Judul: Angan Senja Senyum Pagi
Penulis: Fahd Pahdepie
Penerbit: Falcon Publishing
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 349 halaman

--- [] ---

Tapi selengang apa pun sebuah bandara, pintu kepergian selalu dirundung sedih dan khawatir. Sementara pintu kedatangan selalu tentang rasa rindu yang menggebu atau cemas yang mengganggu. - hlm. 173 

Kalau belum familiar dengan nama penulis buku ini, mungkin dulu kalian udah sempat baca buku berjudul Tak Sempurna karya Fahd Djibran. Nah, itu tuh. Fahd Djibran adalah nama lain dari Fahd Pahdepie. Buku Tak Sempurna sempat ramai di pasaran karena barengan sama kasus tawuran pelajar yang menewaskan salah seorang pelajar di ibukota. Selanjutnya, ada juga bukunya yang merupakan antologi esai yaitu Perjalanan Rasa dan A Cat in My Eyes. Ketiga bukunya pernah saya bahas di postingan ini.

Nah, setelah akhirnya memakai nama aslinya yaitu Fahd Pahdepie, ada buku baru yang terbit di tahun 2017. Angan Senja Senyum Pagi. Dari covernya, ada tanda infinity di judulnya. Pertama saya mikir, ini cuplikan film Avengers: Infinity War apa bukan. Eh, taunya bukan. Ehehehe. Ini kisah cinta antara Angan Senja dan Senyum Pagi.

Kalau kalian berpikir ini buku dengan konsep indie karena ada kekata senja dan pagi, maka simpan baik-baik imajinasi kalian. Bukan. Angan Senja itu nama orang. Laki-laki. Sementara Senyum Pagi juga nama orang. Perempuan. As you can see, ini adalah kisah cinta. Maka bersiaplah kalau ada adegan sarat gula yang di dalamnya. Apalagi Fahd Pahdepie emang nulisnya flash forward alias maju mundur. Masa kini dan masa SMA kedua tokoh tersebut. Yah, siapa sih yang bisa nolak kisah cinta masa sekolah?

Saya ~

Ehehe.

Kadang kalau baca novel cinta-cintaan masa sekolah, saya udah nggak masuk aja gitu. Nggak masuk di nalar. Tapi dulu sempat baca novel trilogi Dilan milik Pidi Baiq, saya masih baik-baik aja. Jadi, saya memutuskan untuk membaca yang satu ini. Siapa tau ada kejutan baru di cinta masa SMA yang dituliskan Fahd Fahdepie. Kisah cinta antara tukang kebun dan ibu kantin misalnya. Atau kisah kasih pak satpam dengan penjaja donat titipan di koperasi. Bukan murid dan murid atau guru dan murid seperti kebanyakan. 

*harapan yang absurd*

Ngomong-ngomong, ini sampul bukunya ngingetin saya ke postingan blog yang dulu. Perbandingan lukisan asli dengan jiplakan saya untuk tugas sekolah di masa SMA. Tapi sayangnya postingannya udah saya hapus. Huhu. Pokoknya mirip deh. Ini lukisan aslinya saya nemu di gugel. Tapi saya nggak nemu siapa yang ngelukis.


Namanya Angan Senja.

Dari bab pertama, ada pengenalan tokoh Angan yang merupakan seorang akuntan sukses di Jakarta. Lulusan luar negeri. Angan adalah seorang laki-laki berusia sekitar 35 yang masih lajang. Dengan deskripsi yang sempurna dan karakter yang luarbiasa baik. Angan menyukai matematika dan angka lebih dari apa pun di dunia. Namun telepon dari Semarang di hari itu, merenggut semua senyuman paginya. Ibun--ibu Angan--meninggal dunia karena sakit yang sudah lama dideritanya sejak bertahun lalu dan meninggalkan wasiat penting.

Angan akhirnya bertolak ke Semarang untuk mengantarkan ibunya ke pusara dan semua kenangan masa SMA-nya muncul lagi di ingatan seperti film layar tancap. Wus wus wus. Kenangan Angan saat bertemu seorang kakak kelas cantik yang jadi primadona sekolah. Kakak kelas yang selalu ia cintai tapi tak pernah ia miliki.

Namanya Senyum Pagi.

Dua bab setelah menceritakan tentang Angan, bagian cerita diambil alih oleh Senyum Pagi dan persiapan pernikahan keduanya. Pagi--panggilannya--adalah senior di SMA Angan. Beda dua tahun. Angan adalah murid jenius yang langganan menang olimpiade matematika kelas 10. Sementara Pagi adalah murid kelas 12 yang merupakan bintang dan artis di sekolah. Pagi tergila-gila pada musik dan amat menyukai band Dewa 19. Mantannya banyak karena memang Pagi diceritakan sebagai seorang siswi yang cantik jelita dan suka berpakaian asal alias ngawur. Kalau yang lain pakai abu-abu putih, ia pakai baju pramuka. Tapi ia percaya diri. Ya, cantik mah bebas ya, bebs ~

Pagi memiliki seorang putri cantik bernama Embun Fajar. Fajar adalah nama suami pertamanya yang merupakan seorang musisi dan meninggal karena kecanduan obat-obatan terlarang. Di sini juga kemudian dikenalkan karakter baru namanya Hari. Seorang pengacara parlente yang akan menikah dengan Pagi. Tapi karena kesibukannya, Hari dan Pagi sering cekcok. Apalagi Hari memang nggak pernah menyukai Embun sejak awal.

Kemudian Embun bernyanyi...

Ayah tiri hanya cinta kepada ibuku sajaaa ~

TAK TAK DUNG CES!

Ya, nggak lah.

Emangnya Embun artis pantura!

Sekian lama berpisah dan nggak saling bertemu setelahnya, Angan dan Pagi mengubur perasaan mereka dalam-dalam kalau sebenarnya mereka saling mencintai. Tapi dulu waktu sekolah, gengsi ngungkapinnya. Malu-malu meong dan berujung baper saat lulus sekolah. Memendam kisah yang belum titik. Masih koma.

Tahu-tahu, muncul Pak Jarett dengan segala kebuleannya yang menyatukan pertemuan mereka. Pak Jarett adalah pengagum Embun--sekaligus guru musiknya--yang akan mengadakan Mathematical Concert: A Journey to Infinity. Konser perpaduan antara musik dan matematika dengan Embun Fajar sebagai bintangnya.

Tapi kereta waktu tak pernah menunggu penumpang yang ragu kan? - hlm. 231 (Angan)

Angan dan Pagi seperti dibawa masuk ke dalam lorong waktu kembali ke masa SMA. Kembali duduk di perpustakaan saat Angan belajar matematika dan Pagi mendengarkan musik. Ke toko musik untuk membeli kaset Dewa 19. Semua kisah yang belum benar-benar selesai, akhirnya bersambung setelah belasan tahun lamanya.

Namun Pagi sudah mau menikah dengan Hari. Sementara Angan harus menjalankan wasiat ibunya untuk menikahi Dini; gadis desa cantik yang selalu merawat ibu Angan ketika sakit. Semua menjadi runyam saat Embun juga memiliki penyakit kambuhan dan sering keluar masuk rumah sakit. Ia tak bisa bertahan tanpa bantuan medis.

Rasa cinta akan menemukan jalan dan muaranya masing-masing. Sekuat apa pun setiap orang menahannya, sejauh apa pun jalan yang harus ditempuh. Jika mereka ditakdirkan bersama dan saling mencintai, mereka akan bersama pada waktunya. - hlm. 159 (Ibun)

Fahd Pahdepie membawa nuansa baru pada bukunya. Novel Tak Sempurna dulu menceritakan tentang cerita-cerita anak SMA yang tak sempurna; terjebak tawuran, barter video porno, nyimeng, ngobat, ngerokok, dan minum miras. Sementara novel Angan Senja Senyum Pagi ini menceritakan kisah yang terlalu sempurna. Nggak ada unsur dark-nya seperti yang ada di esai-esai A Cat in My Eyes dan Perjalanan Rasa.

Karakternya dibangun terlalu sempurna. Perempuan yang cantik sekali dan laki-laki yang cerdas sekali. Beberapa bagian yang diceritakan dalam novel ini--seperti saat adegan Angan dihajar pacarnya Pagi--terasa kurang nampol dan datar. Saya lebih suka adegan tawuran di novel Tak Sempurna. Lebih gahar.

Tendang aq, mz. Tendang ~

Karakter Hari yang jadi calon suami Pagi juga nggak total. Dia pengacara. Harusnya kan selalu stand by ponsel untuk melayani klien-kliennya. Tapi saat dikirimi pesan oleh Pagi, ia terus menerus mengabaikannya. Ini agak plot hole sih menurut saya. Terus Hari juga ngakunya cinta mati dan bangga kalau memiliki Pagi sebagai istri, tapi semua tindak-tanduknya nggak ada yang mencerminkan itu. Kontradiktif.

Atau mungkin memang karakter Hari kurang dibangun? Entahlah.

Dengan tebal buku sedemikian, Fahd Pahdepie juga nggak memberikan penjelasan tentang mengapa akhirnya Pagi menghilang usai lulus SMA. Bahkan nggak menghubungi lewat ponsel. Itu aneh sih. Padahal masih sama-sama di Jawa. Kenapa sobat-sobatnya Pagi dan Angan nggak mencarinya? Kejanggalan itu nggak memiliki penjelasan bahkan sampai akhir cerita. Makanya saya agak missed saat Pagi dan Angan bertemu di taman untuk berbincang memutuskan akhir hubungan mereka malam-malam. Ditemani hujan dan gemerlap lampu warna-warni seperti yang ada di sampul bukunya. Di bagian itu juga nggak ada penjelasannya. Hanya break it off, handshake, and walk away. Juga hug and cry.

Saya mikirnya apa karena Fahd sengaja menampilkan sisi berbeda. Kalau di SMA kan karakter Pagi dan Angan masih labil. Masih remaja. Asal memutuskan sesuatu dan kabur begitu kenyataan nggak sejalan. Tapi saat dewasa, harus bisa menerima bahwa takdir nggak selalu berpihak pada dua orang yang sedang jatuh cinta. 

Tapi selengkapnya, saya fifty-fifty sukanya sama buku ini. Jujur, saya nggak suka bagian akhirnya. Ending-nya nggak seperti yang saya harapkan. Hehe. Saya jadi seperti menonton film bollywood yang bintangnya Shah Rukh Khan yaitu Kuch Kuch Hota Hai dan membaca buku Sunset Rosie karya Tere Liye. 

Begitu.

Saya suka ide cerita yang mengangkat musik dan matematika. Mengingatkan saya pada salah satu cerpen saya tentang sastra dan fisika. Dua konsentrasi yang bertolak belakang tapi ternyata bisa melengkapi satu sama lain.

Rating untuk buku ini 4/5. Kalau sedang ingin nostalgia masa SMA dengan hiasan lirik lagu Dewa 19, buku ini amat sangat cocok untuk dinikmati. Kadar cinta-cintaannya pas. Nggak terlalu romantis dan manis. Ada pahitnya kok. Kalau kalian suka alur cerita yang lempeng dan sensasi roller coaster-nya dikit, buku ini amat saya rekomendasikan untuk dibaca. Tapi kalau kalian suka tulisan tentang masa SMA yang bikin deg-degan, cobalah membaca novel Fahd Pahdepie yang judulnya Tak Sempurna.

Selamat tahun baru!

4 Comments

  1. Sering dengar nama beliau dari teman-teman. Saya rasa, memang lagi masanya beliau ya?

    Beberapa tahun ini saya malah jarang baca buku. I was a bookworm.

    Dan ketika baca kalimat ini; Tapi kereta waktu tak pernah menunggu penumpang yang ragu kan?

    Wah, tidak heran banyak penggemarnya. Kalimat itu, buat saya, terdengar magis sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku lebih suka tulisan Fahd ini daripada penulis sebelah yang juga kaya akan quote. Hehe. Fahd bukunya lebih selo dan ngena langsung di kehidupan sehari-hari, Zahrah. Kalimatnya banyak yang magis tapi nggak maksain. Aku suka. Cuma emang lagi nggak suka tema "cinta"-nya aja.

      Delete
  2. Pantes kayak enggak asing sama namanya. Zaman setelah lulus sekolah sempat baca Tak Sempurna itu. Alasannya dulu karena suka sama Bondan, sih. Tapi isinya kurang sreg entah kenapa. Kalau baca dari ulasanmu ini, penulisnya udah berkembang. Sayangnya, saya kurang suka tema yang romansa banget gitu. Ahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga lebih suka yang Tak Sempurna itu, Yogs. Tapi meski ini romansa, ceritanya gak terlalu puitis seperti tulisan Brian Khrisna atau Fiersa Besari kok. Gaya menulisnya masih sama kayak di novel Tak Sempurna. Cuma alirannya romansa.

      Tos sesama pencinta Bondan!

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.