Judul: 47 Ronin
Penulis: John Allyn
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2006
Bahasa: Bahasa Indonesia
Jumlah Halaman: 224 halaman

--- [] ---

Pada tahun 1701, dengan luapan amarah, Lord Asano menyerang seorang pejabat istana Jepang. Sebagai hukuman, Lord Asano diperintahkan untuk melakukan seppuku, tanahnya disita, keluarganya diasingkan, dan para samurainya dibubarkan--menjadi ronin, samurai tak bertuan. 

Buku ini saya dapatkan di salah satu expo Gramedia dengan posisi saya udah pernah nonton filmnya. Kalau nggak salah sih filmnya diperankan oleh Keanu Reeves yang gantengnya nggak ketulungan itu. Filmnya sih lumayan bagus karena efek thriller yang ditimbulkannya di dalam jiwa membuat hatiqu bergetar ~

Tapi ternyata membaca bukunya sangat jauh dari itu. Biasanya saya termasuk geng yang baca buku dulu baru filmnya. Tapi sekarang, saya tim yang nonton filmnya dulu, baru baca bukunya. Mana terjemahan pula. Berasa murtad jadi pembaca buku yang baik budinya dan bijaksana aqutu ~

Sejalan dengan premis awalnya, sebanyak empat puluh tujuh ronin yang tak bertuan tadi akhirnya menyusun rencana untuk membalaskan dendam tuan mereka. Semuanya beradaptasi dengan keadaan baru dan berkamuflase dengan banyak profesi yang wajar-wajar saja. Ada yang jadi guru, ada yang jadi pedagang, ada pula yang menyusup ke pemerintahan diam-diam tapi tetap aja nanti ujungnya ketahuan dan bermasalah.

Semua hal itu dilakukan semata-mata karena ingin membalaskan dendam tuannya. Tahu sendiri kan kalau samurai jaih lebih setia daripada piaraan sekalipun. Samurai Lord Asano pun sama. Buku ini mengupas tuntas tentang kesetiaan para samurai dan pelajaran hidup yang diyakininya. Mirip dengan dasadarma pramuka yang kita pelajari, lafalkan, dan terapkan dalam kehidupan--dulu saat masih sekolah. Ehe.

Sama. Buku ini juga mengajarkan way of samurai life. Tindakan keberanian, kecerdikan, dan kesetiaan pada zaman ketika samurai adalah pahlawan sejati merupakan pedoman hidup yang seharusnya kita pegang di zaman kiwari ini. Kehormatan yang dibela sampai mati juga menjadi ciri khas dari tindakan samurai di Jepang. Hal ini yang membuat kita harus membaca dan meneladani sikap mereka; terutama para tikus-tikus yang bekerja di gedung DPR. Yang katanya udah disumpah tapi masih aja korupsi seenak udelnya sendiri.

Namun di balik cerita dan teladan samurai yang bisa kita petik, buku ini--maaf--membosankan. Tutur cerita yang dituliskan di sini benar-benar menyerupai tulisan sejarah atau esai historis. Nggak tahu apakah ini karena saya membaca yang versi terjemahan atau bukan. Saya juga belum membaca versi aslinya yang berbahasa Inggris. Tapi secara keseluruhan, tulisannya terlalu baku. Kayak baca buku sejarah perang dunia. Gitu.

Penokohan yang dipaparkan juga nggak mendalam. Ibarat film, kayak pengenalan tokoh di film DC. Buru-buru dan terkesan kayak lagi mengejar maling. Mungkin nanti kalau dapat ebook yang berbahasa Inggris, penilaian saya bisa berbeda.

0 Comments