarik banget cara penarikan benang merah ketiga buku dengan dua lagu berbahasa inggris. genius intro :)

    Keep it up!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Ul. Iya, coba yang Tabula Rasa. Imajinasinya juga meledak-ledak.

      Delete
  3. ada buku fira basuki di rumah udah lama tapi blm sempet dibaca. secepatnya deh bakal dibaca.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.