Judul: Topi Hamdan
Penulis: Auni Fa
Penerbit: Metamind
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 345 halaman

--- [] ---

"Tapi sabar itu ada batasnya!"

"Kau tahu dari mana sabar ada batasnya?"

"..."

"Kalau kita bisa mengukur batas kesabaran kita. Kau benar, berarti sabar ada batasnya. Tapi nyatanya, apa kita bisa?" 

- hlm. 94 (percakapan Hamdan dan ibunya)

--- [] ---

Jika ada hal yang bicara tentang omong kosong cinta pada pandangan pertama, sekarang saya mau omong kosong tentang jatuh cinta pada paragraf pertama. Iyes, buku Topi Hamdan ini merupakan buku kedua yang saya tamatkan di tahun 2019. Dan selebihnya, saya hanya mau menuliskan review berisikan kata "bagus" hingga seratus ribu kali  di bawah ini. Memang sebagus itu. Memang semenyedihkan itu.

Jadi, ini dia review saya.

Bagus 100000x.

Sudah.

*dibekep topinya Hamdan beneran*

Berawal dari membaca postingan Mas Dion Yulianto yang menuliskan ulasan tentang novel ini, saya akhirnya tertarik juga untuk membacanya dan sudah jelas; memasukkannya ke daftar beli buku bulan depan usai gajian. Tertariknya itu lebih karena Mas Dion menuliskan bahwa ia jarang banget banget banget membaca buku yang sampai bikin mikir, "Aduh, kok nggak sempurna banget ya tokohnya."

Karena memang kita lebih sering disuguhi cerita yang tokohnya sempurna banget. Cantik. Tampan. Agak cantik. Agak tampan. Kaya. Pintar. Atau kalau nggak, pasti yang tokohnya memiliki sisi lain atau titik balik yang curam. Menjadi orang paling beruntung di dunia karena bertemu cintanya atau ornamen-ornamen yang lain. Namun Topi Hamdan nggak seperti itu. Novel ini terasa kontradiktif dari semua penggambaran karakter sempurna tersebut. Hidup tokoh utamanya sangat suram. Bahkan lebih suram dari cerita Edgar Allan Poe.

Nah, setelah beberapa hari saya masukkin wishlist buku, ada email masuk ke saya. Ternyata, cuy... Penulisnya langsung yang email saya dan memberikan rekomendasi bukunya untuk diulas. Mas Auni Fa aka Mas Iqbal Muhammad.


Wagelaseh...

Makin menggebu dong saya pengin beli novelnya. Mau cepet-cepet baca akutu...

Eh, taunya pas melakukan pencarian dan investigasi di sekitar Solo, saya belum nemu bukunya. Padahal penerbitnya asal Solo. Hiks. Saya baru membeli buku ini bulan Agustus 2018. Di Togamas Jogja yang ada di jalan Gejayan. Dekat jalan ringroad utara. Dan bukunya ada banyak di sini, nggak seperti di Solo yang entah megapa stoknya kosong. Mungkin saking banyak peminatnya dan belum restock lagi kali ya.

Namun karena banyak ebook yang masih nganggur, saya harus menempatkan buku ini di laci keramat untuk dibaca kemudian. Baru kemarin--tanggal 1 Januari 2019--saya mulai membaca novel ini sampai habis bis bis.

Dan saya nangis dong...

Nangis kejer di tempat umum tepatnya masjid kampus karena tiga hal sekaligus.

Satu, saya merasa pahit teramat sangat karena novelnya suram beneran (Mas Dion deskripsinya sungguh tepat sasaran menyambit jantung saya tanpa ampun). Kisah Hamdan dan topinya yang memiliki ending... Ah, ya sudahlah... Berhasil menampol ulu hati. Lupakan novel cinta-cintaan yang tokohnya patah hati sambil nangis di dekat jendela diiringi gerimis. Novel ini lebih menderita. Kasian banget lah sama tokoh Hamdannya yang kena cobaan bertubi-tubi. Tapi cara Mas Auni Fa menceritakannya, nggak terkesan heboh kayak di sinetron azab dan sinetron yang tokohnya ketabrak truk lantas lupa ingatan.

Smooth banget...

Dua, saya merasa kehilangan bacaan yang bagus di awal tahun setelah menutup bukunya. Mau baca dan baca lagi. Sepertinya beberapa hari ke depan mau langsung saya baca ulang deh kayaknya. Iya, beneran sebagus itu. Beneran semenyedihkan itu. Cocok untuk renungan awal tahun untuk saya yang masih jarang bersyukur dan susah bersabar dalam menghadapi hidup. Tiap mengikuti kisah Hamdan dan kesengsaraannya, ginjal saya kayak dicubit. Hampir tiap berapa bab gitu, saya nangis lagi. Gitu terus sampai akhir buku.

Dalem banget...

Tiga, saya merasa agak kecewa karena buku ini sepertinya kurang booming di pasaran. Kenapa justru novel jebolan Wattpad yang dapat panggung besar di toko buku? Kenapa justru penulis dadakan--yang biasanya merupakan seorang influencer di media sosial--yang bukunya laris manis dan promo tour ke sana kemari? Harusnya buku-buku kayak gini nih yang diangkat lebih tinggi derajatnya. Huhu. Buku ini harus banyak yang baca.

Harus banget...

Setelah diobok-obok selama seharian lebih karena narasi di buku ini, ada beberapa hal yang bisa saya ulas dari novel berjudul Topi Hamdan karya Mas Auni Fa ini. Buku ini memiliki 345 halaman. Cukup tebal sehingga narasinya terasa dalam dan rinci, namun di satu sisi; nggak bertele-tele sama sekali. Deskripsi tokohnya juga wajar. Hamdan digambarkan sebagai sosok yang sabar tingkat Atlantis. Dengan fitnah keji yang membuatnya harus tidur di kabin penjara selama 30 tahun, Hamdan tetap optimis dengan hidupnya.

Memang ada beberapa orang--salah satunya Mas Dion--yang menyatakan bahwa orang sesabar Hamdan apakah ada beneran di dunia nyata. Orang setidak sempurna Hamdan apakah beneran bisa ada di depan mata. Menurut saya pribadi, mungkin ada. Melihat Hamdan juga bukan cuma sabar doang di sepanjang alur cerita. Seringkali Hamdan masih mengeluh berkepanjangan, protes, menyalahkan takdir, dan menggugat jalan hidupnya kenapa kok gitu banget. Masih manusiawi dan wajar untuk diikuti.

Ada adegan yang paling membuat ulu hati seperti ditusuk-tusuk badik. Salah satunya adalah ketika Hamdan dibuang oleh pengelola panti jompo bernama Pepeng karena dirasa mengganggu ketertiban panti dengan berwirausaha. Dibuangnya nggak tanggung-tanggung. Amat jauh bahkan. Sehingga Melisa dan Toja--tokoh yang banyak membantu Hamdan selama di panti jompo dan setelahnya--harus mencari di sepanjang kota setiap hari. Saat ditemukan, Hamdan depresi dan berteriak, "Jangan buang saya lagi, Nak! Ampun..."

Itu kasihan sekali. Saya beneran mau masuk ke dalam buku dan menggebuki tokoh Pepeng karena sudah tega membuang orang tua renta seperti Hamdan di tepi jalan agar jadi gelandangan. Bawang merah banget emang tokoh Pepeng itu.

*kayak emak-emak baru nonton sinetron banget yekan*

Juga saat Hamdan difitnah membunuh ayah tirinya dan harus masuk ke dalam penjara. Itu ngilu bacanya. Persidangan yang diceritakan oleh penulis juga Indonesia banget. Yang punya uang, dialah yang menang. Terjadi di novel ini. Saya jadi ingat beberapa kasus anak memenjarakan orangtuanya hanya untuk sepetak warisan tanah bedebah. Atau karena perhiasan yang harganya tak seberapa dibandingkan kasih bunda.

Dipenjara 30 tahun tanpa punya sanak saudara, Hamdan akhirnya keluar disambut keponakan dari adik tirinya. Kiranya di situ Hamdan bisa bahagia. Eh, ternyata enggak, ya ampun. Kesel banget bacanya. Keponakannya malah menitipkannya pada Pepeng yang ngeselin itu di panti jompo. Kan emosi kan saya jadinya. Hih.

Lika-liku Hamdan di panti jompo mengambil sebagian besar cerita ini karena di sinilah akhirnya ia menemukan keluarga. Ada seratus lima puluh halaman lebih yang mengisahkan hari-harinya di panti jompo. Ia akhirnya bertemu Amir dan Paimo; dua kakek-kakek yang juga "dibuang" oleh kehidupan dan tinggal di sana. Mereka tidur bertiga. Meskipun awalnya nggak saling menyapa, tapi ketiganya akhirnya akrab. Juga ada Melisa dan Toja--yang sudah dianggap Hamdan seperti anak kandungnya sendiri. Melisa dan Toja yang baik sekali dan mau menolongnya, Amir, dan Paimo untuk membuka usaha jualan topi.

Alur cerita di novel Topi Hamdan ini maju mundur. Penulis juga menceritakan kisah Hamdan kecil dan remaja semasa ibunya masih hidup. Ayah kandung Hamdan sudah meninggal sejak ia SD, kemudian ibunya menikah lagi dengan seorang duda beranak satu. Adik tirinya perempuan, namanya Sumik. Tapi ayah tirinya kejam dan Sumik sering iri dan dengki terhadap Hamdan. Setelah masuk ke SMP, ibu Hamdan meninggal. Meski begitu, kunci dari cerita ini adalah ibu Hamdan itu sendiri. Novel Topi Hamdan berhias banyak dongeng yang diceritakan ibu Hamdan pada anak laki-laki semata wayangnya.

Ada dongeng Burung dan Pohon Trimpel yang saling menyelamatkan, Semut Ong yang kuat dan pemberani, ada Yepod Si Kurcaci Kerdil yang bernyanyi dan menari agar dikenal orang, ada juga kisah Si Jelek yang belajar standar kecantikan dan ketampanan, dan ada cerita Dim Si Penyu Lautan. Awalnya saya pikir, dengan tebalnya buku ini, akan ada sekurang-kurangnya sepuluh dongeng di dalamnya. Namun saya hitung-hitung hanya ada tujuh (kalau nggak salah ya). Enam adalah dongeng ibu Hamdan yang diwariskan oleh Hamdan kepada Melisa. Satu yang paling akhir diceritakan oleh Melisa kepada Hamdan.

Semua dongeng yang dikisahkan oleh ibu Hamdan. Semua dongeng yang merasuk dalam ingatan Hamdan dan menjadi pedoman jalan hidupnya. Karena dongeng-dongeng dari ibunya itulah, Hamdan menjadi orang yang kuat dan penyabar luarbiasa. Ternyata dongeng bisa seberpengaruh itu pada psikis manusia ya.

Sebagai orang yang masa kecilnya melalap buku dongeng gratisan yang tipis-tipis dan berwarna kuning dari susu Dancow, saya setuju!

Di beberapa halaman--salah satunya halaman 257 ke belakang--ada perubahan sudut pandang penokohan yang sempat membuat saya bingung. Kalau tadinya kisah di buku ini dituliskan dengan sudut pandang orang ketiga, di halaman tersebut menjadi sudut pandang orang pertama. Padahal nggak ada apostropnya. Mungkin kesalahan redaksi ya. Juga ada beberapa typo dan kurang spasi. Namun sekali lagi, kesalahan tersebut nggak mengurangi keindahan bersabar yang dituliskan oleh Mas Auni Fa dalam buku ini.

Menurut saya, buku ini 6/5 untuk ratingnya!

Oh, kalau ada yang mau beli bukunya secara online, bisa pesan langsung di website resmi Metamind ya. Di sini tautannya. Atau kalau mau membaca ulasan-ulasan singkat lainnya, kalian juga bisa mengunjungi tautan Goodreads berikut. Ada beberapa book blogger yang mengulas buku ini juga di daftar ratingnya.

Kalau mager buat baca, bisa juga menonton video Youtobe berikut untuk tahu ulasannya secara lisan. Ini adalah tugas resensi buku oleh dosen kepada mahasiswa Universitas Teknik Yogyakarta. Saya nggak kenal sih, cuma nyari versi videonya aja. Hehe. Tapi keren banget dosennya bisa ngasih tugas semacam itu.

Selamat berburu buku!

--- [] ---

4 Comments

  1. Saya yg pertama komen.
    Kereeennn reviewnya. Makasih....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, penulisnya langsung turun tangan nih. Makasih kembali, mas! Novelnya bagusss!

      Delete
  2. Sampai di pertengahan, udah gak baca lagi.

    Spoiler is prohibited!!! LOL.

    Ada niatan kuat untuk baca sendiri suatu saat nanti.

    Aku sendiri lagi berjuang untuk bahagia (alaybetdah) jadi buku ini, seperti yang kakak bilang, semoga bisa membantu untuk menjadi pribadi yang lebih beryukur. Yeu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha, maaf kalau jadinya ada spoilernya. Cuma nggak sampai klimaks dan endingnya ketahuan kok. Ayo, dibaca sendiri. Rekomendasi banget nih. Favorit di awal 2019!

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.