Yes, I am.

"May, masih main FB nggak?"

"May, feeds kamu di IG gimana?"

"May, kenapa akun Twitter kamu hilang?"

Tiga pertanyaan tersebut beberapa kali ditanyakan oleh teman-teman saya. Biasanya saya cuma menjawab iya, enggak, atau cengengesan sambil haha hihi. Iya, saya memang udah nggak mainan media sosial lagi sejak beberapa bulan yang lalu. Jadi kalau ada yang pakai nama saya, itu bukan saya. Di smart phone sekarang isinya hanya aplikasi media sosial LinkedIn. Dan juga masih main di blog ini. Aplikasi chatnya WhatsApp.

Sejak memutuskan untuk join di no socmed socmed club, nggak ada keinginan besar untuk kembali menggunakannya. Justru saya merasa woles banget menjalani hidup. Mungkin karena saya memang nggak bekerja di bidang digital kali ya. Jadi nggak butuh-butuh banget mainan medsos. Dulu waktu punya medsos pun saya jarang banget bukanya. Seminggu sekali atau tiga hari sekali. Jadi begitu beneran lepas seperti sekarang, saya baik-baik aja. Nggak craving for hot thread or issue karena memang biasanya udah kudet sama berita booming begituan. Bukan hal baru jika saya nggak tahu kabar burung dan unggas lainnya.

Kadang memang dibilang suka ketinggalan zaman, nggak update, nggak tahu apa yang lagi hype, katrok, kuno, nggak mau mengikuti perkembangan berita, kolot, dan lain sebagainya. Saya udah kenyang komentar begituan. Namun sekali lagi, standar ketinggalan zaman, nggak update, dan sebagainya, apakah sama di setiap manusia? Jelas tidak. Kalau yang dibilang kolot adalah karena nggak tahu lagu "makan daging anjing pakai sayur kol", oh, nggak masalah sama sekali. Sungguh saya tetap bahagia.

Saya lebih suka ngikutin berita bola, basket, atau sains. Makanya saya nggak pernah malu atau tersinggung kalau dikatain katrok dan lain sebagainya. Saya punya preferensi sendiri dan nggak semua orang harus tahu apa kesukaan saya.

--- [] ---

Setelah nggak main media sosial sama sekali, banyak kegiatan lama dan baru yang saya lakukan. Saya menemukan kebiasaan aneh, hobi yang unik, bacaan yang nggak seperti kebanyakan, aliran musik yang belum pernah saya dengar, dan video yang dulu nggak pernah saya bayangkan untuk saya tonton. Semua terasa menyenangkan dan saya benar-benar menikmati hidup saya di momen ini. Saat ini. Sekarang.

1. Dengerin radio lagi

Prambors adalah salah satu channel yang selalu saya dengarkan tiap hari. Berhubung di kosan memang nggak ada televisi dan saya nggak jarang nonton televisi kecuali siaran bola, maka radio menjadi sumber informasi yang basic banget seperti; info lalu lintas, berita kriminal, ulasan politik, dan tangga lagu terbaru. Biasanya saya dengerin Prambors saat pagi hari. Jam 6 sampai menjelang berangkat. Siarannya dipandu oleh Nycta Gina dan Desta di Desta Gina in The Morning. Sementara malam kalau nggak ada jadwal ngelesin, saya muter siaran Sunset Trip di PramborsSolo Radio atau Rewako Makassar

2. Dengerin podcast

Setahun ini memang sedang demen-demennya dengerin podcast. Biasanya saya suka dengerin podcast dengan tema sains dan teknologi. Salah satu podcast yang paling paling paling saya sukai adalah Lost Origins milik Andrew Tuszon. Episode yang paling membuat sel otak saya baku hantam adalah Evidence of The Pyramids in Antartica. Mind blowing sekali, sodara-sodara. 

Beberapa podcast lain yang saya juga sukai adalah Costing the Earth (membahas proyek-proyek penyelamatan lingkungan), Flash Forward (membahas hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan), Brain On! Science for Kids (membahas sains untuk anak-anak), Science Vs (membahas isu sains yang sedang hype dan pro kontra di dalamnya), dan The Infinite Monkey Cage (membahas sains dengan mendalam dan sarat humor renyah khas saintis). 

3. Nonton video di Youtube

Saya bukan tipe orang yang suka nonton vlog orang. Saya nonton video di Youtube kalau bukan trailer film, video klip lagu, ya video pembelajaran fisika untuk bekal ngajar di kelas. Namun beberapa bulan ini, saya jadi suka nonton video komedi, masak-masak, makan-makan, make up, dan skin care. Padahal saya awam soal dandan dan perawatan. Tapi melihat cewek-cewek cantik dandan dengan segala cuap-cuapnya membuat saya gemas. Jangan-jangan saya ada kecenderungan suka sesama jenis nih. Aw sekali.

4. Baca portal artikel daring bermacam genre

Setelah banyak berita hoax yang dikit-dikit SARA, saya nggak terlalu suka baca berita di portal-portal seperti Kaskus Lounge, Tribunnews, Babe, UC News, dan Line Today. Sebisa mungkin menghindari banget hal-hal semacam itu. Namun sekarang saya mulai baca-baca berita lagi di portal daring dengan filter khusus. Salah satu portal artikel yang juga saya sukai adalah Good News From Indonesia (GNFI). Tambahan, karena saya nggak punya Twitter yang biasanya menyediakan jadwal dan ulasan pertandingan olahraga, maka sekarang saya menginstal aplikasi Berita Bola dan NBA. Selain untuk tahu update match, juga untuk streaming tanpa mencari link bodong di Google lagi.

Selain berita dan olahraga, saya juga pasang aplikasi Cookpad untuk sekadar baca-baca resep masakan namun nggak dipraktikkan. Suka aja kalau melihat orang-orang sharing resep dan tips untuk mengolah suatu bahan makanan. Jadi teriingat dulu ngefans berat sama Chef Juna; juri yang komennya pedas di acara Master Chef Indonesia

5. Membiasakan baca ebook lagi

Ebook menurut saya bukan sesuatu yang enak dibaca karena tidak bisa dipegang dan dicium secara langsung seperti buku cetak. Sempat mengoleksi ebook dari beberapa penulis juga sih. Namun selama ada buku fisiknya, saya akan tetap membelinya di toko buku. Setelah membaca review di Goodreads, biasanya saya akan mencatat beberapa buku yang saya mau dan saya akan membelinya pasca gajian. Namun sekarang saya lebih suka membaca ebook untuk novel dan buku tebal. Biasanya sih bacanya di iPusnas dan Gramedia Digital. Terhitung udah dua bulan saya belum membeli buku cetak baru. 

6. Membaca komik di Mangazone dan Webtoon

Setahun kemarin, saya sempat vakum membaca komik. Cuma baca episode baru beberapa manga di aplikasi Mangazone dan berhenti. Webtoon juga sama. Apalagi setelah menghapus Line. Saya lupa kalau Line dan Webtoon berhubungan. Jadi kalau Line dihapus, Webtoon akan meminta akses dengan media sosial lain. Baru sebulan yang lalu akhirnya saya login di Webtoon lagi menggunakan ID Google dan membaca komik yang ketinggalan.

7. Aktif di blog lagi

Jika bulan kemarin sempat ilang-ilangan di blog dan jarang blogwalking ke blog teman-teman blogger yang lain, maka setelah menghapus media sosial lain, saya lebih fokus untuk menulis di blog sendiri. Dulu kan menulisnya sempat terpecah di Kaskus, Wattpad, dan Tumblr. Tapi sejak saya minta banned permanent di Kaskus dan menghapus akun Wattpad, saya jadi lebih fokus di blog. Jika dulu nulis satu postingan bisa seminggu sekali, sekarang menjadi sekali sehari setelah pulang mencari nafkah.

Meskipun sekarang saya nggak punya media sosial lain untuk sharing tautan tulisan blog ke teman-teman, nggak masalah juga. Saya biasanya cukup membagikan di Google Plus. Dan ya, engagement-nya nggak terlalu tinggi karena yang membaca blog saya hanya teman satu circle. Namun kembali ke tujuan awal ngeblog. Saya ngeblog karena saya suka menulis. Bukan untuk dibaca banyak orang. Kalau ada yang menyukai tulisan saya dan membagikannya, ya syukurlah. Kalau nggak ada pun nggak apa-apa. 

8. Jadi kontributor Sampahmu dan Anmodomino

Selain aktif di blog sendiri, saya juga menulis tipis-tipis untuk dua blog lain. Yang pertama adalah blog tentang lingkungan; Sampahmu. Di blog ini, kami mengajak pembaca dan semua orang untuk berkontribusi dalam membuang sampah pada tempatnya--lebih jauh yaitu ajakan untuk memilah sampah sesuai jenisnya. Yang kedua; Anmodomino. Di blog ini, artikel-artikel seputar perkembangan sains dan teknologi ditulis dengan bahasa yang ringan. Boleh kok mampir ke sana, mungkin bisa tertarik untuk menjadi relawan atau kontributor.

--- [] ---

Saat menulis postingan ini, saya lebih dulu menemukan tulisan Gigip di Kompasiana yang beropini bahwa memberikan konten yang mendidik di media sosial bukanlah tuntutan; melainkan pilihan. Tidak setiap orang harus menjadi guru. Dan sebagai guru, saya bahkan memilah betul bagaimana caranya membelajarkan tanpa terkesan menggurui. Makanya kalau kebetulan membaca komentar yang isinya "media sosial kontennya nggak ada yang mendidik", ya cuma bisa ketawa-ketawa aja. Metode pilah dan pilih memang paling tepat untuk digunakan. Masa iya udah gede mau disuapin terus konten apa yang mau kita lahap.

Lalu saya juga menemukan tulisan Falkhi tentang menghapus media sosialnya. Dia hanya memiliki blog. Falkhi menuliskan bahwa kasus depresi karena arus informasi negatif yang didapatkan oleh remaja diawali oleh adanya kecanduan bermain media sosial. Terlepas dari tingkat kematangan usia, media sosial memang memiliki efek candu seperti halnya kafein dan micin. Makin dirasa, makin nagih. Makin dipakai, makin lihai. Hal ini disebabkan oleh adanya pengalaman rasa yang sudah dicatat oleh neuron otak. 

Pengalaman dinotis banyak orang, di-RT ratusan netizen, dan dilike fotonya oleh orang asing, akan membuat pengguna media sosial ingin merasakan sensasinya lagi dan lagi.

Sensasinya ena, mz. Ada manis-manisnya ~

Mengunggah jenis konten atau bentuk pengaruh apa yang kita berikan di dunia maya adalah suatu pilihan. Dan menggunakan atau tidak menggunakan suatu jenis media sosial juga merupakan pilihan. Karena pada dasarnya hidup adalah tentang memilih dan dipilih. 

Dan saya memilih untuk tidak menggunakan bermacam-macam media sosial lagi.

This is the life I've imagined.





Images are taken from:
http://www.livryan.com/faith/its-not-all-or-nothing/

10 Comments

  1. Enak kalau kerjaannya emang enggak perlu terikat medsos. Para admin medsos, influencer, dst. mana bisa begitu. Hahaha.

    Hidup tanpa buka media sosial--terutama Twitter--dalam seminggu aja jadi bisa ngelarin lima buku maupun e-book, bahkan lebih. Gimana menutup selamanya, ya? Cuma, seandainya kagak main medsos, media-media sekarang pun udah banyak yang kontennya hasil merekap drama-drama di medsos, kan. Beberapa kawan tentu bakalan bahas. Masih bisa tahulah informasi-informasi itu walaupun telat. :))

    Saya entah sejak kapan justru pengin jeda menulis di blog, terus mau jadi penyimak aja. Sesekali meninggalkan komentar ketika ingin. Namun, selalu bingung kenapa dorongan menulis sering banget datang. Kalau cuma dipendam sendiri agak gimana gitu. Saya enggak akan munafik karena penulis pasti butuh pembaca--meskipun tidak seberapa. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya saya bersyukur banget kerjaan nggak terikat medsos, Yogs. Ngerasa nyaman hidup begini sih. Hehe.

      Delete
  2. Welcome to Anti Social-Social Club!

    Semoga betah dan lebih bahagia dengan pilihan yang sekarang. Saya setuju, setiap individu memiliki preferensi yang berbeda; tak ada yang salah dengan itu. Semua orang bebas memilih apa, mengapa, dan bagaimana.

    Omong-omong, saya juga mulai berhenti curhat di internet. Masih main media sosial, tentu, tetapi lebih digunakan untuk mencari informasi, hiburan, dan tetap terhubung dengan lingkar pertemanan. Yang dibuang adalah porsi bercerita hal-hal (yang seharusnya—setidaknya menurut saya) privasi.

    Omong-omong lagi, terima kasih sudah menyisip tautan tulisan itu 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini bukan zaman di mana orang yang bebas berekspresi dan berpendapat harus dibredel nyawanya kayak dulu. Tapi ya harus lihat sikon. Hehe. Sama-sama, Gip :)

      Delete
  3. Saya mau juga berhenti main socmed dan menjalani hidup yang sebenarnya. Dilematis juga bahwa zaman akan terus berkembang, kita gak akan bisa ngelawan. Tapi tetap bisa memutuskan. Dan emang bener bangetkalo setiap orang punya prefensinya masing2. Bebas mau kek manaa

    Jadi saat ini saya memilih untuk tetap main socmed cuma dengan kapasitas yang saya batasi. Kalo dulu saya masih suka alay yang sering update2 curhatlah, update2 sampah yang bahkan orang lain pun nggak peduli. Cuma moment2 tertentu aja yang saya post, yaa hitung2 berbagi kebahagiaan hehe. Banyak juga hal2 positif yang saya dapat di socmed, resep masak rendang biar empuk contohnya. Yang pasti si harus bijak soal apa aja yang kita dapetin di socmed, take the good leave the bad.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, beneeer, Bel. Take the good leave the bad. Metode pilah dan pilih. Iya, makanya saya juga suka baca resep-resep masakan daripada berita viral yang seringkali aib orang.

      Delete
  4. Hlakok super banget kowe, May?

    Keren lah. Aku belum bisa kalau suruh bener-bener berenti main sosmed. Bener memang. Saya juga lumayan mengalami (lumayan mengalami ki maksud e pie) yang namanya kecanduan main sosmed. Tapi itu dulu. Kalau sekarang sebisa mungkin membatasi. Buka IG, paling cuma scroll timeline 5X scroll'an dan jarang liat story temen. Twitter, paling juga cuma ngelike sama retweet seperlunya. FB? Udah jarang banget buka, kecuali kalau ada tuntutan dari lomba blog yang nyuruh ngeshare tulisan di Facebook.

    Oiya, kalau podcast, saya masih seneng dengerin via Inspigo. Lumayan lho kualitas kontennya *menurutku*. Tapi itu isinya podcast-podcast orang Indonesia. Nggak kaya list podcastmu yang (sepertinya) luar negeri semua XD.

    Oiya lagi, kemarin kan sempet ngomen masalah gathering Blogger Solo. Kalau minat, bisa inbox nomer WA mu ke emailku, May. Nanti tak minta tolong sama admin grupnya WA Blogger Solo, buat masukin blohher terkenal fenomenal alumnus YuEnEs Solo. Bagaimana? Tetariq?

    ReplyDelete
    Replies
    1. List podcast sains Indonesia masih jarang soalnya, Wis. Belum nemu aku podcast Indonesia yang bahas sains terutama fisika. Btw, makasih yaaa.

      Delete
  5. Kembali ke pada kebutuhan masing masing individu lagi ya mbak... saya juga buka sosmed karena ada kerjaan disana... kalo gak ada ya lebih senang setelah balik dari kantor, ya masak, nonton tv, tidur,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kak. Kalau pekerjaannya related to social media memang harus tetap menggunakannya secara berkala. Saya kebetulan tidak, jadi tidak menggunakannya lagi tidak apa-apa.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.