Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Setelah baca ulang buku Drop Out kemarin, rasanya pengin balik ke awal-awal kuliah. mengenal kota tempat kuliah. Mengenal rumus yang nggak tahu gunanya apa di masa depan. Mengenal tipe-tipe mahasiwa di kampus: kupu (kuliah pulang), kura (kuliah rapat), kutu (kuliah tidur), kulo (kuliah lomba), kuja (kuliah kerja), dan kupa (kuliah pacaran). Karena setersesat-tersesatnya kita di jurusan kuliah, tapi masa menjadi mahasiswa adalah masa yang terbaik. Masa setelahnya--terutama saat pencarian kerja--adalah yang terpelik.

Jika teman kos dengan semua jenisnya: males, jorok, rajin banget, homo kamarnikus (di kamar terus), aktivis jarang di kos, pekerja sambilan, lambe turahnya kos-kosan, penghuni depan tivi, tiap minggu pulang kampung, dan homesick-an membuat kepala hampir pecah, rekan kerja yang nyinyir tiap gajian justru lebih menakutkan.

Dunia kerja itu lebih menegangkan. Lulus dengan gelar pendidikan membuat saya sadar bahwa profesi guru selalu dianggap pengabdian. Kedokteran yang biaya kuliahnya selangit itu juga dianggap pengabdian. Padahal hidup kan butuh makan. Teman-teman satu lulusan yang kerja honorer di sekolah-sekolah juga diupah nggak semestinya. Kalau tadinya dengan ngelesin sambilan usai kuliah aja sebulan bisa dapat 600 ribu, maka jadi guru honorer di Solo harus menerima gaji setengahnya tiap bulan. Kalau yang ngekos, jelas untuk bayar kos. Habis. Kos di sini paling murah 200 ribu. Makan? Harus nyari cara lain.

CPNS nggak setiap tahun buka dan lulusan guru setiap tahun terus bertambah. Sementara dengan gaji honorer segitu, siapa yang mau tahan? 

Hidup mengabdi berarti harus siap mengorbankan kebutuhan pribadi juga orangtua. Dua bidang: pendidikan dan kesehatan adalah yang paling sering menimbulkan pro dan kontra antara pengabdian dan pekerjaan.

Di sisi lain, ada juga artikel tentang hal ini. Cintai pekerjaanmu. Pekerjaan sesuai passion membuatmu tidak ingin lari atau escape from business. Tapi menikmati. Karena pekerjaanmu merangkap hobi, kesukaan, dan passion. Di sisi lain ada yang bilang, kalau hobi yang dilakukan berdasarkan keharusan, berarti sudah bukan hobi lagi namanya. Sementara mencari uang menjadi keharusan. Untuk hidup. Untuk makan.

Tapi menurut pemikiran saya, mencintai tidak harus mengorbankan diri.

Dan memberikan pengorbanan tidak sama dengan mengorbankan diri.

--- [] ---

Dulu pernah ada acara di tivi lokal dengan judul “Cinta Istimewa”. Kalau nggak salah episode 26 Maret 2013. Di situ diceritakan bahwa ada seorang bernama Dadang Haryadi yang mendirikan yayasan orang gila di Tasikmalaya. Dadang Haryadi menampung semua orang gila di daerahnya dan memberikan pelatihan. Alih-alih telantar, orang gila yang dikumpulkan Dadang Haryadi mau dan mampu belajar keterampilan.

Saat diwawancara, Dadang Haryadi sampai menangis. Karena terharu, saya juga ikut menangis. Emang dasarnya saya cengeng sih. Lihat anak kecil jualan tisu di pinggir jalan utama Pettarani aja nangis sesenggukan sampai ingusan.

Lalu saat ketemuan dengan teman bernama Alan di Semarang, saya jadi tahu bahwa dua bidang yang sering disebut sebagai bidang pengabdian tadi benar-benar melakukan pengabdian. Tanpa mengorbankan diri. 

Sekolah Terapung - The Floating School Pangkep


Sekolah terapung atau The Floating School yang didirikan di Pangkep oleh Kak Ammy, Kak Mato, dan Kak Nunu di tahun 2017. Sampai sekarang, sekolah terapung ini sudah berhasil berlayar dan memberikan layanan pendidikan pada anak-anak di kepulauan sekitar Pangkep, Maros, dan Makassar. Program ini bukan diperuntukkan hanya bagi anak-anak yang masih dalam usia sekolah. Bapak-bapak atau ibu-ibu yang dulu tak sempat mengenyam pendidikan juga boleh ikut dan mendapatkan pelajaran.

Target sekolah terapung adalah menyamaratakan pendidikan di semua pulau-pulau terpencil di Indonesia. Selain di Sulawesi Selatan, sekolah terapung ini juga merambah Aceh sebagai sasarannya di tahun 2018. Di sekolah terapung ini banyak pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diajarkan. Anak juga boleh memilih belajar sesuai apa yang mereka minati. Sekilas saya jadi teringat buku Totto Chan karenanya.

Oh iya, dalam beberapa musim tertentu, sekolah terapung ini open volunteer untuk umum. Jadi kalian yang tertarik untuk ikut berlayar, bisa sering-sering cek di media sosial The Floating School Indonesia. Jika tak bisa ikut volunteer, bisa juga menyumbangkan uang atau buku melalui tautan donasi yang ada di akun sekolah terapung.


Rumah Sakit Terapung - Ksatria Airlangga Surabaya



Sama seperti sekolah terapung, kali ini ada juga rumah sakit terapung. Dengan minimnya fasilitas rumah sakit di pulau-pulau kecil di Indonesia, pemerataan fasilitas kesehatan jadi rumpang. Penduduk yang bertepat tinggal di luar pulau besar biasanya harus menunggu kapal besar datang untuk membawa pasien-pasien yang sakit. Itu juga kalau nggak terlambat. Dari latar belakang itulah maka rumah sakit terapung lahir. Gagasan ini diajukan oleh dokter dari Universitas Airlangga Surabaya pada mulanya.

Setelah mengumpulkan dana dan donasi dari berbagai pihak, rumah sakit terapung pun siap berlayar. Durasi pelayaran berbeda-beda. Yang terakhir saya baca, rumah sakit terapung ini bertolak dari pulau kecil di kepulauan Maluku ke Palu. Tepat saat ada kabar bencana tsunami di sana September 2018 lalu. Meskipun sebenarnya pemerataan rumah sakit adalah tugas pemerintah pusat dan daerah, namun sampai sekarang belum ada bukti nyata. Dengan adanya rumah sakit terapung ini, setidaknya para dokter volunteer bisa membantu masyarakat Indonesia di pulau-pulau kecil dengan tangan dingin mereka masing-masing.

Jika ingin ikut mendaftarkan diri sebagai dokter yang ikut berlayar dengan rumah sakit terapung ini, kalian bisa cek di media sosial RST Ksatria Airlangga. Donasi melalui Kitabisa juga dibuka untuk kurun waktu tertentu.


--- [] ---

1. Sekolah Terapung - The Floating School


2. Rumah Sakit Terapung - Ksatria Airlangga






References are taken from:
http://news.unair.ac.id/2018/10/01/kapal-rs-terapung-ksatria-airlangga-ubah-sasaran-baksos-menuju-palu-donggala/
http://makassar.tribunnews.com/2017/02/26/sekolah-terapung-asah-bakat-pelajar-di-kepulauan-pangkep
https://www.youtube.com/watch?v=paIUxYKwXnk
https://www.youtube.com/watch?v=G71ZCES6Aoc
https://kitabisa.com/kapalsekolahterapung
https://thefloatingschoolid.org/pangkep/

Images are taken from:
http://news.unair.ac.id/2017/09/09/rs-terapung-ksatria-airlangga-dilayarkan-perdana-dari-makassar-menuju-surabaya/
https://aksaranemone.wordpress.com/2017/07/25/the-floating-school-tentang-memberi/
https://thefloatingschoolid.org/id/author/thefloatingschool/
https://www.youtube.com/watch?v=CaRYsyLWoqg
https://en.wikipedia.org/wiki/Wakatobi_National_Park

2 Comments

  1. Saya pernah nonton di Hitam Putih rumah sakit terapung ini... dan ikut senang dengan keberadaan rumah sakit terapung, semoga makin banyak dokter yang mau memberikan waktunya untuk masyarakat yang berada jauh dari kota untuk mendapatkan pengobatan .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Semoga makin banyak bidang lain yang juga ikut mengabdi dengan langkah pemerataan layanan seperti ini.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.