Judul: Drop Out
Penulis: Arry Risaf Arisandi
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2008
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 190 halaman

--- [] ---

Jemi, si mahasiswa abadi, dari kecil nggak pernah punya cita-cita. Waktu masih SD, temen-temennya ada yang pengen jadi guru, pengusaha, malahan ada yang pengen jadi tabib. Jemi nggak pengen jadi apa-apa.

“Kamu harus punya cita-cita, Jemi,” kata gurunya. “Semua temen-temenmu punya cita-cita. Agnes ingin jadi guru, dan Susi ingin jadi pengusaha seperti bapaknya. Kamu ingin jadi apa?”

“Baiklah kalo memang harus punya cita-cita. Saya pengen jadi suaminya Susi!”

“Kamu nggak boleh bercita-cita jadi cowok matre, Jemi! Pikirkan lagi!”

Itu kali pertama dan kali terakhir Jemi mikirin cita-cita. Sampe dewasa, dia tetep lebih suka membiarkan hidupnya mengalir kayak banjir--nyusahin banyak orang. Dia ikuti kemana saja angin meniupnya. Niatnya kuliah di jurusan Sastra Rusia, malah terdampar di jurusan Akuntansi. Tiap kuliah, kerjaannya cuma menggambar pohon dan pohon. Catatan kuliah jadi pohon, buku jadi sejuk, dia jadi bodoh.

Temen-temen kuliah seangkatannya udah pada lulus semua, bahkan ada yang udah meninggal, Jemi masih setia kuliah sampe tahun ketujuh dan belum juga ada tanda-tanda dia bakal segera lulus. Jemi menganut prinsip; akan terus menuntut ilmu sampe ke liang kubur.

Kampus tidak mengijinkan Jemi kuliah sampe mati. Dia harus lulus tahun ini kalo nggak mau drop out. Dengan bantuan Leah, bekas seniornya yang udah jadi dosen, dan Doktor M, dosen Statistik yang nyebelin, Jemi berjuang mati-matian menghindari DO.

- sinopsis di bagian belakang buku

--- [] ---

Kalau dulu di masa sekolah anak-anak ingin cepet-cepetan untuk kuliah dan lepas dari orangtua, maka anak kuliah ingin yang sebaliknya. Balik sekolah dengan teman-temannya tanpa ada tuntutan tugas akhir. Di sekolah semua udah diprogram sedemikian rupa sehingga semua siswa naik kelas barengan. Ujian barengan. Lulusnya juga barengan. Kalau ada yang tertinggal satuuu aja, pasti pihak sekolah lekas ngasih solusi antara lain; katrol nilai atau pindah ke sekolah lain jika memang keterlaluan banget anaknya.

Beda dengan kuliah. Kita kuliah bareng. Tapi saat IP beda, ada yang ketinggalan SKS karena dibatasi. Nggak sekelas lagi. Apalagi menjelang magang. Tempat magang beda. Diterima enggak di tempat magang juga beda waktunya. Fase lebih jauh adalah saat adanya pembagian dosen pembimbing. 

Jemi, seorang mahasiswa Akuntansi semester 13, harus berjuang melawan bayang-bayang drop out. Kisahnya sama seperti mahasiswa kebanyakan yang merasa salah jurusan. Ini diperparah dengan malasnya Jemi mengubah hidupnya yang gitu-gitu aja. Hidup benar-benar hanya untuk tidur, makan, dan buang air. Kuliah hanyalah aktivitas untuk menunggu jam makan pagi, makan siang, dan makan malam. Itu juga kalau ada uang.

Premis menarik yang dituliskan Arry Risaf Arisandi ini membuat saya ketawa ngakak di setiap halamannya. Tanpa membodohkan karakter utama, penulis yang satu ini berhasil menuliskan komedi yang mengopyok perut sampai sakit karena menggelinjang terbahak-bahak. Jemi digambarkan sebagai mahasiswa nyasar yang putus asa dan hanya mengikuti ke mana program kuliah membawanya. Sampai akhirnya mentok di tahun terakhir, Jemi terancam drop out (DO). Ia harus menyelamatkan dirinya kalau nggak mau jadi mahasiswa abadi yang nggak lulus-lulus. Jemi harus bangkit!

Novel ini tipis. Hanya 190 halaman. Namun cerita yang disajikan Arry Risaf Arisandi beneran kaya akan nilai-nilai moral. Salah satunya adalah; jangan coli di kamar mandi kosan kalau nggak mau ketahuan.

Dengan nuansa komedi yang punchline-nya di sana sini, Drop Out menjadi salah satu buku yang cocok untuk dinikmati selama kuliah. Di balik keputusasaan Jemi, ada kegigihan untuk lulus. Di balik jatuh bangun Jemi, ada hati yang sepi dan rapuh. Nggak seperti novel komedi pada zamannya, Drop Out ini konfliknya nggak terlalu berat. Karakter utamanya nggak disengsarakan seperti kebanyakan karakter di buku komedi lainnya. Untuk mahasiswa akhir, buku ini bukannya membuat demotivasi, justru membuat kalian makin kuat!

*berasa dagang obat kuat beneran*

Dan percayalah, kuliah salah jurusan itu banyak dialami sekian juta orang setiap tahunnya di dunia. Bolehlah merasa nggak niat selama tahun pertama, tapi di tahun berikutnya harus berusaha bangkit. Karena saat kalian melamun di tengah kuliah, ada pedagang asongan di luar sana yang ingin belajar di kampus seperti kalian.

Hidup mahasiswa!

4 Comments

  1. Saya sempet baca sekitar dua tahunan lalu. Mungkin rasanya ketinggalan, tapi ternyata leluconnya masih mantap. Setiap halaman selalu berhasil menghibur, walaupun enggak sering ketawa (menurutmu malah sampai bikin sakit perut karena terbahak), intinya bisa bikin saya nyengir.

    Buku ini juga dijadiin film kan, May? Sayangnya jelek, bagi saya. Mungkin karena saya nonton duluan daripada baca. Wahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dibandingkan buku-bukunya Raditya Dika, aku malah lebih seneng sama tulisannya Arry ini, Yogs. Hehe. Kalau dijadiin film, aku malah nggak tau. Tahun berapa emangnya?

      Delete
  2. Padahal mahasiswa di kelas pengen cepat lulus biar bisa jadi pedagang asongan. #ehgimana

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.