Judul: Teka-teki Terakhir
Penulis: Annisa Ihsani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 252 halaman

--- [] ---

Gosipnya, suami-istri Maxwell penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tahu tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad. Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, Laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya...

--- [] ---

Annisa Ihsani boleh jadi adalah penulis Indonesia yang membawa angin segar dunia anak-anak pada bukunya melalui Teka-teki Terakhir.

Dengan maraknya novel-novel tembusan Wattpad yang lain, Annisa Ihsani justru mengajak pembacanya untuk kembali ke masa kanak-kanak di mana rasa ingin tahu terhadap sesuatu--apalagi misteri--masih tinggi-tingginya.

Bukan rasa ingin stalking ya ~

Dengan gaya bahasa seperti novel terjemahan, Teka-teki Terakhir menjadi novel anak-anak asli Indonesia pertama yang memiliki karakter seperti bukunya Enid Blyton: Lima Sekawan. Nah, persis! Seperti itulah atmosfer bukunya Annisa Ihsani. Saat pertama baca, kalau nggak ngeh sama pengarangnya, mungkin kita akan mengira Teka-teki Terakhir ini adalah novel anak-anak terjemahan. Ada kekhasan tersendiri yang akan membuat kalian jatuh hati pada tulisan Annisa Ihsani, terutama jika kalian penggemar genre yang sama.

Karakter utama dalam Teka-teki Terakhir adalah anak usia jelang remaja yaitu Laura Welman. Laura memiliki satu kakak laki-laki yang amat disayanginya: Jack Welman. Mereka tinggal bersama ayah dan ibunya. Sama seperti keadaan kota kebanyakan, pasti ada rumor dan gosip yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Apalagi rumor tentang hal yang angker.

Rumor itu salah satunya adalah tentang rumah pasangan suami-istri Maxwell yang hanya lima ratus meter dari rumahnya. Mulanya, Laura dan Jack selalu menghindari lewat di depan rumah tersebut dan mengambil jalan memutar meskipun lebih jauh. Namun suatu pagi di tahun 1992, Laura terpaksa mengetuk pintu rumah tersebut... Dan semuanya berubah.

Saya suka banget dengan karakter Laura di sini. Sebagai anak remaja yang rasa penasarannya sangat besar, Laura memiliki karakter yang selalu ingin tahu dan tidak mudah percaya pada kata-kata orang jika tidak langsung tahu dari yang bersangkutan. Selain itu, Laura ceplas-ceplos. Enam puluh persen cerita ini hidup karena rasa ingin tahu dan pedulinya yang tinggi. Konflik batin yang terjadi di dalam hidup Laura sebagian besar karena sifat remajanya yang labil. Baik itu dengan Katie--sahabatnya yang suka melukis--dan juga dengan nyonya dan tuan Maxwell. Di buku ini, kamu bisa menemukan bahwa persoalan anak-anak adalah seputar persahabatan. Murni hubungan pertemanan. Tanpa adanya unsur cinta-cintaan seperti teenlit.

Seperti tampak di sampulnya, Teka-teki Terakhir berhubungan erat dengan nuansa matematika di dalamnya. Seperti latar belakang yang dimiliki suami-istri Maxwell yaitu ilmuwan matematika. Laura yang tadinya benci dengan angka dan matematika berubah menjadi sebaliknya; menyukai matematika. Lucu bahkan kalau ingat di awal novel, Laura harus pulang manyun karena mendapatkan nilai nol merah besar di kertas ujiannya.

Tetapi bumi juga akan mati! Kenapa kita melakukan semua ini kalau pada akhirnya semua akan sia-sia, Julius? - Laura (hlm. 218)
Baiklah. Kalau begitu, anggaplah alam semesta akan berakhir. Tetapi aku tidak tahu kapan itu akan terjadi. Jadi, apa yang harus kulakukan dengan hidupku sekarang? Tentu saja, aku bisa menghabiskan waktuku tanpa melakukan apa-apa, berpikir kalau semua akan sia-sia saja. Tetapi bukankah lebih menyenangkan mengisinya dengan menanam tomat, membaca buku, dan membuktikan teorema? - Julius (hlm. 219)

Annisa Ihsani berhasil membawa saya untuk nggak menutup buku ini sebelum selesai. Di balik keangkeran rumah suami-istri Maxwell, saya menemukan surga dunia. Sama seperti Laura. Di balik ketidakpedulian Jack pada adiknya, saya menemukan kasih sayang yang disembunyikan. Juga Katie, meskipun ia pernah salah paham dengan Laura.

Buku ini mengajarkan pada kita bahwa kita tidak tahu apa yang ada di balik pintu sampai kita mengetuknya...

Annisa Ihsani seperti ingin mengatakan bahwa: Ini loh, masalah anak kecil tuh nggak jauh-jauh dari yang namanya pertemanan dan rasa penasaran. Namun dengan dua hal itu, anak-anak belajar banyak untuk menyambut masa remaja mereka.

Aaaak, bagusss!

Buku ini hangat saat dibaca. Hangat di hati maksudnya. Apalagi saat masuk dan memahami karakter misterius pasangan suami-istri Maxwell yang ternyata menyimpan banyak rahasia tentang pencapaian dan cita-cita. Bikin terharu banget pokoknya. Huhu.

Bacaan kayak gini nih yang harusnya makin banyak diterbitkan di Indonesia. Teka-teki Terakhir ditujukan untuk semua usia. Jadi, cocok buat dibaca anak-anak, remaja, maupun dewasa. Gaya bahasanya memang seperti novel terjemahan, namun jangan khawatir. Diksi yang digunakan Annisa Ihsani ini benar-benar ringan dan kebanyakan denotasi. 

Enak lah buat dibaca santai atau didongengkan ke anak-anak.

Mungkin juga bisa dipakai buat tugas resensi novel Bahasa Indonesia. 

Menarik yekan?

Ayo, ikut bertualang di rumah tuan dan nyonya Maxwell dan temukan keajaiban!

Immortality may be a silly word, but probably a mathematician has the best chance of whatever it may mean. - G. H. Hardy (A Mathematician's Apology)

2 Comments

  1. Mas, kutipan terakhir itu maksudnya apa ya? Mohon dijelaskan, sebab saya mengira kalau itu maksudnya guru matematika pengin jualan bakwan.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.