Lagu sebagai pengantar membaca tulisan ini.


--- [] ---

Biasanya kos-kosan selalu menjadi tempat kita menemukan keluarga kedua. Kos-kosan pertama saat dulu kuliah S1--tempatnya persis di belakang kampus--adalah tempat di mana kami berlima dipertemukan. Saya, Riska, Dwi, Sasa, dan Sisil. Karena seangkatan dan baru sama-sama ngekos di Solo, kami hampir nggak pernah menghabiskan malam sendiri-sendiri. Kami seperti anak kembar lima. Namun setahun bersama, saya dan Riska pindah. Sementara di tahun kedua, Dwi dan Sasa yang pindah. Hanya Sisil yang tinggal di sana bahkan sampai dia lanjut S2 di universitas yang sama. Jurusan yang linier pula.

Selanjutnya saya satu kos dengan adik tingkat satu jurusan. Gina dan Irma. Saya satu kos dengan mereka selama tiga tahun sampai lulus jadi sarjana. Berbeda dengan teman-teman di kos sebelumnya, Gina dan Irma lebih sering main berdua. Cuma kadang-kadang aja main bertiga dengan saya kalau saya lagi selo dan free ngelesin. Seringnya kami bertiga makan bersama di depan TV dan curhat-curhatan tentang hal random.

Setelah lulus, saya sempat setahun bekerja di Malang sebelum akhirnya balik kucing lagi ke Solo. Saya akhirnya kos di tempat yang sekarang. Iya, yang garasinya gabung dengan kandang ayam. Hampir dua tahun kos di sini, saya menyadari bahwa saya menjadi orang yang anti sosial. Kerja dari pagi sampai malam membuat saya jarang ngobrol dengan teman kos kanan dan kiri. Mereka juga. Nggak tahu kenapa teman-teman di kos yang sekarang semuanya cenderung tertutup. Hampir nggak ada yang ngobrol kecuali di grup WhatsApp kosan. Itupun hanya untuk minta tolong dibukakan pintu gerbang kalau lewat jam malam.

Baru kali ini saya ngekos dengan keadaan tanpa akrab dengan siapa-siapa. Rumah kedua saya jadi bukan di kos-kosan. Tapi di warung samping milik Bu Yani. Orang yang sekeluarganya baik banget dan sering ngasih makanan gratis. Orang yang selalu menjadi tempat saya berkeluh kesah tentang apa pun. Orang yang selalu tertawa saat saya nambah minum air putih sampai tiga gelas, yang selalu menguatkan saya kalau saya sedang pusing dengan kerjaan, bosan dengan tesis, atau hal lain yang terjadi di keseharian.


Basically, Bu Yani dan keluarganya adalah orang yang menjadi alasan saya tetap ngekos di sini dengan keadaan serba-tidak-menyenangkan. Namun belakangan, saya mengenal seorang teman kos bernama Sekar. Adik tingkat yang sedang skripsian--yang saya baru tahu sering makan di samping juga. Dan kami mulai sering ngobrol dari sana. Saya juga mengenal Ima. Teman seangkatan saya yang masih melawan skripsinya karena sempat berhenti satu semester. Dan kami bertiga jadi sering ngobrol di mana-mana.

Kadang saya dengan Sekar. Kadang saya dengan Ima. Kadang Ima dengan Sekar. Dan sekali-sekali kami ngumpul bertiga. Beberapa hari yang lalu kami bareng ke acara nikahan anak bungsu bapak dan ibu kos--bersama Bu Yani dan keluarganya tentunya. Kami seperti teman tanpa sekat lagi. Selama acara, kami ketawa-ketiwi ngomongin buku, film, dan lagu. Suasana juga sempat sendu saat Sekar dan Ima curhat tentang masalah tugas akhir dan keluarga masing-masing. Semua keluar dari bibir mereka gitu aja.

Dan saya menutup malam itu dengan perasaan galau segalau-galaunya.

Besoknya, saat makan di warung samping, Bu Yani lantas nanyain Ima dan Sekar.

"Ima dan Sekar kok belum kelihatan?"

"Wah, kurang tau. Belum ketemu juga sepagian, Bu."

"Kalian semalam jadi akrab ya? Biasanya anak kos samping dari dulu emang nggak pernah ada yang srawung sampai akrab gitu. Tapi semalam ibu jadi bisa bercanda sama kalian."

Saya tersenyum getir. Padahal bakwan jagung yang sedang saya makan sepertinya kelebihan garam barang dua sendok. Asin.

Makin galau lah saya di situ.

Karena dua minggu yang lalu, saya telanjur booking kamar di calon kos baru yang mau saya tinggali bulan depan. Iya, saya berencana mau pindah dari kos yang sekarang. Kalau dulu pertimbangan yang memberatkan buat pindah adalah Bu Yani dan keluarganya--dan makanannya yang murah itu, sekarang jadi nambah lagi: Ima dan Sekar. Baru juga nyaman dengan teman "baru" di kosan, saya malah harus meninggalkan mereka.

Sorenya, saya dan Ima makan bareng di kamarnya karena Sekar sedang pulang kampung.

"Ma, aku mau pindah kosan bulan depan."

Ima kaget. Untung nggak sampai keselek kentang gorengnya. "Loh, kenapa?"

Selanjutnya saya cerita tentang uneg-uneg kosan. Ima mengiyakan. Dia bahkan dari tahun 2012 ngekos di sini dan nggak pernah pindah. Jelas dia hafal dengan semua keluhan anak kosan. Karena dia sendiri juga mengalami.

Lalu kami melanjutkan makan dalam diam.

--- [] ---

Masalah manusia itu ada aja ya macamnya. Selama masih hidup, kayaknya selama itu juga masalah ada. Tiap ngerasa jatuh sejatuh-jatuhnya, kadang saya nggak sengaja "ditampar" dengan pemandangan dan keadaan orang lain yang--mungkin--lebih menyedihkan. Tiap bosan kerja, beberapa kali saya temui bapak-bapak loper koran yang menunggu dagangannya laku. Kadang menyeka keringat. Kadang menopang dagu. Yang paling getir, saya pernah melihat pedagang tahu dan kacang di terminal yang menangisi dagangannya karena tak kunjung terjual. Padahal itu sudah mendekati malam.

Semua pemandangan itu membuat saya ngilu.

Yang tadinya saya ragu kalau Tuhan nggak sayang lagi dengan saya, saya jadi bersyukur. Yang tadinya saya pikir hidup itu terlalu kaku, saya jadi tafakur. Banyak hal baik di hidup kita yang alpa untuk kita syukuri.

Kita banyak mengeluh dan menyesali diri.

Padahal waktu nggak akan berhenti. Selama masih hidup, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalu. Mengusahakan apa yang ada di masa depan. Dan memiliki momen sekarang dengan bebas tanpa beban.

Karena mau tidak mau, memiliki masalah itu pasti. Bagaimana menyikapinya itu pilihan.

--- [] ---

The sun will rise and we will try again.

Happy birthday. 

I love you.

4 Comments

  1. Owalah, tak kira habis lulus itu langsung dapet gawe di Solo. E ternyata pernah ke Malang juga?

    Kenapa balek Solo, May? *aku penasaran karo jawaban e iki. Hahaha

    Sama sih. Temen-temen kost ku jaman kuliah dulu masih lumayan sering ngobrol-ngobrol atau main ke kamar sebelah gitu. Tapi yang kost'an sekarang, nggak pernah sama sekali. Kalau masalah tau apa kenal orangnya gitu, mungkin iya, tau. Tapi kalau akrab? Nggak sama sekali. Ibarat kata mah, cuma sekedar tau "oh, iki jeneng r iki, jurusan iki, asli kota ini". Udah gitu doang.

    Mau pindah? Kalau aku males angkut2 barangnya :D

    Koe temen e Eva Yulita Sari, berati ya, May?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah, Wis. Jawaban pertanyannya nanti ya aku chat aja. Wkwk.

      Ini berniat pindah soalnya udah rada-rada gak betah. Tapi galau habis kenalan dengan Ima dan Sekar itu. Huhu.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.