Judul: Kumpulan Catatan Pinggir 3
Penulis: Goenawan Mohamad
Penerbit: Grafiti
Tahun Terbit: 1990
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 494 halaman

I could take a high road, but I know that I'm going low...
I am a ban, I am a bandito...


Kalau dipikir-pikir, hampir setiap periode pemerintahan, pasti punya pihak petahana dan oposisi. Itu terjadi bahkan dari zaman penjajahan Belanda selama 350 tahun di Indonesia. Nggak sedikit cerita kudeta antar pimpinan daerah ini dan itu yang beredar di buku-buku sejarah. Jadi dari dulu sebenarnya kubu cebong-cebongan dan kampret-kampretan sudah ada. Versinya yang berbeda. Mungkin saja nama binatang yang lain.

Jadi ngomongin politik.

Nggak apa-apa lah ya. Dikit-dikit. Biar bisa dibilang sok nasionalis. Soalnya buku yang lagi dibahas juga buku yang nyerempet-nyerempet pada tema tersebut. 

Dari pemerintahan yang sekarang nih, ada dua menteri yang saya suka banget: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti. Dua-duanya dulu dicibir di awal karena "dipandang" memiliki track record yang buruk. Kasus Century, siapa yang nggak tau, sering dihubungkan sama Bu Sri Mulyani. Padahal nggak ada bukti otentik. Malahan beliau dilirik World Bank karena piawai dan sempat kerja di sana. Bu Susi, menteri yang baru ikut kejar paket untuk dapat ijazah sekolah, malah berhasil melibas banyak mafia laut meskipun sempat ada  pro kontra dengan oknum nelayan.

Dan pandangan-pandangan ini sebenarnya sudah terjadi di era jadul. Goenawan Mohamad adalah salah satu pendiri majalahh Tempo. Seri Catatan Pinggir (Caping) yang ditulisnya ada sepuluh jilid. Sampai sekarang saya baru baca tiga karena adanya itu di perpus kampus. Yang tujuh jilid lainnya nggak tau kenapa selalu kosong dan dipinjam orang. 

Jadi makin penasaran aq tu ~

Secinta itu saya sama buku ini karena pembawaan Goenawan Mohamad dalam tulisannya selalu santai dan selo. Dan selalu bikin mikir, "kok bisa ya kepikiran begitu?"

Sempat juga menyoroti beberapa kasus sinikal terhadap pemerintah. Kadang kita mikir kenapa di negara kita begini begitu dan di negara sebelah enggak. Misalnya, eskalator. Kalian tau kan eskalator yang memanjang datar? Bukan yang kotak-kotak. Pada dasarnya, eskalator dengan bentuk tersebut dibuat agar mempercepat mobilitas penggunanya. Bukannya diam, harusnya kita berjalan di atasnya. Tapi di Indonesia rata-rata yang menggunakan diam sambil main hp. Kalau di Australia atau Singapura, udah didesak orang dari belakang biar jalan.

Lalu pada kasus restoran cepat saji. Sempat ada perdebatan tentang membersihkan sampah makanan setelah selesai dan tidak berlama-lama pakai wifi. Pihak yang pro berasal dari orang yang memang dididik rapi dan bersih sejak kecil sehingga risih kalau tidak membersihkan sendiri. Sementara pihak yang kontra bilang bahwa mereka seharusnya mendapatkan pelayanan dari pegawai restoran tersebut karena sudah membayar mahal.

Oh, baik.

Kemudian ada yang bilang kalau di luar negeri semuanya sudah membuang sampahnya sendiri. Itu kan kebiasaan baik, kenapa tidak ditiru. Kalau sudah begitu, akan muncul juga pihak yang menentangnya dengan membawa-bawa bendera Slank kolonial otak bekas jajahan Belanda. Mereka terkesan sengaja mengadopsi hal itu.

Padahal semuanya hanya sesimpel tentang kebiasaan.

Kamu berkebiasaan bersih, ya pasti risih.

Kalau enggak, ya pasti nyelonong pergi.

Berlaku buat di restoran atau warteg dan bioskop juga. Yang risih biasanya melakukan #TumpukTengah dan membawa sampah nonton filmnya sendiri keluar. Kenapa mikir simpel kayak gitu aja masih ada yang menentang. Terkadang, saya heran.

Dan Goenawan Mohamad memiliki beberapa epos tentang hal itu. Namun mengingat beliau sudah lebih dulu menjadi pengamat kehidupan, tentu tulisannya membahas hal-hal yang terjadi di tahun yang lampau. Bukan sekarang-sekarang ini.

Ada salah satu esainya yang membahas tentang privilege dan imunitas hukum. Kalau orang biasa maling sandal aja bisa dipenjara, kenapa orang DPR yang koruptor nggak bisa? Dan keanehan-keanehan lain dalam hidup bermasyarakat. Goenawan Mohamad seperti punya kacamata khusus untuk menerawang hal-hal kecil di sekitarnya secara mendalam. Meskipun pengalaman beliau banyak, tapi tulisannya sama sekali nggak menggurui.

Kalau kamu sedang suka dengan Gustika Jusuf Hatta, Pangeran Siahaaan, dan Najwa Sihab, buku ini akan melengkapi pengetahuanmu dengan pandangan bijaksana. Bagaimana caranya memandang politik sebagai gagasan. Bukan barang dagangan.


(Pangeran Mingguan - Edisi Gustika Jusuf Hatta dan Halida Hatta)

--- [] ---


Judul: Mochtar Lubis (Wartawan Jihad)
Penulis: Atmakusumah Astraatmadja
Penerbit: Kompas
Tahun Terbit: 1992
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 527 halaman

Kalau Mochtar Lubis, saya pertama kali baca bukunya yang novel. Judulnya Jalan Tak Ada Ujung. Menceritakan tentang titit dan tekad Guru Isa dalam melawan penjajahan. Tititnya nggak bisa berdiri. Tapi tekadnya terus berlari. Latar belakangnya di tahun 1945. Beberapa yang disoroti dalam buku ini salah satunya adalah adanya pelacuran sejak zaman nasi masih seharga 25 sen per porsi. Dulu belum banyak rumah bordil, makanya orang Belanda dan Jepang memperkosa orang pribumi. Sementara orang pribumi memperkosa orang Tionghoa.

Beberapa esai Mochtar Lubis yang dibahas di buku karya Atmakusumah Astraatmadja juga nyambung ke situ. Sebenarnya pertikaian--nggak tau sebenernya ini bisa dibilang pertikaian atau bukan--antara prang pribumi dan Tionghoa sudah mendarah daging sejak lama. Titik puncaknya terjadi di era order baru. Dan sampai sekarang, doktrin itu masih berlaku. Kemarin aja sempat rame di Solo ada demo melarang pesta lampion.

Padahal budaya lampion di Solo udah ada sejak zaman kerokan pakai batu.

Balik lagi ke Mochtar Lubis. Saat era kepenulisan wartanya, Mochtar Lubis sempat dicekal dan tulisannya dibredel. Ia dianggap sebagai beban berat dalam percaturan Indonesia. Ia sempat dipenjara dan diperkarakan habis-habisan oleh pemerintah pada era itu. Bukannya mundur dan tumpul, tapi tulisannya di penjara makin tajam dan berbahaya.

Makin tua, makin ia berusaha dibungkam oleh pemerintah.

Kalau lagu SID udah ada sejak zaman orde baru, mungkin liriknya akan diubah menjadi, "Kami adalah kamu. Kita tua dan berbahaya."

Adanya kebebasan pers yang seperti sekarang adalah salah satu jasa Mochtar Lubis yang dulu lantang menyuarakan kebebasan berita. Jadi... Sayang banget kalau cuma diisi dengan berita-berita hoaks dan picisan dalam rangka kampanye hitam. Apalagi gosip mahalan dan murahan ala lambe-lambean. Susah-susah diperjuangkan, sekarang kebebasan berita jadi runyam. Nyaris semua portal berita berlomba untuk nyari views dengan judul murahan.


(Najwa Shihab - Pengkhianat di PSSI)

--- [] ---

Dulu menulis di media massa susah sekali. Makanya dengan kebebasan mengakses informasi seperti saat ini, orang yang harus kreatif dalam menyaringnya. Kita nggak bisa nyalahin orang dengan bilang, "Harusnya bikin konten yang baik dan benar dong!" karena kreatifitas orang berbeda-beda. Konten dijual terpisah dengan filter. Kalau mau mendapatkan konten yang kamu mau, kamu harus mem-filter-nya sendiri. Ini sudah pernah saya bahas di tulisan Hidup Tanpa Sosial Media. Daripada susah mengkritisi apa yang ada di media sosial, mending melakukan hal-hal lain seperti nambah poin di Google Local Guide atau volunteer.

Kalau melihat sepak terjang Goenawan Mohamad dan Mochtar Lubis dalam dunia tulis menulis di Indonesia, portal berita semacam Tribun sekarang rasanya jadi kerdil. Nggak ada apa-apanya. Ada beberapa orang yang malah udah memblokir Tribun dengan alasan kesehatan mental. Beritanya setengah matang semua. Nggak bisa dicerna.

Emang paling bener sekarang dengerin Podcast Kesayangan aja.

Nggak usah baca berita.

4 Comments

  1. Yoi.

    Ngapain lah nonton kanal-kanal Asumsi atau MataNajwa. Mending nonton Atta Halilintar.

    Ahsiyaaaap~

    ReplyDelete
  2. kalo tiap ke perpustakaan dulu, kok gue males banget ngambil buku dengan tema-tema seperti ini. baru sekarang nyadar, bahwa buku ini penting juga. senggaknya biar nambah wawasan.

    mungkin yang dimaksud luar negri dengan kebiasaan yang baik-baik itu ada di daerah eropa ataupun amerika. soalnya kalo di Mesir, ya sama aja orangnya. sebelas-duabelas kelakuannya kayak di jakarta.

    mungkin saat ini, niat orang-orang menulis sudah berbeda dengan niat yang dimiliki oleh Mochtar Lubis. klo dulu beliau menulis untuk mengungkapkan sebuah kebenaran yang ada, klo sekarang mungkin untuk bisa di klik banyak orang dan dapat pemasukan yang banyak. mungkin. mindsetnya udah beda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu aku juga males, Zi. Sekarang malah suka. Novel cinta-cintaan jadi males baca.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.