Me Loving You, Me Before You

by - December 11, 2017

Me loving you so much ~

Kepada, Jojo Moyes, yang terhormat.

Saya hanya ingin bilang bahwa sejujurnya saya belum membaca novel Anda. Saya hanya punya bentuk softfile pdf-nya dan itupun belum tersentuh hingga kini. Jadi saya belum tahu seperti apa isi ceritanya. Namun rupanya hal ini tidak membatasi saya untuk menonton film yang diadaptasi berdasarkan buku Anda. Me Before You (2016).

Pertama.

Emilia Clarke ini kan terkenal dalam membintangi serial HBO yang berjudul Game of Thrones. Saya tidak menyangka bahwa ia bisa juga berakting manis dan ceria ala-ala perempuan feminim pada umumnya. Dengan mengambil porsi peran menjadi seorang Louisa Clark, pekerja serabutan yang mau bekerja apa saja demi membantu perekonomian keluarganya. Mengapa dipilih Emilia? Apakah karena nama belakangnya sama-sama Clark? Tolong dijelaskan.

Saat pertama kali saya melihat pembawaan karakter Louisa, saya kagum. Bagaimana seorang khaleesi yang anggun mampu menjadi perempuan yang petakilan dan hiperaktif macam itu? Ini luar biasa. Dan menarik. Sampai akhir film, saya tidak berhenti bengong karena terkejut dengan perubahan karakter yang drastis dari seorang Emilia Clarke. Yah, namanya juga artis, yekan. Harus bisa akting apa saja. Tapi ini mayan signifikan. Emilia seperti turun kasta dari ratu naga menjadi pembantu rumah tangga. 

Kedua.

Sam Claffin. Kenapa yang jadi William Traynor adalah Sam Claffin? Saya bahkan belum bisa move on dari aktingnya sebagai Finnick Odair di film series The Hunger Games. Kharismatik iya. Ganteng iya. Lucu iya. Lalu, sebagai seorang laki-laki cacat dan desperate karena ditinggal menikah kekasihnya, Sam Claffin ternyata mampu berubah menjadi karakter yang juga berbeda 100% dari karakter Finnick yang cenderung "gesrek" dan "overconfident". Di film Me Before You ini, ia bisa menjadi sosok baru yang luar biasa dark and gloomy. Kereeen.
Foto after dan before masuk bengkel ketok mejik

Ketiga.

Filmnya menyentuh dan menyedihkan. Tapi belum sampai membuat saya banjir air mata. Saya justru lebih sibuk melihat kelucuan Louisa saat berusaha mengajak Will nonton pacuan kuda dan memaksa waitress untuk menyediakan kursi di sebuah restoran yang hanya bisa dipesan via booking di hari sebelumnya. Louisa benar-benar merupakan gadis yang happy-go-lucky dan perky. Too perky malah. Lincah dan bawel minta ampun. Tapi justru dengan kelakuannya yang aneh-aneh, Louisa berhasil membuat es batu yang ada di hati Will mencair.

Padahal di awal, Will sempat ilfeel dengan Lou, panggilan pendek dari nama Louisa, karena gadis itu selalu memakai outfit of the day (OOTD) yang aneh, antik, dan tidak seperti orang kebanyakan. Seleranya, maaf, sedikit kuno dan tidak lazim. Apalagi sepatunya. Hm. Udah bermotif, warnanya mentereng pula. Namun Lou justru pede dengan baju dan penampilan pilihannya sendiri. Peduli setan orang mau komentar apa, Lou tetap suka. Hal inilah yang juga membuat Will jatuh cinta pada perawatnya sendiri. 
Yang penting pede ya, Lou? Okesip

Meskipun begitu, Lou juga sempat berdandan normal dengan setelan dress berpotongan dada rendah berwarna merah dan high heels yang berwarna maroon. Momen ini terjadi saat ia dan Will akan menonton konser musik klasik. Disini, Will benar-benar didesain menjadi laki-laki jantan yang manis banget, woy. Nonton scene ini seperti minum teh segelas tapi gulanya 5 kilogram. Apalagi caranya dalam mencuri pandang ke arah Lou. Sam Claffin killed it perfectly.

Keempat.

Saya juga ingin berterima kasih pada Anda, Jojo Moyes. Karena film ini mengajarkan bahwa hubungan lama dan menahun, bisa putus juga karena keadaan yang memaksa. Will yang sudah bertahun-tahun berpacaran Alicia, harus menelan pil pahit bahwa kekasihnya itu menikah dengan sahabatnya sendiri, Rupert. Hal ini terjadi setelah Will kecelakaan, cacat, dan hanya bisa bertahan menjalani hidup dengan berada di atas kursi roda. Apes banget lah nasib Wil disini. Dan kekasih serta sahabatnya juga bangkay. Kenapa harus gini amat jalan hidupnya sih? Kan kasiaaan. Hiks.
Undangan pernikahan mantan bajingan

Selanjutnya Lou. Lou yang sudah bertahun-tahun berpacaran dengan Patrick juga harus putus karena ia tidak bisa memilih antara pekerjaan, rasa sayangnya pada Will yang mulai tumbuh, dan hubungannya dengan Patrick yang cenderung stagnan. Kalau dibilang Lou selingkuh, jelas enggak sih. Tapi memang timing-nya pas banget, anjir. Lou butuh pekerjaan. Will memberi pekerjaan. Mereka dekat karena setiap hari bersama-sama. Akhirnya daripada Patrick sakit lebih lama lagi, mereka pun memutuskan untuk berpisah.
Kisah kita berakhir di bangku taman

Kelima. 

Ending-nya flat. Sedatar pola pikir orang-orang yang mencetuskan teori bumi datar. Sedatar hidup saya. Sedatar aset saya. Sekali lagi, saya belum baca bukunya. Bisa jadi karena ini makanya saya merasa film ini biasa aja ending-nya. Adegan yang sarat emosi adalah saat Lou gagal melakukan tugasnya dan gagal pula menyampaikan isi hatinya. Ia menyerah. Sementara Will tetap teguh. Untuk melepaskan Lou dan memilih mati. 

Will tidak mau Lou kehilangan sisa hidupnya hanya untuk merawatnya. Kalau orang menangis sejadi-jadinya di scene ini, justru saya malah heran. Ada ya orang se-desperate ini sampai-sampai memilih agar kekasihnya pergi meninggalkannya? Padahal cinta kan obat paling kuat di dunia. Obat kuat aja sampai kalah oleh cinta. #eh
Cause there's something in the way you look at me ~

Kepada, Jojo Moyes, yang terhormat.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menulis cerita cinta yang rasanya nano-nano macam ini. To be honest, chemistry Emilia dan Sam ini kurang greget sih. Kayak ada batasannya. Kayak nggak totalitas. Memang mereka baru dipasangkan disini dan ternyata koneksinya, hm, tidak cukup kuat untuk membuat saya baper dan menangis sesenggukan. Aktingnya bagus, jelas. Nggak perlu dipertanyakan. Dan memang benar ada beberapa scene yang cukup manis seperti saat mereka nonton konser (seperti yang saya sebutkan tadi) dan saat Lou duduk di atas kursi roda Will di pantai. Tapi untuk kesan couple-nya? Nope. Kuraaang bangeeet.

Jadi ya, sepertinya saya mau lanjut baca bukunya dulu deh. Siapa tahu persepsi saya berubah. Tapi kalau nanti dibikin sekuel film untuk buku keduanya, sebaiknya jangan. Etapi siapa saya ngelarang-ngelarang Anda untuk meneruskan proses film adaptasi novel ini? Oke, do as you wish.

PS:

Film Me Before You ini mengajarkan kita untuk "live the moment". Hiduplah tanpa batasan yang diciptakan orang lain. Hiduplah dengan menjadi dirimu sendiri. Jangan mau dibatasi keadaan. Dan cinta. Karena kamu berhak 100% atas kebebasan dan kemerdekaanmu sendiri. Ini sih yang sering dilupakan oleh kita, sebagai manusia. Kita terlalu takut melakukan ini dan itu karena khawatir dengan pandangan orang. Kita terlalu takut melangkah karena takut menghadapi resiko. Dan saya takut terlalu sayang sama kamu karena ini nggak baik untuk kejiwaan saya. Sekian.





Pictures are taken from:
https://pantip.com/topic/35236496
http://www.portal42.com.br/wp-content/uploads/2016/07/the-me-before-you-cast-is-one-big-fandom-crossover-993249.jpg
https://www.popsugar.com/entertainment/Me-Before-You-Soundtrack-41374833
https://www.flickr.com/photos/chris-wilson/31327683713
http://www.walesonline.co.uk/whats-on/film-news/pretty-streets-pembroke-feature-new-11427242

You May Also Like

14 Comments