Perkomikan Indonesia sekarang semakin maju. Zaman dulu kalau mau baca komik pasti pengarangnya dari luar. Detektif Conan dan Detektif Kindaichi adalah dua contoh komik yang diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Juga siapa yang nggak kenal dengan Doraemon dan Crayon Shinchan? Pasti nggak ada.

Elex Media Komputindo adalah salah satu penerbit yang merilis komik-komik terjemahan. Tapi dari tahun ke tahun, belum pernah merilis komik lokal buatan dalam negeri. Selain karena pasarnya kurang, banyak orang yang tertarik--bahkan berbakat--menjadi komikus namun tidak ada yang mewadahi. 

Setelah adanya digitalisasi, sekarang orang yang bercita-cita jadi komikus mendapatkan tempat untuk berkreasi. Media Webtoon yang berkolaborasi dengan Line adalah salah satu media untuk menulis komik. Adanya Pentab juga meringkas waktu menggambar. Yang dulunya hanya menggunakan kertas, pensil, dan cat air, sekarang komikus bisa menggunakan perangkat lunak untuk membuat sketsa dan mewarnai.

Dengan geliat komikus di dunia digital, sekarang pekerjaan komikus di Indonesia nggak lagi dipandang sebelah mata. Ada banyak kompiler komik lokal berbudaya Indonesia yang bagus-bagus. Karya Is Juniarto, Sweta Kartika, dan Annisa Nisfihani menjadi idola banyak remaja. Komik kompilasi seperti re:On dan Kosmik sekarang banyak ditemukan di toko-toko buku seperti dulu ada kompilasi Shonen Star dari Jepang.

Di media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram juga banyak komik komik strip lucu yang update berkala. Tahilalats yang memulai karir dari komik strip bahkan udah berhasil bikin komik cetak dan daring.

Sederhananya, semua orang bisa menjadi komikus.

Perkembangan literasi juga ada pada novel. Ada perbedaan novel dulu dan sekarang. Dulu ada novel vulgar yang murah--kalau kalian ingat, ada novel sastra yang berat bahasanya, novel berisi cerita legenda-legenda, dan novel terjemahan. Masuk ke tahun 2006 ke atas, mulai ada novel yang teeny dan cheesy--biasa disebut teenlit. Dengan banyaknya perkembangan pada dunia kepenulisan, sekarang jadi banyak juga aliran tulisan yang lain. Ada kategori young adult. Ada kategori personal literature seperti buku-buku Raditya Dika. Chicklit yang lebih ringan dari teenlit. Dan novel science fiction.

Sederhananya, semua orang bisa menjadi penulis.

Saya menyukai banyak aliran tulisan dan komik. Sejak kecil suka membaca buku dan jadi ngeh tentang perkembangan tulisan yang terbit di pasaran. Saking posesifnya sama buku, bahkan teman yang minjem udah nggak saya bolehin lagi kecuali dibaca di rumah saya. Soalnya sering kejadian buku dipinjem nggak balik lagi. Atau pas dibalikin ada tekukan, goresan, dan bau. Nggak tahu kena ingus atau apa. Huhu.

Jadi kalau pengin banget beli buku, saya sendiri nggak akan minjem temen. Kadang minjem di perpus kota dan baca di sana. Jika ada tabungan, beli sendiri. Keliling kota-kota untuk mencari toko buku khas di setiap sudutnya adalah hobi. Pokoknya, kalau saya menginjakkan kaki di kota baru, hal pertama yang saya cari adalah toko buku. Kedua, toko stationary atau alat tulis. Ketiga, baru deh tempat kulineran.

Ada beberapa rekomendasi toko buku yang pernah saya kunjungi di kota-kota berikut. Semuanya menjual komik bekas dan baru, juga novel dari zaman dulu hingga sekarang. Pilihannya banyaaak sekaliii ~

1. Toko Buku di Bandung


Salah satu toko buku yang saya kunjungi di kota ini adalah Palasari. Lebih mirip kompleks pusat perbukuan sih. Biasanya Palasari ramai dikunjungi oleh anak-anak UPI, ITB, dan UNPAD. Ada banyak buku teks kuliahan yang biasanya menjadi referensi rujukan dari dosen. Selain itu, di sini juga dijual komik dan novel yang lengkap banget. Terakhir saya ke sana, bahkan di sini banyakan novel asli daripada bajakannya. Harga yang dipatok biasanya naik kalau yang berkunjung wisatawan. Jadi kalian harus bisa nawar ya!

2. Toko Buku di Jakarta


Kalau ingat AADC, pasti kalian juga ingat Kwitang dan Pasarsenen. Betul. Dua tempat tersebut adalah dua sentra buku di Jakarta. Sama seperti Palasari di Bandung, membeli buku di sini harus cermat dan pandai tawar menawar. Karena tanpa skill emak-emak tersebut, penjual bisa menjualnya dengan harga lebih mahal. Selain dua lokasi tersebut, basement Blok M Square juga memiliki sentra buku yang keren banget.

3. Toko Buku di Jogjakarta


Shopping Center adalah sentra buku yang ada di Jogja. Memiliki dua lantai, tempat ini terbagi menjadi beberapa section. Di bagian kanan lantai satu, buku-bukunya terdiri dari buku mata pelajaran di sekolah dan buku kuliah. Sementara di bagian kiri lantai satu, isinya adalah buku-buku rohani dan novel. Di lantai dua bagian kanan, komik lebih mendominasi. Sementara di section kiri, novel dipajang berjajar dan berurutan. Di sini ada pilihan novel bekas dan novel baru. Sama seperti sebelumnya, di sini harus pintar menawar.

4. Toko Buku di Semarang


Ada toko buku Agung dan Merbabu. Di dua toko buku ini, hampir setiap sisinya ada yang menjual teka-teki silang. Juga buku-buku tipis berisi tips dalam hidup. Mengingatkan saya pada kisah di novel Para Pelukis Langit. Tokohnya yang masih SMP pernah belanja buku di Semarang. Bukunya berisi tips mendapatkan hati gebetan. Di Semarang, bukunya menurut saya nggak selengkap di Jogja. Tapi ada novel sastra lama angkatan Balai Pustaka yang sepertinya bekas pasokan dari perpustakaan kota. Dijual dengan harga miring.

5. Toko Buku di Solo


Enam tahun berada di kota ini, nongkrong di toko atau sentra buku adalah salah satu escape from routine way yang saya lakukan. Mengendus dan membeli buku menjadi terapi berkala. Intinya, mending nggak makan daripada nggak beli buku. Pokoknya setiap bulan harus beli novel baru. Makanya semenjak itu, bacaan nggak kurang-kurang. Tapi sayanya kurang gizi. Sampai tipes dan masuk rumah sakit. Hehe.

Sentra buku di Solo ada di belakang taman pementasan Sriwedari. Di sana, toko buku berjajar sepanjang satu kilometer. Pilihannya banyak banget. Kalau ke sini, tipsnya adalah membawa kertas bertuliskan buku yang mau kalian cari. Tulis judul dan pengarangnya. Waktu jalan, tinggal tunjukkan kertas tersebut pada penjualnya. Nanti mereka akan mencarikan buku tersebut. Kalau nggak ada, langsung disalurkan ke penjual lain di samping kanan dan kirinya. Namun kalau belum punya list belanjaan dan mau lihat-lihat dulu, mulailah dari ujung jalan selatan. Di sana gudangnya tabloid dan majalah dengan harga murah.

6. Toko Buku di Kediri


Oscar boleh jadi merupakan toko buku paling tua di Kediri. Bapak adalah orang yang pertama mengenalkan saya pada toko buku ini. Meskipun tokonya kecil dan bukan berbentuk sentra, namun isinya jangan ditanya. Lengkap banget. Ensiklopedia yang langka sekalipun ada di sini. Novel terjemahan juga ada banyak pilihan. Komik apalagi. Yang asik di sini adalah setiap buku yang kita beli selalu disampul gratis.

7. Toko Buku di Malang


Sentra buku Wilis yang sudah terkenal di kota Malang sejak belasan tahun lalu selalu ramai oleh pengunjung. Semua orang Malang belanja bukunya rata-rata ke sini. Harganya murah, bisa ditawar, dan lengkap sekali. Daripada sentra buku yang saya datangi di kota lain, Wilis adalah yang paling nyaman. Tempatnya seperti kompleks rumah petak dan di setiap sisi ada kipas anginnya--dan juga toilet bersih. Jika setelah membeli buku kalian lapar, kalian bisa nongkrong di warung mie ayam yang ada depannya.

8. Toko Buku di Surabaya


Jika main ke Surabaya, sempatkan untuk mencari buku di Kampung Ilmu Surabaya. Berderet buku dipajang di sana dengan harga yang relatif miring. Itu pun masih bisa ditawar ya. Dengan cuaca panas Surabaya yang biasanya membabi buta, sentra buku ini justru adem. Ada banyak rindang pohon dan bambu yang menghiasi sisi kanan kirinya. Jika letih berjalan, kalian bisa duduk menikmati semilir angin sambil minum es teh yang dijajakan di sudut kiri sentra toko buku. Koleksi komik dan novel di Kampung Ilmu biasanya merupakan hibah dari rental komik dan novel yang tutup usaha. Harganya dijamin murah banget.

Selain toko buku yang harganya bisa ditawar-tawar, hampir setiap kota juga memiliki toko buku berantai seperti Gramedia dan Togamas. Gramedia paling besar, bagus, dan lengkap yang pernah saya datangi adalah yang ada di Solo. Sementara Togamas paling besar dan mewah yang pernah saya datangi adalah yang ada di Malang. Saking besarnya, mungkin Togamas di Malang bisa buat turnamen futsal antar kecamatan. Hehe.

Sebenarnya belanja buku di toko buku berantai emang lebih enak. Harganya pas. Tempatnya sejuk. Bisa cuci mata lihat alat tulis lucu. Tapi sensasi belanja buku di sentra dan toko buku khas di setiap kota nggak akan bisa tergantikan. Kegiatan tawar menawarnya itu loh, ngangenin. Kadang kalau beruntung, kita bisa dikasih bonus buku. Plus, bisa akrab juga sama yang jualnya. Kalau langganan kan bisa dapat buku gratisan.

Terus... Kalau kalian masih nggak yakin belanja di sentra, jangan khawatir. Nggak semua buku yang dijual di sentra adalah buku fotocopy-an atau bajakan. Ada buku yang asli kok. Buku asli biasanya dari sampulnya aja kelihatan. Dan harganya lebih mahal dari yang bajakan. Atau kalau mau lebih yakin dengan buku asli, belilah yang bekas alias preloved. Ini lebih murah daripada asli yang baru. Minusnya, mungkin ada tanda tangan pemilik sebelumnya atau beberapa lecet kecil. Namun, buku tetap buku kan?

Bekas atau baru, yang penting adalah isinya.

Oh iya, ada juga beberapa hal yang paling utama dari kegiatan berburu buku. Pertama, sesuaikan budget kalian. Kalau udah target habis seratus ribu untuk beli buku, ya jangan beli lebih. Karena bagi sebagian pencinta buku, kalau udah melihat tumpukan buku banyak di depan mata, silap dan khilaf mudah sekali terjadi. Kedua, bawa daftar belanja. Bukan cuma belanja grosir bulanan yang butuf daftar. Buku juga butuh daftar. Dengan daftar buku, kalian akan tahu mana buku yang mau dibeli duluan sebagai prioritas. Ketiga, tunggu diskon atau cashback. Biasanya diskon di toko buku diberikan di event tertentu seperti liburan dan akhir tahun. Sementara cashback bisa kita dapat dengan membayar menggunakan uang digital.

Bagaimana? Siap berburu buku?





Images are taken from:
https://www.suparmanto.com/harga-buku-di-blok-m-square-jakarta-selatan-sangat-murah/
http://ulinulin.com/posts/pasar-buku-palasari-bandung-surga-belanja-buku
https://www.gudeg.net/direktori/1762/pasar-buku-taman-pintar-book-store-yogyakarta.html
http://jateng.tribunnews.com/2017/11/02/penjual-buku-stadion-diponegoro-semarang-dagangan-makin-laris-adanya-toko-online
http://solo.tribunnews.com/2016/05/06/video-busri-tempat-berburu-buku-bekas-dan-baru-di-solo
https://tokobukuoscar.business.site/
http://m.suarasurabaya.net/app/kelanakota/detail/2017/187125-Penyelamatan-Buku-ke-Kampung-Ilmu

4 Comments

  1. Aku jadi teringat dulu sering ngubek pasar bukuloak tak cuma di Pasar Senen dekat terminal Senen tapi juga di pasar Jatinegara.
    Kulakukan karena minat membacaku melahap bacaan apa saja.
    Harga bukunya ada yang satuan ada juga yang dijual perkiloan, kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya di sentra buku harganya memang ada yang satuan, grosir, dan kiloan. Kalau mau murah ya kiloan. Sekalian bikin perpus di rumah. Hehe.

      Delete
  2. Wiliissss tempatnya buku bajakan hahaha.

    Bukunya baru, masih dibungkus plastik. Tapi begitu dibuka, seperti dugaan, kualitas kertasnya jelek, foto copy an. Yaiyalah bajakan :)

    Kampung Ilmu tempatnya sederhana dan menarik sekali. Kesan cerianya lebih hangat daripada Blauran, karena ada kafe dan taman bacanya.

    Sementara Blauran meski lebih terkenal lama namanya, tapi kini semakin mengecil area nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sentra buku gini juga harus mengikuti zaman ya. Taktik seperti kampung ilmu dengan ngasih reading spot mungkin bisa jadi contoh untuk yang lain.

      Btw, nggak semua buku yang dijual bajakan kok. Buku bekasnya mayoritas asli.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.