Judul: Silariang
Penulis: Oka Aurora
Penerbit: Coconut Books
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 194 halaman

--- [] ---

Diadaptasi dari film dengan judul yang sama, Silariang mengangkat tema yang cukup berat. Sesuai dengan artinya: kawin lari. Silariang terjadi karena cinta sepasang laki-laki dan perempuan yang tidak direstui. Dalam kasus di cerita ini, silariang yang dilakukan Yusuf dan Zulaikha terjadi karena mereka dari dua kasta yang berbeda. Zulaikha masih keturunan bangsawan Bone. Sementara Yusuf dari keluarga biasa namun kaya raya.

Keluarga yang keras kepala membuat Yusuf dan Zulaikha tak punya pilihan lain. Maka dengan sisa-sisa harapan, keduanya lari ke tempat yang jauh dan terpencil dari Kota Makassar untuk menikah dan memulai hidup yang baru. Berdua. Hanya berdua. Keputusan keduanya sudah pasti membuat pihak keluarga Zulaikha menghalalkan darah Yusuf dengan badik peninggalan kerajaan mereka. Yusuf diburu oleh keluarga Zulaikha.

Sayangnya, waktu pergi, Yusuf telanjur cerita pada temannya yang bernama Jamal agar orang tidak ada yang tahu ke mana ia dan Zulaikha pergi. Namun semua terbongkar. Harusnya Yusuf nyari teman yang gampang lupa kalau dicurhatin atau dititipin sebuah rahasia. Teman tapi amnesia biar nggak kayak Jamal. Udah dipercaya biar nggak bilang-bilang ke ayah Yusuf, tapi masih aja keceplosan. Huhu. Kan kasian Yusuf jadi dikejar-kejar oleh orangtuanya dan juga Puang Ridwan beserta Zulfi--kakak Zulaikha--yang menentang ibunya.

Apakah Yusuf dan Zulaikha akhirnya bisa hidup bahagia?

--- [] ---

Beberapa cerita tentang kawin lari yang pernah saya baca nggak hanya terjadi di tanah Sulawesi. Ada juga di Bali yang masyarakatnya masih sangat menjunjung tinggi suatu kasta. Kalau nggak salah buku yang saya baca judulnya adalah Dadong Sandat. Kedua tokohnya kawin lari karena cinta mereka tidak direstui. 

Zulaikha dan Yusuf dalam buku Silariang ini juga sama. Demi cinta, mereka harus meninggalkan gelimang dunia yang ada di sekitar mereka. Yang tadinya mau makan apa saja bisa, sekarang harus bekerja keras menggarap sawah dan angon bebek untuk makan sehari-hari. Yang tadinya mau beli apa saja bisa, sekarang harus berhemat untuk kebutuhan mendadak yang mencekik finansial pasangan muda tersebut.

Dari buku ini saya belajar banyak adat dan budaya Makassar, juga Bugis. Ada adat yang biasa dilakukan keturunan bangsawan saat anaknya dilarikan oleh pemuda berkasta rendah. Namanya Mabbaratta. Sebaliknya, ada juga Mappadeceng. Tradisi yang dilakukan oleh kedua keluarga yang berbaikan karena sudah menerima anak dan menantu mereka, membiarkan anak dan menantu mereka pulang ke haribaan keluarga.

Sama seperti novel Dadong Sandat, pengetahuan tentang betapa kayanya tradisi Indonesia terungkap di sini. Oka Aurora dengan hati-hati "memparafrasekan" film Silariang dengan bahasa campuran. Bahasa Indonesia dan Bahasa Makassar yang kental. Percakapan di dalam buku ini juga didominasi dengan partikel kebahasaan Makassar seperti "mi", "ji", "pi", "ki", "paeng", dan "pale". Oka Aurora juga tidak serta merta menuliskannya tanpa penjelasan. Ia menambahkan catatan kaki di tiap istilah dan partikel kebahasaan tersebut. 

Novel Silariang mengajarkan banyak hal pada pembacanya. Yang paling utama tentu saja tentang cinta. Jika kita pergi karena cinta, kita nanti juga pasti pulang karena cinta. Semua itu garis takdir yang tak bisa ditolak. 

Melalui novel ini saya juga jadi tahu bahwa batu yang terus menerus ditetesi air akan berlobang di atasnya. Tanda bahwa hati--yang bahkan lebih lunak daripada batu--juga akan luluh pada akhirnya. Semuanya masih bisa didoakan dan diperjuangkan. Dengan lakon dan karakter yang sangat apik, Silariang sukses membawa tema cinta yang manusiawi dan pelik pekik rumah tangga. Kita bisa tertawa dan menangis melihat jungkir balik Yusuf dan Zulaikha dalam mengusahakan hal-hal baik di keluarga mereka.

Karena tidak ada hubungan yang sempurna.

Namun kita bisa menyukuri ketidaksempurnaan suatu hubungan.

Lagi-lagi, itu pilihan.

0 Comments