Judul: The Story of Edgar Sawtelle
Penulis: David Wroblewski
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 793 halaman

--- [] ---

Bisa dikatakan bahwa ini adalah buku terlamaaaaaa yang pernah saya baca. Maksudnya durasi saya membaca yang lama. Nggak bisa dalam hitungan hari, cuy. Hitungan bulan. Dua puluh empat bulan, alias dua tahun baru kelar baca nih buku. Bukan karena ceritanya nggak menarik sih. Ceritanya menarik dan termasuk salah satu yang saya suka temanya; disabilitas dan hewan. Dua tema besar yang biasanya hitting me in the eyes that much. Yang biasanya bikin nangis-nangis kejer karena nelangsa habis baca bukunya.

Namun, sorry to say, saya nggak mendapatkan itu semua dari David Wroblewski. Memang ceritanya nanar dan miris untuk diikuti, tapi plotnya terlalu woleeeeeees. Amat sangat woles. Menceritakan tentang suatu ruangan di mana Edgar tinggal saja butuh sampai lima halaman, apalagi kisah-kisah besar yang mengikutinya. Mungkin David Wroblewski ingin menggambarkan detail ceritanya sampai ke akar-akar. Tapi ujungnya, saya sebagai pembaca malah menemukan banyak sekali kekosongan di dalamnya.

Iya, terlalu bertele-tele.

Deskripsi tanah lapang yang dilewati Edgar saja dituliskan sampai dua halaman. CUMA TANAH  LAPANG. Bacanya sampai bosan dan ngantuk. Sebenarnya saya suka hal-hal detail dan rinci begitu, tapi ini berlebihan. Paparan tentang benda ini dan benda itu, serta tokoh ini dan tokoh itu, terkesan lambat dan tersendat-sendat. Bahasa yang dibawa di dalam cerita juga terlalu filosofis. 

Saya tahu kalau Edgar merupakan sosok yang tuna rungu. David sebagai penulis sepertinya ingin menekankan gambaran itu kepada pembaca sehingga kita tahu betapa sepinya dunia Edgar dan betapa ngerinya kesunyian yang meringkusnya. Tapi tidak dengan narasi-narasi yang mengiringinya. Hanya dengan satu atau dua paragraf saja, saya pikir udah cukup kok menggambarkan keadaan Edgar yang hanya mendengar desau di telinganya.

Meskipun jeda antar plot cerita dan konflik yang disajikan terlalu lambat, namun novel ini berhasil membuat hati saya tercabik-cabik di bagian Edgar yang kehilangan pamannya. Edgar mudah sekali terguncang dan cenderung overthinking. Dia sering memikirkan hal-hal yang sepatutnya bisa diendapkan. Alasan ini juga lah yang membuat saya mempelajari tentang orang tuna rungu dan apa saja keluhan mereka.

Overall, saya suka dengan buku ini. Meskipun tata cara David Wroblewski menuliskan kisah Edgar ini terlalu sepi dan terlalu banyak spasi, namun pelajaran moral yang dapat kita petik banyak sekali. Karena pada keadaan apa pun, kekurangan pada indera tubuh bisa membuat indera yang lain lebih peka dalam meraba kehidupan.

6 Comments

  1. Saya jadi ingat novel yang belum selesai dibaca dari bertahun-tahun lalu. Hiks. Alasannya sama sih, narasinya terlalu bertele-tele jadi bikin bosan dan akhirnya ditutup deh. Ganti novel yang lain hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, pengalaman juga. Tapi saya gak bisa kalau gak selesai baca buku gitu. Hehe.

      Delete
  2. Wewww itu durasinya lama bgt karena emg bosen mbak? Jd ditinggalin baca yg lain dulu? Wqwqwq
    Iya kl baca buku byk bertele2nya emg malesin

    ReplyDelete
  3. Itu emang style-nya si David atau di buku ini aja may? Udah baca buku2nya William Faulkner belum? Kalau menurut lo gimana itu dia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya buku David emang cuma ini deh, Di. Setahuku. Stylenya emang narasi panjang. Tapi sebenarnya bagus kok cuma agak bosenin aja kalau baca bagian deskripsi tempat atau keadaan karena terlalu panjang.

      Kalau William Faulkner aku baru baca Light in August sama trilogi Snopes (atau Snopes family kalau nggak salah). Yang ada Hamletnya. William Faulkner bagus kok, dark gotik gitu modelnya. Tapi nggak segelap Edgar Allan Poe.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.