Buku tentang pahit manisnya perbedaan etnis di masa perjuangan.

Judul: Jalan Tak Ada Ujung
Penulis: Mochtar Lubis
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1952
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 127 halaman

--- [] ---

Guru Isa adalah seorang rakyat biasa yang membantu gerilyawan Indonesia saat penjajahan Belanda. Bekerja sebagai guru sekolah yang memiliki gaji pas-pasan, Guru Isa selalu hidup dalam tekanan dan ketakutan. Ia takut akan penyiksaan Belanda. Ia takut melakukan kekerasan untuk membela diri. Ia takut berjuang terang-terangan seperti gerilyawan karena tidak tega membunuh orang. Ia takut miskin. Ia takut tak bisa makan esok hari. Dan ia takut tidak dapat kembali memuaskan istrinya; Fatimah. Dengan ketakutan-ketakutan tersebut, Guru Isa jadi nggak bisa ereksi. Alias, titinya nggak bisa berdiri.

Membaca deskripsi penokohan Guru Isa ini saya jadi teringat karakter Ajo Kawir di bukunya Eka Kurniawan yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Mungkin Eka terinspirasi dari bukunya Mochtar Lubis yang ini kali ya. Karena memang kejadian yang dialami kedua karakter itu sama. Ajo Kawir lemah tititnya karena melihat Rona Merah diperkosa. Sementara Guru Isa karena ketakutan akan pembantaian yang dilakukan Belanda dan juga gerilyawan Indonesia.

Guru Isa berkawan dengan Hazil yang merupakan pegiat kemerdekaan juga. Dibandingkan dengan Guru Isa, Hazil lebih berani melawan Belanda dan membantu para gerilyawan dengan kemampuan berperangnya. Sama-sama menyukai musik, Hazil dan Guru Isa berteman baik. Namun rupanya Mochtar Lubis tidak membiarkan kedua pria tersebut bersahabat tanpa konflik. Hazil yang menyukai Fatimah sejak pertama kali bertandang ke rumah Guru Isa, akhirnya mengungkapkan perasaannya. Guru Isa dan Hazil lalu memiliki hubungan yang rumit.

Di samping adanya masalah batin antara Guru Isa dan Hazil yang menjadi sisi lain cerita ini, keduanya akhirnya tertangkap dan disiksa oleh Belanda. Dengan kejadian tersebut, Guru Isa dan Hazil akhirnya memaknai adanya perjuangan itu sendiri. Guru Isa akhirnya bisa ereksi kembali setelah melawan ketakutannya dan Hazil menjadi pengecut nomor satu yang membocorkan lokasi gerilyawan Indonesia setelahnya. 

Keduanya seperti bertukar karakter.

--- [] ---

Ringkasan cerita dari novel Jalan Tak Ada Ujung tersebut menggambarkan bahwa peliknya perjuangan Indonesia di masa lalu menggempur keberanian dan ketakutan banyak orang. Cukup mengesankan karena Mochtar Lubis mampu melukiskan kejadian perang dengan diksi-diksi yang mencekam. Salah satu adegan yang masih teringat di kepala saya setelah membaca bukunya adalah saat gerilyawan Indonesia memburu hampir setiap masyarakat Tionghoa yang lewat di markas mereka. Mereka dibunuh, dimutilasi, dan kadang-kadang diperkosa.

Ternyata memang sekejam itu para pribumi memperlakukan warga keturunan China sejak dulu kala. Maka saat pecah kerusuhan 1998, banyak kasus pelecehan dan pembunuhan orang Tionghoa. Ternyata akarnya memang sudah sejak lama. Tanpa melupakan rasa hormat pada orang pribumi, saya pribadi nggak suka sih kalau mereka diperlakukan semena-mena. Semenolak-menolaknya kita pada kesuksesan orang China di Indonesia, mereka dari dulu sebenarnya diperlakukan tidak adil di sini.

Dari zaman Belanda hingga orde baru, orang keturunan Tionghoa kerap mendapatkan larangan ini dan itu. Salah satunya larangan untuk menjadi PNS. Namun setelah mereka sukses bisnis dan berdagang--lalu memiliki banyak pekerja pribumi--banyak yang mengecam bahwa pemerintan timpang. Banyak yang berkeras mengusir warga keturunan Tionghoa dari Indonesia.

Halu sekali, wah. 

Yang ngelarang siapa, yang ngambek karena kalah saing siapa.

Buku ini sukses membuka mata saya untuk bercermin bahwa rasisme sudah ada sejak dulu kala. Hanya kadarnya berbeda-beda setiap dekade. Saya berani bilang bahwa rasisme merupakan salah satu penyakit sosial di masyarakat. Memangnya kenapa sih kalau ada orang yang berbeda dari kita? Seterluka itukah ego kita dengan perbedaan?

Mochtar Lubis menuliskan kalimat-kalimat dalam buku ini dengan gaya bahasa yang setengah berat dan setengah ringan. Tipikal novel sastra di angkatan Balai Pustaka. Mungkin kalian yang sudah membaca akan menemukan banyak kesamaan rasa dengan A. A. Navis dan Buya Hamka pada tulisannya. Namun  novel ini tidak begitu berat untuk diikuti. Semua tuturan penulis persis menggambarkan kejadian yang ada pada masa-masa perjuangan melawan Belanda terdahulu dengan cara yang pas. Tidak berlebihan penuh drama dan tidak juga terlampau sederhana.

Jumlah halamannya yang hanya 127 halaman membuat buku ini bisa diselesaikan satu hingga tujuh hari. Buku ini mampu menyibak kengerian yang terjadi saat pendudukan Belanda yang kemudian merenggut dan membangkitkan banyak nyali di seluruh penjuru Indonesia.

Menurut saya, penyisipan konflik batin antara Guru Isa, Hazil, dan Fatimah mampu menyeimbangkan adegan-adegan perang yang dipaparkan oleh Mochtar Lubis. Karena terlalu takut dengan perang yang bisa membinasakan kapan saja, orang di zaman dulu bisa memiliki keberanian maupun ketakutan di saat yang bersamaan. 

Dan perubahan karakter kedua tokoh utama yang diceritakan penulis bisa membuat saya memetik hikmah bahwa setiap manusia bisa berubah. Bukan hanya karakter, namun juga nasib. Tergantung bagaimana pintar-pintarnya kita introspeksi dan mau untuk terus berusaha.

2 Comments

  1. Beli dimana mbak bukunya? Kok kayaknya bagus. Suka buku-buku dengan latar belakang penjajahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli di Gramedia atau Togamas ada kok, Mas. Atau mau beli preloved saya ini. Saya jual. Hehe. Saya juga suka sastra klasik semacam ini. Jadi tahu gaya menulis zaman dulu seperti apa. Juga belajar sejarah lebih dalam.

      Delete

Komentar diperbolehkan selama tidak menyinggung dan menyentil SARA, karena SARA sedang PMS.