Judul: Tahun-tahun Cahaya dan Kisah-kisah Cosmicomic Lainnya
Penulis: Italo Calvino
Penerbit: Basabasi
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 218 halaman

--- [] ---

Kalau nanti ada kesempatan untuk lahir kembali di dunia ini, pilihan untuk reinkarnasi menjadi kecoa mungkin merupakan takdir yang tepat.

Kalau kamu suka dengan esai-esai bertema sains namun enggan belajar rumus matematikanya, Tahun-tahun Cahaya dan Kisah-kisah Cosmicomic Lainnya adalah buku yang tepat untuk dibaca. Esai yang dituliskan dalam buku ini berbeda dengan buku-buku berisi artikel sains pada umumnya. Italo Calvino dengan cerdik meramu cerita-cerita tentang galaksi dan alam semesta dengan bahasa dongeng yang sederhana.

Sebenarnya waktu pertama baca, saya jadi keingat buku karya Neil deGrasse Tyson yang judulnya Astrophysics for People in a Hurry. Namun buku ini jauh lebih ringan. Bukan ringan karena halamannya lebih sedikit, tapi cara menuangkan gagasan Italo Calvino lebih awam. Pas untuk dinikmati para penyuka sains tanpa latar belakang fisika atau astrofisika. Tanpa rumus, buku ini menjelaskan keunikan alam semesta.

Ada 12 esai yang dituliskan Italo Calvino di buku ini. Dua esai pertama bahkan disisipi beberapa lelucon mesum yang membuat saya hampir keselek biji kurma. Sesaat saya mikir ini buku pengetahuan tentang antariksa apa bukunya Eka Kurniawan sih. Kok ada kata-kata yang melipir-melipir. Ehehe.

Esai yang judulnya "Jarak Bulan" sukses membuat saya mempertanyakan kenapa ilmuwan dulu langsung mengklaim bahwa jarak bulan adalah sekitar 384.400 kilometer. Padahal semua astronot yang ke sana nggak ada yang pernah dibekali meteran. Tolok ukurnya apa? Lalu kenapa jarak bulan  berkembang menjadi acuan untuk menentukan jarak bumi ke planet-planet lain? Namun esai menggelitik Italo Calvino mampu menawarkan solusi dengan dongeng analogi yang sederhana. Alih-alih mikir sampai otak belibet dan pipis kebelet, penulis ini bisa membuat pembacanya manggut-manggut, "Iya juga ya."

Kesel kan.

Rontok semua pegangan hidup anak fisika kalau baca buku ini pokoknya.

Buku ini juga menjadi buku esai sains pertama yang isinya ada mesum-mesumnya. Bangke.

Italo Calvino mengotori pikirankuuu ~

Bahkan setelah selesai membaca buku ini--terutama di bagian esai tentang bulan itu, di otak saya jadi terpatri kalimat jahanam ini, "lipatan telanjang dan lembut daging bulan".

YA KALAU BULAN PAKE BAJU BEGIMANA CARANYA ETDAH.

Sementara esai "Sebuah Tanda di Antariksa" memaksa otak saya menggugat tentang matahari yang digadang-gadang sangat panas suhunya. Bahkan belum sampai korona aja, pesawat ulang alik tanpa awak biasanya sudah meleleh saking panasnya. Di sini juga ada mesum-mesumnya lagi. Matahari diibaratkan perempuan dengan bodi aduhai sehingga mata yang melihatnya bisa panas kegelian. Berasa baca buku stensil kan?

Italo Calvino menulis bahwa matahari itu bisa jadi panas di luar, dingin di dalam. Sama seperti analogi perempuan tadi. Luarnya "panas", dalamnya sedingin es karena menutupi banyak sekali pahitnya kehidupan. 

EAAA.

Kan yang baca jadi mikir, gimana kalau selama ini kita ditipu oleh ilmuwan mentah-mentah?

Itulah yang saya dapatkan dari membaca esai-esai Italo Calvino; si penulis mesum asal Italia yang berkedok sains tersebut. 

Esai yang berjudul "Dinosaurus" adalah favorit saya dari keduabelas tulisannya. Konspirasi yang bilang bahwa dinosaurus punah karena kejatuhan meteor seperti dibantah Italo Calvino di esai ini. Bahkan secara terang-terangan Italo Calvino menuliskan bahwa dinosaurus mati bukan karena meteor, melainkan keterbatasan skill adaptasi yang mereka miliki akibat perubahan vegetasi bumi. Ada indikasi perubahan komposisi biotik dan abiotik yang membuat dinosaurus "terkena wabah" dan akhirnya mati satu per satu. 

Ini paling polemik sih. 

Ia juga memaparkan kalau dinosaurus tidak benar-benar punah. Hewan-hewan purba tersebut bereinkarnasi menjadi makhluk lain di masa sekarang. Bahkan mungkin manusia yang ada di sekitar kita. Mungkin juga kita sendiri.

Saya jadi ingat kalau ada beberapa artikel yang membahas tentang kejadian reinkarnasi beberapa orang di dunia karena kemiripannya (seperti artikel tentang suami Anne Hathaway). Tentang beberapa orang yang kelihatannya nggak pernah tua-tua (seperti Keanu Reeves). Juga tentang dua orang dengan tingkat kemiripan genotip dan fenotip yang hampir seratus persen (seperti penyanyi Gotye dan aktor Bradley Cooper).

Italo Calvino menentang teori evolusi dan membawa teori reinkarnasi dengan fakta-fakta ilmiah menurut riset dan gagasannya. Dan sekali lagi, semua itu dituliskannya dengan amat sederhana. Dan juga mesum. Mesumnya nggak pernah ketinggalan.

Jadi, apakah buku ini patut dibaca?

Woyajelas.

Kalau mau menikmati tulisan dengan tema perkawinan sains dan dongeng--juga kemesuman, buku ini adalah buku yang cocok untuk kamu nikmati. Apalagi kalau kamu merupakan penyuka teori reinkarnasi atau teori kontradiksi melawan sains dan semacamnya. Buku ini bukan hanya patut, namun wajib dibaca.

Kalau nanti ada kesempatan untuk lahir kembali di dunia ini, pilihan untuk reinkarnasi menjadi kecoa mungkin merupakan takdir yang tepat.

4 Comments

  1. Bagus nih bukunya.

    Kalau punya kesempatan, di kehidupan berikutnya saya mau jadi tiang listrik bertenaga surya, agar bisa menerangi aspal jalan yang dulunya juga kekasih saya. Eaaa

    ReplyDelete
  2. Buku yang cocok untuk Hawadis (karena fisika) dan Yoga Es Kr—oke, skip.

    Jadi, itu kumpulan cerpen atau esai? Esai, ya? Nonfiksi yang ditulis dengan analogi, gitu?

    Sejujurnya judul dan sampul bukunya enggak menarik, tapi karena penerbitnya BasaBasi dan baca sedikit resensi ini, saya mulai tertarik untuk...

    ...menjadi kecoa.

    ReplyDelete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.