Judul: Turtles All The Way Down
Penulis: John Green
Penerbit: Penerbit Mizan
Tahun Terbit: 2018
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 338 halaman

--- [] ---

Aza tidak pernah bermimpi akan terlibat pengejaran seorang miliarder berhadiah seratus ribu dollar. Ini semua gara-gara Daisy, sahabatnya yang tidak kenal takut. Berdua, mereka mendekati Davis, putra sang miliarder. Aza berusaha keras menjadi gadis baik-baik, sahabat dan detektif yang baik, karena dia tidak ingin mengecewakan orang-orang terdekatnya. Namun, menjalani hidup saja sudah cukup sulit bagi Aza, karena setiap saat dia harus menghadapi satu musuh besar: benaknya sendiri.

--- [] ---  

Dari sekian banyak novel John Green yang pernah saya baca, Turtles All The Way Down adalah yang paling banyak kutipannya. Semua hal di dalam tulisannya indah. Meskipun lagi-lagi, John Green mengangkat tema social anxiety pada remaja.

Seperti novel-novel sebelumnya.

Jadi, untuk mempermudah review dan membawa suasana baru, kali ini saya akan mengulas buku terbaru John Green--meskipun terbitnya tahun lalu--dengan bentuk tanya jawab seperti tulisan di postingan Tidak Semua Masa Kanak-kanak Menyenangkan.

--- [] ---

Bagaimana penokohan dalam Turtles All The Way Down?

Penokohan dalam buku ini nggak terlalu kompleks. Tokoh Aza adalah yang utama di buku ini. Namun sama seperti buku John Green sebelumnya, keadaannya menyedihkan. Nggak tahu ya kenapa John Green ini kalau bikin tokoh utama nggak pernah ada yang bahagia dan normal senormal-normalnya. Kalau di The Fault in Our Stars penulis membuat tokoh yang sakit fisik, di Turtles All The Way Down ia menciptakan tokoh yang sakit pikir.

Bukan gila ya, cuma stres doang kok.

Lalu ada Mom, ibu Aza yang sayang banget dengan anaknya. Tipikal ibu-ibu bawel yang protektif dengan anak perempuannya. Daisy seperti yang tertulis di sinopsis adalah sahabat Aza. Mycal adalah pacar Daisy. Sementara Davis adalah anak miliuner keparat yang menghilang dan menciptakan semua sakit kepala Aza di keseluruhan cerita--bersama adiknya yang bernama Noah. Ada pula Dr. Singh; psikolog langganan Aza. Dan Harold, mobil kesayangan Aza yang diberikan ayah ibunya ketika ia beranjak remaja. Jadi inget Herby ~

Semua tokoh yang diperkenalkan John Green memiliki porsi seperti piramida terbalik. Aza dan mobilnya--Harold--memiliki 40% total peran di buku ini. Sementara Mom dan psikolog Dr. Singh memegang 15% kendali cerita. Sementara Davis dan Daisy masing-masing 10%. Sementara Noah dan Mycal adalah sisanya. Lima persen tiap orang.

Cerita ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Sudut pandang Aza.

Siapa sih karakter yang paling kamu sukai?

Karakter yang paling saya sukai di Turtles All The Way Down adalah Mom. Sama Dr. Singh sih. Saya suka karakter Mom karena ia bisa menempatkan diri sebagai sosok sahabat bagi Aza. Dengan kesibukannya, Mom selalu tahu ekspresi Aza kalau ada yang nggak beres. Ibarat kata, Mom sebenarnya nggak selalu ada buat Aza. Tapi ia selalu cinta. 

Dalam setiap buku John Green, sosok ibu yang dituliskannya memang memegang kendali penuh atas psikis si tokoh utama. Kayaknya memang John Green memiliki hubungan istimewa dengan ibunya deh. Makanya sosok ibu yang ada di buku-bukunya selalu baik banget dan bijaksana. Jauh dari karakter ibu tiri yang ada di sinetron-sinetron pokoknya.

Kalau Dr. Singh... Saya suka karena dia seorang psikolog. Hehe. Dari dulu saya selalu kagum dengan profesi tersebut makanya saya suka. Nggak ada alasan lebih.

Adakah karakter di buku ini yang tidak kamu suka?

Oh... Ada, cuy. Saya paling nggak suka dengan karakter Daisy. Ada suatu adegan di mana Daisy dan Aza berantem dan Daisy menyalahkan Aza mati-matian sampai Aza migrain. Daisy adalah karakter sahabat yang egois. Dia ingin dimengerti oleh semesta namun tidak mau mencoba mengerti keadaan Aza yang memiliki social anxiety akut. 

Intinya, semua masalah-masalah yang muncul di Turtles All The Way Down disebabkan oleh Daisy. Entah secara langsung, maupun secara tidak langsung; melalui perantara. Tapi bingung juga kalau mau menyebut dia sebagai karakter antagonis. Mungkin lebih ke peran ganda. Setengah antagonis dan setengah protagonis gitu lah. Karena ada yang jauh lebih jahat daripada Daisy yaitu pikiran-pikiran buruk yang dimiliki oleh Aza sendiri.

Bagaimana alur dalam Turtles All The Way Down?

Alur yang ada dalam Turtles All The Way Down adalah alur maju. Ada dua puluh empat bab dalam buku ini dan semuanya dituliskan secara berurutan. Bukan maju mundur. Di awal cerita, bab satu dan dua, mungkin pembaca akan sedikit bingung karena ada beberapa cerita rumpang pada percakapan Daisy dan Aza di sekolah. 

Pas dibaca juga jadi sedikit membingungkan dan membosankan. Namun dua puluh dua bab setelahnya akan menjelaskan perihal konflik dengan baik.

Bagian mana dari cerita yang paling membuatmu senang?

Hmmm... Saya paling suka saat Aza dan Davis kencan di padang rumput dan memandangi langit malam. Davis ini suka dengan hal-hal berbau astronomi dan astrologi. Dia hafal semua gugus bintang. Di bab berapa gitu Davis menjelaskan pada Aza tentang impiannya pada ruang angkasa. Dia menjelaskan tentang lubang hitam, lubang cacing, tata surya, dan alam semesta sesuai pikirannya pada Aza. Padahal biasanya Davis nggak bisa mengutarakan perasaannya pada siapa pun--termasuk Noah, adiknya. Dan Aza juga demikian.

Aza curhat pada Davis tentang masalah kegilaan mikroba yang menyerang kepalanya. Dia nggak bisa makan sembarangan karena takut diserang bakteri. Dia bahkan takut kontak fisik dengan orang lain karena khawatir tertular virus penyakit. Hal inilah yang membuat keduanya justru jauh-jauhan saat ketemu namun intim dan mesra di chat dan video call.

Lalu saya paling suka saat Aza menemukan blog rahasia Davis. Davis ini miriiip bangettt kayak saya yang nggak mainan media sosial. Tapi diam-diam dia punya blog yang disembunyikan--tapi nggak diprivat sehingga Aza tetap bisa menemukannya. Tulisan-tulisan di blognya berisi keseharian, puisi, dan tentu saja, Aza. Dan yang bikin unik, saat Aza online internet untuk membaca blog Davis, cowok itu akan mantengin komputernya untuk melihat bahwa Aza-lah yang membacanya--dan bukan orang lain--melalui aplikasi trafik blog.

Davis: Hai.
Aza: Hai.
Davis: Kau sedang membaca blogku?
Aza: Mungkin. Tidak apa-apa?
Davis: Aku lega itu kau. Program analisisku menyebutkan seseorang dari Indianapolis sedang membaca situs itu selama 30 menit. Aku jadi gugup.
Aza: Kenapa?
Davis: Aku tidak mau puisi-puisi jelekku nanti diterbitkan di surat kabar.

Bagian ini sekaligus menjadi bagian paling romantis versi saya. Dibandingkan bagian kisah cinta manis ala Daisy dan Mycal atau bagian pergumulan Aza dan Davis secara langsung, saya lebih meleleh saat mereka membahas blog Davis yang melankolis.

Dan mungkin akan lebih romantis kalau aja trafik blog Davis nggak cuma satu. Namun ratusan ribu. Lalu penghasilannya dari blog sebesar 3800 dollar. 

Terus, bagian mana dari cerita yang paling membuatmu sedih?

Bagian yang paling membuat saya sedih adalah saat Harold rusak karena Aza kecelakaan. Pas adegan Aza cuek soal patah tulang rusuknya dan malah ngeliatin bemper Harold yang penyok, itu pedih sih. Aza sampai menangis menggerung-gerung di jalan raya karena Harold rusak. 

Mungkin karena relate kali ya.

Dulu saya pernah kecelakaan dan motor saya rusak berat. Orangnya juga rusak sih... Otaknya. Saya cukup berantakan untuk bisa dibilang babak belur karena bagian bibir robek dan tulang bahu geser. Tapi yang bikin nangis malah motor yang rusak. Bukan sakit di bagian tubuh.

Kutipan apa yang paling kamu sukai dari novel ini?

Sebenarnya membaca buku John Green yang Turtles All The Way Down ini seperti membaca buku motivasi ala Mario Teguh. Hampir di setiap babnya ada kutipan-kutipan dan kata-kata mutiara--juga kalimat penyembuhan. Saya sampai habis puluhan sticky notes karena gemas. Kayaknya tiap balik halaman adaaa muluuu kata mutiaranya. Nggak habis-habis. Boleh dibilang Turtles All The Way Down adalah buku self improvement yang berkedok novel fiksi. 

Gokil sekali, Ferguso ~

Namun ada lima kutipan yang menurut saya paling candu di antara semuanya. Mungkin saat menulis lima kekata itu, John Green sambil ngelem atau nyabu.

Masa kinimu bukanlah seumur hidupmu. - Mom (hlm. 113)

Kau tidak akan pernah benar-benar mengetahui rasa sakit orang lain, tidak terlalu--seperti halnya menyentuh tubuh seseorang, tidak sama dengan memiliki tubuhnya. - Aza (hlm. 206)

Dr. Karen Singh sering berkata bahwa pikiran-pikiran buruk yang tidak diinginkan itu bagaikan mobil-mobil yang melewatimu saat kau berdiri di tepi jalan. Dan kuberi tahu diriku bahwa aku tidak harus masuk ke dalam mobil itu, bahwa pilihanku bukanlah soal apakah aku harus memiliki pikiran tersebut, melainkan apakah aku akan terlena olehnya. - Aza (hlm. 297)

Kadang-kadang, kau mengira dirimulah yang menghabiskan uang, tapi sebenarnya uang itulah yang menghabiskanmu. - Mom (hlm. 319)

Tak ada seorang pun yang mengucapkan selamat tinggal, kecuali mereka ingin bertemu denganmu lagi. - Narasi (hlm. 338)

--- [] ---

Mungkin jika dibandingkan dengan buku-buku John Green yang lain, Turtles All The Way Down menempati urutan kedua yang paling saya suka setelah Paper Towns. John Green seperti membawa sosok Margo dalam kemasan yang berbeda pada Aza.

Kalau kata reviewer dari The New York Times, "Ini adalah kisah John Green yang paling menakjubkan, mengejutkan, dan menggugah sejauh ini. Dalam hidup, kau tidak harus menderita seperti Aza untuk memahaminya, kau cukup menjadi manusia."

Turtles All The Way Down benar-benar novel sejuta rasa.

10 Comments

  1. Curhat ya, Mas?

    Bang, ngomong-omong sampai sekarang otaknya masih gesar nggak, Pak?

    Aduh, Om, maaf kalau saya bawel ya. Nggak bermaksud gitu sebenarnya, Kak. Hehe. Dah.

    ReplyDelete
  2. Selain The Fault in Our Star, ternyata John Green punya buku lain yg keren ya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Jeh. Ini lebih bagus daripada The Fault in Our Stars 😎

      Delete
  3. "Kadang-kadang, kau mengira dirimulah yang menghabiskan uang, tapi sebenarnya uang itulah yang menghabiskanmu."

    This is totally and absolutely right.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.