Judul: A Hole in The Head
Penulis: Annisa Ihsani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2017
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 231 halaman

--- [] ---

Musim panas telah tiba dan Ann bersemangat menyambut liburannya di Monchblick Inn, penginapan paling populer di Lauterbrunnnen.

Atau setidaknya, pernah populer.

Penginapan tua itu kini sepi pengunjung, bahkan saat puncak liburan begini. Para tamu mengeluh tentang bunyi derap langkah tanpa sosok di koridor dan kengerian yang menyelimuti kamar 303. Bahkan Ann sendiri harus mengakui memang ada yang meresahkan di dalam kamar tersebut.

Dengan bantuan Jo, cucu sang koki penginapan, Ann mulai mencari petunjuk untuk memecahkan misteri di Monchblick Inn. Dua anak berusia tiga belas tahun itu menemukan fakta tentang persaingan lama, rumor liar yang berseliweran, dan kejanggalan paranormal misterius yang tiba-tiba muncul.

Akankah rahasia yang menyelubungi penginapan tersebut berhasil mereka bongkar?

--- [] ---

Apa yang tidak kauketahui tidak akan menyakitimu. - Jo (hlm. 60)

Sebagai orang yang jarang banget nonton film selama setahun ini--baik film di bioskop maupun di laptop, saya merasa kurang hiburan visual. Selama setahun terakhir, ke bioskop cuma pas ada film Black Panther, Avengers: Infinity War, Ant Man and The Wasp, Skyscraper, dan Crazy Rich Asian. Nonton film di laptop udah hampir nggak pernah. Paling sekali dua kali ngelanjutin series How I Met Your Mother. Udah sampai season empat.

Tapi membaca ulang buku-buku Annisa Ihsani membuat saya seakan-akan menonton film. Karena setiap detail ceritanya seperti jadi scene film yang seru dan menegangkan. Apalagi buku A Hole in The Head ini. Amat sangat film-able.

Kalau nggak salah, A Hole in The Head adalah buku ketiga dari Annisa Ihsani. Buku pertamanya berjudul Teka-teki Terakhir udah pernah saya review sebelumnya di sini. Sama seperti buku pertamanya tersebut, buku ketiga ini masih seirama; mengusung tema anak-anak dengan rasa ingin tahu--tepatnya rasa penasaran--yang luarbiasa tinggi. 

Tokoh utamanya masih anak perempuan mendekati remaja. Namanya Ann. Tanpa E. Seperti ditegaskan di awal cerita bahwa kedua orangtuanya ingin hal yang berbeda sehingga menamai putri kecil mereka Ann. Ann ini umurnya masih 13 tahun. Masih usia transisi antara kanak-kanak dan remaja. Wajar banget kalau rasa ingin tahunya besar.

Bedanya dengan buku pertama, A Hole in The Head ini lebih ke arah penyelesaian masalah yang merujuk ke misteri. Ala-ala detektif gitu deh. Dan dengan Ann yang skeptis akan hal-hal mistik, ia malah harus berhadapan dengan kasus Si Hantu Matteo yang menggentayangi penginapan ayah dan ibu tirinya. Premis yang mengasyikkan, bukan?

Masih bertema sains, buku ketiga Annisa Ihsani ini seakan meng-courage pembacanya--terutama pembaca dengan usia dewasa (bukan tua ya!)--untuk kembali menikmati masa anak-anak yang sempat hilang. Ann adalah representasi anak-anak yang keinginannya menggebu-gebu. Kalau nggak dituruti bisa ngambek. Apalagi dengan keskeptisannya terhadap hal mistis, Ann selalu ngeyel kalau Matteo bukanlah yang mengganggu kamar 303.

Beberapa penjelasan di dalam novelnya berhubungan dengan konsep fisika sederhana. Annisa Ihsani sepertinya paham betul bagaimana caranya menyisipkan pengetahuan ke dalam tulisannya tanpa memaksa. Dari kedua bukunya yang sudah saya baca, A Hole in The Head ini memiliki poin plus di bagian pembangunan karakter yang lebih banyak dari buku pertama. Namun semua karakternya nggak ada yang bertabrakan.

Aluuusss bangettt nyisipin penjelasan fisikanya.

Aluuusss jugaaa saat menjelaskan setiap penokohannya.

Jadi, buku ini juga cocok untuk dinikmati semua umur. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Entah kenapa saya senang banget nemu bukunya Annisa Ihsani ini. Coba deh kalau buku-buku bacaan yang rilis di toko lebih banyak mengusung nuansa anak-anak begini, pasti anak-anak jadi suka membaca. Karena keterbatasan buku anak di toko adalah salah satu alasan kenapa budaya literasi di kalangan anak-anak Indonesia masih kurang. 

Sulit untuk menyukai siapa pun, termasuk orang yang paling kita cintai, jika kita sedang lelah. - Indira (hlm. 140)

A Hole in The Head memiliki atmosfer yang sedikit menegangkan untuk dibaca. Namun saya kurang suka dengan bagian munculnya tokoh Simon--pemilik penginapan sebelah--yang karakternya kurang dibangun. Dia kayak cameo nggak penting yang cuma numpang lewat. Permasalahan di masa lalu kurang dibangun oleh penulis--atau mungkin memang dibiarkan menggantung. Padahal itu adalah kunci utama dari konflik besar di novel ini.

Tokoh antagonis yang ada di novel ini juga nggak langsung ketahuan. Tapi mungkin bagi pembaca yang sudah sering melahap novel misteri akan langsung tahu dari awal pertama clue dibocorkan. Namun hal itu sama sekali nggak mengurangi kesenangan saat menutup buku ini. Ceritanya ringan dan menyenangkan untuk diikuti.

Kita seperti diajak jalan-jalan untuk menyanyi yodel di Monchblick Inn. Secara rinci, Annisa Ihsani menggambarkan keindahan suasana Lauterbrunnnen. Membawa pembacanya seperti beneran ada di sana dan duduk menghirup uap teh panas sambil nonton Ann memecahkan permasalahan yang sudah enam tahun mengganggu penginapan cozy tersebut.

Hampir tiap membuka bab baru, saya terheran-heran dengan imajinasi Annisa Ihsani sampai bisa menulis novel sedemikian rupa. Kereeen...

*membayangkan adegan imajinasi pada Spongebob*

Bagaimana? Tertarik untuk membaca?

Sir, there is a distinct difference between having an open mind and having a hole in your head from which your brain leaks out. - James Randi

0 Comments