Griffiths must be a huge fan of Schrodinger's cat.

Judul: Introduction to Quantum Mechanics
Penulis: David J. Griffiths
Penerbit: John Wiley and Sons
Tahun Terbit: 1982
Bahasa: Bahasa Inggris
Jumlah Halaman: 511 halaman

--- [] ---

Beberapa hari ini saya sedang suka dengan beberapa hal. Salah satunya adalah kedai thai tea murah dekat kosan dan kampus. Lalu hujan rintik yang membasahi motor setiap pulang. Juga lagu milik 5 Seconds of Summer yang judulnya Youngblood. Darah muda. Darahnya para remajaaa ~

Dan saya jadi mikir kenapa kalau bikin intro suatu postingan blog dari dulu nggak pernah nyambung sama isi aslinya. Beda dengan penulis sebelah yang kalau bikin judul nggak pernah menggambarkan isi ceritanya. Apa hubungannya coba antara lagi suka sama lagu apa dengan buku yang mau dibahas. Apalagi ini buku fisika-fisikaan. 

Sebagai mantan mahasiswa jurusan fisika, bergelut dengan rumus dan persamaan memang menjadi makanan sehari-hari. Ibarat bernafas, rumus adalah udara. Sementara angka adalah air. Dua hal penting yang paling dibutuhkan saat kuliah fisika. Tanpa dua hal itu, kami anak fisika bisa mati kelimpungan. Namun kebanyakan dua hal itu juga bisa membuat kami mati kesusahan. Tiap hari mainan rumus sampai jari jadi zig-zag dan mulut jadi berbusa.

Ada cerita lucu yang melatarbelakangi buku ini.

Salah seorang teman--sebut saja namanya Nana--mengajak ke perpus untuk mencari buku Introduction to Quantum Mechanics. Kelar kuliah, ke perpuslah kita. Sampai di sana, Nana segera menjelajahi rak dengan seksama dan mencari buku ini. Sepuluh menit mencari, Nana keluar dari rak tanpa membawa hasil. Mukanya manyun. Perutnya bunyi.

"Lapar nih, cari penyetan ayam yuk."

"Lah, baru juga sepuluh menit di sini udah mau keluar aja. Lemah."

"Woi, mesum!"

"Siapa yang mesum? Maksudnya keluar dari perpus. Bukan keluar yang onoh. Hih!"

"Oh, kirain. Maaf maaf. Hehe,"

"Bukunya nggak dapat?"

"Nggak ada. Udah muter-muter nggak nemu juga. Coba kamu yang nyari deh, May. Jangan main Tetris mulu dari tadi ey!"

Saya nyengir. Usai meletakkan hp di saku, akhirnya gantian saya yang mencari bukunya. Dosen mekanika kuantum ini ngeri-ngeri sedap sih. Katanya kalau nggak bawa buku referensinya Griffiths ke kelas saat kuliah, kami bisa diusir. Teman-teman jadi berusaha untuk mendapatkannya. Yang punya uang cukup ya beli. Yang punya uang dikit akhirnya fotocopy. Yang nggak punya uang harus minjem dan diperpanjang setiap minggu sekali. 

Setelah keliling beberapa lama, saya juga nggak mendapatkan apa-apa. Nihil. Sepertinya memang slotnya sedang kosong dan dipinjam lebih dulu oleh mahasiswa lain. Keluar dari bagian rak, saya gantian melihat Nana sedang bermain Candy Crush Saga.

BAIKLAAAH ~

"Nggak ada bukunya Griffiths, Na. Kosong kayaknya. Udah pada dipinjam."

"Terus kita gimana doooong. Minggu depan pas kuliahnya profesor anu pasti kita diusir. Huhu..."

"Diusir ya keluar. Mau gimana lagi."

"Enak banget ngomongmu, May. Aku gamau ngulang mata kuliah ini semester depan. Kita harus dapat bukunya. Beli aja yuk di Gramedia. Pasti ada."

"Ogah, mahal. Harganya kan dua ratus ribu lebih. Buat beli nasi sayur bisa sebulan itu."

Setelah berdebat kusir, akhirnya Nana dan saya diem-dieman di perpus sambil main game di hp masing-masing. Nggak marahan sih, cuma mikir aja gimana caranya dapat buku tersebut sebelum mata kuliah profesor anu. Selain karena mata kuliahnya terkenal sulit, beliau juga disiplin tingkat alam semesta. Kalau udah bilang enggak ya enggak. Iya ya iya. No nego tipis. Apalagi nego afgan.

*yang anak OLX pasti tahu istilah nego-negoan*

"Eh, May. Emang buku yang kita cari itu isinya apa aja sih? Pas profesor anu menjelaskan di kontrak kuliah, aku ketiduran di kelas soalnya. Hehehe. Hehe. He."

Ahelah. Kirain semangat banget ngajak nyari bukunya karena dia udah tahu isinya. Ternyata kosong belaka. Kalau bukan teman sekelas, mungkin Nana sudah saya sleding ke Bengawan Solo. Enyah kauuu ~

"Isinya persamaan Schrodinger, Na. Ada yang tergantung pada waktu. Ada yang bebas. Pokoknya tentang gelombang dan persamaannya diotak-atik sampai mual,"

"Ooohhh... Kirain isinya banyak. Taunya cuma itu aja."

"Ituh ajah, dengkulmuuuh. Jumlah halaman bukunya 500 lebih. Selain itu, persamaan Schrodinger ini juga menceritakan asal mula elektron terjebak di dalam suatu sumur potensial. Beda tipis sama kita yang sering terjebak dengan masa lalu gitu deh. Gimana cara keluarnya dari kenangan dan berapa probabilitas keberadaan si dia di hatimu."

"Jadi kita bisa diibaratkan sebagai elektron gitu?"

"Iya, bisa. Dan sebagai elektron, kita juga sama. Bisa menyerap energi dari orang lain dan memancarkan energi untuk orang lain juga. Coba deh kapan-kapan kamu senyumin orang manyun, tentu orangnya ikutan senyum juga."

"Ah, aku kalau lagi manyun nggak butuh disenyumin. Dikasih duit aja mending."

INGIN RASANYA KU MENJITAK KEPALAMU, WAHAI KAWANKUUU ~

"Ya, pokoknya isi bukunya gitu. Jadi kalau kesannya belajar kuantum itu susah, mungkin cara memahaminya yang salah. Mekanika kuantum itu sederhana sekali. Asal paham bahwa energi itu kekal dan gelombang memiliki sifat-sifat yang fleksibel, maka rumus dan persamaannya bukan masalah lagi. Dan profesor anu merekomendasikan buku ini bukan tanpa alasan. Griffiths membahas tentang mekanika kuantum dari segi filosofinya juga. Bukan hanya rumus dan angka. Kita jadi paham di dunia ini aplikasinya apa sih. Seperti itu..."

Nana diam mengiyakan. Namun beberapa menit kemudian, perutnya berbunyi lagi. Kali ini lebih nyaring dua puluh lima desibel.

"Nyari penyetan ayam yuk. Lapar,"

"Oke!"

Setelah itu, Nana pacaran dengan kakak tingkat dan mendapatkan hibah buku Introduction to Quantum Mechanics secara cuma-cuma. Sementara saya fotocopy buku milik teman lain yang membelinya di Gramedia. Ironisnya, kami sama-sama tidak lulus mata kuliah tersebut. Begitu pula teman-teman seangkatan yang lain. Sebanyak 71 mahasiswa jurusan fisika mengulang mata kuliah profesor anu di tahun depannya.

Sepertinya cara kami memahami mekanika kuantum terlampau sederhana.

0 Comments